Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: FOTO LAMA FITNAH BARU
Hari ke-51 di Ndalem. Jam 13.05. Status Zahra Almira: Bu Nyai Yang Baru Damai 5 Menit, Sekarang Mau Perang Lagi.
HP Ustadz Rayan masih di meja. Layarnya nyala. Arya ngirim foto lagi, Foto aku sama Arya 2 tahun lalu. Di Cozy Corner Brews. Aku pake apron. Ketawa. Kepalaku deket bahu Arya.
Foto biasa. Foto temen kerja. Tapi di tangan musuh... jadi senjata.
Ustadz Rayan diem. Natap HP. Terus natap aku. Bolak-balik. Rahangnya kenceng. Buku-buku jarinya putih. Ngepal.
"Tadz," panggilku. Suaraku habis. "Itu... itu foto lama. Waktu aku masih kerja di sana. Belum pacaran. Belum apa-apa. Kita lagi bahas menu baru. Aku ketawa karena... karena lucu aja."
Ustadz Rayan nggak jawab. Dia ambil HP-nya. Pelan. Terus... hapus chat. Block nomor.
Tapi fotonya? Udah keburu kesimpen di otaknya.
"Tadz, ngomong dong," kataku. Panik. "Tadz percaya kan? Itu cuma foto. Nggak ada apa-apa. Sumpah demi Allah."
Ustadz Rayan taruh HP. Nengok aku. Matanya... gelap. Bukan marah. Tapi... perang. Perang sama dirinya sendiri.
"Aku percaya, Zahra," katanya. Akhirnya. Suaranya datar. "Aku percaya itu foto lama."
Aku lega. Sedetik.
"Tapi," lanjut Tadz Rayan. "Kenapa dia kirim foto itu sekarang? Kenapa dia kirim ke aku? Kenapa nggak ke kamu? Seperti beberapa bulan lalu pas dia datang ke sini buat ngantar foto yang sama. Kamu sama dia?"
Deg.
Pertanyaan itu... nusuk ke ulu hati.
"Karena dia mau ngancurin kita, Tadz," jawabku. Air mata udah netes. "Dia mau Tadz mikir aku... aku pernah macem-macem. Dia mau Tadz jijik sama aku."
Ustadz Rayan ketawa. Pendek. Pahit. "Dia berhasil, Zahra."
Dunia kiamat.
"Maksud Tadz?" tanyaku. Suara pecah. "Tadz jijik sama aku?"
"Bukan," jawab Tadz Rayan. Cepet. "Aku jijik sama... bayangan. Bayangan kamu ketawa sama dia. Bayangan kepalamu di bahunya. Aku tau itu masa lalu. Aku tau kamu nggak salah. Tapi... hatiku, Zahra. Hatiku belum seluas ilmunya."
Aku jatuh. Terduduk di kursi. Nangis. Nggak pake suara. Cuma bahu guncang.
Ini dia. Luka laki-laki. Nggak rasional. Nggak logis. Tapi... nyata. Sakitnya nyata.
"Tadz," lirihku. "Kalau gitu... Tadz usir aja aku. Kalau bayanganku aja udah bikin Tadz jijik... apalagi aku."
Plak.
Rayan gebrak meja. Sekali. Nggak keras. Tapi bikin aku kaget. Bikin LPJ loncat.
"Jangan ngomong gitu lagi, Zahra!" bentaknya. Pertama kali. Selama 51 hari. Dia bentak aku. "Aku nggak akan ngusir kamu! Nggak akan! Tapi... aku butuh waktu. Buat... buat ngapus bayangan itu dari kepala."
Aku natap dia. Nangis. "Berapa lama, Tadz? Seminggu? Sebulan? Setahun? Aku kuat nunggu. Tapi... Tadz jangan diem. Diamnya Tadz itu... kayak ngubur aku hidup-hidup."
Ustadz Rayan mau jawab. Tapi... HP-ku bunyi.
WA. Dari nomor tak dikenal. Isinya... video.
Aku buka. Tangan gemeter.
Video 10 detik. Aku sama Arya. Di Cozy Corner Brews. Malam-malam. Dia ngasih jaket ke aku. Soalnya AC kenceng. Aku nerima. Senyum. "Makasih." kataku.
Cuma itu. Tapi... di video, keliatan mesra. Keliatan kayak pacaran.
Di bawah video, chat: "Ini juga masa lalu, Ra? Atau kamu lupa? –A.P."
Aku lempar HP. Kayak kesetrum.
Ustadz Rayan ngambil. Nonton.
Selesai nonton, dia diem. 10 detik. 20 detik.
Terus dia ngomong. Pelan. Dinginnya... udah kayak mayat.
