Di dunia di mana gerbang dimensi terbuka dan monster mulai menginvasi bumi, garis antara pahlawan dan penjahat menjadi kabur. seorang pria yang terjebak dalam takdir sebagai antagonis, raja naga kehancuran terbangun di tubuh manusia bumi bernama voltra.
Sang Raja Naga Kehancuran, entitas yang ditakdirkan menjadi villain sejati, kini terjebak dalam raga manusia yang lemah. Alih-alih menghancurkan dunia, ia justru terikat oleh tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan: seorang adik perempuan dan kewajiban menjadi seorang Hunter.
Terjebak dalam dilema antara identitas aslinya sebagai penghancur dan peran barunya sebagai kakak sekaligus pembasmi monster. Memilih antara harapan atau kehancuran?.
-LATAR CERITA DI INDONESIA
-KARAKTER PENTING ADA ILUSTRASI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Natelashura7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 hunter s lain
Alina nampak memantau data voltra melalui hologram di pusat asosiasi hunter. Setiap hunter memiliki kelemahan termasuk rank S, contohnya adalah Alina kurang soal ketahanan tubuh. Namun data milik voltra menunjukkan.
"Dia hampir sempurna. Ketahanan tubuhnya juga sangat kuat, kecepatan dan kekuatan sangat seimbang" ujar Alina pada dirinya sendiri. "Dengan kemampuan itu, dimasa depan dia bisa masuk hunter tingkat dunia" Lanjutnya berucap.
Hunter tingkat dunia, itu adalah sebuah rank di atas rank s. Jika rank s dianggap sebagai aset negara mana rank dunia dianggap sebagai Raja negara itu sendiri. Kekuatan mereka setara beberapa hunter rank S dan diantaranya memiliki kemampuan untuk menghancurkan gate rank s sendirian.
"Kau sepertinya tertarik pada anak itu, akhir-akhir ini" Gumam ketua Asosiasi hunter.
"Meskipun terlihat angkuh dan sembrono, orang itu sangat cerdas dan memiliki kemampuan luar biasa" Gugat Alina mengingat sikap voltra. "Namun dia bukan orang yang bisa diajak bekerjasama dengan mudah" Lanjutnya bergumam.
Mengingat sikap voltra seperti itu, Alina yakin dia tidak akan bisa cocok dengan kebanyakan hunter lain. Ia saja sudah sangat bersabar meladeni sikap bar-bar darinya, apalagi orang lain yang mungkin tidak sesabar dirinya dalam mengontrol emosi.
"Aku ada gate yang harus ditaklukkan" Lirih Alina kembali fokus pada pekerjaan. "Kalau begitu aku pergi, ayah" Lanjutnya sambil berjalan pergi.
"Gadis itu" Gumam ketua Asosiasi hunter.
Beralih ke tempat voltra ia sedang tidur pulas di ranjang empuknya. Beberapa sampah berserakan didalam kamar tidur, jika vanya tau mungkin ia akan diomeli selama satu jam penuh. Di luar vanya sudah bersiap untuk pergi ke sekolah, dia tidak mungkin membangunkan kakaknya yang kelelahan.
"Kak aku berangkat" ucap vanya sedikit berteriak.
"Mmmm... Yaa, jika ada yang mengganggu mu telepon saja, aku akan menghajarnya" Seru voltra dalam tidurnya.
"Ya, ya. Terserah" Tukas vanya membuka pintu.
Voltra menguap lalu menepuk-nepuk kembali bantalnya untuk mencari posisi nyenyak dan kembali tidur. Ditambah hari ini ia tidak memiliki kegiatan apapun, sampai ponselnya berdering membuat voltra mengerang dan tangannya merah ponsel itu, menekan tombol jawab.
"Apa? Ada yang mengganggu mu disekolah?" Tanya voltra masih setengah tertidur.
"Ini aku" ucap Alina mendengus.
"Hah? Naga betina" Kaget voltra membuka mata. "Kenapa menelpon ku di pagi hari seperti ini?" Lanjutnya bertanya.
"Aku hanya ingin bilang kalau gate di Kalimantan tiga hari lagi" Jawab Alina menegaskan.
"Huuh baiklah" Seru voltra. "Apa kau sedang mengerjakan dungeon?" Lanjutnya merasakan aliran mana dari balik telepon.
"Bagaimana bisa kau tau?" Tanya Alina kaget.
