Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Pos Mati
Mobil jeep Taft tua milik Tarjo akhirnya berhenti dengan decitan rem yang memecah keheningan hutan. Mesin dieselnya dimatikan, dan seketika itu juga, kesunyian yang absolut dan menindas menelan mereka bulat-bulat. Kaca depan mobil kini hanya memperlihatkan ujung dari jalanan beton yang terputus, digantikan oleh semak belukar berduri dan deretan pohon jati raksasa yang batangnya sehitam arang.
Di sebelah kiri mereka, terdapat sebuah gardu pandang peninggalan era kolonial Belanda yang sudah setengah hancur, dililit oleh akar pohon beringin yang tebalnya seukuran paha orang dewasa. Papan kayunya yang sudah lapuk dan berlumut nyaris tidak bisa dibaca, namun masih menyisakan sisa-sisa cat merah pudar yang membentuk kata: Pos 4. Warga lokal menyebutnya Pos Mati.
"Kita sudah sampai, Neng," ucap Tarjo pelan, suaranya serak dan kehilangan nada kasarnya. Tangannya yang berurat masih mencengkeram kemudi dengan erat, matanya menolak menatap ke arah gelapnya hutan di depan sana. "Jalan aspal dan beton berakhir di sini. Sepuluh meter dari kap mobil ini, ada sisa rel lori tebu berkarat yang tertutup semak. Kalau Neng ikuti rel itu sejauh tiga kilometer ke utara, Neng akan sampai di Karang Mayit."
Luna menarik napas dalam-dalam. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa sangat berat, dipenuhi kelembapan yang mencekik dan aroma khas daun membusuk bercampur tanah basah. Ia mengangguk mantap, menyandang ranselnya yang berat.
"Terima kasih, Pak Tarjo. Bapak sudah mengantar saya jauh melebihi batas yang berani dilewati orang lain," kata Luna dengan tulus. Ia membuka pintu mobil yang berderit nyaring, bersiap turun ke tanah berlumpur.
Namun sebelum kaki Luna menyentuh tanah, Tarjo menahan lengannya. Pria paruh baya itu merogoh laci dashboard mobilnya yang berantakan, dan mengeluarkan sebilah golok berukuran sedang bersarung kayu jati. Ia menyodorkan gagang golok itu pada Luna.
"Bawa ini," ucap Tarjo tegas, menatap lurus ke mata Luna dengan pandangan penuh arti. "Benda yang ada di tasmu mungkin bisa mengusir setan. Tapi di hutan ini, bahaya tidak cuma datang dari yang tak kasat mata. Babi hutan, anjing liar, atau bahkan sisa-sisa manusia serakah yang menjaga tempat itu. Kalau Neng dalam bahaya fisik, pakai ini."
Luna menerima golok tersebut. Besinya terasa dingin dan berat. "Bagaimana dengan Bapak?"
"Saya punya linggis dan kunci inggris di bawah jok. Lagipula, saya akan putar balik sekarang juga," Tarjo memaksakan sebuah senyum tipis yang getir. "Saya pernah kehilangan satu-satunya alasan saya hidup di dalam hutan ini, Neng. Saya harap Neng tidak mengalami nasib yang sama. Semoga selamat, Nak."
Luna mengangguk, sebuah keharuan kecil menyusup di hatinya. "Bapak juga, hati-hati di jalan pulang."
Luna melompat turun. Begitu ia menutup pintu, Tarjo langsung menyalakan mesinnya kembali, memutar balik jeep-nya dengan susah payah di jalan sempit itu, dan melaju kencang meninggalkan Pos Mati tanpa menoleh lagi.
Deru mesin Taft itu semakin lama semakin menjauh, hingga akhirnya benar-benar hilang, menyisakan Luna sendirian. Benar-benar sendirian di batas terluar dari neraka Alas Roban.
Angin hutan berhembus, menggerakkan dedaunan jati yang bergesekan dan menciptakan suara mendesis seperti ribuan ular yang berbisik. Langit siang terhalang sepenuhnya oleh kanopi daun yang sangat rapat, membuat suasana di bawah sini terasa seperti menjelang magrib. Cahaya hanya masuk melalui celah-celah kecil, menyorot bagaikan pilar-pilar lampu sorot yang pucat.
Luna menelan ludah. Ia mengeluarkan golok dari sarungnya, memegangnya erat-erat di tangan kanan untuk merintis jalan, sementara tangan kirinya memegang tali ranselnya di dada.
"Tiga kilometer," gumam Luna menyemangati dirinya sendiri. Ia menunduk, mencari sisa-sisa besi berkarat di antara ilalang setinggi dada. Setelah beberapa langkah menebas semak belukar, ujung sepatunya membentur sesuatu yang keras. Sebuah rel besi tebal peninggalan Belanda yang sudah terendam separuh oleh tanah dan lumpur.
Jalur lori tebu. Ini adalah urat nadi yang akan membawanya ke jantung Karang Mayit.
Langkah demi langkah Luna ayunkan dengan kewaspadaan penuh. Setiap suara ranting patah membuat jantungnya meloncat. Berulang kali, sudut matanya menangkap pergerakan bayangan aneh di balik batang-batang pohon raksasa. Ada siluet anak kecil tanpa kepala yang berlari memotong jalurnya, ada pocong kusam yang berdiri mematung di kejauhan dengan wajah menghitam, hingga suara rintihan tertahan dari atas dahan.
