Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Efek cuaca panas
Hari ini cuaca cukup panas, di dalam ruangan kantin yang terlihat pengap oleh banyaknya mahasiswa/i fakultas seni, Laura dan Rahel tampak berada di sudut kantin. Tempat yang paling nyaman dan yang paling orang-orang pilih.
Udara di sudut itu memang sedikit lebih berhembus berkat kipas angin plafon yang berputar malas, apakah Laura harus menggunakan kekuasaan suaminya agar kipas-kipas di dalam kantin ini di ganti dengan AC 10 biji saat ini?
Hahaha... Pemikiran yang sangat lucu.
“Gila ya, Lau. Ini kantin apa oven raksasa. Panas bener, udah berasa mau mateng gue.” Rahel mengibas-ngibaskan buku sketsa berukuran A4 pada wajahnya. Namun itu tidak terlalu membantu, hawa panas masih terasa.
Laura menyeka butiran keringat dengan tisu yang sudah terlihat lusuh. Entah tisu keberapa itu, intinya ia sudah hampir menghabiskan setengah kotak tisu untuk menyeka keringatnya. Ia setuju dengan perkataan Rahel, sahabatnya. Hari ini cuaca benar-benar panas, lain dari hari-hari sebelumnya.
“Goreng telor tanpa minyak depan fakultas kayaknya bakal cepet mateng deh, Lau.”
Laura tertawa renyah mendengar perkataan sahabatnya itu, meski tawanya terdengar sedikit kering karena dehidrasi. Ia melirik sisa es teh manisnya yang es batunya sudah mencair sepenuhnya, menyisakan cairan berwarna cokelat pucat yang tak lagi menggugah selera.
“Jangankan telor, Hel. Kamu taruh asbak dari tanah liat aja nggak sampai 1 jam aku yakin bakal kering,” ujarnya.
Rahel mendengus, mencoba menyelipkan beberapa helai rambutnya yang basah karena keringat ke balik telinga. “Bener juga. Bisa-bisa kita nggak butuh oven pembakaran lagi di studio kalau matahari tiap hari seganas ini.”
Rahel kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang terasa hangat, lalu menoleh ke arah kerumunan mahasiswa yang masih mengantri panjang di stan minuman. “Gue heran deh sama mereka yang masih sanggup berdiri di sana. Apa mereka nggak ngerasa paru-parunya kayak lagi di-uap?”
Laura mengikuti arah pandang Rahel, lalu kembali menatap layar ponselnya yang sedari tadi menunjukkan suhu 36 derajat Celcius. “Mungkin mereka punya cadangan kesabaran lebih banyak dari kita, Hel. Atau emang udah saking hausnya sampai nggak peduli lagi sama oksigen.”
“Tapi beneran deh, Lau,” Rahel mencondongkan badannya, menurunkan volume suaranya sedikit. “Lo nggak ngerasa ada yang aneh nggak sama AC di gedung dekanat? Gue denger di sana dingin banget kayak kulkas. Masa kantin anak seni yang penuh keringat perjuangan begini cuma dikasih kipas angin yang muternya kayak mau.. mati segan hidup tak mau?”
“Kantin fakultas hukum juga berjejer AC, satu kelas dua AC, bayangin seadem apa di sana. Gue ngerasa fakultas seni ini anak pungut yang kehadirannya pun nggak keliatan.”
Laura melipat tisu lusuhnya menjadi kotak kecil, lalu menekannya pelan ke pelipis. “Fakultas Hukum 'kan 'wajah' universitas, Hel. Calon-calon pengacara, hakim, diplomat. Penampilan mereka harus tetap klimis, nggak boleh ada noda keringat di kemeja mahal mereka.”
Rahel mendengus geli, wajahnya masih terlihat merah padam karena panas. “Cih, calon apaan. Gue tadi lewat fakultas mereka mukanya songong-songong semua. Nggak mencerminkan wibawa seorang hakim atau pengacara tuh.”
Di depannya Laura mengerutkan keningnya bingung. “Kamu ngapain lewat fakultas hukum?”
“Hah? Itu.. e—mm anu.. cuma lewat doang kok.” Rahel menjawab dengan gelagapan. Gadis itu terlihat jelas mengindari tatapan menyelidik yang Laura layangkan.
“Rahel, kamu tahu 'kan emosi aku kalo cuaca panas gini paling jelek. Radarku berkata kamu lagi bohong,” ujar Laura melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya masih melayangkan tatapan selidik pada sahabatnya.
