"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA SEKALIGUS
Anjani merasa hawa di sekitarnya sangat pengap dengan usia kandungan yang semakin membesar memasuki bulan ketiga, napasnya tersengal-sengal dan terus berkeringat. Arnold jadi tak tega meninggalkan istrinya untuk pergi ke perusahaan, akhirnya Kelvin yang harus repot membawa semua berkas kerja milik Arnold.
"Kamu sudah buat janji temu dengan Dokter Obgyn?" tanya Jasmine yang sedang nyemil es krim yang Fero belikan untuknya. Arnold mengangguk dan memijat kaki istrinya pelan yang sedikit membengkak.
"Mas, kayaknya baru tiga bulan kok dah besar banget ya?" tanya Anjani mengelus perutnya yang bulat, payudaranya sedikit membesar faktor kehamilan. Ia harap Arnold tak berpaling, itu lah ketakutan Anjani selama kehamilan.
Jasmine mendekat dan menatap perut Anjani dengan seksama, "kayaknya kamu hamil kembar, Sayang."
"Apa?" Anjani dan Arnold saling berpandangan, keduanya tersenyum bersama. Walaupun mereka tak merencanakan memiliki anak kembar, tapi genetik kembar dari Arnold sukses besar, mengingat Arnold terlahir kembar identik laki-laki juga.
"Ya, siang nanti kita cek ya, Sayang." kata Arnold mengecup perut mulus itu. Anjani tertawa geli sembari mengangguk mengerti. "Ayo bersiap-siap,"
Arnold memapah Anjani masuk ke dalam kamar, karena gadis itu tak sanggup naik turun tangga dengan perut besarnya, Arnold memilih pindah kamar ke lantai bawah. Pria itu berwaspada rawan terjatuh atau terpeleset.
Di kamar, Anjani menarik napas panjang, hanya berjalan sebentar dirinya sudah lelah bukan main. Arnold berinisiatif mengambil handuk basah dan mengelap kaki serta tangan Anjani dengan teliti.
"Mas, jangan." Anjani ingin menghentikan Arnold yang mengelap kakinya, tapi pria itu menolak dan melanjutkan aktivitasnya.
"Kapan kamu selesai homeschooling, Sayang?" tanya Arnold mengalihkan pandangannya Anjani yang kelelahan.
"Kurang dari dua bulan, mas. Aku sudah bisa ambil ijazah katanya," Arnold tersenyum dan merapihkan rambut Anjani, menatap betapa cantiknya gadis desa itu yang wajahnya tanpa polesan make up.
"Kamu tambah seksi. Mas suka jadinya," celetuk pria itu dengan senyuman menggoda. Anjani merasa pipinya merona merah dan jantungnya berdetak kencang. Dengan jahilnya, Arnold memegang payudara Anjani dan tertawa lepas.
"Kamu ngomong apa sih," Anjani mencubit lengan suaminya dengan gemas sembari menepis tangan Arnold dari payudaranya, dirinya bisa salah tingkah karena ucapan manis pria di depannya. Arnold tertawa dan mengecup kening dan beralih mengecup perut Anjani.
"Baik-baik ya anak Daddy, jangan buat Mommy kesakitan." ucapan itu terdengar sangat manis, Anjani tak bisa menyembunyikan wajah senangnya.
"Kalau beneran kembar, gen mu kuat sekali." celetuk Anjani membuat Arnold tertawa. Setelah selesai bersiap, Arnold mengajak Anjani untuk cek kandungan. Mereka ingin memastikan ucapan Jasmine, kalaupun tidak kembar mereka akan menerima apapun hasilnya. Berpamitan dengan Jasmine yang sibuk dengan bunga-bunga hiasnya yang ia petik di kebun.
"Kalian hati-hati!"
Anjani masuk pelan-pelan dan membiarkan Arnold yang memasang seat belt. "Pakai ini," Anjani hanya menurut saat Arnold mengeluarkan bantal punggung untuknya. merasa nyaman Anjani akhirnya bisa sedikit bernafas lega.
Arnold menjalankan mobilnya keluar pekarangan, Anjani tampak menikmati suasana. "Sebelum ke rumah sakit, kamu ingin sesuatu?"
Anjani tampak berpikir sejenak, ia belum merasakan yang namanya ngidam, hanya mual pagi saja itu saja jarang. "Tidak ada, memangnya kanapa?"
"Kamu selama hamil tidak minta yang aneh-aneh, karena setahu ku ibu hamil itu suka ngidam."
...****************...
