Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pemulihan
Tiga hari setelah serangan fajar, Aequoria mulai berbenah.
Para Siren yang kesurupan kini terbaring di rumah sakit bawah laut. Tubuh mereka masih lemah, tapi mata mereka sudah mulai jernih — tidak lagi kosong seperti kemarin. Beberapa sudah bisa tersenyum, meski masih bingung dengan apa yang terjadi pada diri mereka.
Nana mengunjungi mereka setiap pagi.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanyanya pada seorang Siren perempuan tua yang dulu adalah penjual mutiara di pasar Aequoria.
"Lebih baik, Yang Mulia," jawab perempuan itu. "Tapi aku masih tidak ingat apa yang terjadi. Yang terakhir aku ingat, aku sedang tidur. Lalu tiba-tiba aku bangun di sini."
"Tidak apa-apa. Yang penting kau selamat."
Perempuan itu menangis. "Maaf, Yang Mulia. Aku tidak bermaksud menyerang—"
"Aku tahu," potong Nana. "Itu bukan salahmu."
Jeno sudah pulih sepenuhnya.
Tubuhnya yang kaku setelah tidur panjang kini kembali lincah. Ia berenang mondar-mandir di istana — memeriksa keamanan, melatih pasukan baru, memastikan tidak ada lagi ancaman dari Palung Hitam.
Tapi di malam hari, ia selalu kembali ke sisi Nana.
"Kau tidak perlu menjagaku setiap malam," kata Nana suatu malam, saat mereka duduk di balkon istana.
"Aku tidak menjagamu. Aku hanya... duduk di sini."
"Duduk di sini sambil memegang trisula?"
Jeno melihat trisula di tangannya. "Ini untuk berjaga-jaga."
"Dari apa?"
"Dari apa pun."
Nana menghela napas. "Kau paranoid."
"Aku waspada."
"Sama saja."
Mereka berdua terdiam. Di bawah mereka, kota Aequoria bersinar dengan lampu-lampu bioluminesensi — biru, ungu, hijau — seperti bintang-bintang yang jatuh ke dasar laut.
"Jeno," kata Nana.
"Ya?"
"Apa kau ingat apa yang aku bilang saat kau tidur?"
Jeno terdiam sejenak. Wajahnya memerah — semerah yang bisa dilakukan Siren.
"Tidak," katanya cepat. Terlalu cepat.
"Kau bohong."
"Aku tidak bohong. Aku tidur. Orang tidur tidak bisa mendengar."
"Tapi jari kakimu bergerak."
Jeno membeku. "Apa?"
"Jari kakimu bergerak. Setiap kali aku bilang 'aku mencintaimu', jari kakimu bergerak."
Jeno menutup wajahnya dengan tangan. "Aku malu."
"Jangan malu. Itu lucu."
"Tidak lucu."
"Lucu," ulang Nana. "Tapi aku suka."
Jeno menghela napas panjang. Ia menurunkan tangannya, menatap Nana dengan mata biru pucat yang lembut.
"Aku mendengarnya," bisiknya. "Setiap kata. Aku ingin bangun, tapi tubuhku tidak bisa bergerak. Rasanya seperti... terperangkap di dalam diriku sendiri."
"Dan apa yang membuatmu akhirnya bisa bangun?"
"Kau bilang kau tidak bisa pulang tanpa aku."
Nana tersenyum.
"Itu kalimat yang tidak adil," lanjut Jeno. "Kau tahu aku tidak tega mendengar itu."
"Itu sebabnya aku mengatakannya."
"Licik."
"Aku ratu."
Jeno tertawa — tawa yang tulus, lepas, pulang.
Mereka berdua terdiam lagi. Menikmati keheningan. Menikmati keberadaan satu sama lain.
"Jeno," kata Nana setelah beberapa saat.
"Ya?"
"Apa kau akan melamarku?"
Jeno hampir tersedak air laut.
"Apa?"
"Kau dengar."
"Aku... maksudmu... sekarang?"
"Tidak sekarang. Tapi... suatu hari nanti."
Jeno menatap Nana. Wajahnya serius — tidak bercanda.
"Aku akan melamarmu," katanya. "Tapi bukan sekarang. Belum."
"Kenapa belum?"
"Karena aku ingin melakukannya dengan benar. Bukan di balkon istana sambil membahas pajak rumput laut."
Nana tertawa. "Baik. Aku tunggu."
"Jangan terburu-buru."
"Aku tidak terburu-buru. Aku hanya... mengingatkanku."
Jeno menghela napas. "Kau ratu yang merepotkan."
"Aku tahu."
To be Continued