NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suasana di dalam kabin jet pribadi yang sedang melintasi zona waktu menuju Asia itu mendadak menjadi sangat intens. Ethan memutar kursi mewahnya, menarik Michelle agar berdiri di antara kedua kakinya, tangannya yang besar namun lembut melingkar di pinggang Michelle, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada jarak di antara mereka.

Tatapan Ethan tajam, mengunci manik mata Michelle dengan otoritas yang tak terbantahkan, iatidak sedang memberikan saran, ia sedang memberikan perintah perlindungan.

"Dengarkan aku, baby," bisik Ethan, suaranya rendah dan dalam, bergetar tepat di depan bibir Michelle. "Identitasmu sekarang adalah Michelle, lupakan tentang semua teman baik atau saudaramu, di mata hukum dan dunia, Mikayla sudah menjadi abu dan kamu adalah Michelle, bagian dari keluarga Aviel leon."

Ethan mengusap pipi Michelle dengan ibu jarinya, menekan sedikit seolah ingin memastikan Michelle fokus hanya padanya.

"Tidak perlu ikut campur lagi dengan mereka, jangan biarkan emosi masa lalu menarikmu kembali ke lumpur yang sudah susah payah kita tinggalkan, jika kamu mendekat sebagai Mikayla, kamu hanya akan menjadi sasaran empuk lagi, tapi sebagai Michelle... kamu adalah predatornya."

Michelle terdiam sejenak, ia merasakan detak jantung Ethan yang stabil, sebuah kontras dari jiwanya yang sempat goyah saat memikirkan Raffan dan Ilham. Namun, ia tahu Ethan benar kedekatan emosional adalah celah yang bisa dimanfaatkan oleh musuh seperti Rajendra. "Aku mengerti..." jawab Michelle pelan namun tegas. Matanya tidak lagi menunjukkan keraguan.

Ethan menarik tengkuk Michelle, mencium keningnya dengan lama. "Bagus, aku melakukan ini karena aku tidak mau berbagi dirimu dengan masa lalu yang busuk itu, kamu milikku sekarang, Michelle, biarkan mereka meratapi Mikayla, sementara aku menikmati Michelle."

Michelle menyandarkan kepalanya di bahu Ethan. Ia memilih untuk menelan kerinduannya pada kakak-kakaknya demi sebuah rencana besar. Ia akan membantu mereka dari bayang-bayang, memastikan Sweet Melody tetap berjaya dan Raffan tetap kaya, tanpa mereka harus tahu bahwa adik mereka masih hidup.

"Maafkan aku, Kak Raffan, Kak Ilham," batin Michelle dalam diam. "Untuk sekarang, biarkan aku menjadi orang asing, aku akan menghancurkan mereka semua untuk kalian, tanpa mengotori tangan kalian sedikit pun."

Jet pribadi itu mulai merendah, menembus awan Jakarta, di bawah sana, sebuah kota yang penuh dengan pengkhianat sedang menunggu kedatangan Michelle Ad Lynne tanpa menyadari bahwa mereka sedang menyambut malaikat maut mereka sendiri.

Jet pribadi itu melaju mulus di ketinggian tiga puluh ribu kaki, membelah kegelapan malam di atas samudra, di dalam kabin utama yang mewah, pencahayaan telah diredupkan, hanya menyisakan pendaran lembut lampu ambient berwarna keemasan yang menciptakan suasana intim dan posesif.

Setelah ketegangan instruksi Ethan tentang identitas barunya mereda, keheningan yang sarat akan ketegangan lain mulai mengisi rongga udara di antara mereka. Ethan masih mengunci tatapannya pada Michelle, namun intensitasnya telah berubah, dari otoritas menjadi gairah yang tertahan.

Jari-jari Ethan yang tadinya mencengkeram pinggang Michelle kini bergerak lambat, mengusap permukaan gaun sutra emerald yang dikenakan wanita itu, gesekan halus itu menciptakan suara desir yang nyaris tak terdengar, namun terasa begitu nyata di kulit Michelle.