Luna menggigit bibirnya hingga berdarah, memusatkan fokusnya hanya pada rel berkarat di bawah kakinya. Abaikan. Jangan ditatap. Jangan beri mereka perhatian. Mantra masa kecilnya kembali ia rapalkan berulang-ulang.
Satu jam berlalu, peluh telah membasahi seluruh punggung dan dahi Luna. Napasnya terengah-engah. Kelembapan hutan ini benar-benar menguras stamina fisiknya. Tiba-tiba, dari dalam ranselnya, ia merasakan sebuah getaran hangat. Denyut energi biru yang sejak pagi terasa lemah, kini bergetar dengan ritme yang lebih kuat dan cepat.
Cahaya biru citrus merembes menembus kain ranselnya yang pudar. Cahaya itu perlahan melesat keluar, membesar di udara, dan membentuk sebuah siluet pria berjas.
Luna menghentikan langkahnya seketika, matanya melebar penuh harap.
Pendar biru itu memadat. Aroma parfum mahal bercampur sandalwood dan mint yang sangat khas langsung menyapu bersih bau busuk lumpur di sekitarnya. Nando kembali.
Pria itu berdiri di depan Luna. Wujudnya sedikit lebih transparan dibandingkan saat di Jakarta, dan ujung jasnya tampak tidak sejelas biasanya, mengisyaratkan bahwa energinya belum pulih seratus persen. Namun, posturnya tetap tegap, dan wajah tampannya masih menyiratkan keangkuhan yang entah mengapa kini menjadi hal yang paling ingin dilihat oleh Luna di dunia ini.
Nando memutar lehernya hingga terdengar bunyi krek ilusi, lalu mengibaskan debu gaib dari lengannya. Ia menatap sekeliling hutan lebat yang gelap dan mencekam itu dengan ekspresi jijik yang luar biasa.
"Jadi," suara berat Nando memecah kesunyian hutan, menggema hangat di telinga Luna. "Apakah aku melewatkan sesuatu? Atau kau memang berniat membawaku ke tempat syuting film dokumenter alam liar tanpa memberitahuku?"
Mendengar suara itu, pertahanan Luna runtuh. Gadis itu menjatuhkan goloknya ke tanah, lututnya lemas, dan tanpa memedulikan batas dimensi di antara mereka, Luna menghambur maju. Ia mencoba memeluk Nando.
Tentu saja, tubuh fisiknya menembus dada astral pria itu. Namun Luna tidak peduli. Ia menghentikan gerakannya tepat di tengah-tengah dada Nando, membiarkan hawa dingin dari energi biru itu menyelimuti tubuhnya. Air mata kelegaan merembes keluar dari sudut matanya.
"Kau kembali," bisik Luna dengan suara bergetar, wajahnya tersembunyi di balik masker, namun matanya memancarkan ribuan emosi. "Aku pikir kau akan menghilang."
Nando tertegun. Selama hidupnya, orang-orang menangis di hadapannya karena ia memecat mereka atau karena mereka memohon perpanjangan waktu pembayaran utang. Tidak pernah ada yang menangis karena lega ia ada di sana. Tidak pernah ada yang benar-benar takut kehilangannya demi dirinya sendiri, bukan demi hartanya.
Perlahan, senyum tulus yang sangat lembut mengembang di wajah Nando. Pria itu menunduk, mengulurkan kedua lengannya dan memposisikannya di sekeliling bahu Luna, menciptakan sebuah ilusi pelukan yang memberikan kehangatan mutlak di tengah hutan yang dingin.
"Hei, Nona Ghostbuster," bisik Nando, nada suaranya sangat pelan dan menenangkan. "Aku ini CEO NaturaGlow. Aku tidak pernah mangkir dari kewajibanku. Aku sudah berjanji akan menjadi bodyguard gaibmu, kan? Kau tidak akan bisa menyingkirkanku semudah itu."
Luna tertawa kecil di sela-sela tangisnya. Ia mundur selangkah, mengusap air matanya dengan punggung tangan yang kotor oleh tanah. "Dasar sombong. Energimu bahkan masih tembus pandang di siang bolong begini."
Nando mendengus arogan, merapikan kerah jasnya. "Transparansi ini adalah bukti dedikasi. Perusahaanku selalu mengedepankan transparansi. Lagipula, dari dalam tasmu yang sempit dan berbau biskuit kacang itu, aku bisa merasakan kau bertarung sendirian melawan sinden hantu. Kau melakukannya dengan baik, Luna. Aku... bangga padamu."
Semburat merah menjalar di pipi Luna, sangat kontras dengan kulitnya yang pucat karena kelelahan. "Berhenti memujiku. Kita belum sampai. Kata Tarjo, Karang Mayit seharusnya sudah dekat."
Nando mengangguk, raut wajahnya kembali serius. Pendar birunya mulai meluas, menciptakan radius aman sejauh dua meter di sekeliling mereka. Roh-roh usil yang sedari tadi mengintai dari balik pohon seketika mundur teratur, ketakutan melihat anomali jiwa yang memancarkan energi semurni itu.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Luna menebas ilalang dengan goloknya, sementara Nando melayang di depannya, bertindak sebagai radar penunjuk arah. Kehadiran Nando membuat perjalanan ini terasa jauh lebih ringan. Rasa lelah di otot Luna seakan terbius oleh aroma menenangkan yang menguar dari tubuh astral pria itu.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan selama setengah jam.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖......
...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...
...****************...
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
Semangat Thor. 😃