Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gombalan maut
Dug....dug....dug.....
Pocong-pocong di luar masih terus menggedor pintu dan jendela rumah Fitri. Seakan tak pernah lelah para pocong itu tak pernah berhenti meneror Fitri. George yang berada di antara kumpulan pocong tak bisa berbuat apa-apa,dia hanya bisa diam memperhatikan dari jarak beberapa meter.
Waktu terus berjalan,jika di luar para pocong seakan berlomba untuk menakuti korbannya,di dalam rumah Fitri akhirnya merasakan kantuk setelah berjuang mati-matian menahan rasa lapar di perutnya. Ternyata segelas susu hangat mampu meredam rasa lapar nya untuk saat ini.
"Hoooaaammm....." Fitri menguap lebar lalu melirik ke arah pintu sejenak.
"Mau sampai kapan mereka seperti itu ?" Tanya nya entah pada siapa.
"Sampai pagi" Ujar Berliana.
Jefry menambahkan "Dan siap-siap saja besok malam mereka akan kembali dan melakukan hal yang sama,sampai kamu benar-benar merasakan akibat dari perbuatan mu" Ucap nya
"Memangnya apa yang udah gue lakuin?" Tanya Fitri tanpa merasa bersalah.
"Apa yang kamu lakukan ?" Seru Jamilah sambil berkacak pinggang," Tadi kamu keluar dan itu kesalahan mu. Mereka tidak akan berhenti sampai kamu benar-benar menderita" Lanjut nya.
"Haaahhh....gue gak ngerti. Udah ah,mending gue tidur aja " Fitri berlalu begitu saja ke kamar nya. Sementara di luar suasana masih riuh oleh banyaknya pocong yang mengerumuni rumah itu.
Jamilah hanya bisa menatap kepergian Fitri dengan rasa tak percaya. "Baru kali ini loh,aku lihat ada manusia seperti itu " Ucap nya pelan.
"Sudahlah,...dia memang seperti itu orangnya" Ucap Maria seakan dirinya sudah mengenal lama Fitri.
Di dalam kamar nya,Fitri baru saja terlelap. Suara ketukan di jendela kamar tak ia hiraukan. Satu pocong masuk ke dalam kamar,berdiri sedikit condong ke depan tepat di depan wajah Fitri. Fitri yang kala itu sudah menutup mata nyatanya belum benar-benar terlelap,dia menguap lebar.
"Hoooaaaamm......"
Si pocong yang niatnya ingin menakuti sontak menegakkan tubuhnya," Perasaan yang setan aku,kenapa malah nafas dia yang bau bangke " Ucap pocong itu.
Perlahan pocong itu memudar lalu hilang sepenuhnya saat menembus dinding. Waktu terus berjalan di luar pun para pocong masih belum menghentikan aksinya.
Seiring detak jarum jam yang berbunyi teratur mengiring Fitri pada tidur nya yang semakin lelap. Akan tetapi tak lama Fitri kembali terbangun saat alarm sholat di ponselnya berbunyi memecah kegaduhan yang diciptakan para penghuni desa tak kasat mata.
"Allahu Akbar.... Allahu Akbar.....!"
Sontak saja para pocong yang berjibun membubarkan diri. Mereka pergi kocar-kacir setelah mendengar suara adzan dari ponsel Fitri.
"Hmmm....baru aja merem bentar nih mata,udah subuh saja...hooaaammm....." Lirih Fitri seraya menguap.
Meski rasa ngantuk membuat matanya enggan terbuka,gadis itu tetap memaksakan diri untuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Fitri segera membersihkan tubuhnya setelah itu mengambil air wudhu.
Saat Fitri mengerjakan sholat subuh, Jamilah and the genk segera pergi ke luar. Mereka merasa tak nyaman dengan kegiatan yang Fitri lakukan. Saat matahari mulai merangkak naik, cahaya kuning keemasan nya perlahan menghangatkan situasi yang sempat chaos akibat ulah para pocong semalam.
Fitri keluar rumah dengan niat berburu sarapan pagi. Di jalan banyak warga yang menyapa dirinya. Fitri berhenti di sebuah warung sederhana,dari arah dalam tercium aroma masakan. Aroma rempah dan bumbu begitu liar menari-nari di indra penciuman,hingga membuat perut Fitri kian keroncongan.
"Bu,masakan nya ada apa saja ?" Tanya Fitri sopan setelah dia duduk di salah satu kursi kosong.
"Tumis kangkung,urap sayuran, telur dadar,telur ceplok,tumis toge tahu,goreng tempe tahu,tempe orek. Ada sambel terasi juga ,neng nya mau masakan apa ?" Tanya mbok Rum,penjual warung.
"Telur ceplok setengah mateng,tempe orek sama sambel terasi saja Bu, makan di sini saja" Jawab Fitri cepat.
"Siap neng ,sebentar ya saya siapin dulu" Ucap Mbok Rum segera menyiapkan pesanan Fitri.
Di sana ada empat kursi ,dua ada yang menempati. " Kamu Fitri keponakan Nina yang dikabarkan meninggal itu kan ?" Tanya seorang ibu paruh baya berambut pendek bernama Tini.
"Iya Bu,...." Jawab Fitri singkat namun nampak sopan dengan senyum manis nya.
"Kamu tinggal di rumah kosong itu ?" tanya ibu satunya yang bernama Sarni.
Fitri tersenyum sebelum menjawab,"Iya Bu..." Jawab Fitri lagi.
"Gak takut tah?" Tanya Bu Tini.
"Alhamdulillah tidak Bu" jawab Fitri lagi. Dia yang tengah kelaparan nampak nya enggan untuk banyak berbicara dan hanya menjawab singkat. Hingga makanan nya sudah siap, Fitri segera menyantap nya dengan sangat lahap. Kedua ibu-ibu itu memperhatikan cara makan Fitri yang seperti orang tak makan seminggu.
