Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam pertama di Hutan Simulasi Area Tujuh terasa sangat dingin. Cahaya bulan purnama nyaris tidak bisa menembus lebatnya kanopi daun di Zona Selatan.
Di bawah akar raksasa pohon pinus yang tumbang, sebuah lampu tenda portabel bersinar redup. Lin Fan, Chen Ping, dan Song Jia duduk melingkar di atas terpal plastik. Mereka sedang memakan daging sapi dari dalam kaleng.
"Ugh... Daging kaleng ini rasanya sangat hambar jika tidak dipanaskan," keluh Lin Fan. Dia menusuk potongan daging itu dengan garpu plastiknya.
"Hah... Setidaknya kita punya makanan," balas Chen Ping sambil mendorong kacamatanya. Suaranya masih terdengar cemas. "Aku tadi mendengar suara lolongan serigala dari arah utara. Kelompok lain pasti sedang bertarung mati-matian sekarang."
Song Jia mengangguk pelan. Dia memeluk tas medisnya erat-erat.
"Aku bersyukur kita mengikuti rencana Xiao Yan," kata Song Jia dengan suara pelan. "Tempat ini sangat tenang. Tidak ada tanda-tanda monster sama sekali."
Ketiga orang itu menoleh ke arah sudut akar pohon. Di sana, Xiao Yan sedang duduk bersandar dengan kaki lurus ke depan. Bantal leher menopang kepalanya, dan masker penutup mata hitam menutupi sebagian wajahnya. Napasnya naik turun dengan sangat teratur.
"Dia benar-benar tidur lelap sejak sore tadi," komentar Lin Fan. Dia menggelengkan kepalanya keheranan. "Ugh, aku tidak tahu apakah dia sangat jenius atau sangat bodoh karena bisa tidur di tengah area ujian seperti ini."
"Hah... Biarkan saja dia istirahat," kata Chen Ping. Dia membuka peta kertasnya lagi di bawah cahaya lampu redup. "Besok kita hanya perlu diam di sini. Ujian ini—"
"Krek."
Suara ranting patah terdengar sangat jelas dari arah semak belukar yang berjarak sepuluh meter di depan mereka.
Chen Ping langsung menghentikan ucapannya. Tubuhnya menegang.
"Ugh... Kalian dengar itu?" bisik Chen Ping dengan suara bergetar.
"Itu pasti cuma suara angin," jawab Lin Fan, mencoba menenangkan diri, meskipun tangannya yang memegang garpu mulai gemetar.
"Srek... Srek... Srek..."
Suara langkah kaki yang sangat berat terdengar mendekat. Tanah di bawah tempat mereka duduk ikut bergetar pelan setiap kali langkah itu dijatuhkan. Udara di sekitar mereka tiba-tiba menjadi sangat bau. Bau anyir darah dan daging busuk menyengat hidung.
"Hah..." Song Jia menutup mulutnya dengan tangan. Matanya melebar ketakutan.
Dari balik semak belukar yang gelap, dua buah titik cahaya merah menyala muncul. Bayangan hitam besar perlahan melangkah keluar dari kegelapan menuju area sekitar akar pohon yang terkena sedikit cahaya lampu tenda.
Itu adalah seekor beruang. Namun, ini bukan beruang biasa. Tubuhnya setinggi tiga meter ketika berjalan merangkak. Bulunya rontok, digantikan oleh lapisan sisik hitam yang terlihat seperti logam. Urat-urat merah tebal menonjol di seluruh permukaan kulitnya yang terbuka. Liurnya menetes ke tanah, meninggalkan bekas asap tipis seperti cairan asam.
"U-Ugh... M-Monster apa itu?" gagap Chen Ping. Dia melihat ke arah buku panduannya dengan panik. "B-Bentuk ini tidak ada di buku panduan! Guru Li bilang hanya ada serigala, ular, dan laba-laba! Tidak ada beruang bersisik!"
"Uwaaa!" Song Jia menjerit ketakutan. Dia merapatkan punggungnya ke dinding akar.
Beruang sisik itu menoleh ke arah sumber suara. Mata merahnya menatap langsung ke arah kelompok Lin Fan. Hewan buas itu membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan deretan gigi tajam yang berantakan.
"Rooooaaaar!"
Auman yang sangat keras dan memekakkan telinga meledak di udara. Gelombang suaranya menghempaskan lampu tenda portabel mereka hingga terguling.
"Gawat! Kita akan mati!" teriak Lin Fan panik.
Dia buru-buru melempar kaleng makanannya. Lin Fan meraih kotak pedangnya dan mencoba menarik Pedang Angin Puyuh miliknya keluar. Tapi tangannya gemetaran sangat hebat.
"Ugh! Keluarlah!" Lin Fan menarik gagang pedangnya, tapi pedang itu tersangkut di dalam sarung bajanya karena dia menariknya dengan sudut yang salah akibat panik.
Beruang sisik itu tidak menunggu. Monster itu mengangkat kaki depannya yang besar dan bersiap menerkam ke arah Song Jia dan Chen Ping yang terlihat paling lemah dan tidak memegang senjata.
Chen Ping menjatuhkan petanya. Kakinya lemas. Dia bahkan tidak bisa berdiri untuk menekan tombol pada Gelang Darurat di tangan kirinya.
Di sudut akar pohon, auman beruang tadi menghentikan ritme napas teratur Xiao Yan.
Xiao Yan menarik masker penutup matanya ke atas dahi. Matanya terbuka. Wajahnya datar, namun matanya menyiratkan rasa terganggu yang amat sangat.
"Hah... Berisik sekali," ucap Xiao Yan pelan. Suaranya terdengar sangat tenang di tengah kepanikan itu.
Otak Xiao Yan langsung bekerja.
"Identifikasi target... Monster mutasi anomali. Tidak tercatat di basis data sekolah. Kemungkinan besar hewan uji coba yang lepas atau disusupkan," batin Xiao Yan dengan cepat. "Level ancaman bagi teman kelompokku... Kematian instan. Level ancaman bagi waktu tidurku Maksimal."
Xiao Yan melihat Lin Fan yang masih berjuang menarik pedangnya sambil menangis, dan Chen Ping yang membeku ketakutan.
"Jika Lin Fan atau Chen Ping terbunuh, ujian ini akan dibatalkan, dan aku akan diinterogasi seharian penuh. Itu sangat merepotkan. Monster ini harus segera disingkirkan tanpa membuat keributan tambahan," batin Xiao Yan.