NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 23 Satu Kamar yang Tidak Profesional

Malam ini kamar terasa… terlalu sempit.

Bukan karena ukuran kamar.

Tapi karena— situasinya.

Canggung.

Parah.

Lampu kamar redup.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari perang dingin—

Rania dan Gavin kembali berada di kamar yang sama.

Berdua.

Tanpa bisa kabur.

Bagus.

Luar biasa.

Rania duduk di ujung kasur.

Kaku.

Tangannya sibuk membuka tutup botol skincare yang sebenarnya tidak perlu dibuka.

Sekadar cari kesibukan.

Sementara—

Gavin berdiri di dekat lemari.

Masih mengenakan kaos hitam rumah.

Lengan terlipat sedikit.

Tatapan terlalu tenang.

Terlalu mengamati.

Dan itu justru bikin gugup.

“Kita belum selesai ngobrol.”

Nah.

Datang juga.

Rania pura-pura sibuk.

“Mama bisa dengar.”

“Nggak masalah.”

Kurang ajar.

“Tapi saya masalah.”

Gavin diam beberapa detik.

Lalu berjalan sedikit lebih dekat.

Tidak terlalu dekat.

Tapi cukup membuat napas Rania mendadak terlalu sadar diri.

“Kamu ngindar dari saya tiga hari.”

“Tiga hari?” ulang Rania cepat.

“Kamu ngitung?”

Tatapan Gavin tetap datar.

“Iya.”

Oh.

Bagus.

Sekarang dia menghitung.

Jantungnya mulai tidak profesional lagi.

Rania berdiri cepat.

“Aku mau tidur.”

Namun baru satu langkah—

suara Gavin terdengar lagi.

“Kalau masalahnya Clarissa— bilang.”

Langkahnya berhenti.

Sial.

“Bukan.”

“Kalau masalahnya pembicaraan enam bulan itu— juga bilang.”

Membeku.

Karena ternyata—

dia tahu.

Dan menyebalkannya—

cara Gavin ngomong terlalu langsung.

Terlalu mudah membaca dirinya.

Rania mengembuskan napas kecil.

“Kamu nggak ngerti.”

“Ya makanya jelasin.”

Nada suara Gavin kali ini—

lebih rendah.

Lebih sabar.

Dan justru itu bahaya.

Karena semakin baik dia—

semakin susah menjaga jarak.

Rania menoleh pelan.

Tatapannya bertemu.

Sial.

Terlalu dekat.

Terlalu tenang.

Terlalu seperti suami sungguhan.

“Aku cuma…”

Berhenti.

Karena bagian berikutnya terlalu memalukan.

Aku takut suka beneran.

Tidak.

Malu.

Jadi akhirnya—

“Aku cuma nggak mau lupa posisi.”

Sunyi.

Gavin mengernyit kecil.

“Posisi?”

“Ini kontrak.”

Boom.

Lagi.

Kalimat itu lagi.

Dan kali ini—

ekspresi Gavin berubah tipis.

Nyaris tidak terlihat.

Namun ada sesuatu—

yang terasa seperti kecewa.

“…Kamu sering banget ngingetin soal kontrak akhir-akhir ini.”

Karena aku panik.

Karena aku mulai terlalu nyaman.

Karena kamu mulai terlalu perhatian.

Karena semua ini terasa terlalu nyata.

Tapi tentu saja—

Rania tidak mungkin bilang.

Jadi—

“Aku cuma realistis.”

Lalu—

untuk pertama kalinya malam itu—

Gavin mengembuskan napas panjang.

Seperti sedang menahan sesuatu.

Gavin diam cukup lama.

“…Saya ngerti.”

Jeda.

“Berarti saya yang salah baca situasi.”

Namun anehnya—

justru itu lebih menyakitkan.

Karena nada suaranya—

terlalu menyerah.

Tiba-tiba—

TOK TOK TOK.

Suara ketukan pintu.

Dua orang membeku.

Lalu—

suara yang terlalu familiar terdengar dari luar.

“Raniaaaa?”

Mama Ratna.

Suara terlalu ceria.

“TIDUR BELUM?”

Mati.

Rania langsung panik.

“Belum, Ma!”

“Boleh mama masuk?”

OH TIDAK.

Rania dan Gavin langsung saling pandang.

Refleks.

Parah.

Karena—

Rania masih berdiri jauh.

Sementara Gavin di dekat lemari.

Dan—

yang lebih parah—

selimut di kasur masih rapi.

Tidak ada tanda-tanda satu kamar.

Gavin bergerak duluan.

Cepat.

Tenang.

Langsung duduk di sisi kasur.

Natural.

Seolah memang sudah lama di sana.

Sementara Rania—

masih loading kehidupan.

TOK TOK.

“Masuk ya?”

Pintu terbuka.

Mama Ratna muncul.

Lalu—

diam.

Tatapannya bergerak pelan.

Ke Gavin.

Ke Rania.

Ke kasur.

Menyipit.

Curiga.

Sangat curiga.

“…Kalian belum tidur?”

“Baru mau,” jawab Gavin tenang.

Terlalu tenang.

Rania ingin lempar bantal.

Mama Ratna masih memperhatikan.

Lalu—

“Kenapa jauh-jauhan?”

Apa?

Rania hampir tersedak udara.

Mama Ratna menunjuk dramatis.

“Kamu di sana.”

“Gavin di sini.”

“Ini kamar apa halte bus?”

Ya Tuhan.

Gavin nyaris terlihat menahan senyum.

Pengkhianat.

“Mama cuma mau bilang,” lanjut Mama Ratna santai.

“Besok sarapan bareng.”

Tatapannya berpindah.

Lalu—

lebih menyipit.

“Oh iya.”

Nada berubah terlalu manis.

Terlalu mencurigakan.

“Pelukan sebelum tidur jangan lupa ya.”

Membeku.

Total.

“Apa?” Rania tercekat.

Mama Ratna mengangguk yakin.

“Pasangan harmonis itu physical touch penting.”

Gavin terdiam.

Rania ingin pingsan.

“Yaudah mama tidur.”

Lalu—

sebelum pintu ditutup—

Mama Ratna menambahkan:

“Oh iya.”

“Besok mama cek.”

“Kalau bantalnya masih kepisah jauh— mama tahu kalian bohong.”

Klik.

Pintu tertutup.

Sunyi.

Hening.

Parah.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Tidak ada yang bicara.

Lalu—

Rania pelan menoleh.

“…Kita bahkan nggak punya rencana cadangan.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

sudut bibir Gavin bergerak tipis.

Nyaris senyum.

“Kita pernah pura-pura lebih sulit dari ini.”

Jeda.

Tatapannya turun sedikit.

Ke kasur.

Lalu kembali ke Rania.

“Sekarang tidur.”

Apa?

“Di mana?”

Sunyi dua detik.

Lalu—

Gavin menjawab terlalu tenang.

“Ya di kasur.”

Boom.

Rania membeku.

“…Kita nggak punya sofa?”

“Mama bakal cek.”

“…Lantai?”

“Mama juga punya mata.”

Kurang ajar.

Gavin membuka sisi selimut.

“Tenang.”

Tatapannya terlalu tenang.

“Saya nggak gigit.”

“Belum.”

Jantung Rania langsung melakukan sesuatu—

yang sangat tidak profesional.

Jangan lupa tinggalkan jejak 😍

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!