Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Di landasan pacu, lima mobil SUV hitam lapis baja sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus. Sepuluh orang pengawal bersetelan jas hitam dengan earpiece terpasang berdiri tegap, membentuk barikade manusia untuk memastikan tidak ada satu pun lensa kamera atau orang asing yang bisa mendekati Michelle.
Salah satu pengawal membukakan pintu untuk mereka. Ethan berhenti sejenak, membenarkan posisi syal sutra di leher Michelle sebelum mereka masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara.
"Selamat datang di medan perangmu, Michelle," bisik Ethan saat pintu mobil tertutup perlahan, mengisolasi mereka dari dunia luar.
Jemputan itu berakhir di sebuah gedung apartemen paling eksklusif di Jakarta, di mana seluruh lantai teratas telah dibeli oleh Ethan. Dari sana, Michelle bisa melihat hampir seluruh sudut kota.
"Istirahatlah, baby" Ethan mengecup kening Michelle setelah mereka sampai di dalam. "Besok adalah hari di mana Mikayla benar-benar menghilang, dan Michelle Ad Lynne akan mengukir sejarah baru di kota ini."
Michelle berdiri di tepi jendela kaca raksasa, mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut.
"Lihatlah kota ini, Nak," batinnya bicara pada benih yang ia harapkan sudah mulai bersemi di rahimnya. "Ibumu kembali bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milik kita. Dan besok, dunia akan tahu bahwa tidak ada racun yang bisa membunuh ratu yang sesungguhnya."
Malam itu, Jakarta tampak tenang, namun di bawah permukaan, sebuah tsunami finansial dan dendam pribadi sedang bersiap untuk menyapu bersih keluarga Abimanyu hingga tak bersisa.
Matahari Jakarta bersinar terik, seolah ikut memanaskan ketegangan di gedung pusat Abimanyu Group. Di ruang rapat utama, suasana terasa mencekam. Rajendra Abimanyu duduk di kursi kebesarannya dengan wajah pucat dan tangan yang sesekali gemetar karena efek serangan jantungnya, disampingnya, Elang duduk di atas kursi roda, tampak kuyu dengan mata merah, sisa dari kebiasaan mabuknya untuk melupakan kenyataan bahwa ia kini cacat dan tak berdaya.
"Di mana investor dari Ad Lynne Group itu? Kita tidak punya waktu lagi! Bank akan menyita aset utama kita sore ini!" bentak Rajendra, suaranya parau namun masih berusaha menunjukkan sisa-sisa keangkuhannya.
Tepat saat itu, pintu eksekutif ganda terbuka lebar.
Suara ketukan high heels yang tajam dan berirama memenuhi ruangan yang tadinya bising dengan perdebatan, dua ajudan pria bertubuh tegap membuka jalan, diikuti oleh Ethan Aviel Leon yang melangkah dengan aura dominan yang membekukan atmosfer, namun, perhatian semua orang tertuju pada wanita yang mengapit lengan Ethan.
Michelle mengenakan gaun formal navy blue dari sutra Italia yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, menunjukkan lekuk tubuh seorang wanita yang sehat dan penuh vitalitas, rambut cokelatnya ditata bergelombang besar yang jatuh dengan elegan di bahunya, ia mengenakan kacamata hitam, menutupi sebagian wajahnya yang kini terlihat sangat berkelas.
"Selamat pagi, Tuan-tuan," suara Ethan bergema dingin. "Saya perkenalkan, CEO dari Ad Lynne Group, pemilik tunggal dari 60% saham baru yang kalian butuhkan untuk tetap bernapas.”
Suasana di dalam ruang rapat itu terasa seolah oksigen ditarik paksa keluar. Rajendra Abimanyu dan Elang, tidak bisa melepaskan pandangan mereka dari wanita yang duduk di kursi utama itu. ada sesuatu yang sangat akrab, namun sekaligus sangat asing.
Wajah itu mirip dengan Mikayla, namun auranya seribu kali lebih kuat. Mikayla yang mereka tahu selalu menunduk dan berpakaian sederhana, sementara wanita di depan mereka ini, Michelle Ad Lynne adalah definisi kemewahan dan kekuasaan yang tak tersentuh.
Michelle sengaja tidak langsung mengakui identitasnya. Ia membiarkan kacamata hitamnya tetap terpasang, hanya menurunkan sedikit di batang hidungnya agar matanya yang tajam bisa mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya.
"Tuan Abimanyu," suara Michelle terdengar sangat formal, dingin, dan menggunakan aksen yang sedikit kebarat-baratan. "Saya datang jauh-jauh dari Berlin bukan untuk melihat anda berdiri mematung seperti itu. Silakan duduk, kita punya banyak angka untuk dibahas."
Elang, dengan tangan gemetar di atas roda kursinya, mencoba memajukan dirinya. "Maaf... Nyonya. Wajah Anda... Anda mengingatkan saya pada mendiang istri saya."
Michelle tertawa kecil, tawa yang elegan namun terdengar merendahkan, ia menoleh ke arah Ethan yang berdiri di sampingnya dengan wajah datar.
"Mendiang istrinya?" Michelle bertanya pada Ethan seolah Elang tidak ada di sana. "Lucu sekali, apakah semua pria di Jakarta menyambut investor dengan cara sentimental seperti ini? Mengingat orang mati di tengah kebangkrutan perusahaan?"
Ethan menyeringai tipis, memberikan tatapan menghina pada Elang. "Mungkin dia masih dihantui rasa bersalah, baby, kudengar dia kehilangan istrinya dalam kecelakaan tragis atau mungkin pembunuhan yang disamarkan?"
