NovelToon NovelToon
Buku Harian Keyla

Buku Harian Keyla

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi Wanita
Popularitas:755
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pasar Malam, Ternyata Rendi!

​"Di bawah lampu temaram, kulihat kau menukar lelahmu dengan koin-koin demi bertahan hidup. Di balik topeng yang tersenyum riang itu, aku tahu ada wajah yang menahan tangis dan napas yang tersengal. Malam ini, semestaku kembali ditampar oleh realita yang mengoyak-ngoyak kewarasanku." (Buku Harian Keyla, Halaman 64)

​Satu minggu telah berlalu sejak insiden di mana lembaran surat biru mudaku berakhir tragis di dasar tempat sampah kelas XII-IPA 1. Tujuh hari yang terasa seperti tujuh abad. Setiap detiknya adalah sebuah penyiksaan yang menuntutku untuk membiasakan diri hidup dengan rongga dada yang berlubang.

​Aku menepati janjiku. Sesuai dengan batasan brutal yang ia gariskan di lorong sekolah pagi itu, aku menarik diriku sepenuhnya dari dunianya.

​Tidak ada lagi rutinitas pagi membeli susu kotak rasa stroberi atau roti gandum. Tidak ada lagi sapaan pelan saat ia melangkah masuk ke kelas. Aku bahkan melatih leherku agar tidak memutar ke belakang, menahan setengah mati dorongan mataku untuk sekadar memastikan apakah hari ini ia tidur nyenyak atau kembali kelelahan.

​Ruang kelas berubah menjadi medan perang bisu. Kami duduk dalam radius yang begitu dekat, namun terpisahkan oleh lautan keheningan yang tak bisa diseberangi. Rendi kembali pada kebiasaannya: datang, menunduk, tidur, mencatat seadanya, lalu pergi tanpa menoleh. Ia terlihat puas karena aku tak lagi "mencari drama" di kehidupannya.

​Namun bagiku, setiap kali aku melihat kursinya yang kosong saat jam istirahat, membayangkan ia menahan lapar karena aku tak lagi menyuplai makanannya diam-diam, aku harus lari ke kamar mandi untuk menangis tanpa suara.

​Sabtu malam tiba. Malam yang biasanya dihabiskan anak-anak SMA untuk bersenang-senang, menonton bioskop, atau sekadar berkumpul di kafe. Aku hanya berbaring di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamarku dengan pandangan kosong. Ponselku bergetar berkali-kali sedari sore. Grup chat geng kami ramai oleh celotehan Bella dan Lidya.

​Tiba-tiba, sebuah panggilan masuk. Dari Siska.

​Aku menghela napas panjang sebelum menggeser tombol hijau di layar. "Halo, Sis?"

​"Keyla, kamu lagi apa? Masih di kamar aja, ngurung diri kayak tahanan kota?" Suara lembut Siska langsung menyapaku, diiringi nada candaan yang sedikit memaksa.

​"Iya nih, Sis. Lagi malas keluar. Pengen tidur aja," jawabku beralasan.

​"Jangan gitu dong, Key. Udah seminggu lho kamu murung terus. Muka kamu di sekolah aja ditekuk terus, auranya jadi suram tau," omel Siska dengan nada keibuan. "Kamu harus move on. Dunia nggak kiamat cuma gara-gara satu cowok brengsek yang nggak tau diuntung."

​Aku memejamkan mata, menahan rasa ngilu setiap kali Siska menyebut Rendi dengan kata-kata kasar. "Aku udah move on kok, Sis. Cuma lagi capek aja."

​"Kalau gitu, buktikan dong," tantang Siska. "Indra dari tadi ngehubungin aku, nanyain kamu. Katanya chat-nya nggak kamu balas. Dia mau ngajak kamu jalan malam ini. Nggak usah yang jauh-jauh atau mewah, dia bilang ada pasar malam gede yang lagi buka di lapangan kecamatan. Dia pengen ngajak kamu ke sana buat cari angin."

​"Pasar malam?" tanyaku ragu.

