Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sementara bayang-bayang dewi palsu mulai berakar di hati umat manusia, badai yang tidak kalah menghancurkan justru sedang mengoyak jantung pertahanan kaum lycanthrope.
Di bawah langit Eropa yang kelabu, kesepakatan damai yang ditandatangani oleh Joan di landasan pacu Paris ternyata tidak diterima dengan kepala dingin oleh seluruh garis keturunan Darah Bulan. Kehancuran pasca The Great Exposure dan trauma akibat racun Ag-V milik H.A.R.T telah meninggalkan luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan sekadar dengan selembar dokumen diplomasi.
Di reruntuhan Black Forest, Jerman, riuh rendah lolongan serigala memecah keheningan malam yang dingin. Ratusan pasang mata yang bersinar kuning kemerahan berkumpul di sebuah lembah tersembunyi. Mereka adalah sisa-sisa dari berbagai klan yang hancur, beberapa adalah penyintas yang ketakutan, sementara sebagian besar lainnya adalah para prajurit muda yang dipenuhi amarah yang membakar.
Joan berdiri di atas altar batu alami dan tubuh manusianya tampak tegap, namun batinnya memikul beban yang luar biasa berat. Di sisi kanan dan kirinya, Riven dan Jessy berdiri setia, mengamati kerumunan serigala yang mulai tidak tenang.
"Gencatan senjata ini adalah satu-satunya cara agar jenis kita tetap hidup!" suara Joan menggelegar, dibantu oleh pendar energi alfa yang menuntut kepatuhan.
"Manusia telah setuju untuk menarik pasukan H.A.R.T. Kita akan memiliki wilayah kita sendiri, aman dari pembantaian perak nano!"
Namun, sebelum gema suaranya mereda, sebuah geraman keras memotong dari tengah kerumunan. Sesosok serigala berbulu abu-abu pekat dengan bekas luka bakar Ag-V di sekujur wajahnya melangkah maju. Tubuhnya perlahan menyusut, bertransformasi kembali menjadi wujud manusia, seorang pria kekar bernama Michael.
"Damai?!" Michael meludah ke tanah dan matanya berkilat penuh kebencian. "Kamu menyebut perbudakan ini sebagai kedamaian, Alpha Joan? Kamu membiarkan manusia mengurung kita di dalam sangkar yang mereka sebut wilayah yang disepakati. Kamu berjanji akan menjadi polisi bagi jenis kita sendiri, itu berarti kamu setuju menjadi anjing peliharaan H.A.R.T yang bertugas mengeksekusi saudaramu sendiri jika mereka melintasi batas kota manusia!"
Gumaman setuju seketika menjalar di antara barisan serigala. Fragmentasi itu terasa begitu nyata dan memecah kawanan menjadi dua kubu yang saling melempar tatapan tajam.
"Mereka membantai anak-anak kita dengan misil perak!" teriak serigala lain dari barisan belakang. "Mengapa kita harus menahan diri sementara kota-kota mereka penuh dengan mangsa yang lemah? Kita adalah predator puncak bukan hewan ternak!"
Joan mengepalkan tinjunya dan energi ungu-perak tipis mulai menari di bawah kulitnya, sebuah tanda bahwa ia siap menekan pemberontakan ini dengan kekuatan fisiknya.
"Jika kita menyerang kota mereka sekarang, mereka akan melepaskan sisa formula Ag-V ke atmosfer! Kita semua akan membeku menjadi kristal perak! Apakah itu yang kamu inginkan, Michael?!"
"Lebih baik mati sebagai predator yang bebas daripada hidup mengemis sisa makanan dari meja diplomatik manusia!" balas Michael berapi-api.
Ia berbalik menghadap kerumunan dan mengangkat tangannya yang dipenuhi cakar tajam.
"Siapa pun yang masih memiliki kehormatan Darah Bulan di dalam dadanya, jangan ikuti Alpha yang lemah ini! Kota manusia adalah hak kita untuk berburu dan darah mereka adalah penebusan atas rasa sakit kita!"
Dengan seruan itu hampir separuh dari manusia serigala yang berkumpul di lembah melolong panjang dan menyatakan pemisahan diri mereka dari otoritas Joan. Mereka memisahkan diri menjadi faksi liar yang radikal, faksi yang menolak batasan, menolak hukum, dan hanya mendambakan kepuasan untuk memangsa manusia sebagai bentuk balas dendam.
Riven melangkah maju dan taringnya mencuat di balik bibirnya.
"Joan, biarkan aku merobek tenggorokannya. Jika kita membiarkan mereka pergi, kesepakatan dengan Arthur Vance akan batal."
Joan menahan dada Riven dengan tangannya. Matanya menatap kepergian faksi Michael dengan tatapan yang sarat akan kepedihan.
"Jangan, Riven! Jika kita membantai mereka di sini, kita hanya akan mempercepat kepunahan kita sendiri. Biarkan mereka pergi!"
"Tapi mereka akan menyerang kota manusia, Joan!" Jessy menimpali dengan nada cemas dan jemarinya mencengkeram lengan jaket kakaknya.
"Jika mereka memangsa manusia, H.A.R.T akan menganggap kita melanggar janji."
"Aku tahu," bisik Joan.
Ia merasakan sisa kesadaran Lucian di dalam dirinya bergejolak, mengingatkannya pada ramalan tentang dunia baru yang lahir dari darah.
"Itulah sebabnya kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melindungi manusia dari serigala-serigala kita sendiri dan kita harus melindungi klan yang ingin damai dari kepunahan."
Malam itu, fragmentasi kawanan telah resmi terjadi. Di satu sisi, Joan memimpin faksi yang memilih jalan sunyi demi kelangsungan hidup, sebuah faksi yang terpaksa bersembunyi di balik bayang-bayang aturan manusia. Di sisi lain, Michael memimpin kawanan liar yang mulai bergerak menuju kota-kota perbatasan dan siap menumpahkan darah manusia pertama mereka pasca gencatan senjata.
***
Sementara itu, di bawah langit perbatasan Prancis-Jerman, Selena tersenyum dalam keheningan kultus barunya. Ia bisa merasakan perpecahan di antara anak-anak serigalanya. Baginya kehancuran kaum lycanthrope dari dalam adalah pertunjukan yang paling sempurna.
Ketika Joan sibuk memburu kaumnya sendiri untuk menjaga kedamaian palsu dengan manusia dan ketika kawanan liar Michael mulai membantai warga sipil, umat manusia tidak akan memiliki pilihan lain selain berlari ke pelukan Selena dan memohon perlindungan sang dewi dari teror monster yang kelaparan.