"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"
Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.
Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana di ruang rawat Aryan
Aryan tiba-tiba terbangun. Ia tampak terkejut dan setelah itu lekas menoleh ke samping mencari Zaskia. Napasnya langsung terurai lega ketika melihat istrinya yang ternyata sedang tertidur dengan kepala yang berada di atas punggung tangannya. Perlahan, Aryan menarik tangannya dari wajah Zaskia, kemudian pelan-pelan terulur dan berpindah mengusap kepala perempuan itu. Melihat posisi tidur Zaskia, Aryan jadi tidak tega.
"Kia."
"Kia."
"Bangun sebentar, sayang."
Kelopak mata zaskia bergerak hendak terbuka, sentuhan tangan Aryan di kepalanya membuat dirinya terbangun. mendapati pandangannya telah pulih, ia terkejut melihat Aryan yang membuka mata dan sedang menatapnya.
Karenanya, zaskia segera menegakkan badan.
"Kenapa kak? Kakak mau apa? Apa yang sakit?" tanya Zaskia bertubi-tubi dengan intonasi nada bicara yang terdengar panik.
"Tidur di samping kakak, ya?"
"Hah?"
Aryan kemudian bergeser menyisapkan ruang di kasur yang ditidurinya.
"SIni sayang,"
"Tapi kak..."
"Ayo Kia." Aryan menarik tangan Zaskia agar bergeser.
"Nanti sempit, Kak."
Aryan menggeleng. Tanpa ia sendiri pendengarannya sudah kembali berfungsi lantaran alat bantu dengar yang sudah dipasang di belakang cuping telinganya.
"Sini, Kia, kakak kangen."
Zaskia pun mengangguk. Ia membuka sandal dan perlahan-lahan naik ke berangkar lalu berbaring di samping Aryan. Keduanya jadi saling berhadapan dengan sangat jelas, kini Zaskia maupun Aryan sudah bisa saling memandang dari jarak dekat. "Kakak gak sempit?"
"Enggak." Aryan menyentuh pipi Zaskia, seraya menatap lembut manik mata perempuan itu. "Maafin kakak ya, udah bikin kamu khawatir." Lanjutnya.
Zaskia tersenyum kecil kemudian menimpali tangan Aryan di pipinya.
"Sebenarnya Kia gak mau maafin tapi liat kondisi kakak, Kia jadi berubah pikiran."
Aryan tersenyum lucu. Setelah itu tatapannya beralih menatap perut Zaskia. Tangannya pindah kesana.
"Anak kita baik-baik aja kan?"
"Alhamdulillah. Anak kita kuat kaya kakak."
"Gak, sayang. Dia kuat seperti ibunya."
Zaskia tersenyum getir. Perasaan sedih kembali mampir. Melihat Aryan seperti ini, membuat hatinya lemah berulang kali. Terlebih setelah ia tau jika suaminya didiagnosis mengalami tuli sementara.
Mendengar tidak ada sahutan, pandangan Aryan kembali menyorot wajah Zaskia. "Jangan sedih, sebentar lagi kakak sembuh kok." Ibu jari Aryan mengusap bulir hangat yang baru saja luruh dari sudut mata Zaskia.
Perempuan itu diam memilih menyelami perasaan pilunya. Setelah itu wajah Aryan mendekat dan tanpa aba-aba langsung menjangkau bibir Zaskia mengecupnya hangat. Ventilator tak lagi terpasang di antara batang hidung dan mulutnya.
Zaskia diam menikmati sentuhan lembut dan hangat bibir suaminya.
Aryan perlahan melepas tautan bibirnya di bibir Zaskia. Hingga hidung keduanya saling bergesekan seiring mata yang pelan-pelan terbuka. Tatapan laki-laki itu teduh menyorot dari bibir hingga berhenti di manik mata Zaskia.
"Kakak cinta kamu, Kia."
Kedua tulang pipi zaskia seketika menonjol bersamaan dengan bibir yang terkulum. Rona merah jamu menyusul mengambil peran membuat wajahnya kian merekah. Tak kuat ditatap begitu dalam oleh sang suami, Zaskia lantas menundukkan pandangan dan kemudian memeluk aryan. Menyembunyikan tersipu di wajahnya di dada laki-laki itu..
"Kia juga." Balasnya pelan.
Aryan tersenyum gemas. Kepala Zaskia yang masih terbalut kerudung dan beraroma candy berada di bawah dagunya. Rasa nyaman seketika mengalir. Sejenak, membuat rasa sakit yang mendera tak terlalu menekan raga aryan.
