Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.
"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.
Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.
Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.
Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 33
"Zenna diculik, Mas! Kita harus melakukan sesuatu!"
Kalila menjerit berang dan mengentakkan kaki frustasi, nyaris histeris. Tetapi Ridwan hanya terdiam muram seperti dekorasi tak berarti dan terlupakan di ruang kerjanya sendiri yang bernuansa putih dan emas.
"Kita bukan siapa-siapa Zenna, Kalila... kita tak bisa mengajukan laporan apa-apa ke polisi. Yang berhak melakukan itu adalah keluarga Atmaja, tapi mereka juga tetap diam sampai sekarang...," gumam Ridwan, ada getir dan kecewa tersulut dalam suaranya yang rendah.
"Kenapa...?"
Beberapa detik, Kalila kehabisan napas dan kata. Dadanya bagai ditikam sembilu. Ia pun berusaha keras melenturkan kembali lidah yang kelu.
"Kenapa mereka diam saja, Mas? Apa mereka sengaja membiarkan Zenna dalam bahaya dan meninggal sewaktu-waktu? Jadi benar semua itu demi warisan? Bahkan Bram..."
"Bram masih memulihkan diri dari kecelakaan itu. Jangan salahkan dia sepenuhnya, Kalila..."
Kedua bersaudara itu bertukar pandang dengan lara. Entah mengapa, beberapa hari belakangan, kabar buruk terus bergulir, menghantam mereka seperti badai petir raksasa yang mengguncang langit dan bumi tanpa ampun dan jeda.
Di hari yang sama ketika Zenna dibawa pergi Rendy entah ke mana, Bram mengalami kecelakaan mobil di jalan tol. Ada mobil lain yang menabrak mobilnya dari samping dengan keras hingga Bram kehilangan kendali dan oleng menghantam beton pembatas jalan.
Untungnya, sistem keamanan mobil seperti sabuk pengaman dan airbag berfungsi dengan baik. Bram mengalami memar dan lecet di kepala dan bahunya terkilir, tetapi selain itu, ia baik-baik saja.
Bram sempat dirawat sehari di rumah sakit. Polisi menetapkan kecelakaan itu sebagai kelalaian pengemudi yang menabrak Bram. Meski begitu, orang-orang di sekitarnya yang punya firasat tajam pasti tahu bahwa ini bukan tragedi yang tak disengaja. Momennya terlalu pas dengan detik-detik Zenna menghilang dari rumah sakit.
Keluarga Mardani yang paling panik ketika mengetahui semua itu. Tetapi tak banyak yang bisa mereka lakukan. Ridwan dan Kalila sempat menjenguk Bram, yang tak banyak bicara dan ekspresinya sekeras baja ketika tahu Zenna telah dilarikan entah ke mana.
Dan keesokan harinya, Bram memutuskan keluar rumah sakit meski cederanya belum pulih benar, dan sempat menghilang tanpa kabar.
Ridwan dan Kalila pun kalang kabut mencarinya, bahkan nyaris mendatangi rumah keluarga Atmaja untuk mengajak mereka membuat laporan ke kantor polisi. Tetapi kemudian Bram menelepon Ridwan dan berkata bahwa ia sedang menjalani terapi alternatif di luar kota untuk memulihkan lukanya dengan cepat. Ia berjanji akan segera kembali dan menyelamatkan Zenna dengan segala cara yang ia bisa.
"Kita nggak tahu kapan Bram kembali, Mas, dan apa yang bisa dilakukannya setelah ini... semakin kita mengulur waktu, Zenna bisa-bisa..."
"Zenna akan baik-baik saja, Kal. Rendy mungkin gila dan sulit dipercaya, tapi aku yakin bukan dia yang berniat menghabisi Zenna...," sela Ridwan perlahan.
Kalila terdiam di antara derai air mata. Ia juga punya pemikiran serupa. Namun itu tidak menjamin sahabatnya akan baik-baik saja, di mana pun ia berada.
"Tapi Rendy bisa saja menyakitinya, Mas...! Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu pada Zenna...? Dia laki-laki gila! Itu sama saja membunuh Zenna pelan-pelan...!"
Ridwan menghela napas panjang.
"Saat ini, kita cuma bisa mendoakan keselamatan Zenna... semoga tak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tapi kita tahu Zenna tidak sendiri. Ada orang yang menjaga dan merawatnya. Dokter Kenan itu. Dia profesional dan bisa diandalkan. Setidaknya, dia bisa menjadi harapan kita sekarang... apa kamu sudah bisa mengontaknya?"
Kalila menekuk wajahnya dan mengambil ponselnya. Sudah ratusan kali ia mencoba menelepon dan mengirim pesan kepada Dokter Kenan, tetapi tak ada tanggapan. Nomornya selalu berada di luar jangkauan.
"Dia tak bisa dihubungi sampai detik ini... dia sama sekali tak bisa diharapkan," geram Kalila.
Namun tiba-tiba, sebuah panggilan masuk ke ponsel Kalila.
Dokter Kenan.
"Halo? Dok?" Kalila mengatasi kekagetannya dan menjawab dengan cepat, jantungnya seketika melambung tinggi penuh harap.
Di belakang mejanya, Ridwan mendongak tegak, ekspresinya terkejut sekaligus waspada.
"Halo, Kalila. Maaf baru bisa menghubungimu sekarang..."
"Dokter--Dokter di mana? Apa Dokter bersama Zenna? Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?" jerit Kalila, tak sanggup menahan diri.
"Zenna baik-baik saja. Ia ingin bicara denganmu."
Kalila membeku sejenak, nyaris tak percaya apa yang didengarnya.
"Kal..."
Suara Zenna lirih mengalun seakan berasal dari tempat nun.
"Zenna!" Kalila menjerit sampai tenggorokannya sakit, tapi ia tak peduli. Ia sangat lega bisa mendengar suara sahabatnya lagi. "Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, kan? Rendy tidak menyakitimu, kan? Katakan kamu ada di mana sekarang, biar aku dan Mas Ridwan--"
"Aku baik-baik saja, Kalila, jangan khawatir," sahut Zenna perlahan, namun suaranya bergetar seperti menahan tangis. "Dokter Kenan merawatku dengan sangat baik di sini... aku ada di tempat yang aman dan baik untuk kesehatanku... tapi aku tak bisa lama-lama meneleponmu..."
Kalila merasa seakan ada tangan-tangan tak kasat mata melingkari lehernya, membuatnya sesak dan tercekat. "Zenna--"
"Aku mencoba menghubungi Bram, tapi tak bisa... nomornya tak aktif. Karena itu, aku meneleponmu... tolong sampaikan pada Bram, bahwa aku sangat baik-baik saja. Jangan cari aku lagi."
Sekujur Kalila seketika membeku.
"A-apa?"
"Kalian tak perlu mencemaskanku. Jangan cari aku. Pembunuh itu masih berkeliaran di luar sana, dan tak ada satu pun yang bisa kupercaya..."
Kalila merasa ia salah dengar atau keliru mengartikan kata-kata Zenna. Pastinya begitu.
"Zenna, kamu nggak mungkin berpikir kalau kami..."
"Aku nggak mau terluka lagi, Kal. Sudah cukup. Jangan cari aku. Jangan beri aku derita yang lain lagi. Tolong biarkan aku sendiri dan menjalani sisa hidupku dengan tenang. Selamat tinggal."
Kalila bisa mendengar isakan Zenna sebelum telepon terputus.
"Zenna! Zenna!"
Kalila secepat kilat menelepon ulang.
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi..."
***