NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Koridor rumah sakit yang bernuansa putih bersih itu terasa begitu sunyi dan dingin.

Di depan pintu ruang perawatan intensif, Luna berdiri mematung.

Penjelasan dokter tentang kondisi jantung Mahendra yang sangat ringkih akibat sisa racun kimia dan benturan emosi malam ini terus terngiang-ngiang di kepalanya, memicu rasa bersalah yang teramat dalam.

Luna menganggukkan kepalanya pelan ke arah dokter, menguatkan hati demi suami yang teramat dicintainya.

"Baik, Dok. Saya akan mendampingi Mas Mahendra secara total. Saya tidak akan meninggalkannya," ucap Luna dengan suara serak yang bertekad bulat.

Dika yang berdiri di samping Luna sejak tadi, menepuk bahu rekan bisnisnya itu dengan lembut untuk menenangkan Luna.

"Masuklah, Luna. Temani suamimu. Urusan kantor dan kontrak yang baru kita tanda tangani tadi, biar saya yang urus semuanya. Kamu fokus saja pada pemulihan Mahendra," ucap Dika dengan senyum tulus yang menenangkan, memberikan ruang privat yang sangat dibutuhkan wanita itu.

"Terima kasih banyak, Pak Dika,"

Dengan langkah yang perlahan dan hati-hati, Luna membuka pintu ruangan dan berjalan menuju ke dalam ruang perawatan VIP yang sunyi.

Aroma khas antiseptik dan suara ritmis dari alat pemantau detak jantung (bedside monitor) langsung menyambut indra pendengarannya.

Di atas bangsal rumah sakit, Luna melihat suaminya yang masih belum sadarkan diri.

Sosok Mahendra yang biasanya tampak begitu gagah, dominan, dan tak tersentuh bagaikan batu karang, kini terbaring lemah dengan berbagai kabel medis yang menempel di dadanya serta masker oksigen yang menutupi sebagian wajah matangnya.

Luna mengikis jarak, lalu duduk di kursi sebelah ranjang.

Jemari lentiknya yang masih gemetar bergerak meraih tangan kekar Mahendra yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat dengan kedua tangannya, membawanya ke depan bibir.

Air mata Luna kembali menetes, membasahi punggung tangan sang suami.

"Aku minta maaf, Mas..." gumam Luna dengan suara lirih yang bergetar di tengah kesunyian kamar rawat.

"Maaf karena aku tidak mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu. Maaf karena egoku membuatmu seperti ini. Tolong bangun, Mas... aku di sini, aku tidak akan pergi ke mana-mana lagi."

Cahaya matahari pagi yang hangat perlahan menerobos masuk melalui celah gorden ruang perawatan VIP, menggantikan temaramnya lampu malam.

Di samping ranjang, Luna masih tertidur pulas dalam posisi terduduk, dengan kepala yang bersandar di tepi kasur.

Jemari lentiknya sama sekali tidak terlepas, masih setia menggenggam erat tangan kekar sang suami sepanjang malam.

Perlahan-lahan, jemari dingin itu mulai bergerak.

Mahendra membuka matanya dengan berat. Pandangannya sempat mengabur sebelum akhirnya berangsur-angsur jernih, menangkap langit-langit putih kamar rumah sakit dan suara ritmis alat pemantau detak jantung yang kini berbunyi jauh lebih stabil.

Rasa mual dan sesak di dadanya sudah jauh berkurang.

Hal pertama yang tertangkap oleh netra tajam Mahendra adalah sosok istri kecilnya yang tertidur pulas di sisinya.

Rasa hangat seketika menjalar di lubuk hati sang Titan Bisnis.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Mahendra menggerakkan tangan kirinya yang bebas, lalu secara perlahan dan penuh kasih sayang, ia mengelus lembut rambut hitam Luna yang terurai.

Sentuhan lembut yang teramat familier itu seketika membuat kesadaran Luna kembali.

Luna terbangun, mengerjapkan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya pagi.

Begitu mendongak dan melihat sepasang netra matang suaminya tengah menatapnya dengan binar penuh kehangatan, jantung Luna berdesir hebat.

"Mas Mahendra..." bisik Luna dengan suara serak khas orang bangun tidur, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Air mata kebahagiaan langsung menggenang di sudut matanya.

"Mas sudah sadar? Mas baik-baik saja?"

