NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Hari yang Terlihat Biasa

Bab 33 — Hari yang Terlihat Biasa

Pagi datang lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir.

Tidak ada pesan ancaman.

Tidak ada tamu tak diundang.

Tidak ada laporan darurat.

Dan justru karena itu…

semua orang mulai sedikit lengah.

Mansion terasa lebih hidup.

Beberapa pelayan terlihat mengobrol pelan.

Clara sedang mengatur bunga.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang—

Amelia merasa suasana rumah ini tidak terlalu menekan.

Dia sedang membantu Clara di ruang tengah saat suara langkah cepat terdengar.

Matteo muncul.

Dengan ekspresi sangat serius.

“Masalah besar.”

Amelia langsung menoleh.

Clara juga.

“Ada apa?”

Matteo menarik napas.

Lalu berkata—

“Tidak ada kopi.”

Sunyi.

Clara diam.

Amelia diam.

Lalu beberapa detik kemudian—

Amelia tertawa.

Matteo menunjuk dapur.

“Aku serius.”

Clara menahan senyum.

“Nanti saya buatkan.”

Matteo menggeleng.

“Tidak. Aku mau lihat sendiri.”

Dan sebelum siapa pun menghentikan—

dia masuk ke dapur.

Lima menit kemudian—

terdengar suara ramai.

Lalu seseorang berteriak.

Dan Clara langsung berdiri.

Amelia ikut.

Begitu masuk—

mereka melihat dapur berantakan.

Salah satu koki menahan tawa.

Dan Matteo berdiri memegang teko.

Wajahnya sangat percaya diri.

Amelia melihat meja.

“Ini apa?”

Matteo bangga.

“Kopi.”

Clara diam.

Amelia diam.

Lalu bertanya hati-hati.

“Kenapa warnanya hijau?”

Matteo melihat cangkir.

Diam.

Lalu menoleh.

“…itu memang begitu kan?”

Amelia langsung tertawa.

Bahkan Clara ikut menahan senyum.

Matteo menatap mereka.

Lalu menghela napas.

“Oke. Jangan bilang Lorenzo.”

Sementara itu.

Di ruang kerja.

Suasananya jauh berbeda.

Lorenzo membaca dokumen.

Marco berdiri di depan meja.

Wajahnya serius.

“Kita cek jalur komunikasi Black Raven.”

Lorenzo tidak menoleh.

“Hasil?”

Marco diam sebentar.

Lalu berkata—

“Mereka berhenti bergerak.”

Tatapan Lorenzo terangkat.

Marco lanjut.

“Dan aku tidak suka itu.”

Sunyi.

Lorenzo menutup map.

“Diam sebelum bergerak.”

Marco mengangguk.

Tatapannya sedikit turun.

Lalu berkata,

“Dan satu lagi.”

Lorenzo diam.

Marco menarik napas.

“Kita menemukan orang yang mengirim pesan ke mansion.”

Sunyi.

Lorenzo menatapnya.

Marco melanjutkan.

“Tapi dia sudah hilang.”

Tatapan Lorenzo sedikit berubah.

Marco menaruh foto.

Lorenzo melihat.

Dan beberapa detik kemudian—

dia diam.

Foto itu menunjukkan seseorang.

Tapi wajahnya tertutup.

Namun ada sesuatu yang menarik perhatian.

Jam tangan.

Lorenzo mengenalnya.

Dan itu membuat suasana berubah.

Marco memperhatikan.

“Kau kenal?”

Lorenzo diam lama.

Lalu menjawab singkat.

“…mungkin.”

Siang.

Amelia sedang membaca lagi.

Tapi hari ini dia tidak sendiri.

Matteo datang membawa catur.

Dia duduk.

Menaruh papan.

“Balas dendam.”

Amelia tertawa kecil.

“Aku menang kemarin.”

Matteo menunjuk.

“Makanya.”

Mereka mulai bermain.

Awalnya santai.

Lalu makin serius.

Sampai akhirnya—

Matteo memperhatikan Amelia.

Lalu tiba-tiba bertanya,

“Kau takut sama Lorenzo?”

Amelia berhenti.

Berpikir.

Lalu menjawab—

“Dulu iya.”

Matteo mengangguk.

“Sekarang?”

Amelia diam.

Cukup lama.

Lalu menjawab pelan—

“…tidak.”

Matteo melihat papan catur.