"Aku mengerti..." ulang Michelle pelan, suaranya sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena antisipasi. Ia mendongak, menantang tatapan Ethan dengan binar mata yang kini berani dan penuh penyerahan.

Ethan menyeringai tipis, sebuah ekspresi predator yang puas melihat mangsanya menyerah dengan sukarela, ia mencondongkan tubuhnya, menipiskan jarak yang tersisa. Nafasnya yang hangat dan beraroma mint serta oakwood menerpa wajah Michelle, membuat jantung wanita itu berpacu liar.

"Bagus, baby," bisik Ethan, suaranya kini serak dan berat. "Karena malam ini aku tidak ingin mendengar nama lain keluar dari bibirmu selain namaku dan aku tidak ingin kamu memikirkan siapa pun selain aku."

Tanpa menunggu jawaban, Ethan mengklaim bibir Michelle, ciuman itu tidak lembut itu adalah ciuman yang menuntut, posesif, dan penuh lapar yang sudah ditahan selama berhari-hari kesibukan persiapan kepulangan mereka. Michelle terengah, namun ia membalasnya dengan intensitas yang sama, melingkarkan lengannya di leher tegap Ethan, menarik pria itu semakin dalam.

Tangan Ethan bergerak cepat, melepaskan sabuk pengaman Michelle yang sudah tidak diperlukan lagi, dengan satu gerakan bertenaga, ia mengangkat tubuh ramping Michelle, membawanya menjauh dari kursi penumpang menuju state room pribadi di bagian belakang jet.

Pintu geser state room tertutup otomatis, mengunci suara bising mesin pesawat di luar, di dalam ruangan yang didominasi tempat tidur berukuran king-size dengan sprei katun Mesir terbaik, pencahayaan jauh lebih redup.

Ethan merebahkan Michelle di atas tempat tidur, tubuhnya segera mengurung wanita itu, kegelapan dan ketinggian tempat mereka berada seolah melenyapkan dunia luar, tidak ada Jakarta, tidak ada Abimanyu, tidak ada masa lalu.

Ciuman Ethan turun ke leher Michelle, meninggalkan jejak panas yang membakar, tangannya bekerja cepat di balik gaun sutra, menjelajahi setiap inci tubuh Michelle yang kini telah pulih sepenuhnya, kencang, dan merespons setiap sentuhannya dengan tremor halus.

"Hanya aku, Michelle," desis Ethan di sela ciumannya. "Hanya Ethan Aviel Leon yang berhak memilikimu seperti ini."

Michelle mencengkeram bahu Ethan keras-keras, kuku-kukunya sedikit menusuk kulit pria itu, air mata haru dan gairah menetes di sudut matanya, namun ia tersenyum, ia merasa benar-benar hidup, benar-benar diinginkan, dan benar-benar aman.

Di ketinggian ribuan kaki, di atas jet pribadi yang melaju kencang, mereka menyatu dalam tarian gairah yang intens dan penuh kepemilikan, setiap sentuhan, setiap kecupan, dan setiap desahan adalah segel ikatan mereka.

Malam itu, di dalam kabin jet yang eksklusif, Michelle Ad Lynne tidak hanya menerima identitas barunya lewat kata-kata. Ia menerimanya lewat setiap jengkal tubuh dan jiwanya yang kini telah sepenuhnya menjadi milik pria yang telah membangkitkannya dari kematian. Dan saat jet itu akhirnya mendarat di Jakarta beberapa jam kemudian, Michelle melangkah keluar dengan aura wanita yang baru saja dicintai dengan begitu hebat, siap untuk menaklukkan dunia yang pernah menghancurkannya.