Mahendra tidak bisa banyak bersuara karena masker oksigen masih bertumpu di hidung dan mulutnya. Namun, pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya pelan, mengulas senyum tipis di balik masker untuk menenangkan kepanikan istrinya.

Tatapan matanya seolah menyiratkan bahwa semua badai telah berlalu.

Melihat respons suaminya, Luna seketika teringat pesan dokter semalam.

Dengan perasaan lega yang membuncah, ia langsung melepaskan genggaman tangannya sejenak.

"Tunggu sebentar, Mas. Aku panggil dokter dulu untuk memeriksa kondisi Mas," ujar Luna terburu-buru.

Ia segera bangkit dari kursi dan menekan tombol darurat di atas ranjang, lalu melangkah cepat menuju pintu keluar untuk memanggil tim medis yang berjaga di luar ruangan.

Dokter senior bersama dua orang perawat bergegas masuk ke dalam ruangan setelah menerima panggilan darurat dari Luna.

Dengan sigap dan penuh ketelitian, dokter segera memeriksa keadaan Mahendra.

Ia mengecek grafik pada layar bedside monitor, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan sang Titan Bisnis, serta mendengarkan suara detak jantungnya menggunakan stetoskop.

Sepanjang pemeriksaan, Luna berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan yang saling bertautan erat, menanti diagnosis dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan.

Setelah memastikan seluruh tanda-tanda vital Mahendra menunjukkan grafik yang jauh lebih konformis dan aman, dokter itu melepaskan stetoskopnya, lalu menoleh ke arah Luna dengan senyuman yang menenangkan.

"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Luna dengan wajah cemas.

Dokter itu mengangguk pelan. "Ibu tidak perlu khawatir lagi. Semuanya sudah baik dan jauh lebih stabil jika dibandingkan dengan kondisi kritisnya semalam. Detak jantung Tuan Mahendra sudah kembali ke ritme normalnya," jelas dokter tersebut, membuat separuh beban berat di pundak Luna seketika terangkat.

Namun, dokter itu kemudian memberikan instruksi lanjutan sambil mencatat sesuatu di papan medisnya.

"Tapi, Tuan Mahendra masih harus tetap memakai selang oksigen ini untuk membantu meringankan kerja jantungnya. Selain itu, beliau juga wajib menginap tiga hari lagi di rumah sakit ini untuk memantau perkembangannya secara berkala, memastikan tidak ada sisa efek zat kimia atau lonjakan emosi yang bisa memicu serangan susulan."

Mendengar penjelasan itu, Luna melirik ke arah suaminya yang tengah menatapnya dengan pandangan teduh.

Luna mengembuskan napas lega yang teramat sangat, lalu kembali mengangguk patuh kepada dokter.

"Baik, Dok. Terima kasih banyak. Saya akan pastikan Mas Mahendra istirahat total dan tidak memikirkan pekerjaan dulu selama tiga hari ini," jawab Luna penuh tekad.

Setelah dokter dan para perawat pamit keluar dari ruang perawatan VIP, keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti kamar.

Mahendra perlahan menurunkan masker oksigennya sedikit ke bawah dagu, lalu menatap Luna dengan pandangan sayu namun sarat akan kehangatan.

Suaranya terdengar sangat parau saat mencoba memecah kesunyian.

"Aku haus, Sayang..." bisik Mahendra lirih.

Luna yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang langsung bergerak sigap.

Ia mengambil gelas berisi air putih hangat yang terletak di atas meja nakas, lalu dengan penuh kehati-hatian membantu suaminya untuk minum.

Luna menopang tengkuk kekar Mahendra dengan tangan kirinya, memastikan suaminya bisa meneguk air itu dengan nyaman tanpa harus banyak menggerakkan tubuhnya yang masih lemah.

Setelah rasa dahaganya tuntas, Mahendra kembali bersandar pada bantal.

Jemari kekarnya bergerak meraih tangan lentik Luna, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Pria paruh baya itu menatap dalam-dalam sepasang netra istrinya, menyiratkan penyesalan yang teramat dalam.

"Maafkan aku yang semalam sudah membuat kamu cemburu, Sayang," ucap Mahendra.

"Diana tiba-tiba saja datang dan memelukku. Aku bersumpah tidak ada hubungan apa pun dengannya, dan aku tidak berniat mengabaikanmu di pesta itu."

Mendengar pengakuan jujur dari sang Titan Bisnis, runtuh sudah sisa-sisa rasa perih di hati Luna.