​"Iya! Indra bilang kamu pasti bosan kalau diajak ke mall atau kafe mulu. Dia pengen ngajak kamu main wahana-wahana merakyat gitu. Sweet banget kan idenya?" Siska memprovokasi. "Ayo dong, Key. Kasihan lho Indra, dia udah standby dari tadi nungguin kepastian dari kamu. Nggak enak kan nolak cowok sebaik dia terus-terusan? Coba kasih dia kesempatan buat bikin kamu ketawa lagi."

​Aku terdiam cukup lama. Ada benarnya juga ucapan Siska. Mengurung diri di kamar hanya akan membuatku semakin gila memikirkan Rendi. Aku butuh distraksi. Aku butuh udara segar agar paru-paruku tidak terasa sesak. Dan membiarkan Indra terus-menerus menunggu rasanya memang sangat kejam, mengingat betapa baiknya laki-laki itu padaku selama ini.

​"Yaudah, Sis. Aku siap-siap dulu. Tolong bilangin Indra ya," putusku akhirnya.

​"Nah, gitu dong! Ini baru Keyla sahabat aku!" seru Siska puas. "Dandan yang cantik ya, Key. Bikin Indra makin tergila-gila sama kamu."

​Satu jam kemudian, mobil sedan perak milik Indra berhenti di depan pagar rumahku. Aku keluar mengenakan celana jeans, kaus putih polos, dan kardigan maroon. Rambutku kubiarkan tergerai natural.

​Saat aku membuka pintu pagar, Indra sudah berdiri menyandar di kap mobilnya. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya digulung santai dan celana jeans gelap. Ia memancarkan pesona laki-laki mapan yang sangat tahu bagaimana merawat dirinya. Begitu melihatku, senyum lebarnya langsung mengembang, menampilkan lesung pipi yang menjadi daya tarik utamanya.

​"Hai, Key. Makasih ya udah mau nerima ajakanku," sapa Indra hangat, membukakan pintu penumpang untukku.

​"Sama-sama, Ndra. Maaf ya tadi chat-nya nggak kebalas, hapenya di-silent," aku berbohong sedikit agar ia tidak merasa diabaikan.

​"Nggak apa-apa santai aja. Yang penting sekarang orangnya udah ada di depanku," goda Indra dengan tatapan yang membuat pipiku sedikit merona. "Siap buat seru-seruan malam ini?"

​Aku mengangguk, memaksakan senyum tulus. "Siap."

​Perjalanan menuju lapangan kecamatan memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Sepanjang jalan, Indra memutar lagu-lagu pop yang ceria dan mengajakku mengobrol tentang hal-hal ringan. Tentang tim futsalnya, tentang tugas-tugas sekolah, dan tentang rencana kuliahnya. Ia bercerita dengan antusias, seolah sedang berusaha keras menambal lubang hitam di hatiku dengan warna-warni dunianya.

​Pasar malam itu ternyata sangat luas dan ramai. Lapangan kecamatan yang biasanya kosong, kini disulap menjadi lautan cahaya temaram dari lampu-lampu neon warna-warni yang digantung secara asal. Suara musik dangdut berdentum kencang dari salah satu wahana, bercampur dengan derit besi dari kincir ria mini (bianglala) yang berputar lambat. Aroma harum dari popcorn karamel, gulali kapas, dan jagung bakar menguar di udara, menggugah selera siapa pun yang menghirupnya.

​Kami berjalan beriringan menyusuri lorong sempit yang diapit oleh tenda-tenda terpal penjual pakaian murah, pernak-pernik, dan permainan ketangkasan. Jalanan tanah sedikit becek karena sisa hujan sore tadi, namun Indra dengan sigap memosisikan dirinya di sisi yang banyak genangan air, melindungiku agar tak terciprat.

​Sebuah gestur kecil yang seharusnya bisa membuat gadis manapun jatuh cinta.

​"Kamu mau naik bianglala itu, Key?" tawar Indra, menunjuk ke arah kincir ria yang dihiasi lampu kelap-kelip.

