Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. KEMBALINYA SANG PEWARIS
Sore itu, di apartemen utamanya di Le Marais, Aslan duduk bersila di atas karpet tebal yang menutupi lantai yang dingin. Di hadapannya, terbuka sebuah buku tebal bersampul kulit berwarna cokelat tua buku catatan bisnis yang sudah agak usang, penuh dengan catatan-catatan tangan yang rapi namun kini terlihat samar oleh waktu. Jari-jarinya menyentuh permukaan sampul itu dengan lembut, seolah menyentuh jejak masa lalu yang penuh dengan perdebatan dan keinginan keras untuk mandiri.
Pandangan Aslan menjauh, melayang kembali ke masa beberapa tahun yang lalu. Saat itu, ia baru saja lulus dari sekolah menengah, dan konflik dengan Marcell memuncak. Aslan yang saat itu masih muda dan penuh dengan semangat pemberontakan, merasa tercekik oleh bayang-bayang bisnis keluarga yang begitu besar. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa bantuan sepeser pun dari ayahnya.
Dengan uang tabungan yang ia punya dan pekerjaan paruh waktu yang di sembunyikan dari ayahnya, Aslan menyewa apartemen mewah di Le Marais ini. Lokasinya strategis, lingkungannya eksklusif, dan bagi Aslan, tempat ini adalah simbol kemerdekaannya. Ia ingat betul bagaimana rasanya membawa koper kecilnya masuk ke sini untuk pertama kalinya, merasa seperti seorang raja di kerajaannya sendiri, jauh dari aturan Marcell. Namun, kenyataan tidak selalu seindah impian. Biaya hidup yang tinggi, tanggung jawab yang datang tiba-tiba, dan kesepian yang sering menghantuinya membuat Aslan sadar bahwa menjadi mandiri itu tidak mudah. Namun, ia tetap bertahan, karena ia ingin menunjukkan pada ayahnya bahwa ia bisa.
Konflik itu berakhir ketika Marcell, yang sebenarnya selalu mengawasi putranya dari jauh, akhirnya melihat keteguhan hati Aslan untuk menjadi seorang arsitek. Marcell yang awalnya keras kepala menginginkan Aslan meneruskan bisnis keluarga, perlahan luluh melihat dedikasi putranya pada gambar-gambar desain. Amarah Marcell yang selama ini membara akhirnya mereda, digantikan oleh rasa bangga yang terpendam. Sebagai tanda perdamaian dan dukungan, Marcell tidak hanya mengizinkan Aslan mengambil studi lanjutan arsitektur, tetapi juga membelikan sebuah apartemen baru di Montmartre tempat yang lebih tenang, lebih artistik, dan sangat cocok dengan jiwa seni Aslan.
"Le Marais adalah tempat aku belajar menjadi mandiri, tapi Montmartre adalah tempat Papa memberiku kesempatan untuk menjadi diriku sendiri," gumam Aslan pelan, matanya menatap buku catatan bisnis itu.
Namun, kejadian malam di klub itu dan percakapan mendalam dengan ayahnya dan hal itu telah mengubah sesuatu di dalam diri Aslan. Ia menyadari bahwa menutup diri dari dunia bisnis keluarga atau berpura-pura bahwa dunia itu tidak ada bukanlah solusi. Ia adalah putra dari Marcell de Lenoir, pewaris dari sebuah kerajaan bisnis yang besar. Menghindarinya hanya akan membuatnya terlihat seperti anak kecil yang lari dari tanggung jawab.
Perlahan, Aslan membuka buku catatan itu. Halaman-halamannya dipenuhi dengan istilah-istilah bisnis, laporan keuangan sederhana, dan catatan-catatan yang pernah ia pelajari saat ia masih mencoba memahami dunia ayahnya sebelum ia benar-benar terjun ke dunia arsitektur.
"Jika aku ingin menjadi pria yang bertanggung jawab, aku tidak bisa hanya memikirkan mimpiku sendiri," pikir Aslan. "Aku juga harus memahami warisan yang ada di pundakku. Siapa tahu, suatu hari nanti, keahlianku sebagai arsitek dan pemahamanku tentang bisnis bisa saling melengkapi."
Malam itu, dan malam-malam berikutnya, Aslan menghabiskan waktunya untuk mempelajari kembali buku-buku bisnis. Ia membaca tentang manajemen, ekonomi, strategi pemasaran, dan juga sejarah perusahaan ayahnya. Ia tidak hanya membaca sekilas, tapi ia mencatat, ia menganalisis, dan ia mencoba memahami setiap detailnya. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya—dan juga kepada dirinya sendiri—bahwa ia bisa menjadi lebih dari sekadar seorang arsitek yang bermimpi; ia bisa menjadi seorang pemimpin yang bijaksana.
Beberapa minggu kemudian, pagi yang cerah menyinari gedung pencakar langit tempat kantor pusat perusahaan Lenoir Group berada. Di lantai teratas, ruang kerja Marcell de Lenoir tampak sibuk seperti biasa. Marcell sedang memeriksa jadwalnya, ketika pintu ruang kerjanya diketuk pelan.
"Masuk," ucapnya tanpa mengangkat kepala, mengira itu adalah sekretarisnya.
Namun, ketika ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat, dan aroma parfum yang sangat ia kenal, Marcell mengangkat kepalanya. Matanya membelalak tak percaya.
Di ambang pintu, berdiri Aslan. Namun, ini bukan Aslan yang biasa datang hanya untuk meminta izin atau sekadar berkunjung singkat. Hari ini, Aslan mengenakan setelan jas rapi berwarna abu-abu gelap, kemeja putih bersih, dan dasi yang simpel namun elegan. Penampilannya sangat profesional, sangat berbeda dari saat ia mengenakan kaos santai dan berjalan-jalan di sekitar Montmartre. Di tangannya, ia membawa sebuah binder tebal dan sebuah laptop.