Di dalam state room jet pribadi yang kedap suara, suasana berubah dari gairah yang membara menjadi sebuah momen yang sangat intim dan penuh harapan. Ethan masih berada di atas tubuh Michelle, namun ia merosot perlahan, membenamkan wajahnya di perut Michelle yang kini terlihat kencang dan sehat setelah dua tahun perawatan intensif.

Ethan mengecupi permukaan perut Michelle dengan sangat lembut, seolah sedang melakukan ritual pemujaan terhadap sesuatu yang suci.

"Lihatlah sayang," bisik Ethan, suaranya parau dan sarat akan emosi yang dalam. Tangannya yang besar mengusap perut Michelle, merasakan hangatnya kulit wanita itu. "Sebentar lagi benihku akan tumbuh di rahimmu, aku akan memastikan tidak akan ada satu pun racun atau kebencian yang menyentuhnya, dia akan menjadi pewaris tunggal kerajaan Leon."

Michelle memejamkan matanya, merasakan getaran suara Ethan di kulitnya, jari-jarinya menyisir rambut hitam Ethan dengan penuh kasih, sebuah senyum haru merekah di bibirnya, senyuman yang selama lima tahun pernikahannya dengan Elang tidak pernah muncul.

"Semoga beruntung, aku sangat berharap kita beruntung," gumam Michelle, suaranya sedikit serak. "Dokter di Berlin bilang aku sudah sepenuhnya pulih, suntikan terakhir kemarin menunjukkan hasil yang luar biasa, banyak sel telur yang sehat dan siap..."

Ia menarik nafas panjang, menghirup aroma maskulin Ethan yang kini menjadi candunya. "Setelah semua yang dilakukan wanita iblis itu pada rahimku, memiliki kesempatan ini bersamamu adalah keajaiban terbesar dalam hidupku, Ethan."

Ethan mendongak, menatap mata Michelle dengan kilat posesif namun penuh cinta, ia mengecup bibir Michelle singkat sebelum kembali menatap perutnya.

"Kita tidak butuh keberuntungan, Michelle. Kita memiliki takdir," tegas Ethan. "Anak kita akan lahir sebagai bukti bahwa kau telah menang melawan mereka. Dan saat perutmu mulai membesar nanti, aku ingin Naura dan Lisa melihatnya, aku ingin mereka tahu bahwa rahim yang mereka coba hancurkan, justru melahirkan penguasa baru yang akan mengubur nama mereka selamanya."

Michelle menarik Ethan kembali ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. "Terima kasih sudah memberiku harapan ini lagi, Ethan," bisik Michelle.

Di ketinggian ribuan kaki, di atas samudra yang luas, mereka berdua tidak hanya merencanakan pembalasan dendam, di dalam kabin jet itu, mereka sedang membangun awal dari sebuah kehidupan baru, sebuah benih yang akan menjadi simbol kemenangan Michelle atas setiap tetes air mata dan racun di masa lalunya.

Pesawat itu terus melaju menuju Jakarta, namun bagi Michelle, tujuannya bukan lagi sekadar pulang, melainkan untuk menegaskan bahwa ia telah kembali sebagai wanita seutuhnya, istri dari seorang penguasa, dan calon ibu dari pewaris masa depan.

Begitu pintu jet pribadi terbuka, hawa panas Jakarta yang familier menyambut mereka, namun kali ini aroma kota itu tak lagi terasa menyesakkan bagi Michelle. Ia turun dari tangga pesawat dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura otoritas yang tenang namun mematikan.

Penampilan Michelle telah berubah total. Rambut cokelatnya yang berkilau tertata dalam gaya sleek ponytail yang sempurna, menonjolkan fitur wajahnya yang kini lebih tegas dan segar, ia mengenakan setelan formal tailored suit berwarna putih gading yang kontras dengan kulitnya yang merona sehat, di matanya bertengger kacamata hitam besar yang menyembunyikan tatapan dingin sang predator. Michelle mengapit lengan kekar Ethan dengan posesif saat mereka melangkah menuju barisan mobil jemputan.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!