NovelToon NovelToon
Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Mengapa Aku Yang Harus Menanggungnya?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Cintapertama
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Ellin Puspita

Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemain yang sesungguhnya

...****************...

Laura yang sejak tadi hanya diam perlahan menerima ponsel tersebut.

Begitu matanya melihat layar, dahinya langsung berkerut.

Di sana terlihat dirinya bersama seorang pria yang tidak dikenalnya.

Namun Laura segera mengingat kejadian di depan apotek tadi.

"Bu, ini salah paham."

"Salah paham?" ulang Rohaya dengan nada dingin.

"Iya, Bu. Orang itu hampir jatuh. Laura cuma menolong—"

"Cukup!"

Suara Rohaya membuat suasana ruang makan langsung hening.

Laura terkejut.

Bela yang berdiri di belakang Rohaya diam-diam tersenyum puas.

"Dulu ibu juga pernah mendengar alasan seperti itu," ucap Rohaya.

"Dan akhirnya rumah tangga ibu hampir hancur." Lanjutnya

Laura menggeleng cepat.

"Tapi Laura benar-benar tidak mengenal pria itu, Bu."

"Lalu kenapa kalian terlihat begitu dekat?" Sahut Rohaya

"Karena dia hampir jatuh." Jawab Laura dengan cepat

"Atau karena kamu memang sedang menyembunyikan sesuatu?"

Mata Laura membelalak.

"Bu..."

Hatinya terasa sesak mendengar tuduhan itu.

Ia tidak menyangka kepercayaan yang mulai tumbuh dari Rohaya bisa runtuh begitu cepat.

Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Arman yang baru saja turun langsung menyadari suasana aneh di ruangan itu.

"Ada apa lagi?"

Rohaya langsung menyerahkan ponselnya.

"Lihat sendiri menantu kesayanganmu."

Arman mengambil ponsel itu lalu melihat foto yang ditunjukkan.

Beberapa detik kemudian dahinya berkerut.

Namun berbeda dengan Rohaya, ia tidak langsung bereaksi.

Justru ia menoleh ke arah Laura.

"Ini terjadi kapan?"

"Tadi saat Laura membeli obat untuk kak Bela di apotek."

"Aku nggak kenal pria itu, ayah." Sahut Laura

Bela langsung menyela.

"Kenapa kamu bawa-bawa namaku?"

Laura menoleh ke arah Bela.

"Kak kejadiannya emang begitu, tadi kakak nyuruh aku ke apotek"

Sementara Laura sadar, Seolah ada seseorang yang memang sengaja ingin menjatuhkannya.

Sementara itu, Rohaya masih menatap Laura dengan tatapan kecewa.

Trauma masa lalunya kembali memenuhi pikirannya.

Dan tanpa disadari, benih kebencian yang sempat menghilang perlahan mulai tumbuh kembali.

"Bela, apa benar yang dikatakan Laura?" Tanya Arman sambil melihat kearah Bela

Ucapan itu membuat Laura terkejut.

Ia tidak menyangka Bela akan berbohong sejauh itu.

"Apa?" suara Laura bergetar.

"Aku tidak pernah memfitnahmu, Bela." Lanjutnya

Bela langsung mengangkat dagunya seolah ia tak terima difitnah Laura

"Lalu ini apa? Kamu bawa-bawa aku dimasalah yang kamu bikin sendiri Laura!"

"Padahal aku sudah berusaha memperbaiki hubungan kita." Lanjut Bela yang seolah menjadi korban

Laura mengepalkan tangannya.

ia merasa kesabarannya mulai habis menghadapi kakak ipar yang penuh drama itu.

"Memperbaiki hubungan?"

"Kamu yang mendorongku sampai jatuh, kak Bela." Sahut Laura

"Bahkan saat aku kesakitan, kamu masih bilang aku hanya mencari perhatian." Lanjutnya

Ruangan itu langsung hening.

Wajah Bela berubah sesaat, tetapi ia segera memasang ekspresi sedih.

"Aku sudah minta maaf."

"Dan aku tidak sengaja."

Rohaya yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

"Sudah cukup."

Laura menoleh ke arah mertuanya.

Namun tatapan Rohaya membuat dadanya terasa sesak.

Tatapan hangat yang beberapa hari terakhir ia lihat kini telah menghilang.

Yang tersisa hanyalah kekecewaan.

"Bu..."

"Ibu tidak mau mendengar alasan lagi." Sahut Rohaya

Laura membeku di tempatnya.

"Tapi aku benar-benar tidak melakukan apa pun."

"Lalu foto itu bagaimana?" tanya Rohaya tajam.

"Aku sudah bilang bu, itu hanya salah paham. Dan ibu dapat darimana foto itu?" Tanya Laura yang mulai curiga ada yang sedang ingin menghancurkan hubungannya dengan mertuanya

"Mau darimana ibu dapat foto ini, itu bukan urusan kamu kan? Yang jelas saya tanya kenapa kamu bisa melakukan ini dibelakang anak saya."