Lalu tersenyum kecil.

Menarik.

Dia lanjut bertanya.

“Kalau suatu hari keadaan aman…”

Dia menggerakkan bidak.

“…kau bakal pergi?”

Amelia membeku.

Pertanyaan sederhana.

Tapi dia tidak langsung bisa jawab.

Pergi?

Dia memang seharusnya pergi.

Bukankah begitu?

Dia tidak mungkin tinggal selamanya.

Tapi—

kenapa sekarang pertanyaan itu terasa sulit?

Amelia akhirnya menjawab—

“Aku tidak tahu.”

Matteo diam.

Lalu mengangguk.

Namun dalam hati dia berpikir—

sudah terlambat.

Sore.

Lorenzo akhirnya keluar dari ruang kerja.

Dia melewati ruang tengah.

Lalu berhenti.

Karena dia melihat—

Amelia tertidur di sofa.

Buku masih di tangannya.

Dan…

Matteo sedang duduk di lantai membaca.

Matteo melihat Lorenzo.

Lalu berbisik.

“Jangan bangunin.”

Lorenzo diam.

Tatapannya turun.

Beberapa detik.

Lalu dia berjalan mendekat.

Matteo memperhatikan.

Dan melihat sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan.

Lorenzo mengambil buku dari tangan Amelia.

Pelan.

Supaya tidak bangun.

Lalu menarik selimut tipis menutupi bahunya.

Gerakannya sangat biasa.

Tapi bagi Matteo—

tidak.

Karena dia tidak pernah lihat Lorenzo melakukan hal seperti itu.

Lorenzo berdiri lagi.

Lalu berkata datar.

“Kenapa dia tidur di sini.”

Matteo tersenyum.

“Kecapekan.”

Sunyi.

Lalu Matteo berkata lagi.

“Dia mulai nyaman di sini.”

Lorenzo diam.

Namun kali ini—

dia tidak membantah.

Malam.

Matteo berdiri di balkon.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk.

Kapan pulang?

Matteo melihat.

Lalu membalas.

Belum.

Balasan datang cepat.

Jangan terlalu lama dekat dengan keluarga itu.

Matteo membaca lama.

Lalu mematikan layar.

Tatapannya ke dalam mansion.

Ke ruang tengah.

Ke lampu yang masih menyala.

Dan untuk pertama kali—

dia merasa aneh.

Tempat ini…

yang dulu terasa dingin—

sekarang mulai terasa seperti rumah lagi.

Tapi dia juga tahu.

Hal seperti ini…

jarang bertahan lama.

Dan tanpa dia sadari—

di sisi lain kota—

seseorang sedang melihat foto mansion Moretti.

Lalu tersenyum kecil.

Dan berkata pelan—

“Besok.”

Lalu layar mati.

Matteo masih berdiri di balkon.

Angin malam cukup dingin.

Tangannya memegang ponsel yang layarnya sudah mati sejak tadi.

Dia membaca lagi pesan terakhir di kepalanya.

Jangan terlalu lama dekat dengan keluarga itu.

Dia tertawa kecil.

Keluarga itu.

Lucu.

Padahal waktu kecil dia hampir setiap musim panas datang ke mansion ini.

Lari di lorong.

Main catur.

Makan diam-diam.

Dan satu-satunya anak yang selalu duduk membaca di pojok—

Lorenzo.

Sekarang orang bicara seolah tempat ini asing.

Matteo memasukkan ponselnya kembali.

Lalu berjalan masuk.

Di ruang tengah.

Lampu masih menyala.

Amelia sudah bangun.

Dia terlihat sedikit bingung karena ada selimut di bahunya.

Clara sedang membereskan meja.

Amelia menoleh.

“Clara…”

Clara tersenyum.

“Nona sudah bangun?”

Amelia memegang selimut.

“Ini…”

Clara berhenti sebentar.

Lalu menjawab biasa.

“Tuan Lorenzo.”

Amelia diam.

Entah kenapa dia tidak terlalu terkejut.

Dan itu justru membuatnya makin diam.

Matteo yang baru masuk melihat itu lalu duduk santai.

Dia mengambil apel dari meja.

Lalu berkata ringan,

“Wah. Cepat juga adaptasinya.”

Amelia menoleh.

“Hah?”

Matteo menggigit apel.

“Kalau dulu ada orang tidur di sofa…”

Dia berpikir sebentar.