Air matanya kembali menggenang, namun kali ini karena rasa haru dan lega.

Ia menundukkan kepala, merasa bersalah atas sikap impulsifnya semalam.

"Aku juga minta maaf, Mas,"

"Aku, egois dan langsung pergi begitu saja tanpa mau mendengarkan penjelasanmu dulu. Aku seperti anak kecil yang kekanak-kanakan."

Mahendra menatap wajah penyesalan istrinya yang tampak begitu menggemaskan di matanya.

Rasa gemas dan lega yang membuncah di dadanya membuat Mahendra tertawa kecil, sebuah tawa bariton yang renyah meski terdengar sedikit tertahan karena selang oksigen yang masih terpasang di hidungnya.

"Tidak apa-apa, Sayang. Itu artinya istri kecilku ini teramat sangat mencintaiku," goda Mahendra dengan senyuman matang yang begitu memikat, membuat rona merah muda seketika menjalar di kedua belah pipi Luna.

Melihat rona merah yang menghiasi pipi Luna, Mahendra semakin melebarkan senyumnya.

Sifat posesif yang sempat menyelimutinya semalam kini mencair, digantikan oleh binar jenaka yang jarang ia perlihatkan kepada orang lain selain istri kecilnya.

"Apakah kamu bosan menemani kakek tua ini di rumah sakit, hmm?" tanya Mahendra dengan nada bergurau, sengaja menyindir perbedaan usia mereka yang terpaut cukup jauh.

Luna seketika mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal mendengarnya. Ia mencubit pelan punggung tangan Mahendra yang tengah menggenggamnya.

"Kakek tua? Kamu itu Don Juan, Mas, bukan kakek tua! Buktinya masih banyak wanita muda yang mencoba mendekatimu," balas Luna setengah menyindir, meski kini dengan nada bercanda yang renyah.

Tok! Tok! Tok!

Candaan mereka seketika terhenti saat pintu ruang VIP diketuk, lalu terbuka perlahan. Ml

Mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran Fauzan yang baru saja tiba.

Pemuda itu tampak kelelahan dengan setelan kemeja kerja yang sedikit kusut, karena sejak kemarin malam dialah yang harus pontang-panting menyelesaikan semua kekacauan dan urusan darurat di perusahaan Mahendra akibat sang ayah yang tiba-tiba kolaps.

"Pa, maaf, aku baru bisa datang sekarang," ucap Fauzan dengan napas yang sedikit memburu.

Ia melangkah mendekati ranjang, menatap sang ayah dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus lega karena melihat pria itu sudah sadar.

Mahendra menganggukkan kepalanya perlahan. Kehadiran Fauzan setidaknya membuktikan bahwa urusan Dirgantara Holdings berada di tangan yang aman.

"Tidak apa-apa. Bagaimana kondisi di kantor?" tanya Mahendra dengan suara baritonnya yang masih parau.

"Semua aman, Pa. Berkas kerja sama dengan Pak Dika juga sudah diamankan," jawab Fauzan seraya mengembuskan napas panjang.

Setelah menjawab pertanyaan ayahnya, netra Fauzan perlahan bergeser.

Ia menatap lekat wajah Luna yang berdiri setia di samping ranjang.

Ada kilat kepedihan dan kecanggungan yang tak bisa disembunyikan dari sorot mata Fauzan saat menatap wajah mantan calon istrinya tersebut—gadis yang kini justru berstatus sebagai ibu tirinya dan tengah merawat ayahnya dengan penuh kasih sayang.

Mahendra yang menyadari arah pandangan putranya langsung berdehem pelan.

Aura protektifnya sebagai seorang suami seketika kembali bangkit, tidak suka jika ada pria lain—bahkan putranya sendiri—menatap istrinya terlalu lama.

"Kalau sudah tidak ada masalah lagi di kantor, lebih baik kamu pulang dan istirahat, Fauzan. Kamu kelihatan lelah," ucap Mahendra dingin, mengusir putranya secara halus untuk memutus kontak mata di antara mereka.

Fauzan tersentak, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya dari Luna. Ia sadar betul akan batasan dan otoritas mutlak ayahnya.

Dengan senyum kaku, Fauzan menganggukkan kepalanya patuh.

"Baik, Pa. Kalau begitu aku permisi dulu. Luna... aku titip Papa," pamit Fauzan lirih sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan sepasang suami istri itu kembali dalam keheningan mereka.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!