Kalimat itu membuat Laura kehilangan kata-kata.

Sementara itu, Arman mulai merasa ada yang tidak beres.

Ia mengenal Laura cukup baik.

Dan selama ini Laura tidak pernah menunjukkan gelagat yang mencurigakan.

"Rohaya, mungkin kita perlu mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Arman

Namun Rohaya sedang dikuasai emosinya.

Luka lama yang pernah ditinggalkan Sinta kembali menghantuinya.

"Tidak perlu." Sahut Rohaya

"Foto itu sudah cukup untuk membuatku mengerti." Lanjutnya

Laura menahan air matanya.

Ia tidak menyangka kepercayaan yang baru saja ia dapatkan bisa runtuh dalam satu hari.

Di sudut ruangan, Bela diam-diam menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyum puasnya.

Rencananya berhasil.

Setidaknya untuk saat ini.

Namun tanpa seorang pun menyadarinya, Arman memperhatikan ekspresi Bela.

Dan ia mulai curiga bahwa semua kejadian ini bukanlah kebetulan.

Rohaya kembali ke kamarnya, sementara Laura yang tadinya terdiam ia langsung menatap Bela dengan penuh kekesalan.

"kak Bela harus jelasin ke ibu, kalo tadi kakak nyuruh aku ke apotek!" Laura mengepalkan tangannya

"apa maksud kamu?" Bela mengangkat satu alisnya dan langsung bergegas pergi menaiki tangga menuju kamarnya

Sementara Arman berniat untuk mencari kebenarannya agar Laura tidak difitnah lagi

Laura hanya bisa menunduk dan menangis melihat mertuanya kembali membencinya

ia masih berdiri di ruang tamu dengan mata yang memerah.

Air mata terus mengalir meski sudah berulang kali ia usap.

Arman yang melihat keadaan menantunya itu hanya bisa menghela napas panjang.

Ia tahu Laura terluka.

Bukan karena foto itu.

Melainkan karena Rohaya kembali meragukannya.

"Laura."

Suara Arman membuat Laura mengangkat kepalanya perlahan.

"Ayah percaya sama kamu." Lanjutnya

Ucapan itu membuat Laura terdiam.

"Benarkah?"

Arman mengangguk.

"Ayah mengenalmu cukup lama. Kamu bukan orang seperti itu."

Laura kembali menunduk.

"Tapi Ibu tidak percaya."

"Wajar kalau ibumu terpancing emosi. Luka masa lalunya belum benar-benar sembuh." Ucap Arman

Laura menggigit bibirnya.

"Aku capek, Yah."

"Ayah tahu." Sahut Arman

"Aku selalu berusaha jadi menantu yang baik. Aku berusaha membuat Ibu menerima aku. Tapi setiap kali keadaan membaik, selalu ada sesuatu yang membuat semuanya kembali seperti dulu."

Suara Laura mulai bergetar.

"Kadang aku berpikir... mungkin memang dari awal Ibu tidak akan pernah bisa menerimaku." Lanjutnya

"Jangan bicara seperti itu." Sahut Arman

Laura mengusap air matanya.

"Aku hanya sedih."

Arman lalu duduk di samping Laura.

"Kamu sedang hamil. Jangan terlalu banyak menangis."

Mendengar itu, Laura langsung memegang perutnya.

Ia teringat pesan dokter.

Tidak boleh stres.

Tidak boleh terlalu banyak pikiran.

Namun keadaan saat ini membuatnya sulit untuk tenang.

"Ayah akan bicara dengan Ibu nanti." Ucap Arman untuk menenangkan Laura

Laura menggeleng pelan.

"Jangan, Yah."

"Kenapa?" Tanya Arman

"Aku tidak mau Ibu dan Ayah bertengkar karena aku."

Arman tersenyum tipis.

"Bukan bertengkar. Ayah hanya ingin mengingatkan bahwa tidak semua orang kota itu sama."

Laura terdiam.

Beberapa saat kemudian, Arman kembali berbicara.

"Ngomong-ngomong, siapa laki-laki yang di apotek itu?"

Laura langsung mengingat kejadian tadi.

"Aku juga tidak kenal."

"Tidak kenal sama sekali?"

Laura menggeleng.

"Aku baru melihat wajahnya hari ini."

Arman semakin yakin ada sesuatu yang janggal.

Kalau Laura benar-benar tidak mengenalnya, kenapa orang itu bisa muncul tepat saat Laura sendirian?

Dan kenapa kebetulan ada yang merekam?

Semakin dipikirkan, semakin terasa aneh.

"Ayah rasa ada yang sengaja menjebakmu."

Laura menatap Arman kaget.

"Menjebak?"

Arman mengangguk pelan.

"Terlalu banyak kebetulan dalam satu waktu."

Laura langsung teringat Bela.

Terlebih pagi tadi Bela yang memintanya keluar rumah membeli obat.

Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.

Bersambung.....

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. semangat terus.

btw saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel. tinggal tekan profile, terima kasih /Grin/
Kim Borahae: nicee
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!