"Kurasa itu anugerah, katakan saja monster apa yang ada didalam sana, begini-begini aku sangat tau tentang monster" ujar voltra malas menjawab pertanyaan itu.
"Manusia kadal" ucap Alina memberitahu.
"Kulit mereka dua kali lebih keras dari orc, serang di bagian tengkuk yang tertutup oleh rambut mereka" balas voltra mengingat. "Bahkan seorang hunter tingkat rendah bisa melukai cukup banyak jika menyerang disitu" Lanjutnya bergumam.
Mereka mengobrol kecil sebelum Alina mematikan telepon nya. Saat ingin kembali tidur, Tiba-tiba voltra merasakan aura negatif sangat kental dan ia langsung membuka jendela, sumbernya dari sekolah vanya.
"Sebuah gate? Tidak. Lebih tepatnya rift gate" ucap voltra keluar melalui jendela. "Memakai motor akan terlalu lama" Lanjutnya mengumpulkan mana di kakinya.
Voltra melesat ke udara hanya dalam sekali Lompatan. Rift gate adalah gate paling dibenci Asosiasi, gate biasa bisa diprediksi melalui alat pendeteksi mana, sehingga mereka bisa bersiap untuk evakuasi. Namun Rift gate adalah pengecualian, itu bisa muncul kapan saja, pemicunya biasanya adalah emosi negatif.
Rift gate sangat berbahaya, itu layaknya dungeon break, para monster tidak terkurung didalam gate, mereka bisa keluar sesuka hati. Meskipun begitu, rift gate sangat langka terjadi. disisi lain vanya tengah mengobrol bersama dua temannya.
"Kau yakin kakak mu tidak memiliki hubungan dengan hunter rank s itu" ujar jessica menggoda.
"Ayolah, memangnya ada yang mau sama kakak ku" Balas vanya mengibaskan tangannya.
"Tapi ia cukup tampan" ucap fina memuji.
Percikan mana lalu suara seperti kaca pecah. Voltra tiba tepat waktu untuk menarik ketiganya, yah meskipun voltra harus mengigit kerah belakang vanya untuk membawanya mundur, karena dua tangannya sibuk meraih kedua gadis lainnya.
"Yo adik" Sapa voltra melepaskan gigitan.
"Kakak" Kaget vanya.
"Pergi ketempat aman" Suruh voltra pada mereka.
Ketiganya mengangguk dan segera berlari ketempat aman. Gerombolan monster seperti golem bermunculan dari rift, mulai menyerang siapa saja disekitar mereka. Voltra mengeluarkan mana nya, membuat perhatian para monster langsung tertuju semua pada dirinya ini. Tinjauan keras dilancarkan oleh voltra langsung menghancurkan salah satu golem menjadi kepingan batu.
Dari arah belakang lebih banyak monster menyerang namun kilatan sihir petir menyambar para golem, menghancurkan mereka menjadi kepingan. Seorang pria tampan datang sambil memegang aliran petir ditangan kirinya.
[Nama: Raven].
[Strength: 30/40, speed; 50/80, endurance 60/70, mana: 78/86].
[Kemampuan: memanipulasi mana menjadi aliran petir].
"Seperti seorang penyihir umumnya, kekuatan fisik mereka sangat ampas" Batin voltra. "Penggunaan sihir nya juga bagus, biasanya petir netral pada bebatuan, tapi dia memaksimalkan hingga menghancurkan golem itu" Lanjutnya memuji.
Beberapa golem mencoba menyerang dari belakang, voltra melompat menedang satu golem, membuat golem itu terlempar menghancurkan teman-teman nya. Kini keduanya saling melindungi punggung satu sama lain.
"Dia menghancurkan stone golem hanya menggunakan kekuatan fisik tanpa peralatan apapun, bahkan hunter rank A masih kesulitan dengan peralatan lengkap" Batin raven melirik voltra.
"Kau dibelakang saja, bantu aku sebagaimana peran mu sebagai seorang mage" ucap voltra melemaskan lehernya.
"Kurasa aku tidak punya pilihan" Seru raven tidak menolak perannya.
"Bosnya datang" ujar voltra.
Suara langkah kaki besar, golem setinggi dua belas meter meraung keras menciptakan angin kencang. Voltra berlari menuju makhluk besar itu, sementara raven membantu dengan melakukan serangan dari jarak jauh.