​Aku menggeleng pelan sambil tertawa kecil. "Nggak deh, Ndra. Kelihatannya besinya udah karatan gitu, ngeri putus di atas."

​Indra ikut tertawa renyah. "Bener juga. Bisa-bisa bukan romantis, malah berujung tragis. Gimana kalau kita main lempar gelang aja? Kalau aku menang, bonekanya buat kamu."

​Indra menarik pergelangan tanganku pelan menuju sebuah stan permainan lempar gelang. Di sana, berbagai macam hadiah ditata di atas rak-rak bertingkat, mulai dari mi instan, minuman ringan, hingga boneka beruang berukuran sedang di rak paling belakang.

​Indra membeli sepuluh buah gelang rotan dari penjaga stan. Ia menggulung lengan kemejanya lebih tinggi, memasang ekspresi serius yang justru terlihat lucu, lalu mulai membidik.

​"Ini buat boneka beruang yang di ujung sana!" seru Indra percaya diri.

​Ia melempar gelang pertama. Tuk. Meleset jauh.

​Aku tertawa. "Katanya kapten futsal, masa lempar gelang aja meleset, Ndra?" godaku.

​"Belum pemanasan, Key. Lihat nih yang kedua," kilah Indra sambil nyengir.

​Gelang kedua, ketiga, hingga kelima terus meleset atau hanya mengenai ujung botol lalu terpental keluar. Indra mulai geregetan, sementara tawaku semakin lepas. Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, aku tertawa tanpa beban. Kelucuan Indra benar-benar berhasil menarikku keluar dari pusaran kesedihanku sejenak.

​Pada lemparan kesembilan, gelang rotan itu akhirnya masuk sempurna ke leher botol kaca yang berada tepat di depan boneka kelinci berukuran kecil berwarna merah muda.

​"Yes! Masuk!" sorak Indra kegirangan layaknya anak kecil. Ia menoleh ke arahku dengan wajah bangga. "Tuh kan, masuk! Walaupun bukan beruang raksasa, seenggaknya dapet kelinci kecil."

​Penjaga stan mengambilkan boneka kelinci itu dan menyerahkannya pada Indra. Indra menerimanya, menepuk-nepuk debu yang mungkin menempel, lalu menyodorkannya kepadaku dengan senyum lembut.

​"Ini buat kamu, Key. Anggap aja sebagai hadiah karena kamu udah mau nemenin aku malam ini," ucapnya tulus.

​Aku menerima boneka kelinci yang sedikit berdebu itu. Bulunya tidak sehalus boneka yang dijual di mal, bentuknya pun sedikit asimetris. Namun melihat binar kebahagiaan di mata Indra, aku merasa sangat tersanjung.

​"Makasih banyak ya, Ndra. Kelincinya lucu," kataku sambil tersenyum menatap boneka itu.

​Tiba-tiba, saat aku menatap boneka mainan itu, pikiranku kembali ditarik paksa ke dimensi yang lain.

​Boneka. Mainan anak-anak. Nanda.

​Jika Nanda diajak ke pasar malam seperti ini, apakah gadis kecil itu juga akan merengek meminta boneka kelinci seperti ini pada kakaknya? Dan jika itu terjadi, apakah Rendi harus menghabiskan seluruh sisa tenaga kuli panggulnya hanya untuk membeli sepuluh gelang rotan ini?

​Dadaku kembali terasa ngilu. Senyumku seketika luntur. Rasanya sangat jahat jika aku bersenang-senang di sini, memegang boneka hasil permainan, sementara di suatu tempat di luar sana, Rendi sedang memeras keringatnya dalam keheningan malam yang kejam.

​"Key? Kok melamun lagi?" tegur Indra pelan, menyadarkanku. Ia memiringkan kepalanya menatapku. "Kamu capek? Atau mau beli minum? Di ujung sana ada yang jualan arumanis sama minuman dingin. Kamu tunggu di sini aja ya, biar aku yang beliin. Ramai banget kalau kamu ikut desak-desakan ke sana."

