5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Eksekusi
Suasana di ruang bawah tanah itu meledak dalam kekacauan murni. Cahaya merah peringatan berkedip-kedip, memantul di tabung-tabung kristal yang bergetar hebat.
"Paladin! Eksekusi mereka!" raung Valerius dari balkon atas.
Puluhan prajurit elit berbaju zirah perak meluncur turun dari langit-langit menggunakan tali energi. Mereka mendarat dengan dentuman berat, membentuk barisan dinding perisai yang memancarkan laser biru pemotong dimensi.
"Vera! Tahan mereka!" teriak Azzura.
Vera menggeram. Meski perisainya hancur, ia memungut dua patahan logam besar dari lantai. Ia menyatukan keduanya, dan dengan sisa tenaga kinetiknya, ia menghantamkan logam itu ke lantai.
"Tembok Intransigen!"
Gelombang kejut perak melesat, menghantam barisan Paladin hingga formasi mereka goyah. "Aku tidak punya perisai utuh, tapi aku masih punya nyali!" Vera menerjang maju, menggunakan patahan perisainya seperti kapak ganda, memukul mundur tombak-tombak energi dengan gerakan brutal.
Di atas mereka, Rachel melompat di antara pipa-pipa raksasa. "Luna, buatkan aku pijakan!"
Luna mengangkat tangannya. Sambil tetap menjaga suhu ruangan agar tidak meledak, ia menciptakan jembatan es tipis di udara. Rachel berlari di atasnya dengan kecepatan luar biasa, melepaskan rentetan anak panah cahaya yang tidak lagi menyasar tubuh Paladin, melainkan sendi-sendi zirah mekanis mereka.
"Satu di kiri, dua di belakang pilar!" teriak Rachel. Zlap! Zlap! Anak panahnya meledak tepat sasaran, melumpuhkan pergerakan musuh dalam sekejap.
Namun, Valerius tidak tinggal diam. Ia mengangkat tongkat emasnya, menyerap energi langsung dari tabung kristal hitam di dekatnya. Cahaya hitam-biru yang tidak stabil mulai menyelimuti tubuh sang Sage.
"Kalian pikir bisa menang melawan sumber kekuatan kota ini?" Valerius mengarahkan tongkatnya ke arah Olivia. "Mati kau, pembangkang kecil!"
Sebuah kilat energi hitam melesat cepat.
"OLIVIA, AWAS!"
Azzura bergerak lebih cepat dari penglihatan manusia. Ia muncul di depan Olivia, namun ia tidak menggunakan perisai cahaya. Ia mengangkat tangan kirinya yang kini tampak menghitam.
"Void Absorption."
Kilat energi Valerius tidak meledak, melainkan tersedot masuk ke dalam telapak tangan Azzura. Seluruh ruangan mendadak sunyi selama satu detik. Angin kencang berputar di sekitar Azzura, membuat rambutnya berkibar liar, menampakkan garis hitam yang semakin menjalar ke lehernya.
Azzura mendongak. Mata abu-abunya bersinar redup.
"Energi ini..." Azzura berbisik dengan suara yang berat. "Energi ini milik dimensi yang kau siksa, Valerius. Aku bisa mendengar teriakan mereka."
Azzura menghentakkan tongkatnya ke lantai. Asap hitam legam merayap keluar, membentuk ribuan rantai bayangan yang menjalar di lantai. Rantai-rantai itu melilit kaki para Paladin, menarik mereka ke bawah seolah lantai kristal itu berubah menjadi rawa hisap.
"Azzura, kendalikan dirimu!" Luna berteriak, menyadari suhu di ruangan itu mulai turun ke titik yang mematikan. "Kau akan meruntuhkan seluruh gedung ini!"
Valerius mulai panik. Ia melihat mesin penyaring Aether raksasa di belakangnya mulai retak akibat tekanan aura Azzura.
"Berhenti! Jika mesin ini hancur, Euthopia akan gelap selamanya! Ribuan orang akan mati karena kekacauan sistem!"
Azzura berjalan pelan menuju Valerius, mengabaikan serangan tombak yang mencoba mengenainya. Setiap langkah Azzura meninggalkan jejak hangus di lantai.
"Lebih baik gelap dalam kebenaran," kata Azzura dingin, "daripada terang dalam kebohongan yang berdarah."
Olivia, yang sedari tadi terdiam, tiba-tiba mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Akar-akar cahaya hijau mulai merambat keluar dari sela-sela jarinya, melilit tabung-tabung kristal yang retak.
"Aku tidak akan membiarkan kota ini hancur," Olivia berkata dengan tegas, air mata mengalir di pipinya. "Azzura, hancurkan mesinnya! Aku akan menahan energi mentah ini agar tidak meledak ke pemukiman penduduk. Vera, Rachel, bantu aku!"
Vera dan Rachel segera berlari ke arah Olivia, menyalurkan sisa energi mereka untuk memperkuat akar-akar pelindung Olivia.
"Luna! Stabilkan intinya!" perintah Azzura.
Luna mengangguk, ia membekukan seluruh mesin raksasa itu dalam peti es absolut, memberikan waktu bagi Azzura untuk memberikan serangan terakhir.
Azzura melompat tinggi, melayang di depan Valerius. Ia menyatukan cahaya biru safirnya dan kehampaan hitamnya di ujung tongkat. Dua energi yang saling bertolak belakang itu berputar, menciptakan bola energi berwarna ungu gelap yang berdenyut kencang.
"Untuk masa depan yang jujur!"
"AETHER VOID: EXTINGUISH!"
Ledakan ungu itu menghantam Valerius dan mesin penyaring secara bersamaan.
Suara ledakan itu terdengar hingga ke permukaan kota.
Saat debu dan uap es mulai memudar, High Sage Valerius tergeletak tak berdaya, zirahnya hancur berkeping-keping. Mesin raksasa itu kini mati total. Ruangan yang tadinya bising oleh mesin kini sunyi senyap.
Di seluruh Euthopia, lampu-lampu jalanan mulai berkedip... lalu padam. Satu per satu. Hingga kota megah itu tenggelam dalam kegelapan malam yang murni untuk pertama kalinya dalam tiga ratus tahun.
Azzura berdiri di tengah reruntuhan, napasnya tersengal. Mata abu-abunya perlahan kembali menjadi biru, namun bekas luka hitam di lehernya tetap ada.
"Kita berhasil?" Rachel bertanya dalam kegelapan, hanya diterangi oleh sedikit sisa cahaya dari busurnya.
"Belum," jawab Luna, menunjuk ke arah jendela besar di atas mereka. "Lihat."
Di luar sana, penduduk kota mulai keluar dari rumah mereka dengan obor dan lentera, kebingungan. Dan dari kejauhan, alarm darurat militer mulai melolong.
Vera menghela napas panjang, mencoba membetulkan posisinya. "Jadi, sekarang kita resmi jadi penjahat paling dicari di Euthopia?"
Azzura menatap teman-temannya, lalu tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak mereka kembali dari dimensi bawah.
"Bukan penjahat, Vera. Kita adalah fajar yang sebenarnya."