“…mungkin sudah dipindah sekalian sama sofanya.”

Amelia langsung menoleh.

Matteo mengangguk yakin.

“Dia sangat tidak suka orang menyentuh barangnya.”

Amelia diam.

Lalu pelan bertanya.

“…terus kenapa sekarang beda?”

Matteo berhenti menggigit.

Lalu menatap Amelia beberapa detik.

Dan menjawab santai—

“Itu kau tanya ke dia.”

Amelia langsung mengalihkan pandangan.

Matteo tertawa kecil.

Sementara itu.

Di ruang kerja.

Marco masuk membawa beberapa dokumen.

Lorenzo sedang berdiri melihat jendela.

Marco berhenti.

Lalu berkata,

“Aku sudah cek lagi.”

Lorenzo tidak menoleh.

“Dan?”

Marco diam sebentar.

Lalu menjawab,

“Tidak ada gerakan dari Black Raven.”

Sunyi.

Lorenzo tetap diam.

Marco melanjutkan.

“Tapi itu justru aneh.”

Lorenzo akhirnya bicara.

“Karena mereka bukan tipe yang berhenti.”

Marco mengangguk.

Dia meletakkan map.

Lalu bertanya,

“Matteo?”

Tatapan Lorenzo sedikit berubah.

Marco lanjut.

“Kau percaya dia?”

Lorenzo diam.

Beberapa detik.

Lalu menjawab singkat.

“Iya.”

Marco sedikit kaget.

Tidak karena jawabannya.

Tapi karena jawabannya terlalu cepat.

Marco mengangguk kecil.

Lalu sebelum pergi dia berkata—

“Kalau begitu semoga dia tetap seperti dulu.”

Pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Di sisi lain mansion.

Matteo berjalan santai melewati lorong.

Saat melewati perpustakaan—

dia berhenti.

Pintu terbuka sedikit.

Di dalam ada Amelia.

Dia sedang melihat rak buku.

Matteo masuk.

Amelia menoleh.

“Oh.”

Matteo menunjuk rak.

“Cari apa?”

Amelia berpikir.

Lalu menjawab,

“Aku cari buku yang ringan.”

Matteo langsung ambil satu buku.

Lalu menyerahkan.

Amelia membaca judulnya.

Diam.

Lalu melihat Matteo.

“…ini buku ekonomi.”

Matteo mengangguk.

“Ringan.”

Amelia menatapnya beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

Matteo ikut tertawa.

Kemudian dia melihat rak sebelah.

Tangannya berhenti di satu buku lama.

Dia mengambilnya.

Buku itu sudah cukup tua.

Amelia melihat.

“Apa itu?”

Matteo membuka halaman pertama.

Lalu menunjukkan.

Tulisan tangan anak kecil.

Lorenzo Moretti.

Amelia berkedip.

Matteo tersenyum kecil.

“Dulu dia suka baca.”

Amelia menatap buku itu.

Sulit dibayangkan.

Matteo membuka beberapa halaman.

Lalu tertawa kecil.

“Dia juga suka gambar.”

Amelia langsung menoleh.

“Apa?”

Matteo menunjukkan halaman belakang.

Ada gambar berantakan.

Amelia diam.

Lalu tertawa.

“Ini?”

Matteo mengangguk.

“Kau jangan bilang ke dia.”

Amelia masih tertawa.

Dan untuk pertama kali—

dia melihat sesuatu yang baru.

Lorenzo ternyata pernah jadi anak kecil biasa.

Bukan cuma seseorang yang selalu kuat.

Saat mereka masih bicara—

ada seseorang berdiri di luar pintu.

Lorenzo.

Dia melihat dua orang itu beberapa detik.

Tatapannya turun ke buku.

Lalu ke wajah Amelia yang sedang tertawa.

Dan entah kenapa—

dia tidak masuk.

Dia berdiri sebentar.

Lalu pergi.

Tanpa bicara.

Sementara di perpustakaan—

Matteo melihat sekilas bayangan itu.

Tapi dia pura-pura tidak lihat.

Dia menutup buku.

Lalu berpikir pelan—

Mungkin…

orang yang paling tidak sadar dirinya berubah…

memang Lorenzo sendiri.

Dan malam itu berakhir tenang.

Terlalu tenang.

Sampai tidak ada yang sadar—

di luar gerbang mansion—

sebuah mobil hitam berhenti sebentar.

Lalu pergi lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!