NovelToon NovelToon
REPLAY

REPLAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Anyelir 02

Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.

Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.

Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.

Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - Jejak

“Bagaimana Tuan Lazuardi, apakah orang yang saya bawa sesuai dengan kriteria anda?” Tanpa bertanya pun, Arsyad tau bahwa kedua orang yang duduk di depannya sangat puas. Dan lagi, hari ini pertama kalinya melihat kakak sepupunya yang dingin itu dekat dengan perempuan. Tak ada jarak, tak ada penolakan. Arya menerima dan mampu berada dalam jarak yang dekat dengan Nala, dan Arsyad melihat binar yang berbeda dari mata Arya. Mata Arya seolah berbicara bahwa dia senang berada di dekat Nala, seolah mereka kenal sejak dulu.

“Sangat puas Tuan muda Wijaya! Sangat puas!” Tania begitu senang melihat hasil foto Nala dengan Arya. Tampak seperti foto prewedding, bukan promosi. Mereka tampil sangat romantis, begitu menjiwai peran pasangan yang romantis.

“Saya juga tuan, hanya saja ada masalah satu hal.”

“Apa itu?”

“Tuan muda, bagaimana kami membayar Tuan Arya? Uang ku tak cukup harus memperkerjakan beliau seperti ini!” Hari begitu pusing memikirkan pengeluaran yang akan ia keluarkan kali ini. Jika membayar Nala, dirinya masih mampu apalagi Nala masih mau dibayar sedikit lebih murah dari seharusnya. Namun, ini adalah Arya. Raditya Arya Wijaya, CEO dari Wijaya Estate yang mampu menghasilkan uang ratusan juta dalam sehari. Rasanya tak mampu membayar Arya.

“Ah masalah itu. Tenang saja tuan, bayar saja sama dengan Nala. Saya sudah membicarakan hal itu dengannya. Dan ini kontraknya.” Hari membaca kontrak yang diberikan Arsyad. Sungguh, dirinya tak menyangka dengan apa yang ia lihat. Arya menandatangani kontrak tanpa ada perubahan. Bahkan harga yang dibayarkan sama dengan milik Nala.

“Arsyad, kau yakin ini nyata?!”

“Tentu, om. Masa aku bercanda.”

Arsyad kembali memperhatikan Arya yang sedang berpose di depan kamera. Sungguh, ini hal yang langkah. Melihat kondisi yang mendukung, dirinya mengangkat ponselnya dan membuka kamera ponsel. Melihat hasil jepretannya, dengan segera ia mengirimkannya ke grup keluarga. Hal langkah seperti ini, mana mungkin ia lewatkan. Kabar bahagia bagi keluarganya adalah Arya mau dekat dengan perempuan.

“Kita istirahat dulu sebentar. Kemudian, kita akan berfoto sesuai dengan pasangan masing-masing!” para model segera keluar dari area pemotretan meninggalkan Hari, Tania, Zara, Arsyad, Nala, Arya dan kru yang lainnya.

“Nala, gue seneng banget akhirnya bisa satu frame lagi sama lo!” girang Zara sambil memeluk erat Nala.

“Kalian sudah bekerja keras!” ujar Hari dan Tania yang berada di dekat mereka. Tania mengeluarkan selembar tisu dan memberikannya pada Nala, “Usap dulu keringatmu, buat dirimu nyaman.”

Nala menerimanya dengan senang hati. Sungguh, hari ini begitu panas.

Merasakan semilir angin di sebelah kirinya, sebuah kipas elektrik berukuran kecil tepat menghadap ke arahnya. Nala menatap bingung ke arah Arya.

“Kenapa? Kurang sejuk kah?”

“Bukan, hanya saja kenapa diarahkan padaku?”

“Bukankah kau bilang merasa panas. Jadi ini untukmu.” Arya memberikan kipas yang ia pegang. “Nah, ambil!” Dengan ragu, Nala mengambil kipas itu. “Terima kasih!”

Tak lama, sebuah food truck dengan label Moonlight Cafe datang tepat di depan area studio. Orang-orang berbondong-bondong keluar melihat food truck itu. Sebuah food truck berwarna biru bergradasi pink dan putih, dengan sedikit corak bunga melati. Gambaran khas Moonlight Cafe milik Nala.

Nala dan yang lainnya melihat jendela. Ruang pemotretan berada di lantai 3.

“Lila, kau kah yang memanggilnya?”

“Benar, nona.” Nala menghela nafas mendengar pengakuan Lila. Seperti biasa, Lila selalu menjaga makanan atau minuman untuknya. Sepertinya kejadian saat di luar negeri membuatnya trauma.

“Kalau begitu ambilkan untukku dan yang lain.”

“Baik, nona!”

“Kevin, kau juga bantu dia!”

