NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pasir Putih dan Janji yang Melarut

Deru mesin pesawat pribadi keluarga Pramoedya perlahan meredup, digantikan oleh suara deburan ombak yang ritmis dan bisikan angin laut yang membawa aroma garam yang segar. Begitu pintu pesawat terbuka, hamparan warna biru toska yang jernih menyambut penglihatan Arumi. Maladewa. Tempat yang selama ini hanya ia lihat di brosur travel atau sebagai latar film romantis, kini membentang nyata di depan matanya.

Adrian turun lebih dulu, kemeja linen putihnya berkibar ditiup angin. Ia tidak lagi memakai jam tangan mewah yang berat atau sepatu kulit yang kaku. Ia bertelanjang kaki saat mengulurkan tangan untuk membantu Arumi menuruni tangga pesawat.

"Selamat datang di dunia tanpa rapat komisaris, Arumi," ujar Adrian dengan senyum lebar yang jarang ia perlihatkan di Jakarta.

Mereka menaiki speedboat menuju sebuah pulau pribadi kecil yang hanya berisi satu kompleks villa mewah. Di sana, tidak ada pelayan yang berseliweran secara mencolok, memberikan privasi total yang sangat mereka butuhkan setelah hiruk-pikuk gala premiere dua hari lalu.

Villa mereka berdiri tepat di atas air. Lantai kaca di ruang tengah memperlihatkan ikan-ikan kecil berwarna-warni yang berenang bebas di bawah kaki mereka. Arumi segera berlari menuju balkon luas yang menghadap langsung ke cakrawala.

"Mas, ini terlalu indah! Aku merasa seperti sedang berada di dalam mimpi yang aku tulis sendiri," seru Arumi, merentangkan tangannya lebar-lebar.

Adrian berjalan mendekat, memeluk Arumi dari belakang. "Ini bukan mimpi. Ini adalah hadiah untukmu karena sudah menjadi wanita terkuat yang aku kenal."

Sore itu, mereka menghabiskan waktu dengan berjalan menyusuri bibir pantai. Pasir putihnya terasa sehalus tepung di sela-sela jari kaki mereka. Arumi menceritakan tentang perasaannya setelah orang tuanya resmi berangkat ke Yogyakarta pagi tadi.

"Ada rasa sepi yang aneh, Mas. Rumah yang dulu penuh dengan teriakan Kak Siska atau teguran Ayah, sekarang sudah bukan milik kami lagi. Rasanya seperti satu bab besar dalam hidupku benar-benar sudah ditutup rapat," tutur Arumi pelan.

Adrian menggenggam tangan Arumi lebih erat. "Setiap bab yang ditutup memberikan ruang untuk bab baru yang lebih menarik. Orang tuamu sedang mencari kedamaian mereka, Siska sedang mencari jati dirinya yang baru, dan kita... kita sedang membangun fondasi kita sendiri."

Mereka duduk di atas sebuah batang pohon yang tumbang di pinggir pantai, menyaksikan matahari yang perlahan tenggelam, mengubah langit menjadi kanvas berwarna jingga, ungu, dan merah muda.

Malam harinya, Adrian menyiapkan sebuah kejutan makan malam di ujung dermaga kayu yang menjorok jauh ke laut. Lilin-lilin kecil tertata rapi di sepanjang jalan menuju meja yang sudah dihias dengan bunga-bunga tropis.

"Mas, kapan kamu menyiapkan semua ini?" tanya Arumi terpesona.

"Seorang CEO harus selalu punya rencana cadangan yang matang, bukan?" canda Adrian sambil menarik kursi untuk istrinya.

Di tengah makan malam yang tenang, ditemani suara deburan ombak di bawah dermaga, Adrian tampak sedikit gelisah. Ia beberapa kali merapikan kemejanya dan menatap Arumi dengan tatapan yang sangat intens.

"Arumi," panggil Adrian lembut.

"Ya, Mas?"

"Ingat saat aku bilang di Puncak bahwa kontrak kita sudah tidak ada?"

Arumi mengangguk. "Tentu, Mas. Itu adalah malam terbaik dalam hidupku."

"Malam itu aku membakar kertasnya. Tapi malam ini, aku ingin menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada hukum mana pun," Adrian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, namun kali ini bukan berisi perhiasan.

Ia mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna perak dengan gantungan berbentuk inisial 'A&A'.

"Ini adalah kunci sebuah rumah di pinggiran Jakarta, dekat dengan area hijau yang kamu sukai. Bukan rumah keluarga Pramoedya, bukan rumah yang aku beli untuk investasi. Aku membelinya atas namamu, Arumi. Itu adalah rumah impian yang pernah kamu ceritakan padaku—yang punya perpustakaan besar dengan jendela menghadap taman bunga," Adrian menjelaskan dengan suara yang sedikit bergetar.

Arumi terpaku. Ia teringat pernah mengoceh tentang rumah impiannya saat mereka sedang diskusi naskah di tengah malam yang melelahkan. Ia tidak menyangka Adrian mengingat setiap detailnya.

"Aku ingin kita pindah dari rumah yang penuh dengan memori 'kontrak' itu. Aku ingin kita memulai hidup di tempat di mana setiap sudutnya adalah kenangan tentang kita, bukan tentang kesepakatan bisnis," lanjut Adrian.

Arumi merasa matanya memanas. "Mas... ini terlalu banyak. Aku tidak butuh rumah mewah, aku hanya butuh kamu."

"Rumah itu bukan soal kemewahan, Arumi. Itu soal tempat pulang. Dan aku ingin kamu tahu bahwa sejauh mana pun kamu terbang sebagai penulis, aku sudah menyiapkan dahan yang paling nyaman untukmu kembali," Adrian berdiri, berjalan mengitari meja, lalu berlutut di depan Arumi.