"Cepet sembuh ya kak."
"Iya sayang."
Zaskia memeluk suaminya dengan pergerakan yang lembut. Ia sadar jika kondisi tubuh Aryan nasih belum pulih. Sehingga sebisa mungkin, Zaskia akan bertindak hati-hati setiap kali menyentuh Aryan.
"Lihat kakak kaya gini, Kia jadi takut buat punya anak kak."
Aryan tertegun. Kedua alisnya bertaut bingung.
"Kenapa gitu?"
"Kia gak siap kalau harus ngurus anak sendirian."
"Kan ada kakak."
"Tapi gak menjamin kakak bakalan terus ada di samping Kia kan?"
"Maksud kamu?"
"Kalau suatu hari nanti kakak bakal ngalamin hal kaya gini lagi gimana? Kia takut kakak bakal ninggalin kia. Boleh enggak kalau kakak enggak usah ikutan demo lagi atau apapun yang berkaitan dengan pemerintah? Bisa enggak kalau habis ini kakak fokus sama Kia, rumah tangga kita, dan anak yang ada di perut Kia?"
Aryan terdiam. Mencerna kalimat yang terlontar dari mulut Zaskia.
"Kak?"
"Bisa,"
Zaskia menarik wajahnya dari dada Aryan dan kemudian mendongak menatap wajah suaminya.
"Janji?"
Aryan tersenyum lembut dan mengangguk pelan.
Zaskia ikut tersenyum dan setelah itu kembali mengarahkan wajahnya ke dada Aryan.
"Makasih ya, Kak."
"Takut banget ya sekarang kehilangan kakak?" Tanya Aryan, menggoda istrinya.
"Apa sih!"
"Tinggal jawab doang, Kia."
"Ya lagian udah tau jawabannya malah ditanya!" Zaskia yang gemas lantas menepuk lembut bokong Aryan.
Aryan meringis. Pura-pura merasakan sakit. "Baru juga pulih udah di KDRT!"
"Kia kan nepuknya pelan kak! Kia KDRT beneran mau?"
"Mau, tapi di atas kasur kamar kita ya!"
"Astaghfirullah, bapak satu ini!" Zaskia kembali menepuk bokong Aryan.
Aryan tertawa pelan sambil menarik Zaskia agar kian merapat dengan tubuhnya.
"Bercanda sayang tidur yuk."
"Iya." Zaskia mengangguk.
Aryan perlahan kembali memejamkan mata seraya menyadarkan pipinya di pucuk kepala zaskia.
"Kak?"
"Hm."
"Tadi kenapa bangun?"
"Teringat kamu."
"Kia serius, kak!"
"Kakak juga serius, sayang."
"Bukan karena badan kaka sakit?"
"Bukan."
"Hem."
"Kamu tenang aja. Sekarang sakitnya udah hilang karena kakak udah nemuin obatnya."
"Apa sih gombal!"
"Beneran sayang..."
Bibir zaskia kembali terkulum. Ia tersenyum dengan tersipu malu.
"Kakak gak sempit?"
"Gak, kia."
"Beneran?"
"Iya."
"Kalau kira-kira udah mulai gak nyaman bilang ya kak."
Aryan tersenyum seraya mengangguk.
"Kia." Panggil aryan setelah itu.
"Apa?"
"Love you."
Zaskia tersenyum lucu tidak menduga jika Aryan memanggilnya hanya untuk mengucapkan kalimat itu.
"Love you too, Kak."
"Berapa persen?"
"Seribu persen. Kalau kakak?"
"Enggak ada nominalnya karena saking enggak bisanya perasaan kakak ke kamu dihitung pakai angka perasaan kakak ke kamu itu unlimited."
Zaskia tergelak. Alibinya untuk menutupi bunga-bunga yang bermekaran di hatinya. "Cakep!"
"Bukan pantun sayang..."
"Udah ih tidur! Ngegombal mulu gak ada habisnya!"
"Ya mau bikin anak juga gak bisa."
"Ya Allah kak!"
Aryan terkekeh.
"Eh tapi kan anaknya udah dibuat kak!" Seru Zaskia kala menyadari ucapan aryan.
"Buat temennya kalau gitu."
"Astaghfirullah, makin ngaco!"
"Memangnya gak bisa ya? Terus anak kembar itu gimana?"
Zaskia terdiam ikut berpikir.
"Kia juga gak tau. Kan Kia bukan dokter kandungan."
"Iya sih. Kamu kan istrinya Aryan."
Zaskia terkekeh kecil. "Sekarang udah ayo tidur. Besok baru ngobrol lagi."
