Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Hadiah Emas
Adrian menandatangani dokumen tebal itu tanpa ragu sedikit pun.
Goresan pena tinta emas miliknya beradu nyaring dengan senyapnya ruang kerja utama. Suara gesekan ujung logam pada kertas tebal itu memecah ketegangan yang pekat.
Bau antiseptik dari perban baru di perut Sabrina bertabrakan dengan aroma kertas legal. Darah nifas di balik korsetnya sudah dibersihkan perawat satu jam lalu. Denyut ngilu masih berakar kuat di panggulnya, tapi ia duduk di kursi beludru dengan punggung tegak. Insting ibunya tetap menyala, menjaga Sebastian yang tertidur di keranjang portabel sebelahnya.
"Selesai." Adrian mendorong map kulit itu ke arah notaris keluarga. Pria berjas abu-abu itu menerimanya dengan tangan bergetar. "Lima persen saham induk Halim Group resmi dialihkan ke nama Sebastian Halim. Kendali perwalian penuh berada di tangan ibunya. Efektif detik ini juga."
Pramono Halim memukul meja kayu jati di depannya. Cincin giok di jarinya berbenturan keras dengan kaca pelindung meja. Suara retakan kecil terdengar.
"Kau kehilangan akal sehatmu, Adrian!" Suara Pramono bergetar hebat. Amarah merusak postur aristokratnya. "Lima persen saham induk? Itu bernilai lebih dari empat triliun rupiah! Kau mau meruntuhkan struktur kekuasaan klan kita demi bayi ini dan perempuan itu?!"
"Bayi ini darah dagingku, Paman." Adrian berdiri. Otoritas mutlaknya menguar liar menguasai ruangan. "Ini kompensasi atas penghinaan kalian di ruang rapat tadi. Kalian menuntut tes DNA. Kalian meragukan pewarisku secara terbuka. Ini harga tunai yang harus kalian bayar."
"Kompensasi macam apa ini?!" Pramono menuding wajah Adrian. "Kau bisa memberinya properti, perhiasan, atau kapal pesiar mewah! Tapi saham induk? Itu hak suara mutlak di dewan direksi!"
"Aku memberikan apa yang aku mau berikan," sahut Adrian dingin. Pria itu menyilangkan lengan di dada.
"Tapi perwaliannya jatuh ke tangan perempuan itu!" Pramono beralih menunjuk Sabrina. Matanya memancarkan kebencian uang lama yang mengakar. "Keluarga Tanjung sudah lumpuh sejak ayahnya stroke! Semua sisa perusahaannya sudah kita ambil alih lewat pernikahan kontrak ini! Dia tidak punya kapasitas memegang saham triliunan! Dia bisa menghancurkan Halim Group dari dalam!"
Sabrina tidak langsung menjawab. Ia membuang napas pelan lewat celah bibir. Ruang napas spiritualnya terbuka. Ia menundukkan kepala, menatap Sebastian. Napas bayi itu teratur. Dada kecilnya naik turun perlahan dalam balutan selimut sutra biru. Sensasi hangat memancar dari sana, menenangkan insting buas di nadinya.
"Aku menyelesaikan pendidikan finansialku jauh sebelum ayahku jatuh sakit dan perusahaanku dirampas keluarga ini, Paman Pramono." Sabrina menatap lurus ke arah pria tua tersebut. "Dan mataku masih sangat tajam untuk membaca pola."
"Pola apa yang kau tahu, hah?!" bentak Pramono.
"Pola penggelapan." Sabrina menjatuhkan bom itu perlahan. "Aku tidak memalsukan laporan rugi laba demi menutupi hutang judi pribadi. Aku jamin uang perusahaan lebih aman di tanganku daripada di tangan direktur yang memindahkan dana operasional Halim ke rekening anonim di luar negeri."
Pramono langsung menutup rapat bibirnya. Wajah tuanya memucat pasi. Tangannya turun dari udara.
"Dari mana kau tahu soal itu?" bisik Pramono, suaranya kehilangan tenaga seketika.
"Penyelidikan internal sedang berjalan, Paman," potong Adrian dengan senyum tipis yang membekukan darah. "Istriku hanya membaca draf laporannya. Sebaiknya kau kembali ke mejamu dan mulai menyewa pengacara."
"Luar biasa," desis Pramono sinis. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan tangan sedikit gemetar. "Kau memberikan pedang paling tajam pada perempuan Tanjung ini, Adrian. Dia akan memenggal kepala kita satu per satu."
"Pastikan kalian menundukkan kepala saat istriku lewat," jawab Adrian tak acuh. Pria tiran itu menyandarkan punggungnya ke tepian meja.
Pramono membuang muka. Pria itu berbalik kasar dan berjalan cepat meninggalkan ruangan. Ia menelan kekalahan pahit ini bulat-bulat.
Kini, perhatian beralih ke sudut ruangan.
Kania duduk bersimpuh di atas karpet Persia. Dua pengawal bertubuh masif sengaja menahannya di sana atas perintah Adrian. Sang tiran memaksa Kania menandatangani dokumen penyitaan aset sebelum mengusirnya keluar.
"Gue udah tanda tangan semuanya," isak Kania. Ia melempar pena ke lantai. "Udah puas lo, Adrian? Udah puas lo hancurin gue?!"