Wajah Rajendra memucat mendengar kata "pembunuhan". Ia segera memotong pembicaraan. "Maafkan putra saya, Nyonya. Dia sedang tidak sehat. Mari kita fokus pada kontrak investasi ini. Kami butuh dana segar 500 miliar untuk menutupi hutang jangka pendek."
Michelle membuka map dokumen di depannya dengan gerakan yang sangat pelan, sengaja membuat mereka tersiksa dalam penantian.
"500 miliar?" Michelle berdecak. "Itu angka yang kecil bagi Ad Lynne Group, tapi saya tidak memberikan uang secara gratis, saya ingin kontrol penuh atas divisi audit dan hak suara dalam setiap keputusan strategis. Dan..."
Ia menjeda, menatap Elang tepat di matanya dari balik kacamata hitam.
"Saya ingin daftar aset pribadi Anda, Tuan Elang, termasuk rumah-rumah yang mungkin Anda berikan kepada katakanlah, wanita simpanan atau selingkuhan Anda? Perusahaan saya tidak suka bekerja sama dengan pria yang tidak bisa menjaga integritas moralnya."
Jantung Elang berdegup kencang. Cara wanita ini bicara, caranya mengetukkan pulpen mahal di atas meja, semuanya sangat mirip dengan kebiasaan Mikayla saat sedang serius bekerja di bank dulu, tapi tidak mungkin! Ia sudah melihat pemakaman itu. Ia melihat gundukan tanah itu.
"Nyonya... bolehkah saya tahu nama asli Anda sebelum menikah dengan keluarga Leon?" tanya Elang dengan suara serak, mengabaikan tatapan tajam ayahnya.
Michelle melepaskan kacamata hitamnya sepenuhnya, ia menatap Elang dengan tatapan kosong, seolah Elang hanyalah sebutir debu di sepatunya.
"Nama saya adalah Michelle. Dan masa lalu saya sama sekali bukan urusan Anda," jawab Michelle dingin. "Tapi jika Anda terus bersikap tidak profesional seperti ini, saya mungkin akan mempertimbangkan untuk membatalkan investasi ini dan membiarkan gedung ini disita bank sore nanti."
Rajendra panik. Ia langsung menyikut Elang. "Diam kamu, Elang! Jangan membuat Nyonya Michelle marah!"
Michelle tersenyum sangat tipis. Ia menikmati ketakutan di mata mereka. Ia ingin mereka merasa diselamatkan olehnya, ia ingin mereka memuja dan menjilat kakinya, sebelum ia sendiri yang akan menarik karpet dari bawah kaki mereka dan membiarkan mereka jatuh ke jurang terdalam.
"Nikmatilah harapan palsu ini, Ayah mertua... Mas Elang..." batin Michelle. "Tanda tangani kontrak ini, dan kalian secara resmi telah memberikan leher kalian untuk aku sembelih kapan saja."
Fakta bahwa Ethan Aviel Leon adalah musuh bebuyutan Elang Abimanyu menambah lapisan ketegangan yang luar biasa di ruangan itu, selama bertahun-tahun, Ethan adalah rival abadi yang selalu selangkah lebih maju, pria yang paling dibenci Elang karena kekayaan, kekuasaan, dan karismanya yang tak tertandingi.
Melihat musuh terbesarnya datang membawa "penyelamat" yang wajahnya sangat mirip dengan wanita yang ia khianati, membuat Elang merasa seperti sedang dicekik.
Elang mencengkeram lengan kursi rodanya hingga buku jarinya memutih. Matanya beralih dari Michelle ke Ethan dengan kilat kebencian yang dalam.
"Ethan Leon..." desis Elang, suaranya sarat dengan dendam. "Jadi ini caramu menghina keluargaku? Datang ke sini saat kami sedang terdesak, membawa wanita yang sengaja kau buat mirip dengan istriku?"
Ethan tidak meledak marah. Ia justru tertawa pelan, suara tawa yang dalam dan penuh penghinaan yang membuat bulu kuduk Rajendra berdiri, ia melangkah maju, meletakkan tangannya di sandaran kursi Michelle dengan gerakan yang sangat posesif.
"Menghina?" Ethan menaikkan sebelah alisnya. "Aku ke sini untuk berbisnis, Elang, tapi aku mengerti jika otakmu yang sudah tumpul karena alkohol itu tidak bisa membedakan antara investasi dan penghinaan. Dan soal istri..." Ethan mengusap bahu Michelle dengan lembut di depan mata Elang. "Jangan bandingkan Michelle-ku dengan wanita dari masa lalumu yang malang itu. Michelle adalah ratu, sedangkan istrimu dulu... bukankah dia hanya seorang pelayan di rumahmu sendiri?"
Michelle merasakan kemarahan Elang yang meluap, dan itu membuatnya merasa sangat puas, ia menoleh ke arah Ethan, memberikan senyum manis yang hanya ia berikan pada pria itu, sebuah pemandangan yang membuat Elang merasa jantungnya ditusuk sembilu.
"Sudahlah, Ethan," ucap Michelle dengan nada manja yang dibuat-buat namun terdengar tajam. "Jangan terlalu keras padanya, dia sudah kehilangan kaki, kehilangan istri, dan sekarang hampir kehilangan hartanya. Kita harus menunjukkan sedikit 'belas kasihan'."
Michelle kemudian kembali menatap Elang, namun kali ini dengan tatapan yang sangat dingin. "Tuan Elang, fakta bahwa musuh bebuyutanmu adalah satu-satunya orang yang sudi mengulurkan tangan saat kamu berada di titik nadir, bukankah itu ironi yang indah? Pilihannya hanya dua, tanda tangani kontrak ini dan biarkan aku memiliki asetmu, atau tolak dan jadilah gelandangan di jalanan Jakarta besok pagi."