"Ayo."
"Jangan lupa baca doa kak."
"Doa berhubungan badan?"
"Astaghfirullah, kak!"
"Iya sayangku."
"Kak serius ih!"
"Ini udah."
"Mana?"
"Ini." Aryan mengusap perut Zaskia.
Zaskia meringis. Kenapa konteksnya jadi berubah haluan begini?"
"Do'anya, kak!"
"Tadi suruh serius."
"Serius baca do'anya kak. Kakak mikirnya apaan coba?"
"Oh, kakak pikir minta anak."
"Kia gigit ya! Bercanda mulu!"
"Jangan Kia. Ada ayah disini. Kakak ga enak mau buka celana."
"Astaghfirullahalazim!" Zaskia reflek mencubit pinggang aryan.
"Duh!" Aryan merintih.
"Eh sakit ya, kak?" Zaskia panik. Ia mendongak menatap wajah aryan yang sedang meringis.
"Gak kok."
"Beneran?"
"Iya sayang." Aryan kemudian mengecup lembut kening zaskia, lalu mendorong bagian belakang kepala perempuan itu untuk kembali menempel di dadanya.
"Maaf ya kak. Kayanya tadi kia kekencengan deh nyubitnya." Zaskia mengusap-usap pinggang aryan.
"Ya emang, Kia." Sahut aryan dalam hati.
"Iya gapapa. Gak sakit kok."
Zaskia masih mengusap pelan pinggang Aryan dengan wajah penuh rasa bersalah.
Sementara Aryan diam-diam menahan senyum melihat kepanikan istrinya sendiri.
“Beneran gak sakit?” tanya Zaskia lagi memastikan.
“Iya, Sayang,” jawab Aryan lembut. “Kalau sakit juga langsung sembuh pas diusap sama kamu.”
“Ih… gombal terus,” gerutu Zaskia malu-malu.
Aryan terkekeh pelan. Tangannya kembali membelai kepala Zaskia yang berada di dadanya.
Ruangan ICU malam itu terasa begitu tenang.
Hanya suara detak monitor dan napas keduanya yang terdengar samar.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu terjadi, Aryan merasa benar-benar tenang.
Zaskia ada di sampingnya.
Itu sudah lebih dari cukup.
“Kia,” panggil Aryan lagi pelan.
“Hm?”
“Makasih ya.”
Zaskia mengangkat wajahnya sedikit lalu menatap suaminya bingung. “Buat apa?”
“Karena kamu gak ninggalin kakak.”
Hati Zaskia kembali mencelos.
Tatapan Aryan begitu tulus sampai membuat dadanya terasa sesak.
“Jangan ngomong gitu lagi,” bisiknya lirih. “Kia gak akan ninggalin kakak.”
Aryan tersenyum kecil. “Takut soalnya.”
“Takut apa?”
“Takut kamu capek punya suami kayak kakak.”
Air mata Zaskia langsung menggenang lagi.
Ia buru-buru menggeleng kuat-kuat.
“Jangan ngomong aneh-aneh,” ucapnya dengan suara bergetar. “Kakak itu hadiah terbaik yang Allah kasih buat Kia.”
***
Menjelang pagi, matahari bersinar cerah setelah semalaman hujan deras mengguyur kota. Aryan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa karena kondisinya yang perlahan mulai membaik.
Saat ini, Aryan sedang menikmati sarapan paginya bersama Zaskia. Perempuan itu duduk di sisi ranjang sambil menyuapi suaminya dengan telaten.
“Badan kakak gak sakit?” tanya Zaskia pelan.
“Enggak. Udah mendingan kok.”
“Alhamdulillah kalau gitu.”
“Kia, setelah Aryan selesai sarapan, kamu ikut ayah pulang ya,” ucap Zhafran yang baru saja menghampiri ranjang.
Zaskia langsung menoleh. “Terus Kak Aryan nanti sama siapa?”
“Ada Gus Abidzar sama Uma Azzura yang lagi di perjalanan ke sini. Jangan khawatir. Kamu kan lagi hamil, istirahatnya harus cukup. Hari ini libur kuliah dulu ya. Ayah takut kamu malah drop.”
Zaskia menghela napas pelan sambil menatap Aryan. Sebenarnya ia masih ingin berada di sana, menemani suaminya selama dua puluh empat jam penuh.
“Benar kata ayah, Kia,” ujar Aryan menimpali sambil mengusap lembut pipi istrinya. “Kamu pasti capek jagain kakak semalaman di sini. Ikut ayah pulang ya. Sampai rumah langsung istirahat supaya kamu dan bayi kita tetap sehat.”