"Kau yang menghancurkan dirimu sendiri," balas Adrian. "Pengacara, bacakan klausul tambahannya."
Notaris itu berdehem membersihkan tenggorokannya yang kering. "Sesuai instruksi Tuan Halim, hak veto untuk pencairan dana amal, yayasan keluarga, dan seluruh bantuan finansial sekunder untuk klan Tanjung kini sepenuhnya berada di bawah persetujuan tertulis Nyonya Sabrina Halim."
Kania terdiam. Paru-parunya seolah berhenti memompa oksigen. Ia menatap Sabrina dengan mata membelalak lebar. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.
Sabrina meletakkan satu tangannya di lengan sofa. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan perih sayatan yang merobek saraf di perutnya.
"Kudengar yayasan sosial milikmu menunggak hutang puluhan miliar ke pemasok acara pesta ini, Kania," ucap Sabrina tenang. "Dan Halim Group akan mencabut sisa oksigen perusahaan ayahku hari ini juga jika aku tidak menandatanganinya."
"Sabrina, gue mohon..." Kania menangkupkan kedua tangannya. Ego sosialitanya hancur total. Ia merangkak maju, mendekati lutut Sabrina. "Kita ini keluarga. Lo anak kandungnya! Lo tahu sendiri Papa lagi koma karena stroke. Lo nggak mungkin sejahat ini biarin sisa perusahaan Papa kandung lo hancur di tangan Halim! Lo balas dendam ke gue aja, Sab, tapi tolong kasihani Papa!"
"Keluarga?" Sabrina mengeja kata itu perlahan.
Otak pembunuhnya memutar kembali rangkaian peristiwa sejak ia terbangun di tubuh ini. Kebencian Kania. Cemoohan tanpa henti. Status anak angkat yang justru bertindak layaknya nyonya rumah dan menginjak-injak ahli waris kandung. Dan yang paling fatal, insiden jarum suntik di kamar bayi dan tabung darah palsu.
"Kakak angkat yang tahu diri tidak akan menyuap dokter untuk menukar sampel darah pewaris sah di ruang steril," ucap Sabrina tajam. Kata-katanya menyayat udara, memotong tuntas semua ikatan emosional palsu di antara mereka. "Ayah kandung di tubuh ini mungkin sedang koma, tapi kaulah yang membunuhnya pelan-pelan. Satu tanda tanganku menolak dokumen yayasan itu, dan kau akan tidur di emperan jalan tanpa atap."
"Gue khilaf, Sab! Sumpah, gue cuma takut kehilangan posisi gue di sini!" Kania terisak keras. Ia menyentuhkan dahinya ke lantai marmer di dekat kaki Sabrina. "Gue janji bakal pergi jauh. Gue nggak bakal muncul di depan muka lo lagi. Tapi tolong cairkan dana itu!"
Sabrina menarik kakinya mundur dengan refleks menghindar. "Singkirkan tangan kotormu. Kau membawa bakteri pembusuk ke dekat anakku."
"Kau dengar istriku." Adrian melangkah maju. "Bawa dia keluar. Pastikan dia tidak membawa apa pun dari rumah ini. Semua perhiasan di tubuhnya adalah milik Halim."
Dua pengawal itu menarik lengan Kania paksa. Kania memberontak, menjerit histeris. Kalung mutiara di lehernya putus tertarik, butirannya berjatuhan berhamburan di atas karpet.
"Sabrina! Lo bakal kena karma! Anak lo nggak bakal selamat di rumah ini!" Kania menjerit melepaskan kutukan putus asanya saat diseret menuju pintu.
Sabrina tidak berkedip. Ia menatap lurus kejatuhan musuhnya.
Ruang kerja itu kembali sunyi setelah pintu jati ditutup rapat.
Adrian mengambil dokumen legal bersampul kulit merah dari meja. Pria itu berjalan lambat mendekati Sabrina, lalu meletakkan dokumen itu tepat di pangkuan istrinya.
"Ini milikmu," ucap Adrian. "Gunakan senjata ini sesukamu."
Sabrina menyentuh sampul kulit bertekstur kasar itu. Ia merasakan kekuatan solid mengalir di ujung jarinya. Bukan gagang pisau taktis karbon. Bukan pelatuk pistol kaliber sembilan milimeter. Ini adalah kekuasaan mutlak berwujud tinta emas di atas kertas negara.
Dengan lima persen saham ini, ia bukan lagi target pasif. Ia sekarang memiliki kapasitas finansial legal untuk membangun pasukan bayarannya sendiri. Ia memegang leher ekonomi semua orang yang menentang putranya.
"Aku akan menggunakannya untuk menghancurkan kepala siapa pun yang berani menyentuh anak ini," sahut Sabrina. Nada suaranya berjanji. Ia mendongak, membalas tatapan dominan suaminya. "Bahkan jika kepala itu adalah milikmu sendiri, Adrian."
Adrian tertawa pelan. Tawa berat yang memantul di dinding ruangan berpanel kayu itu. Ia menunduk, jarak wajah mereka terkikis. Pria itu menyentuh rahang Sabrina dengan ibu jarinya. Sentuhan posesif yang mengunci buruannya.
"Aku sangat menantikan hari itu, Istriku." Adrian berbalik kembali menuju meja kerja untuk menuang segelas wiski.