Ia menggenggam kedua tangan Arumi. "Dan ada satu hal lagi. Aku sudah bicara dengan pengacaraku. Seluruh aset pribadiku, di luar perusahaan keluarga, sudah aku bagi rata dengan namamu. Bukan karena aku takut kamu pergi, tapi karena aku ingin kamu tahu bahwa semua yang aku miliki adalah milikmu juga. Tidak ada lagi pembatasan 'harta gono-gini' seperti di kontrak lama kita."

Arumi menangis bahagia. Ia menarik Adrian agar berdiri dan langsung memeluknya erat. "Kamu gila, Adrian Pramoedya. Benar-benar gila."

"Gila karena mencintaimu," bisik Adrian.

Keesokan harinya, mereka menghabiskan waktu dengan snorkeling di perairan dangkal. Melihat keindahan bawah laut yang tenang memberikan perspektif baru bagi Arumi. Ia menyadari bahwa di balik permukaan yang bergejolak, selalu ada kedamaian yang menunggu untuk ditemukan.

Sambil bersantai di atas hammock di balkon villa, Arumi mulai membuka laptopnya. Ia tidak menulis novel sedih lagi. Ia mulai mengetik draf novel ketiganya.

“Dulu, aku berpikir cinta adalah sebuah transaksi. Ada harga yang harus dibayar, ada kontrak yang harus ditaati. Namun di tengah samudra yang luas ini, aku belajar bahwa cinta adalah tentang melepaskan kendali. Tentang percaya bahwa ombak akan membawamu ke pantai yang tepat, meskipun kamu sempat tersesat di tengah badai.”

Adrian yang sedang berenang di kolam pribadi villanya, menepi dan melihat Arumi yang sedang serius mengetik. Ia naik dari kolam, air menetes dari tubuhnya yang atletis, lalu menghampiri Arumi.

"Sudah mulai bekerja lagi? Kita baru satu hari di sini," protes Adrian pura-pura kesal.

Arumi tertawa, menutup laptopnya. "Inspirasi sedang mengalir deras, Mas. Aku merasa sangat... bebas."

Adrian duduk di pinggir hammock, membuat posisi mereka sangat dekat. "Bebas?"

"Iya. Bebas dari bayang-bayang Siska, bebas dari tuntutan orang tua, dan bebas dari keraguan terhadapmu. Aku merasa benar-benar menjadi Arumi."

Adrian mengecup dahi Arumi. "Dan aku bangga mengenal Arumi yang ini."

Menjelang akhir liburan mereka, sebuah kabar mengejutkan datang dari Jakarta lewat pesan singkat dari Pandu.

“Rum! Kabar luar biasa! Film kita memecahkan rekor penonton di minggu pertama. Dan tebak apa? Ada permintaan dari penerbit luar negeri di London untuk menerjemahkan novelmu! Mereka ingin kamu datang untuk peluncuran versi bahasa Inggris bulan depan!”

Arumi menunjukkan pesan itu pada Adrian dengan tangan gemetar. "London, Mas! Mereka ingin menerjemahkannya!"

Adrian tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum seolah sudah memprediksi hal itu. "London adalah kota yang indah di musim gugur. Sepertinya kita harus menyiapkan mantel musim dingin."

"Mas mau ikut?"

"Tentu saja. Aku adalah asisten pribadimu, manajer pribadimu, dan tentu saja... suamimu yang paling posesif. Aku tidak akan membiarkan penulis terkenal sepertimu pergi ke London sendirian dan digoda oleh pria-pria Inggris yang bicara dengan aksen seksi itu," goda Adrian.

Arumi tertawa lepas, melemparkan bantal sofa ke arah Adrian. "Mas masih saja cemburuan!"

"Itu fiturnya, Arumi. Bukan bug," balas Adrian sambil menangkap bantal tersebut.

Malam terakhir di Maladewa diisi dengan keheningan yang nyaman. Mereka duduk di dermaga, kaki mereka menjuntai ke air yang hangat. Arumi menatap cincin berliannya yang berkilau di bawah sinar rembulan.

Ia menyadari bahwa perjalanan dari "istri pengganti" menjadi "satu-satunya" adalah perjalanan yang paling berharga dalam hidupnya.

Siska mungkin adalah orang yang seharusnya berada di posisi ini, namun Arumi-lah yang mampu bertahan melewati ujiannya

.

"Mas," panggil Arumi pelan.

"Iya?"

"Menurutmu, apakah Siska akan benar-benar bahagia di Jogja bersama Ayah dan Ibu?"

"Bahagia itu pilihan, Arumi. Siska sedang belajar memilih kebahagiaan yang nyata, bukan yang palsu. Dan dengan bimbingan orang tuamu, aku yakin dia akan menemukan jalannya," jawab Adrian bijak.

"Aku harap begitu. Aku ingin melihatnya benar-benar tersenyum tanpa beban suatu hari nanti."

"Dia akan sampai ke sana. Sama seperti kita," Adrian menarik Arumi ke dalam dekapannya.

"Sekarang, berhentilah memikirkan orang lain. Fokuslah padaku. Kita punya waktu dua belas jam sebelum pesawat menjemput kita kembali ke realita."

Arumi memejamkan mata, menghirup aroma laut dan kehangatan tubuh Adrian. Ia tahu, realita di Jakarta nanti tidak akan lagi terasa menakutkan. Ia punya rumah baru yang menunggunya, karier yang melesat tinggi, dan seorang pria yang siap membakar dunia demi dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!