"Bagaimana, Dok?" tanya Arnold membinar menatap layar real-time di hadapannya. Dokter perempuan itu tampak menatap Anjani dan Arnold bergantian, lalu tersenyum.
"Wah, Anjani kayaknya masih muda ya." Anjani yang mendengarnya hanya tersenyum sembari mengangguk, "jadi Mama muda dong. Oh ya, selamat ya."
Arnold berdecih sinis karena tak mendapatkan jawaban, hingga alat di perut buncit Anjani beralih ke sisi lainnya. Senyuman Dokter itu semakin mengembang saat menemukan sebuah kejutan.
"Wah tiga nih,"
"Apa?"
Tatapan Anjani dan Arnold penuh tanda tanya, Dokter tersebut memperlihatkan monitor dan menunjuk beberapa bagian, "ini A, lalu ini B, dan ini C. Baby Triplets, Anjani."
Arnold yang baru mengerti, langsung mengecup kening istrinya, tiga sekaligus adalah kabar yang membahagiakan bagi mereka. Anjani menatap monitor hitam putih dengan mata berkaca-kaca, sebuah kejutan yang membahagiakanmu dirinya.
"Tiga, Mas. Tiga bayi,"
Dokter merapihkan pakaian Anjani dan kembali duduk di mejanya, memeriksa semua yang di butuhkan Anjani dan memberikan resep obat. "Sebelumnya ada yang ingin di tanyakan?" tanya Dokter menatap Anjani dan Arnold.
"Istri ku tidak mengalami ngidam, Dok, apa itu normal?"
Arnold cemas kalau Anjani tak memiliki kondisi itu. dirinya sudah mempersiapkan diri untuk Anjani, rasa cemas ada di hatinya. Anjani memainkan jarinya dengan gelisah, ia juga takut akan hal yang sama.
"Semuanya normal, Arnold. Ngidam saat hamil itu bukan tanda wajib, ada yang melewatinya tanpa ngidam atau mual loh, bahkan minim keluhan. Biasanya orang-orang bilang itu hamil kebo."
Arnold tak mengindahkan sebutan itu, ia senang jauh lebih senang. Tak menyangka kalau tiga sekaligus dalam satu kantong. Anjani melirik Arnold yang mondar-mandir dengan wajah senang, apakah segitu bahagianya Arnold memiliki anak?
"Jadi satu kantong atau bagaimana? Say!" desak Arnold tak sabaran.
"Satu kantong," Arnold bertambah senang tanpa sebab, "sangat jarang aku menemui bayi dalam satu kantong plasenta, sangat langka. Biasanya satu kantong berisi dua dan satu kantong berisi satu," jelas Dokter dengan memberikan hasil rekam USG kepada Anjani. Terlihat tiga janin yang jantungnya sempat Anjani dengar.
Anjani menatap penuh haru USG itu, ia senang. Ia akan menjadi seorang Ibu di usia muda dan akan melahirkan tiga anak kembar sekaligus dan memungkinkan semuanya akan identik secara genetik.
"Anjani," panggil Dokter membuat Anjani menoleh. "Aku hanya ingin memberitahu mu, hamil anak kembar di usia sangat muda jauh lebih rentan yang bisa menyebabkan keguguran awal atau ..."
Arnold mendekat dan menatap Dokter itu dengan tajam, "atau apa?"
"Atau bisa menyebabkan kematian salah satu dari kalian berempat."
DEG ....
Arnold mematung, Anjani menghela napasnya dengan pasrah. Ini keputusannya, ia sudah memikirkan sejak tadi. Melihat diamnya Arnold, Anjani mengelus punggung tangan suaminya.
"Semuanya akan baik-baik saja, percaya kepada ku Arnold." Anjani ingin Arnold tak memikirkan apapun, dirinya juga takut kalau sewaktu-waktu semuanya berbalik dan menghantam kehidupan Arnold yang sudah sempurna ini.
"Ayo pulang,"
Anjani berpamitan, Dokter menatap kepergian pasangan itu dengan mata sayu. Baru kali ini ia merasa detak jantungnya berdetak kencang membicarakan tentang resiko kehamilan seseorang. Ia tahu bagaimana perjuangan Arnold menghadapi traumanya dan bagaimana kehidupannya setelah kepergian saudaranya satu-satunya.
Ia jadi merasa bersalah karena menyampaikan hal itu, tapi mau bagaimana lagi. Dirinya seorang Dokter dan semua itu adalah tugasnya. Setelah merapihkan ruangannya, Dokter itu melepas jas dan keluar mencari angin segar.
"Ya, siapa juga yang merencanakan memiliki tiga anak, tapi melihat reaksi Arnold ...."