NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Gema dari Balik Dinding

Gerimis tipis menyelimuti kawasan Jakarta Timur sore itu, menyamarkan bising knalpot angkutan umum yang saling berkejaran di depan ruko kuning cerah. Di dalam Pondok Literasi Mama Sarah, suasana justru terasa kontras. Wangi kayu pinus dari rak-rak buatan Raka beradu dengan aroma teh melati hangat yang disajikan untuk para ibu yang baru saja menyelesaikan kelas keterampilan menjahit.

Hana berdiri di ambang pintu perpustakaan di lantai dua. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Di tangannya, terselip sebuah amplop cokelat tebal yang dikirimkan Maya pagi tadi. Amplop itu berisi surat-surat refleksi dari Aris.

"Mbak Hana, anak-anak sudah siap," bisik Sari, salah satu relawan pengajar, sambil menunjuk ke arah lingkaran kecil di tengah karpet empuk.

Dimas dan sepuluh temannya duduk bersila, mata mereka berbinar menatap buku-buku di sekeliling mereka. Hari ini bukan jadwal mendongeng biasa. Sesuai kesepakatan tim pendidik, mereka akan membacakan satu surat "Pesan dari Paman di Jauh" sebagai bagian dari kurikulum pembentukan karakter.

Hana menarik napas panjang, lalu duduk di kursi kayu kecil di depan anak-anak. Ia membuka amplop itu. Tulisan tangan Aris tampak lebih miring, sedikit gemetar, namun setiap goresannya terasa dalam.

"Untuk adik-adikku di Pondok Literasi," Hana mulai membaca, suaranya lembut namun memenuhi ruangan yang hening.

"Mungkin kalian bertanya-tanya, siapa paman yang menulis surat ini. Paman adalah seseorang yang dulu punya segalanya—uang, mobil mewah, dan rumah besar. Paman pikir, dengan semua itu paman bisa membeli kebahagiaan. Paman pikir, menjadi orang hebat berarti bisa menguasai orang lain dan menyembunyikan kesalahan di balik tumpukan harta.

Tapi paman salah besar. Paman lupa satu hal yang paling penting: kejujuran. Karena ketamakan dan kesombongan, paman kehilangan semuanya. Paman kehilangan orang-orang yang mencintai paman, termasuk Ibu paman yang namanya diabadikan di ruko kalian ini.

Adik-adik, jangan pernah merasa kecil karena kalian tidak punya mainan mahal. Kekayaan yang sesungguhnya ada di dalam buku yang kalian pegang, dan di dalam hati yang jujur yang kalian jaga. Kejujuran itu seperti cahaya matahari; dia mungkin menyilaukan saat kita menatapnya, tapi tanpa dia, kita akan tersesat di kegelapan selamanya seperti paman sekarang."

Hana berhenti sejenak. Ia melihat Dimas menunduk, jarinya menelusuri motif karpet. Anak-anak itu mendengarkan dengan khidmat yang tak terduga. Tidak ada nada dendam dalam suara Hana saat membacakannya. Ia justru merasa ada sebuah beban besar yang luruh dari pundak Aris melalui kata-kata itu.

"Apa Pamannya sedih di sana, Bu?" tanya Dimas pelan.

Hana tersenyum, mengusap kepala Dimas. "Paman sedang belajar untuk menjadi berani, Dimas. Berani mengakui kesalahan adalah keberanian yang paling tinggi."

Setelah sesi membaca selesai, Hana berjalan menuju balkon lantai tiga, tempat Raka sedang sibuk memperbaiki engsel jendela yang sedikit seret. Raka menoleh, melihat sisa-sisa emosi di mata Hana.

"Bagaimana reaksinya?" tanya Raka, meletakkan obengnya.

"Luar biasa tenang, Ka. Aku tidak menyangka Aris bisa menulis seperti itu. Tidak ada manipulasi, tidak ada pembelaan diri. Hanya kejujuran seorang pria yang sudah hancur lebur dan sedang mencoba merangkai kembali puing-puing jiwanya."

Raka mendekat, merangkul bahu Hana. "Itu artinya 'Ruang Temu' benar-benar bekerja, Na. Bukan cuma buat para ibu di Surabaya atau perajin di Bali, tapi bahkan buat orang yang dulu ingin menghancurkannya. Kamu memberinya cermin untuk melihat dirinya sendiri."

Namun, kedamaian itu terusik saat ponsel Hana bergetar. Sebuah panggilan internasional dari Julian Vance. Hana ragu sejenak, lalu mengangkatnya.