"Pa..." sapa Aslan dengan senyuman yang tenang dan penuh percaya diri. "Boleh aku masuk?"
Marcell menatap putranya dari ujung kepala hingga ujung kaki, mulutnya sedikit terbuka karena keterkejutan. Ia tidak menyangka Aslan akan datang ke kantor, apalagi dengan penampilan dan aura yang begitu berubah.
"Aslan? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Marcell, suaranya sedikit terdengar bingung namun ada nada antusiasme yang mulai muncul. "Bukankah hari ini kamu ada kelas atau proyek arsitektur?"
"Aku sudah menyelesaikan tugasku lebih awal, Pa. Dan hari ini, aku ingin datang ke sini bukan sebagai putramu yang sedang bermasalah, tapi sebagai seseorang yang ingin belajar dan berkontribusi," jawab Aslan sambil melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan mendekati meja ayahnya, lalu meletakkan binder dan laptop itu di atas meja dengan hati-hati.
Marcell masih tampak terkejut, namun kini senyuman tipis mulai terukir di wajahnya yang tegas. "Belajar? Berkontribusi? Apa maksudmu, Nak?"
"Aku sudah memikirkan banyak hal belakangan ini, Pa," jawab Aslan sambil duduk di kursi tamu di depan meja ayahnya. Ia menatap mata ayahnya dengan tegas. "Aku sadar bahwa aku tidak bisa terus-menerus lari dari tanggung jawabku sebagai bagian dari keluarga Lenoir. Aku mencintai arsitektur, itu adalah mimpiku, dan aku akan terus mengejarnya. Tapi, aku juga sadar bahwa suatu hari nanti, aku mungkin akan memiliki peran dalam perusahaan ini. Jadi, aku memutuskan untuk mulai mempelajari bisnis lagi. Aku ingin memahami bagaimana perusahaan ini berjalan, bagaimana kita mengelola proyek-proyek, dan bagaimana kita bisa terus berkembang."
Marcell menatap putranya dengan mata yang berbinar. Ia bisa melihat perubahan yang nyata pada diri Aslan. Bukan hanya dari cara berpakaiannya, tapi dari cara bicaranya, tatapannya, dan sikapnya yang jauh lebih dewasa. Rasa senang dan bangga mulai membanjiri hatinya, jauh lebih besar daripada saat ia menutup kesepakatan bisnis terbesar dalam hidupnya.
"Jadi, buku-buku yang ada di sana..." Marcell menunjuk binder di atas meja.
"Itu adalah catatan-catatanku, Pa. Aku sudah membaca kembali buku-buku bisnis lama, dan aku juga mencari tahu tentang proyek-proyek terbaru yang sedang kita jalankan, termasuk rencana pembangunan gedung perkantoran baru di pusat kota. Aku bahkan sudah membuat beberapa sketsa awal tentu saja masih sangat sederhana tentang bagaimana desain fasad gedung itu bisa lebih efisien dan estetis, jika nanti diperlukan," jelas Aslan dengan antusias.
Marcell segera membuka binder itu. Matanya membaca catatan-catatan tangan Aslan yang rapi, melihat sketsa-sketsa arsitektur yang digabungkan dengan analisis bisnis yang cukup mendalam untuk ukuran seorang pemula. Ia tidak bisa menahan senyumnya yang semakin lebar.
"Aslan..." ucap Marcell pelan, suaranya bergetar karena haru. Ia menatap putranya dengan tatapan yang penuh dengan kasih sayang dan kebanggaan yang tak terhingga. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat terkejut, tapi aku juga sangat senang. Sangat senang sekali."
Marcell berjalan memutar meja kerjanya, lalu berdiri di samping Aslan. Ia menepuk bahu putranya dengan kuat, sebuah tepukan yang penuh dengan makna. "Selama ini aku khawatir kamu tidak tertarik dengan dunia ini, atau kamu membenci tanggung jawab yang ada. Tapi melihat apa yang kamu lakukan hari ini... melihat kamu berinisiatif seperti ini... itu membuatku merasa menjadi ayah paling beruntung di dunia."
"Aku hanya ingin membuktikan padamu, Pa. Bahwa aku bisa lebih baik. Bahwa aku bisa menyeimbangkan mimpiku dan tanggung jawabku," jawab Aslan, hatinya terasa hangat melihat reaksi ayahnya.
"Dan kamu sudah membuktikannya, Nak. Kamu sudah membuktikannya," ucap Marcell tegas. Ia menarik kursi di samping Aslan, lalu duduk di sana. "Sekarang, tunjukkan padaku sketsa yang kamu buat itu. Dan ceritakan, apa yang kamu pikirkan tentang proyek gedung perkantoran itu? Aku ingin mendengar pendapatmu, bukan hanya sebagai putraku, tapi sebagai seorang arsitek muda yang berbakat dan sebagai calon pemimpin masa depan perusahaan ini."
Pagi itu, di ruang kerja yang megah itu, terdengar suara percakapan yang hangat dan penuh semangat. Bukan lagi percakapan antara ayah yang marah dan putra yang bersalah, melainkan percakapan antara dua orang yang saling menghormati, antara seorang mentor dan muridnya, dan antara dua orang yang saling mencintai. Aslan telah mengambil keputusan yang mengubah segalanya, keputusan yang membawanya keluar dari cangkang egonya sendiri, dan membawanya menuju masa depan yang lebih cerah, lebih matang, dan penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas.