NovelToon NovelToon
Bawang Merah Yang Terluka

Bawang Merah Yang Terluka

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Antagonis / Percintaan Konglomerat / Cintamanis / Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.

Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 32

Azka terbangun dan melihat ke sampingnya tampak Celina masih tertidur pulas. Tanpa ragu, ia memberikan kecupan singkat di kening istrinya. Lalu bergegas turun dari ranjang dan bersiap berangkat kerja.

Celina baru terbangun ketika Azka yang baru selesai mandi kembali memberikan kecupan di kening. Ia tampak terkejut dengan aksi suaminya itu, "Apa yang kau lakukan?"

"Mencium keningmu, apa ada yang salah?" Azka terlihat tak bersalah melakukannya.

"Mengapa kau sangat berani sekali?" kesal Celina.

"Karena kau istriku. Kecuali, kau milik orang lain mungkin aku tidak mau melakukannya!" kata Azka tersenyum.

"Kalau pun kita bukan suami istri, tak mungkin kita sekamar!" cetus Celina.

"Ya, kau benar juga," kata Azka lagi.

"Aku lapar!" ucap Celina turun dari ranjang.

"Pergilah duluan, aku mau berpakaian!" Azka membalikkan badannya dan berjalan ke arah sofa mengambil kantong berisi pakaian kerjanya.

Sebelum keluar, Celina mencuci wajahnya di kamar mandi. Setelah itu ia menuju ruang makan. Tak lama kemudian, Azka muncul dan sudah memakai pakaian kerja.

"Kenapa tidak libur saja hari ini?" tanya Andin kepada Azka.

"Aku sudah terlalu banyak libur, Ma. Nanti saja saat Celina melahirkan, aku akan mengambil cuti lagi," jawab Azka.

Andin pun manggut-manggut setuju.

"Celin, kemarin saat membeli kue aku melihat Tante Ana mengobrol dengan seorang pria paruh baya," kata Azka.

Andin dan Angga saling pandang ketika mendengarnya.

"Aku tidak peduli dia mau bertemu dengan siapa saja," ketus Celina yang memang malas berhubungan dengan ibu tirinya.

"Hmm, baiklah kalau begitu," kata Azka lagi.

Beberapa menit kemudian, Azka pamit berangkat kerja. Ia pergi bersama Papa Angga.

Di perjalanan Papa Angga lantas menanyakan lagi tentang pria yang bersama Tante Ana kepada Azka yang sedang menyetir.

"Aku tidak terlalu memperhatikan ciri-ciri temannya Tante Ana, Pa. Karena sudah malam dan jarak kami juga cukup jauh," jelas Azka ketika Papa Angga bertanya ciri-ciri teman pria Tante Ana.

Papa Angga pun diam setelah menjelaskannya.

"Kenapa Papa ingin mengetahuinya?" Azka penasaran.

"Beberapa tahun lalu kami pernah tak sengaja dua kali bertemu dia bersama pria dengan orang yang sama," kata Papa Angga.

"Mungkin saja itu temannya," ucap Azka menebak.

"Entahlah, Papa juga tak tahu. Semoga saja papa mertuamu tidak dikhianatinya," harap Papa Angga.

"Kenapa Papa bisa mengatakan hal itu? Apa Tante Ana tak pernah berubah?" tanya Azka lagi.

"Pamannya Celina ingin mengeluarkan Hendra dari perusahaan, tapi belum memiliki waktu yang tepat. Jadi, keuangan keluarga mereka sedang menurun," jawab Papa Angga.

Azka yang paham manggut-manggut.

"Istrimu tak pernah lagi mengunjungi rumah orang tuanya, jadi kamu sebagai suaminya harus menjadi tempat yang nyaman untuknya," nasihat Papa Angga.

"Iya, Pa. Aku akan menjaga dan menyayanginya seperti kalian juga," janji Azka.

-

Kediaman Angga Brawijaya dan Andin...

Jam 10 pagi, Andin yang biasanya berkumpul dengan teman-temannya memilih menemani menantunya dengan berolahraga.

"Apa ada jadwal ke dokter hari ini?" tanya Andin sembari menggunakan treadmill.

"Lusa," jawab Celina singkat.

"Kamu mau Mama atau Azka yang menemanimu?" tanya Andin lagi.

"Mama saja," jawab Celina.

"Sesekali Azka yang menemanimu, biar dia tahu perkembangan calon buah hati kalian," Andin memberikan saran.

"Aku tidak mau mengganggu pekerjaannya, Ma." Celina beralasan padahal Azka bisa saja keluar kantor sesuka hatinya.

"Periksa ke dokter 'kan tidak memakan waktu berjam-jam, jadi biarkan dia ikut menemanimu, ya!" bujuk Celina.

"Baik, Ma!" kata Celina terpaksa.

"Sehabis makan siang, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall?" ajak Andin.

Celina menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban penolakan.

"Kenapa?" tanya Andin karena biasanya Celina sangat aktif dan bugar apalagi menantunya itu wanita karir dengan banyak kesibukan.

"Mau tidur siang, Ma. Akhir-akhir ini sering mengantuk sehabis makan siang," jawab Celina beralasan.

"Hmm, ya sudahlah. Kalau begitu, nanti sore saja bagaimana?" Andin menawarkan lagi, dia melakukan itu biar Celina tak bosan dan selalu bahagia apalagi menjelang persalinan.

"Boleh juga, Ma." Kata Celina.

-

Sore harinya, Celina dan Andin bersiap-siap hendak berangkat ke mall tetapi hujan turun sangat deras sehingga memutuskan membatalkan rencana ke mall.

"Bagaimana ini?" Andin meminta pendapat menantunya.