"Kayanya lapar benget itu ,makan sampai belepotan ,mana cepet banget ngunyah nya " mereka berbisik-bisik.
"Iya bener "
"Kira-kira dia gak makan berapa lama ya....."
Ketika itu Maria muncul tepat di belakang dua ibu-ibu itu. Maria mendengarkan ketika ibu-ibu itu terus berbisik-bisik.
"Pagi-pagi udah pada ghibah saja,mana yang dighibahi ada depan mata" Ucap Maria sambil berkacak pinggang.
"Aku kerjain ah....." Maria menyeringai ketika sebuah ide mampir di benaknya.
"Eh ! " Kejut Bu Tini lalu melihat ke belakang nya saat merasakan bemper belakang nya ada yang mencolek.
"Kenapa ?" Tanya Bu Sarni.
Fitri melirik namun dia terlihat cuek dan tetap fokus pada makanannya.
"Gak tahu,perasaan kali ya. Kaya ada yang nyolek " jawab nya bingung.
Kini giliran Bu Sarni yang mengaduh saat merasakan bemper belakang nya yang lumayan semok ada yang memukul.
Plak'
"Aduh !"
"Kenapa?" Tanya Bu Tini
"Wow ...empuk banget,lebih empuk dari kasur kamu,Fit " Ucap Maria pada Fitri.
Fitri hanya mendengus pelan sambil melirik sebentar ke arah bu Tini dan Bu Sarni , kemudian dia kembali fokus ke makanan nya.
"Pantat ku ada yang mukul " Jawab Bu Sarni sambil celingukan mencari pelakunya, namun baik Bu Tini maupun Bu Sarni keduanya tak melihat siapapun di sana kecuali Fitri dan Mbok Rum. Fitri tak mungkin karena tengah makan dari tadi,apalagi Mbok Rum yang berada di dalam sedang sibuk mengaduk masakannya.
Kedua ibu itu saling bertukar pandang, bulu kuduk mereka berdiri saat Maria meniup tengkuk mereka bergantian. Di detik berikutnya Maria cekikikan tepat di samping telinga Bu Tini dan Bu Sarni. Namun yang membuat mereka terkejut hingga tubuh gemetar ketika tiba-tiba saja Fitri yang tengah mengunyah makanan nya tertawa cekikikan dengan ekspresi aneh.
"Khikhikhi....." Fitri terkikik sambil menunduk,tangan nya yang berada di atas piring terdiam.
Bu Tini dan Bu Sarni terpaku,dengan raut wajah yang kontras dengan rasa takut dan terkejut. Fitri kemudian menggelengkan kepalanya,kedua matanya mengerjap,lalu terlihat menghela nafas.
"Huuuuuuhhhh......" Seketika Fitri menatap kedua ibu itu dengan wajah kaku.
"Eh,...hehehe....maaf Bu ibu,aku kesedak telor " Cengir Fitri dengan ucapannya yang tak masuk akal dan logika.
"Kesedak kok cekikikan mirip kunti,kalau kesedaknya cekikikan,gimana bersin nya...." Gumam Bu Sarni dalam hatinya, namun berbeda dengan Bu Tini,dia merasa ada yang aneh dengan gadis di hadapannya.
"Kita pulang saja yuk!" Ajak Bu Sarni,mereka berdua pun akhirnya pergi.
Setelah membayar makanan nya, Fitri segera beranjak. Tujuan nya mencari tukang ojek ,dia berencana pergi ke pusat kota untuk mencari barang-barang elektronik.
"Bang...ojek !" Ucap Fitri ketika dia sampai di depan sebuah warung kopi ,di sana ada beberapa orang pria dan motor yang berjajar terparkir di depan warung.
Pria-pria itu menoleh " Jek,cewek tuh !" Bisik teman nya bernama Agung.
"Jek...cakep jek. Kalau saja gue belum kawin udah gue sikat " Bisik teman nya yang lain.
"Hehehe ...boleh dicoba " Kojek menyeringai tipis melihat paras Fitri yang cantik.
"Jek, kayanya orang baru. Belum pernah lihat soalnya " Bisik Agung.
"Ehem...kalian diam !" Kojek berdehem.
Fitri mengerutkan keningnya karena pria-pria di depan nya malah nampak berbisik-bisik. Sebelumnya dia sudah meminta Maria untuk kembali ke rumah.
"Iya neng ,Abang ojek " Ucap Kojek,pria itu masih lajang diusia nya yang sudah lebih dari matang. Teman-teman seperojekan nya sering menggoda nya dan kerap menjodoh-jodohkan nya dengan pelanggan wanita.
"Maksudnya saya mau ngojek bang " Ucap Fitri
"Oh mau ngojek,bilang dong. Mari neng,Abang anter mau pergi ke mana ? Ke hati Abang mau ?" Ucap Kojek yang diakhiri dengan kalimat yang terdengar seperti lelucon bagi Fitri.
Fitri meringis senyum," Bisa antar saya buat cari sesuatu di pusat kota ?" Tanya Fitri.
"Bisa banget ayo !" Seru Kojek bersemangat dan segera menuju motornya,mengambil satu helm dan mengerahkan pada Fitri.
"Neng orang baru ya,baru lihat ada wanita secantik neng di kampung ini. Cantiknya udah mirip bidadari neng, sumpah" Si Kojek langsung mengeluarkan jurus gombalan andalan nya,gombalan maut katanya ,berharap gadis itu terkesan. Tetapi teman-teman nya terlihat terkikik menahan tawa melihat ekspresi Fitri yang terlihat keki.
"Dih,apa sih ni orang " Batin Fitri.
.......