Zaskia akhirnya mengangguk kecil. Sejujurnya tubuhnya memang terasa lelah dan sedikit lemas. Namun, entah kenapa, semua itu tetap tidak membuatnya ingin jauh dari Aryan. Hormon kehamilan yang sedang ia rasakan justru membuat dirinya ingin selalu berada di dekat laki-laki itu.
Tak lama kemudian, Gus Abidzar dan Uma Azzura datang. Zaskia segera turun dari ranjang lalu meletakkan mangkuk sarapan Aryan di atas meja kecil di samping tempat tidur.
“Gimana keadaan kamu, Nak?” tanya Uma Azzura khawatir. Tatapannya langsung tertuju pada alat bantu dengar yang terpasang di balik cuping telinga Aryan.
“Alhamdulillah, Uma. Aryan udah lebih baik.”
Uma Azzura menghela napas lega. Sebelumnya, Gus Abidzar memang sudah menjelaskan soal kondisi Aryan agar istrinya tidak terlalu panik saat melihat keadaan putra mereka.
“Alhamdulillah kalau begitu,” sahut Gus Abidzar. “Abi jadi lega dengarnya.”
“Azel enggak ikut, Yah?” tanya Aryan.
“Enggak. Dia ada ujian."
“Kia, sekarang gantian ya,” ucap Uma Azzura sambil merangkul lembut menantunya. “Kamu yang istirahat di rumah.”
“Iya, Uma.”
“Maafin Aryan ya, Bi, Uma. Aryan udah bikin kalian khawatir sampai jauh-jauh datang ke sini.”
Gus Abidzar tersenyum tipis lalu mendekat ke sisi ranjang. Tangannya mengusap kepala Aryan dengan penuh kasih sayang.
“Jangan ngomong begitu. Selama kamu selamat, itu udah lebih dari cukup buat Abi dan Uma.”
Uma Azzura mengangguk setuju. Matanya mulai berkaca-kaca lagi saat melihat wajah putranya yang masih tampak pucat.
“Kamu tau gak?” ucapnya lirih. “Uma hampir gak kuat waktu dengar kabar kecelakaan kamu semalam.”
Aryan tersenyum lemah. “Maaf ya, Uma.”
“Makanya,” sela Zhafran, mencoba mencairkan suasana, “habis ini gak usah bikin orang serumah panik lagi.”
Aryan terkekeh pelan. “Iya, Yah.”
“Tuh kan,” gumam Zaskia sambil melipat tangan di depan dada. “Baru sembuh udah ketawa-ketawa.”
Aryan langsung menoleh pada istrinya dengan senyum jahil. “Kalau liat kamu, bawaan kakak pengen ketawa terus.”
Zaskia mendelik malu. “Apaan sih, Kak.”
Uma Azzura dan Gus Abidzar saling berpandangan lalu tersenyum kecil melihat tingkah keduanya. Bahkan di tengah kondisi seperti ini, Aryan masih bisa menggoda istrinya.
Dan itu membuat hati mereka perlahan merasa tenang.
***
Zaskia pun akhirnya pulang bersama Zhafran. Sebelum pergi, perempuan itu sempat berkali-kali menoleh ke arah Aryan seolah masih berat meninggalkan suaminya sendirian di rumah sakit.
“Udah sana,” goda Aryan sambil tersenyum kecil. “Nanti kalau terus dilihatin begitu, kakak malah pengen ikut pulang.”
Zaskia mengerucutkan bibirnya. “Kakak jangan bercanda terus.”
“Iya sayang.”
“Kalau sakit atau apa-apa langsung bilang sama Uma.”
Aryan mengangguk patuh. “Siap, Bu Dokter.”
Zaskia menghela napas pelan sebelum akhirnya mendekat lalu mengecup kening suaminya singkat.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam hati-hati di jalan.”
Tatapan Aryan terus mengikuti langkah Zaskia sampai perempuan itu benar-benar menghilang di balik pintu ruangan.
Setelah kepergian Zaskia, suasana kamar rawat sempat terasa lebih sepi dari sebelumnya. Aryan menyandarkan tubuhnya sambil mengembuskan napas perlahan.
“Kangen lagi?” celetuk Gus Abidzar yang sedari tadi memperhatikan putranya.
Aryan terkekeh kecil tanpa rasa malu sedikit pun. “Iya.”
“Baru lima menit juga.”
“Lima menit tanpa Kia tuh lama, Bi.”