"Lain waktu saja, Ma."

"Ya, kamu benar. Besok saja kita ke mall," kata Andin.

Setengah jam setelah hujan turun, Papa Angga lebih dulu tiba di rumah. Andin yang menyambut suaminya tak melihat sosok putranya.

"Azka tidak ikut pulang ke sini, Pa?" tanya Andin.

"Tadi dia ada rapat di luar kantor, rencananya dia kembali ke sini nanti malam," jawab Papa Angga.

"Oh," ucap Andin singkat.

Celina yang sedang duduk membaca majalah tampak mencari-cari Azka namun enggan menanyakan keberadaan suaminya itu kepada mertuanya.

Andin duduk disamping menantunya, "Nanti malam Azka ke sini, dia mau pulang ke rumah kalian lalu kemari."

Celina cuma mengangguk pelan.

"Mama masak, apa kamu ingin sesuatu?" tanya Andin.

"Tidak ada, Ma. Aku makan apa yang dimasak Mama atau pelayan saja!" jawab Celina.

"Calon cucu Mama memang tidak mau merepotkan, dia sungguh bijaksana sekali!" Andin mengelus lembut perut menantunya sebentar lalu bangkit dan berlalu.

Sementara itu Azka baru saja selesai rapat di salah satu restoran berpapasan dengan Martin. Ya, suaminya Elma sedang bergandengan mesra dengan seorang wanita yang bukan istrinya.

Azka sejenak diam memperhatikan keduanya dari kejauhan, ia hanya memastikan apakah pria yang dilihatnya benar-benar suaminya Elma. Ia tampak kesal dan kecewa karena suaminya Elma berani berkhianat tetapi ia tak dapat memarahi atau menasehatinya karena bukan wewenangnya.

Azka kemudian meninggalkan restoran dan berharap Elma segera mengetahuinya agar tak terlalu lama ditipu suaminya.

Azka sampai di rumah orang tuanya jam 9 malam. Membawa koper, ia masuk ke kamar dan melihat istrinya belum tertidur masih membaca buku. "Maaf, aku tidak mengabarimu. Pasti papa sudah memberitahumu!"

"Ya, mereka sudah memberitahunya!" ucap Celina tanpa menatap.

Setelah meletakkan kopernya dan mencuci wajahnya di kamar mandi. Azka bergegas naik ke atas ranjang.

"Kata mama, lusa kau mau memeriksa kandungan ke rumah sakit," ucap Azka.

"Ya. Kau boleh ikut menemaniku," kata Celina sekilas menatap suaminya yang tampak senang mendengarnya.

"Aku akan pulang lebih awal, kalau perlu lusa aku tidak ke kantor," ucap Azka.

"Jadwal dokternya sore," kata Celina.

"Oh, baiklah!" ucap Azka.

Hening sesaat....

"Celina, apa kau tahu beberapa bulan lalu aku mengalami mual dan muntah seperti orang mengidam," kata Azka.

Celina menutup bukunya dan menatap suaminya.

"Ya, waktu itu aku tidak tahu kau mengandung. Aku ke dokter dan dia mengatakan kalau gejala yang aku alami seperti orang mengidam," kata Azka lagi.

"Pantas saja aku tidak mengalaminya!" ucap Celina.

"Mungkin itu hukuman buatku karena menyakitimu," kata Azka mengakui kesalahannya.

Celina mengarahkan pandangannya ke perutnya lalu mengelusnya, "Nak, kamu benar-benar hebat. Belum lahir saja sudah bisa menegur papamu!"

"Dia 'kan pintar seperti aku!" Azka membanggakan dirinya.

"Aku ibunya, jadi dia itu pintar seperti aku!" Celina tak mau kalah.

"Jika dia laki-laki, pasti tampan seperti aku!" Azka begitu percaya diri.

"Calon anakmu perempuan!" Celina akhirnya memberitahu jenis kelamin calon buah hatinya.

"Benarkah? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?" tanya Azka protes.

"Aku sengaja biar kau penasaran!" jawab Celina tersenyum bangga.

Azka yang melihat istrinya tersenyum tampak bahagia, akhirnya hubungan mereka yang selama ini karena keterpaksaan kini perlahan semakin dekat dan hangat.

Celina lantas membuang wajahnya sebab Azka begitu serius memandangnya.

"Hei, kenapa berpaling?" Azka memegang pipi Celina yang tampak memerah dan mengarahkannya kepadanya.

Celina menurunkan tangannya Azka dari pipinya.

"Kau tidak suka aku memandangmu?" tanya Azka tersenyum menggodamu.

"Aku mengantuk, aku mau tidur!" jawab Celina gegas membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya hingga menutup wajahnya. Itu dilakukannya karena tak mau Azka tahu ia tersipu malu dipandangi.

1
Aysah Meta
Hhhmmm..gimana ka??Setelah km tahu nanti..Masihkah km ragu dama celina.
Masih cinta km sama si upik abu elma tercintamu
Aysah Meta
Pergimu kurang jauh cell..Jauhlah sedikit,biarkan suami mu rasain🤭🤭
army julianto
aku binci ceritanya MC perempuannya idih najis bnget
army julianto
Thor jangan biarkan azka dg Celina bersatu plisss ceraikan mereka, aku paling tidak suka cerita kek gini TPI unjuknya tidak bisa cerai dan akan saling cinta, idih najis mkan cerita kaya bgini 🙏🙏🙏
falea sezi
kapan cerai nya
falea sezi
kn licik bngt si Elma buruan cerai aja biar. aja mlih Elma yg sok. polos cocok. aska sampah ma. Elma. sampah
falea sezi
bodoh kau celina
falea sezi
jangan ngemis celina
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!