​Aku mengangguk cepat, menyembunyikan perubahan ekspresiku. "I-iya, Ndra. Aku tunggu di sini ya. Mau es teh manis aja satu."

​"Oke, tunggu sebentar. Jangan ke mana-mana," pesan Indra, lalu berbalik dan berjalan membelah kerumunan pengunjung.

​Aku berdiri sendirian di dekat tiang lampu yang sedikit redup, memeluk boneka kelinci merah muda di dadaku. Suara bising dari berbagai arah membuat kepalaku kembali berdenyut.

​Merasa tidak nyaman berdiri di tengah arus lalu lalang orang, aku memutuskan untuk bergeser sedikit ke arah belakang stan permainan lempar gelang tadi. Di sana ada sebuah celah kecil antara dua tenda terpal biru, sedikit lebih gelap dan sepi. Aku bersandar di tiang kayu penyangga tenda, mengatur napasku yang tiba-tiba terasa sesak.

​Dari celah tempatku berdiri, aku bisa melihat area belakang panggung hiburan kecil dan deretan stan permainan anak-anak seperti kolam pancing magnet dan rumah balon.

​Di depan rumah balon itu, ada seorang badut.

​Bukan badut yang lucu, melainkan kostum maskot beruang cokelat yang bentuknya sudah sangat kusam dan tidak proporsional. Kostum itu terlihat sangat tebal, kotor, dan berat. Ia sedang membagikan balon panjang yang dipuntir membentuk pedang kepada anak-anak kecil yang mengerumuninya. Beberapa anak kecil yang nakal menendang-nendang kaki kostum itu dan menarik-narik ekornya dengan kasar, namun sang badut hanya bisa menari-nari kikuk, melayani mereka tanpa bisa marah.

​Melihat pemandangan itu, rasa iba menyelinap di hatiku. Sungguh pekerjaan yang berat. Di dalam kostum tebal itu, di tengah cuaca malam Jakarta yang gerah dan pengap, si pemakai pasti sedang mandi keringat.

​Tiba-tiba, seorang pria paruh baya bertubuh tambun, yang sepertinya adalah bos atau pemilik wahana rumah balon itu, berjalan menghampiri sang badut dengan wajah garang. Ia memegang segepok uang receh di tangannya.

​"Heh! Balonnya udah habis kan? Anak-anak udah pada masuk! Ngapain kamu masih joget-joget di luar?!" bentak pria itu dengan suara kasar yang bisa terdengar hingga ke tempatku berdiri. "Sana ke belakang tenda, istirahat lima belas menit! Habis itu ganti giliran jaga mesin genset! Ingat, istirahat cuma lima belas menit, kalau kelewat, gaji kamu saya potong buat bayar sewa kostum ini!"

​Badut beruang itu mengangguk kaku, sebuah anggukan submisif yang menunjukkan ketidakberdayaan. Ia kemudian berjalan dengan langkah yang diseret—langkah yang entah mengapa terlihat sangat familier di mataku—menuju celah sepi di antara tenda rumah balon dan stan makanan, yang jaraknya hanya belasan meter dari tempatku bersembunyi.

​Aku mematung di balik tiang tendaku. Rasa penasaran bercampur dengan sebuah firasat ganjil membuat tubuhku menegang.

​Sang badut berhenti di lorong gelap yang sepi itu. Ia bersandar ke dinding tripleks dengan napas yang terdengar terengah-engah hingga menembus kostum tebalnya.

​Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan kostum yang kotor terangkat, memegang sisi kiri dan kanan kepala maskot beruang raksasa itu. Dengan susah payah, ia memutar dan menarik kepala maskot yang sangat berat dan pengap itu ke atas.

​Srekk. Kepala maskot itu terlepas, jatuh tergelatak di atas tanah yang becek.

​Dan saat wajah si pemakai kostum terpapar oleh cahaya lampu neon temaram dari tenda sebelah... duniaku seketika hancur berkeping-keping.

​Jantungku berhenti berdetak. Lututku seolah kehilangan tulang-tulangnya. Tanganku yang memeluk boneka kelinci merah muda melemas hingga boneka itu merosot ke tanah.