“Dasar bucin,” sahut Uma Azzura sambil menggeleng geli.
"Nurun Abi hehehe."
Tak lama kemudian, pintu kamar kembali terbuka. Arshaf dan Kafa muncul dari sana dengan tas kuliah yang masih menggantung di pundak mereka.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab semua orang hampir bersamaan.
“Kondisi lo gimana sekarang?” tanya Kafa sambil mendekat ke ranjang Aryan.
“Alhamdulillah. Udah gak terlalu sakit.”
Arshaf ikut mendekat ke sisi ranjang Aryan. “Udah, Yan. Jangan bikin khawatir semua orang lagi. Makanya dengerin apa kata Kia.”
“Iya, iya,” sahut Aryan sambil mengangguk kecil. “Thanks ya, Shaf, udah bawa gue ke sini semalam.”
“Santai.”
Aryan terdiam sejenak sebelum kembali bertanya dengan suara lebih pelan. “Gimana keadaan Andre?”
Sejenak, Kafa dan Arshaf saling pandang. Suasana yang tadinya santai perlahan berubah sendu.
“Andre meninggal, Yan,” jawab Arshaf lirih.
Aryan langsung terdiam. Tatapannya kosong beberapa detik. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un...”
Dadanya terasa sesak. Bayangan wajah Andre langsung melintas di kepalanya.
“Makanya,” sela Uma Azzura sambil menahan air mata, “Uma setuju sama Kia. Kamu gak boleh ikut demo lagi. Kamu juga, Shaf!”
“Iya, Uma. Tenang aja,” jawab Arshaf cepat.
“Kan Abi yang ngajarin kita, Uma,” celetuknya tiba-tiba.
Gus Abidzar langsung melotot. “Eh kok jadi Abi?”
Arshaf dan Kafa langsung menahan tawa.
“Ya Abi suka cerita sama Om Evan kalau dulu zaman kuliah juga suka beginian.”
“Iya emang,” balas Gus Abidzar santai, “tapi Abi nggak pernah demo urusan pemerintah.”
“Terus demo apa, Bi?” tanya Kafa penasaran.
“Demo minta libur ujian.”
Satu ruangan langsung hening dua detik.
Aryan refleks tertawa kecil sampai meringis sendiri. “Abi ternyata provokator juga.”
“Kurang asem kalian,” gumam Gus Abidzar sambil menunjuk putranya.
Arshaf ikut terkekeh. “Pantes darah aktivisnya nurun.”
“Itu beda!” bela Gus Abidzar cepat. “Dulu Abi demo sopan. Enggak sampai masuk berita.”
“Berarti kurang viral, om,” sahut Kafa serius pura-pura.
Uma Azzura sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah tiga laki-laki itu.
“Ya Allah, satu belum sembuh malah udah ngajak ketawa.”
“Kan biar cepet pulih, Uma,” jawab Aryan santai.
“Kalau ketawanya kebanyakan terus jahitannya sakit gimana?”
Aryan langsung pura-pura batuk sambil memegang dada.
“Nah tuh mulai terasa.”
“Karma,” celetuk Kafa
Aryan mendelik tipis. “Lo sahabat apa hama?”
“Dua-duanya.”
Arshaf ngakak pelan sambil menepuk pundak Kafa. “Fix. Persahabatan kalian enggak ada romantis-romantisnya.”
“Yang romantis cukup Aryan sama Kia aja." Sahut Abidzar
Mendengar nama istrinya disebut, Aryan langsung tersenyum sendiri.
“Padahal baru pulang satu jam,” goda Arshaf.
“Terus?”
“Lo udah senyum kayak orang mau nikah.”
“Kan emang udah nikah.”
"Jadi yang belum nikah siapa?"
"Ngaca deh lo berdua!" Sahut Aryan kesal.
Sementara Gus Abidzar dan Uma Azzura hanya bisa saling pandang sambil tersenyum kecil. Melihat Aryan sudah bisa bercanda lagi seperti ini benar-benar membuat hati mereka jauh lebih tenang.
Di tengah obrolan ringan itu, Arshaf diam-diam mengembuskan napas lega. Melihat Aryan masih bisa bercanda seperti biasa membuat sesak di dadanya tadi sedikit berkurang.
Meski begitu, setiap kali matanya menangkap alat bantu dengar kecil di balik telinga Aryan, perasaannya kembali tidak tenang.
Semoga benar kata dokter. Semoga semua ini hanya sementara.
pusing gak tuh abi nya 😅
ini pasti slah stu suruhan sikuruptor tuh
ya allah