"Mrs. Keiko, jangan terlalu cepat merayakan kemenangan di Karangasem," suara Julian terdengar parau namun penuh ancaman. "Logistik adalah urat nadi bisnis. Dan di musim badai seperti ini, laut tidak selalu berpihak pada idealisme Anda."

Hana menutup telepon dengan dahi berkerut. Firasatnya memburuk. Benar saja, satu jam kemudian, Laras menelepon dari pusat koordinasi logistik di Surabaya dengan suara panik.

"Mbak Hana! Kapal kargo yang membawa pasokan benang dari Makassar dan bahan baku abon untuk Jakarta tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak. Cuaca ekstrem membuat BMKG mengeluarkan larangan berlayar untuk semua kapal kecil dan menengah selama seminggu ke depan. Stok kita di Bali dan Jakarta hanya bertahan tiga hari lagi!"

Ini adalah ujian Bab 34 yang sesungguhnya: Badai Logistik.

"Ruang Temu" kini sudah menjadi sebuah rantai yang saling terkait. Jika satu mata rantai terputus, maka seluruh sistem akan goyah. Perajin di Bali butuh benang untuk memenuhi pesanan pameran bulan depan, dan kafe di Jakarta butuh pasokan abon ikan dari Makassar untuk tetap beroperasi.

"Kita tidak bisa pakai jalur udara, biayanya akan membunuh keuntungan para ibu," ujar Hana dalam rapat darurat via aplikasi video malam itu.

"Tapi kalau kita tunggu seminggu, perajin di Karangasem akan menganggur, dan mereka bisa saja kembali ke pelukan Julian Vance karena butuh uang cepat untuk makan," sela Laras.

Raka yang ikut mendengarkan rapat itu, tiba-tiba berdiri. Ia membentangkan peta jalur darat Jawa-Bali di atas meja.

"Kita pakai jalur darat, Na. Kita pindahkan stok benang dari gudang Surabaya pakai truk-truk logistik darat. Memang lebih lambat dan lebih melelahkan, tapi jalur darat lebih aman dari badai laut. Untuk Makassar, kita minta tim di sana menyimpan stok di gudang pendingin pelabuhan sampai badai reda. Sementara untuk Jakarta, kita gunakan stok cadangan dari 'Pondok Literasi' yang belum sempat didistribusikan."

Hana menatap Raka. "Ka, biaya bensin dan sewa truk darat itu mahal."

"Aku punya jaringan komunitas pengemudi truk kayu di Jawa Timur," jawab Raka mantap. "Mereka bersedia membantu dengan harga persaudaraan jika mereka tahu ini untuk koperasi wanita. Biar aku yang berangkat ke Surabaya malam ini untuk mengawal pengirimannya."

Hana terpaku. Raka selalu menjadi perisai di saat yang paling krusial. "Kamu baru saja sampai dari Bali, Ka. Kamu butuh istirahat."

"Aku akan istirahat kalau benang itu sampai ke tangan Ni Ketut," balas Raka sambil tersenyum lebar.

Malam itu, di depan ruko Jakarta Timur, Hana melepas keberangkatan Raka. Truk logistik sewaan itu menderu, siap membelah jalur Pantura menuju Surabaya.

Hana kembali ke dalam ruko yang sudah sepi. Ia berjalan menuju pojok kafe, mengambil satu toples abon ikan Makassar yang tersisa. Ia menyadari bahwa membangun sesuatu yang besar bukan hanya soal visi yang indah, tapi soal ketahanan mental saat alam—dan musuh—mencoba menjatuhkanmu.

1
Renova Simanjuntak
lanjut lg,,thor,🙏
koq udh habisssss lg?
Renova Simanjuntak
ceritanya,cukup.baguss.thor
mungkin ini salah satu inspirasi buat wanita yg sedang survival dr ketidak adilan perlakuan pasangan sah kita dlm berumah tangga.

menyerukan,wanita utk jgn terpuruk dengan kehidupan tapi berusaha ttp semangat utk menjalaninya walau tdk mudah
Renova Simanjuntak
awal yg menyesakkan🤭 baru aja,,bab 1..hati dan pikiran sdh dibuat,,bergejolak,dan campur campurr.

semangattt,,,thorr
Lannifa Dariyah
koq rumah nya 10 tahun?
sementara 7 tahun lalu mereka masih mengontrak.
ingat2 Thor apa yg ditulis.
Annisa Rahman: iya kk typo
total 1 replies
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!