​Itu dia.

​Itu Rendi.

​Wajah laki-laki yang seminggu ini memporak-porandakan pikiranku kini berada tak jauh dariku, terpampang nyata dengan kondisi yang membuatku ingin menjerit sekeras-kerasnya.

​Rambut hitamnya lepek, menempel di dahi dan pelipisnya akibat keringat yang membanjiri seluruh kepalanya. Wajahnya merah padam karena kepanasan dan kekurangan oksigen di dalam topeng tebal itu. Ia bernapas dengan mulut terbuka, tersengal-sengal, menarik pasokan udara sebanyak-banyaknya seolah ia baru saja nyaris mati tenggelam.

​Matanya... mata elang yang selalu menatapku dengan dingin dan tajam di sekolah, kini terlihat begitu sayu, kosong, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang tak terbayangkan.

​Ia tidak mengenakan seragam lusuhnya. Ia terkurung di dalam kostum busa tebal yang bau keringat dan debu, dipekerjakan seperti binatang sirkus, ditendang oleh anak-anak kecil, dan dibentak oleh bosnya di depan umum. Pemuda yang di sekolah selalu mempertahankan harga dirinya layaknya seorang raja yang angkuh, ternyata di sinilah ia menelan harga diri itu bulat-bulat, membiarkannya diinjak-injak di atas tanah becek pasar malam.

​Dan untuk apa? Untuk beberapa keping koin. Untuk beberapa lembar uang ribuan yang akan ia kumpulkan demi menyelamatkan Nanda.

​Aku membekap mulutku dengan kedua tangan. Air mata menyembur keluar dari pelupuk mataku dengan deras, membakar pipiku. Isak tangisku tertahan di tenggorokan, menciptakan rasa sakit yang mencekik hingga aku merasa ingin pingsan.

​Ya Allah... Rendi... Aku melihatnya perlahan merosot turun, duduk bersila di atas tanah becek itu karena kakinya tak lagi sanggup menopang berat kostumnya. Ia menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dengan kedua tangannya yang gemetar.

​Pemandangan ini lebih mengerikan daripada saat aku mendengar cerita Pak Budi. Melihatnya langsung... melihat bagaimana ia menyiksa fisiknya sendiri di usia di mana ia seharusnya sedang belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi, adalah sebuah tragedi yang merobek nuraniku.

​Ingatan tentang kata-kata Deandra kembali terngiang. Udah miskin, nggak punya masa depan... bau matahari! Ingatan tentang tuduhan Siska berkelebat. Cowok yang mentalnya miskin... nggak tau cara menghargai perempuan.

​Ingatan tentang amarah Rendi sendiri saat melempar suratku. Kamu pikir kemiskinan saya adalah arena bermain untuk kisah romansa remajamu?!

​Sekarang aku benar-benar mengerti. Oh Tuhan, aku mengerti dengan teramat sangat mengapa ia begitu marah padaku. Di saat ia harus rela menjadi bahan tertawaan anak-anak dengan kostum badut yang panas demi bisa makan, aku justru dengan seenaknya melempar seratus ribu rupiah ke dalam tasnya seolah uang itu adalah barang murah yang bisa kuberikan kapan saja.

​Bagi orang yang harus mengorbankan separuh nyawanya demi secarik uang kertas, menerima pemberian secara cuma-cuma adalah sebuah hinaan atas darah dan keringat yang telah ia tumpahkan. Aku tidak sedang membantunya. Lewat surat itu, aku secara tidak langsung telah menertawakan penderitaannya.

​Aku menangis sesenggukan di balik bayangan tenda. Bahuku bergetar hebat. Aku ingin berlari ke arahnya. Aku ingin berlutut di depannya, mengusap keringat di dahinya dengan tanganku sendiri, dan memohon ampunan atas kebodohanku. Aku ingin membantunya melepaskan kostum sialan itu dan membawanya lari dari tempat terkutuk ini.

​Namun, kakiku terpaku di tanah.

