Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14-CKOD 14
Setelah Mega pergi, petugas yang menjaga bangsal 298 itu merasa lebih baik memang. Dia mengusap perutnya yang tak lagi mulas-mulas dan dipelintir rasanya seperti tadi.
"Wah, obat perawat itu manjur juga!" gumamnya senang.
Tapi tak berselang lama, bahkan kurang dari 5 menit setelah dia mengatakan itu. Petugas itu malah menguap lebar.
"Hoaammmm! ngantuk sekali. Tidur dulu gak bakal kenapa-kenapa kan ya? kan orang di dalam juga lagi koma. Gak mungkin bakalan kabur kan?" gumamnya lagi.
Setelah berpikir tak cukup lama, karena memang matanya sangat mengantuk. Bahkan kelopak matanya yang sebelah kanan sudah tertutup sebagian.
"Tidur sebentar lah, cuma sebentar. Setengah jam saja" ujarnya pelan yang langsung beranjak menuju bangsal yang ada di sebelah bangsal 298 yang harus dia jaga itu.
Begitu pintu bangsal itu tertutup. Sekarang pria bertubuh tegap dengan jaket kulit berjalan dengan santai dan sama sekali tidak ada tanda-tanda mencurigakan, ke arah bangsal 298.
Pria itu membuka pintu ruangan itu dengan cepat. Lalu dia masuk, setelah masuk, dia segera menutup kembali pintu itu.
"Tuan!"
Suara pelan itu membuat Bagas yang memang hanya berpura-pura tidur membuka matanya perlahan.
Bahkan dia yang tadinya terbaring lemas di tempat tidurnya segera bangkit duduk.
"Tuan, aku beberapa kali mengunjungi tuan di penjara. Tapi tuan tidak mengenaliku, aku kira...!"
"Aku amnesia!" sela Bagas, "aku tidak ingat apapun. Aku sudah membuat Bella menderita!"
Aditya mengangguk paham.
"Orang-orang kita masih di perusahaan?" tanya Bagas.
"Masih tuan, mereka masih mengawasi perusahaan sambil menunggu perintah!"
Bagas menatap ke arah Aditya.
"Aditya, cari dimana keberadaan Miranda Julia! dia punya bukti, kalau bukan aku penyebab kecelakaan satu tahun yang lalu. Dan awasi keluarga Alexander. Bagaimanapun caranya, kirim seorang pelayan kesana untuk menjaga Bella. Cari juga bukti kecurangan Aswandi. Aku akan ambil kembali semua yang pria tua brengsekk itu rampas dariku dan Bella!"
"Tuan, tentang orang-orang yang memukulimu di penjara...?"
"Mereka urusanku. Setelah aku keluar dari sini. Aku sendiri yang akan patahkan tangan dan kaki mereka!"
"Baik tuan!"
"Aku rasa semua kartu bank ku sudah di bekukan. Ambil saja beberapa emas batangan di ruangan rahasia. Gunakan semua itu untuk mengatur semuanya!"
Aditya lagi-lagi mengangguk.
"Aku juga akan perintahkan dokter Gunawan bertugas disini"
"Seperti itu juga bagus. Pergilah, awasi Bella. Jaga dia!"
"Baik tuan!"
Aditya segera keluar dari ruangan itu. Bagas kembali membaringkan dirinya. Dia sudah melihat seperti apa adiknya di rumah suaminya itu. Bagas benar-benar tidak akan memaafkan keluarga Alexander.
**
Pagi menjelang, Bella membuka matanya perlahan. Dia merasa perasaannya benar-benar sangat baik, ketika memejamkan mata tidak berada di kediaman Alexander. Dan ketika dia membuka matanya. Dia juga tidak berada di kediaman Alexander. Rasanya benar-benar sangat damai.
Ceklek
Bella menoleh ke arah pintu. Itu kali pertama dia mendengar pintu terbuka, tapi tidak ada rasa takut di dalam hatinya. Setelah dia yakin dia berada di rumah sakit, dia benar-benar merasa lebih tenang dan lebih baik.
"Selamat pagi nona Bella!"
Bella tersenyum, seorang perawat menyapanya dengan sangat baik.