"Pulang ke kamarmu, Zahra."
Aku nengok. "Tadz?"
"Pulang," ulang Tadz Rayan. Nggak nengok aku. "Aku mau sendiri. Aku... aku nggak bisa liat kamu sekarang. Bayangannya... makin jelas."
Air mataku habis. Tinggal sesek. "Tadz... itu cuma jaket. Aku kedinginan. Dia bos aku. Wajar..."
"Wajar?" potong Tadz Rayan. Ketawa. Hambar. "Zahra, kamu tau nggak... aku belum pernah ngasih jaket ke kamu. Belum pernah. Karena... aku jaga jarak. Karena aku... takut nyakitin kamu. Ternyata... ada orang lain yang nggak takut. Yang langsung kasih. Yang langsung... deket."
Deg. Deg. Deg.
Jadi ini. Ini luka Tadz Rayan yang paling dalem. Dia nyesel. Nyesel karena selama ini dia terlalu jaga adab, sampe nggak pernah "romantis" ke aku. Sementara mantanku... udah.
"Tadz, itu beda," kataku. Nyoba deket. "Itu bukan romantis. Itu... bos ke karyawan. Tadz nggak kasih jaket karena Tadz hormatin aku. Arya kasih jaket karena... dia mau punya aku."
"Dan dia dapet," jawab Ustadz Rayan. Pelan. "Dia dapet senyummu. Dapet terima kasihmu. Dapet... kamu yang dulu."
Aku nggak kuat. Aku lari. Keluar kantor. Ke kamar. Ngunci pintu.
Di kasur, aku nangis. Guling-guling. Beneran guling-guling. Bantal basah. Sprei basah. Hati... remuk.
Ya Allah... kenapa susah banget? Aku udah balikin duit. Udah block. Udah jujur. Kurang apa lagi?
Di luar, Bunda Aisyah ngetok pintu. "Nduk... Nduk buka, Nduk. Bunda bawain teh anget."
"Nggak mau, Bun!" teriakku. Dari dalem nangis. "Biarin Zahra mati aja!"
"ASTAGHFIRULLAH!" Bunda panik. "Nak Rayan! Cepet sini! Istrimu ngomong ngawur!"
Semenit kemudian, pintu diketok. Pelan.
"Zahra," suara Tadz Rayan. Serak. "Buka. Jangan ngomong mati. Nggak lucu."
Aku diem. Nangis.
"Zahra," ulang Tadz Rayan. Suaranya... retak. "Aku minta maaf. Tadi aku... kalah. Kalah sama cemburu. Kalah sama masa lalu. Buka pintunya. Kita... kita ngadepin bareng. Kayak janjiku tadi."
Aku ngesot ke pintu. Buka kunci.
Ustadz Rayan berdiri di depan. Matanya bengkak. Ternyata... dia juga nangis.
Tanpa ngomong, aku nyerah. Aku meluk pinggangnya. Pertama kali. Nekat. Ngelanggar semua jarak. Kepalaku nempel di dadanya.
Ustadz Rayan kaku. Sedetik. Terus... tangannya naik. Pelan. Ragu. Terus... ngusap punggungku. Sekali. Dua kali.
"Ssst," bisiknya. Di atas kepalaku. "Udah. Jangan nangis. Malu sama malaikat."
"Aku nggak malu, Tadz," sesenggukku. "Aku... aku sakit. Tadz nuduh aku. Walau nggak langsung."
"Aku tau," jawab Tadz Rayan. "Maafin aku. Cemburu itu... buta, Zahra. Tadi aku buta. Sekarang... aku milih liat kamu. Bukan bayanganmu."
Kami diem. Di depan pintu. Aku meluk. Dia ngusap punggung.
Dari ujung lorong, Humairah ngintip. Terus nutup mulut. Terus lari ke Bunda. Bisik-bisik: "Bun! Jarak 0 meter! Akhirnya! Bu Nyai Avengers menang!"
Bunda Aisyah ngintip. Terus senyum sambil nangis. "Alhamdulillah ya Allah... anak Bunda udah nggak perang dingin."
Di HP Ustadz Rayan, masuk WA baru dari nomor tak dikenal. Foto. Foto aku sama Tadz Rayan 3 hari lalu. Pas sesi foto wartawan. Jarak 35 cm. Caption: "Cepet amat move on. Apa karena Ustadz lebih kaya? –A.P."
Ustadz Rayan liat notif. Nggak buka. Langsung matiin HP.
Terus ngomong, pelan. Di atas kepalaku. "Zahra. Apapun yang dia kirim lagi... kita baca bareng. Lawan bareng. Ya?"
Aku angguk. Di dadanya. "Ya, Tadz. Bareng."