​Jika aku muncul di hadapannya sekarang, di saat ia sedang berada dalam titik paling memalukan dan tak berdaya... ia akan mati karena rasa malu. Ia akan membenciku seumur hidupnya. Menjadi saksi atas kelemahannya adalah dosa terbesar yang tak akan pernah ia maafkan.

​Jadi aku hanya berdiri di sana. Mengawasinya dari balik bayangan. Menjadi saksi bisu dari kehancurannya.

​"Di bawah pendar lampu neon yang redup, di atas tanah yang kotor, kau membuang sisa-sisa kebanggaanmu, Rendi. Kau membiarkan dirimu dihina dan diperbudak, agar adik kecilmu bisa bermimpi indah di tempat yang hangat. Dan aku yang bodoh ini, hanya bisa menatapmu dengan air mata darah, menyadari bahwa aku tak punya hak untuk menghapus setetes pun keringatmu." (Buku Harian Keyla, Halaman 67)

​Lima belas menit berlalu bagai penyiksaan neraka.

​Pria tambun yang merupakan bosnya kembali muncul dari balik tenda.

​"Rendi! Waktu habis! Angkat kepala badutmu! Taruh di gudang, habis itu langsung ke belakang urus mesin genset yang mati! Cepetan, jangan lelet kamu!" bentak pria itu tanpa ampun.

​Rendi tidak melawan. Ia tidak mendebat. Tidak ada Rendi yang memicingkan mata tajam seperti saat di kantin sekolah.

​Ia hanya mengangguk pelan. "Iya, Pak. Maaf."

​Suaranya parau, kering, dan terdengar begitu lelah hingga nyaris putus asa. Ia kembali mengangkat kepala badut yang berat itu dengan tangannya yang gemetar, bangkit berdiri dengan susah payah, lalu berjalan gontai ke arah belakang rumah balon, menghilang ditelan kegelapan pasar malam.

​Begitu sosoknya menghilang, kakiku kehilangan seluruh kekuatannya. Aku merosot jatuh ke tanah. Aku menangis tersedu-sedu, memeluk lututku, meremas dadaku yang serasa dibelah dua oleh kapak tak kasatmata.

​Betapa berbedanya duniaku dan dunianya. Betapa tidak adilnya Tuhan membagi beban penderitaan ini.

​"Keyla? Key! Ya ampun, kamu kenapa?!"

​Suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa terdengar mendekat. Indra muncul dari kerumunan, menenteng dua gelas minuman es dan sebungkus arumanis. Wajahnya langsung memucat saat melihatku terduduk di tanah dalam kegelapan sambil menangis histeris. Ia langsung meletakkan bawaannya ke tanah dan berjongkok di hadapanku.

​"Key? Hei, lihat aku. Kamu kenapa? Ada yang gangguin kamu? Ada yang copet?" tanya Indra panik. Tangannya memegang kedua bahuku, matanya menyapu sekeliling mencari ancaman.

​Aku menggeleng kuat-kuat. Aku berusaha mengatur napasku yang tersendat, menutupi wajahku yang basah kuyup oleh air mata. "N-nggak... nggak ada, Ndra..." isakku parau.

​"Terus kenapa kamu nangis kayak gini? Tadi kamu baik-baik aja," suara Indra melembut, penuh dengan kebingungan dan kekhawatiran. Ia mengambil boneka kelinci yang terjatuh di dekat kakiku, membersihkannya pelan.

​Otakku berputar cepat mencari alasan yang logis. Aku tidak mungkin menceritakan tentang Rendi padanya.

​"Kepalaku... kepalaku tiba-tiba pusing banget, Ndra," dustaku dengan suara bergetar. "Terus... di sini gelap, pengap. Orang-orang banyak yang ngerokok, aku sesak napas. Tiba-tiba dadaku sakit... aku takut..."

​Mendengar itu, raut wajah Indra langsung dipenuhi oleh rasa bersalah yang luar biasa. Ia mengutuk dirinya sendiri karena meninggalkanku sendirian.