“Orang bener kok cuma lewat, cek kualitas AC aja. Soalnya gue mau buat petisi biar fakultas kita di kasih AC,” elak Rahel dengan gugup.
“Rahel..” panggil Laura dengan nada rendah dan tajam. Ugh! Bergaul dengan suaminya selama satu bulan ini membuat sifat Gaharu sedikit melekat pada Laura. Gadis itu dapat mengintimidasi lawan bicara di depannya.
“FINE! Gue.. gue ngasih tahu jadwal kuliah baru Lo ke kak Abi—”
“Rahel!” pekik Laura geram.
“Maafin gue, Lau. Gue kepaksa sumpah! Dia neror gue mulu tiga hari ini. Dia suka tiba-tiba berdiri di depan gerbang kos-an, ngasih makanan sebagai kompensasi, terus dia spam gue di WhatsApp. Sumpah, Lau. Gue nggak pernah ada niatan ngasih tahu awalnya.. tapi.. dia ngasih gue duit 500rb.”
“Jadi.. gue kepaksa ngomong. 500rb lumayan buat gue makan sebulan di warung depan kos-an.”
Laura menganga tidak percaya dengan jawaban yang baru saja keluar dari bibir sahabatnya. Memang ya, anak hukum tuh jagonya tutup mulut pake duit. Sogok menyogok demi sebuah informasi. Miris.
Gadis itu memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Antara pening karena cuaca panas atau karena fakta bahwa harga privasinya ternyata hanya setara dengan lima lembar uang berwarna merah di mata Rahel.
“Lima ratus ribu, Hel? Serius?” Laura mendesah panjang, menatap Rahel dengan pandangan yang sulit diartikan. “Ternyata harga persahabatan kita cuma seharga cat minyak satu set yang bermerek dikit ya?”
Rahel langsung memasang wajah memelas, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada seolah sedang memohon ampunan. “Aduh, Lau! Jangan digituin dong, makin merasa berdosa nih gue. Tapi Lo bayangin, tiga hari diteror Kak Abizar itu rasanya kayak dikejar-kejar debt collector. Mana sialnya lagi dia punya nomer gue. Kalo gue block, bisa-bisa gue di teror sampe kampus, Lau.”
Laura menarik nafasnya dengan berat. Ia menatap nyalang kepada Rahel yang terlihat kikuk di tempatnya. Rasanya ia ingin mencakar wajah di depannya karena kesal.
“Lau, please jangan marah, gue tahu gue salah. Tapi ini demi 500rb, Lau. Demi perut gue,” ujarnya dramatis.
“Perut kamu aman, tapi ketenangan aku terancam!” Laura menyahut dengan nada tertahan.
Keputusan Laura yang mengganti jadwal kuliah bukan semata-mata untuk menemani Gaharu check-up saja. Tapi, ia juga memanfaatkan momen tersebut agar ia terlepas dari kating menyebalkan itu. Siapa yang tidak risih jika terus di dekati dengan ugal-ugalan. Jika sampai ada media atau orang iseng membuat video lagi, bisa habis dirinya.
Baru saja ia melancarkan aksi dari beberapa rencananya, jangan sampai hancur di tengah jalan. Jika hal itu terjadi, maka.. selamat tinggal kebebasan.
Pening sudah kepalanya.
***
Setelah kelasnya selesai, Laura berjalan dengan langkah terburu-buru. Mengabaikan Rahel yang terus memanggil-manggil namanya sedari tadi. Ia tidak peduli, yang ia pedulikan saat ini adalah ia sampai pada gerbang tanpa harus melihat wajah tengil kating bernama Abizar.
Nafasnya terengah-engah saat ia berhasil keluar dari gerbang. Matanya mengedar mencari mobil jemputannya. Langkahnya kembali terburu-buru. Ia tidak menunggu Hans untuk membukakan pintu mobil, ia masuk dengan cepat dan membanting pintu mobil dengan keras. Membuat dua orang di depan sana terlonjak kaget.
“Nyonya? Sejak kapan Anda ke—”
“Jangan dulu bertanya, aku benar-benar lelah,” Laura memotong perkataan Gabriel dengan cepat. Tubuhnya ia sandarkan pada sandaran kursi.
“AC-nya tolong nyalakan Kak Hans, hari ini benar-benar panas.”
Laura mengibas-ngibaskan tangannya. Hans tanpa banyak bertanya langsung menyalakan AC mobil.
“Naikan lagi suhunya.”