"Selamat pagi suster"
"Saya Dewi, saya akan memeriksa nona Bella sekarang ya"
Bella sedikit merasa aneh. Perawat yang lain tidak seperti perawat yang satu ini. Tapi, dia berpikir mungkin kepribadian setiap orang kan berbeda-beda.
"Baiklah, sudah selesai. Sekarang saya akan bantu bersihkan tubuh nona Bella"
Bella tertegun, perawat ini sangat hati-hati dan telaten sekali.
"Suster, apa mas Leo yang menyuruhmu...?"
"Tidak nona. Saya bekerja untuk rumah sakit. Suami nona itu, bahkan sejak kemarin meninggalkan nona setelah deposit, dia langsung pergi. Katanya kalau sudah bisa jalan sendiri saja, baru hubungi dia lagi!" jawab perawat Dewi dengan jujur.
Bella menundukkan kepalanya. Bisa-bisanya dia berpikir Leo akan dengan sangat baik, menyewakan satu perawat pribadi untuknya.
"Alasan dia memilih ruangan VIP ini. Paling supaya tidak banyak orang yang melihat kondisi nona, alih-alih perduli pada nona. Biar tidak dibicarakan orang. Kalau memang perduli, dia pasti sudah datang dan membantu nona sarapan kan? mana dia?"
Perawat Dewi berbicara dengan blak-blakan sekali. Tapi Bella memang hanya bisa diam dan tertunduk. Semua yang dikatakan oleh perawat itu benar. Alih-alih perduli pada Bella, sebenarnya Leo hanya perduli pada nama baik keluarganya. Ya, hanya supaya tidak ada yang membicarakannya. Tidak ada yang memandangnya buruk untuk semua sikap buruknya dan keluarganya pada Bella.
Bella harusnya tak berharap lagi pada Leo. Dia seharusnya tidak berpikir, suatu saat Leo bisa berubah. Harusnya tidak lagi seperti itu.
"Oke, sekarang aku akan siapkan sarapan. Tunggu sebentar ya nona"
Bella mengangguk perlahan. Dia melihat perawat itu pergi meninggalkan ruangan. Rasanya sedih sekali. Tapi dia harus bertahan, demi kakaknya.
Ceklek
Bella tersenyum melihat ke arah pintu. Dia pikir yang datang adalah perawat Dewi. Tapi senyum di wajahnya mendadak hilang ketika yang masuk ke ruangan itu adalah Desy.
Setelah mengantarkan Davin sekolah. Desy kepikiran untuk datang mengunjungi Bella. Sebenarnya tidak bisa di bilang mengunjungi, karena niatnya sama sekali bukan untuk datang baik-baik.
Bella yang melihat Desy datang, wajahnya menjadi tegangg. Tidak ada hal baik yang petang dikatakan dan dilakukan oleh Desy pada Bella. Tidak ada alasan bagi Bella untuk tidak khawatir.
"Masih hidup kamu!"
Kalimat pertama yang terdengar begitu lantang. Dengan tatapan penuh kebencian, dan gerakan tangan yang membuat Bella merasa was-was.
Benar saja, arah tangan Desy itu memang membuat Bella kesakitan. Arahnya tertuju ke punggung tangan Bella, dimana jarum dan selang infus itu terpasang.
"Aghkkk" Bella memekik kesakitan.
Desy yang datang dengan marah, menekan dengan kuat jarum infus yang ada di punggung tangan Bella itu.
Wanita itu malah mengeraskan rahangnya. Membuatnya semakin memperkuat tenaga untuk menelan selang itu.
Bella berusaha menepis tangan Desy. Tapi dia terlalu lemah. Selang infus itu, dari yang semula berwarna bening, di dekat punggung tangan Bella itu, selangnya sampai berubah menjadi merah. Jelas darahh Bella sudah bercampur dengan cairan infus di sana.
"Sakit... sakit, kak!"
Bella tidak bisa menahannya. Air matanya mengalir, perih dan sakit yang dia rasakan, membuatnya tak bisa menahan tangis.
"Rasakan itu! gara-gara kamu mas Sony tidak menjawab telepon ku. Gara-gara kamu mas Sony pergi dari rumah. Kamu memang pantas mendapatkan semua ini. Dasar perempuan murahan, menggatalll!" pekiknya yang semakin kuat menekan selang infus di punggung tangan Bella.
***
Bersambung...
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