​"Maaf, Key. Maafkan aku. Aku bodoh banget ninggalin kamu sendirian di tempat ramai dan sesak kayak gini," ucap Indra menyesal. Ia menarik lenganku perlahan, membantuku berdiri dari tanah. "Kita pulang sekarang ya. Aku bawa kamu ke mobil. Maaf banget malam ini malah jadi kacau begini."

​Aku mengangguk lemah, membiarkan Indra memapah tubuhku yang masih gemetar. Aku mengambil boneka kelinci dari tangannya dan memeluknya erat-erat di dadaku. Bukan karena aku menyukai boneka ini, tapi karena boneka ini adalah tameng agar Indra tidak melihat betapa hancurnya aku di dalam.

​Kami berjalan meninggalkan hiruk-pikuk pasar malam itu. Musik dangdut dan derit bianglala yang tadinya terdengar meriah, kini berubah menjadi simfoni melankolis yang mengiringi langkahku menjauh dari tempat Rendi berada.

​Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Indra terus meminta maaf dan merangkul bahuku protektif. Ia adalah gambaran sempurna dari pelindung yang didambakan semua wanita. Ia kaya, ia peduli, dan ia selalu ada.

​Tapi saat aku menoleh ke belakang, menatap ke arah kerlip lampu wahana rumah balon di kejauhan, hatiku tidak berada di dalam mobil mewah Indra.

​Hatiku tertinggal di sana, di atas tanah becek yang kotor, bersama seorang pemuda berseragam badut yang sedang menangis tanpa air mata di balik topengnya.

​Di malam yang dingin itu, dalam perjalanan pulang dengan mobil yang hangat, aku menutup mataku dan membuat sumpah yang baru. Aku tak peduli jika ia membenciku. Aku tak peduli jika ia mengusirku ribuan kali. Aku tak peduli jika seluruh dunia dan sahabat-sahabatku menentangku.

​Aku akan terus berdiri di dunianya. Aku tidak akan memaksanya menerima bantuanku lagi. Tapi aku akan memastikan, aku akan belajar menjadi dewasa, belajar memahami harga dirinya, agar suatu saat nanti, saat ia melepas topeng badutnya yang menyesakkan itu, hal pertama yang ia lihat bukanlah kegelapan pasar malam, melainkan bahuku yang siap menjadi tempat sandarannya.

1
partini
benar an ini dah berakhir Thor
so happy next cerita mereka dah dewasa
partini
ko waktu buat indra ,buat kamu sendiri dong tata hatimu dulu kubur semua kenangan itu dalam" berjalan kedapan dengan nanggung urusan asmara nanti menyusul lah,, siapapun orangnya pasti terbaik buat kamu kalau jodoh sama Indra bagus sama Rendy nanti jug bagus,,cintai dirimu sendiri dulu
partini
sekarang kamu bisa bilang Kya gitu NDRA mencintai orng yg hatinya udah mati kusus untuk dia itu melelahkan sekali loh,,pikir dulu lah sebelum bertindak
partini: hati Kay udah ga bisa ke lain hati udah mentok ke satu orang jadi yg lain lewat
total 2 replies
partini
tapi kalau di pikir" Kayla sangat menggangu sih Thor
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik
partini
mereka bertemu lagi setelah beberapa tahun Thor ,i hope mereka bertemu udah pada kerja Rendi jug udah sukses biar saling bersaing ga Jomblang kaya sekarang
Pengamat Senja: iya kasian banget Keyla /Frown/
total 3 replies
partini
biarkan Rendi sendiri aja lah ,jangan di ganggu dulu mungkin lebih baik kamu pergi jauh dari pada Rendi makin stres
partini
orang sederhana yg apa ini mananya susah di Jabar kan si Rendi ini orangnya ,belagu iya, egois iya ,sok kuat iya padahall butuh seseorang untuk berbagi kesedihan
Nacill Chan
semangatt kakkk 😉
partini
kadang menurut kita baik belum tentu itu baik untuk mereka
partini
lanjut
Pengamat Senja: jangan lupa follow ya kak 🙏
total 1 replies
Pengamat Senja
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!