“Anda akan masuk angin jika terlalu—”
“Lakukan saja, Hans!” sentak Laura tanpa sadar.
Di depan sana, Hans dan Gabriel saling melemparkan pandangan penuh tanya. Tidak ada embel-embel Kakak yang di gunakan Laura seperti tadi. Mereka langsung sadar, jika mood Nyonya mudanya sedang down karena cuaca panas. Dengan gerakan yang sedikit kaku, Hans menaikan suhu AC mobil.
“Jangan turunkan suhu AC sebelum sampai penthouse. Aku benar-benar membutuhkan udara segar untuk menyegarkan pikiran dan tubuhku..” Laura bergumam dengan lesu. Tubuhnya ia baringkan miring. Mencari posisi nyaman untuk menutup matanya. Karena jujur, hari ini kepalanya rasanya ingin pecah.
“Nyonya, Anda baik-baik saja?” tanya Gabriel hati-hati.
“Hari ini benar-benar lelah, tolong jangan banyak bertanya..” jawabnya lirih.
Gabriel paham, ia mengkode Hans untuk menyalakan mobilnya. Kendaraan beroda empat itu pergi meninggalkan area kampus. Sementara Laura mulai memejamkan matanya sambil menikmati hawa dingin dari AC mobil yang menyala.
Perjalanan tampak damai, jalan raya pun tidak sepadat hari-hari yang lalu. Memudahkan Hans membelah jalan dan sampai dengan cepat. Mobil masuk melewati gerbang tinggi. Sampai di depan halaman, mereka tidak langsung keluar. Kedua pria itu malah saling melemparkan pandangan.
“Jangan menyuruhku untuk membangunkan, Nyonya,” tolak Hans tegas. “Aku hanya bertugas sebagai supir.”
“Kau ini perhitungan sekali,” Gabriel mendelik tajam.
Laura sedang dalam mood yang buruk, dan mereka peka akan hal itu. Maka, Hans mengangkat bahunya acuh. Pria itu langsung saja keluar dari dalam mobil. Ia tidak ingin membangun tidur macan yang sedang tertidur. Hans menunggu di luar, mengabaikan Gabriel yang sudah misuh-misuh di dalamnya.
Pria tegap itu menarik nafasnya pelan. Ikut keluar dari dalam mobil, ia sempat melayangkan tatapan permusuhan pada Hans yang di balas dengan tatapan acuh.
Ia membuka pintu mobil bagian penumpang, membungkukkan badannya sedikit. “Nyonya, sudah sampai, Nyonya..” dengan tangan yang sedikit gemetar, Gabriel menggoyangkan bahu Laura.
Berhasil, gadis itu melenguh. Matanya mengerjap pelan. Tubuhnya ia angkat dan bersandar sebentar pada sandaran kursi, namun detik berikutnya ia menarik leher Gabriel dan memeluknya dengan erat. Hal itu membuat Gabriel hampir terjerembab masuk ke dalam mobil.
“Nyonya.. apa yang Anda lakukan?”
“Aku lelah sekali Kak Riel, tolong gendong aku. Aku ingin istirahat, aku lelah.. kepalaku sakit..” lirihnya, kepalanya ia sandarkan pada bahu sang ajudan pribadi.
“Tapi, Nyonya—”
“Kak Riel.. hiks..”
“Baik-baik, Nyonya.”
Dengan degupan jantung yang tidak beraturan, Gabriel mulai menggendong tubuh Laura yang terbilang cukup ringan. Ia tahu betul batasan antara majikan dan bawahan sepertinya. Ia sering mendapatkan teguran dari sekertaris Juan agar menjaga jarak aman dengan Nyonya mudanya.
Tapi, apalah daya.. hati Gabriel sangat lemah. Apalagi melihat kondisi Laura yang kini terlihat tidak baik-baik saja.
Gabriel membawa langkahnya dengan cepat, mengabaikan lirikan Hans yang seolah-olah bertanya tentang keadaan Nyonya mudanya. Fokus Gabriel saat ini adalah masuk pada bangun luas itu.
Tepat saat ia masuk, suara dentingan lift terdengar. Gaharu dan sekertaris Juan keluar dari dalam lift. Hawa tidak mengenakan langsung merambat pada setiap penjuru ruangan. Apalagi saat mata Gabriel tidak sengaja melihat tatapan dingin yang di layangkan kepadanya.
'Tuhan, berikan aku umur panjang.'
***
Senin, 04 Mei 2026
Published : Senin, 04 Mei 2026