Kepergian Lila dan Kevin, meninggalkan keheningan. Nala memijat pelan keningnya yang terasa pening. Di kelilingi orang-orang yang protektif terkadang membuatnya sakit kepala, terasa seperti ada rantai yang mengikat.

“Kau kenapa?” Arya gelisah saat melihat Nala memijat keningnya. Dia dengan buru-buru mengecek suhu tubuh Nala. Reaksi gelisah tak hanya terjadi pada Arya, Zara dan yang lainnya juga.

“Tidak ada, hanya pening melihat betapa protektifnya Lila terhadap makananku.”

“Ah, benar juga. Kalau dilihat-lihat Lila selalu memperhatikan makanan lo. Emang ada apa?” Zara sebenarnya menyadari akan hal itu. Sejak dulu Lila begitu memperhatikan makanan Nala jika itu berasal dari luar. Dia akan meminta mangkuk kecil dan sendok untuk mencicipi makanan Nala. Perlakuan yang berlebihan, namun itulah yang terjadi

“Ehm... Aaa... Itu...”

“Emm... Aaa.. doang, jawab dong!” greget, rasanya Zara ingin menggeplak kepala Nala karena gemas.

Berbanding terbalik dengan Zara, Nala menjadi cemas karena jika ia menjelaskan maka rahasia yang ia simpan akan terkuak dan Zara pasti akan membocorkannya ke yang lain.

“Jawab!” Nada penekanan itu membuatnya tersentak. Jarang sekali melihat Zara marah padanya, biasanya hanya Maya yang selalu memarahinya dan Zara yang memanjakannya. Citra akan selalu bersikap netral saat dirinya melakukan sedikit kenakalan.

“Itu, sebenarnya saat di luar negeri ada orang iseng yang mengotak atik makananku.”

“Mengotak-atik?” Reaksi semuanya sama, mereka terdengar bingung karena terdengar ambigu. Jika hanya rasa, tak perlu berlebihan seperti melakukan protokol.

“Ya, karena itu. Dia memberikan obat sakit perut ke makananku, jadi ya gitu,”

“Ah~” Nala melihat reaksi mereka yang aneh.

“Nona, ini makanan an...da!” Lila terkejut saat melihat Nala dikelilingi banyak orang dan menatapnya dengan intens.

“Makanan datang, mari makan!!!” Nala berlari ke arah Lila,  sungguh ditatap seperti seolah dirinya adalah sebuah objek langka.

“Untung hanya itu, jika ada yang lain bisa-bisa mereka akan melakukan protokol yang sama dengan Lila!” batin Nala

Jika yang lain segera mengikuti Nala, maka berbeda dengan Arya. Arya tampak menatap tajam setiap langkah Nala. Dia tau, masih ada yang disembunyikan Nala. Jika hanya masalah itu, Lila tak akan seprotektif seperti saat ini.

“Baiklah, kali ini aku akan mencari tau semuanya sendiri Vika. Aku tak akan kecolongan dan bersikap tak acuh seperti dulu dan membuatmu pergi dari ku!” batin Arya dengan penuh tekad

...****************...

Lami's Media

Citra yang sibuk dengan membuat sebuah artikel terkejut dengan pemberitaan yang ada. Apalagi ini mengenai keluarga suaminya, Berita mengenai Arya yang saat ini ikut dalam sebuah pemotretan. Ada nama Zara yang ikut tercantum. Namun, yang paling mengejutkan adalah nama Nala yang ikut terseret.

“Sebenarnya mereka ngapain sih?”

Dengan buru-buru Citra menghubungi Nala, Zara ataupun Arsyad. “Gini nih kalau jalan tanpa berpikir!” Rasa kesal begitu menumpuk kali ini. Melihat kejadian ini, Citra tau bahwa ini langkah spontan dari Arsyad.  

“Kemana mereka? Kenapa nggak ada yang angkat?” kesal Citra

Dengan cepat Citra menghubungi Agas, suaminya. Pemberitaan ini harus segera dihentikan sebelum tak terkendali. Mungkin ini akan membantu Nala ataupun Zara sebagai ajang promosi pakaian yang sedang mereka promosikan. Namun, ke depannya ini bisa saja menjadi celah untuk Nala. Foto yang beredar adalah foto Nala bersama dengan Arya yang bergaya romantis.

“Sial!”

Meraih tasnya, Citra segera keluar dan menuju tempat Nala dan Zara. Melihat waktu berita dikeluarkan, maka mereka masih berada di studio. Menyetir mobilnya dengan cepat, dia tak ingin para wartawan yang datang terlebih dulu dan membuatnya menjadi semakin viral.

“Siapapun yang berani main-main dengan keluargaku, maka akan ku lawan!”

1
Noona Rara
Aku mampir yah kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!