NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Berterus Terang Itu Berat

Kalimat barusan membuat kening Aida mengerut. "Abang bohong apa sama aku, Bang? Abang bohong apa!?" Ia mulai mencecar Collins dengan penuh emosi. Perubahan ini cukup mengejutkan Collins karena ternyata Aida adalah pribadi yang cukup cerewet.

"Bohong tentang orang tuaku." Collins berusaha tenang, tapi tatapannya sendu dan penuh harap. Ia berharap Aida memakluminya.

Dahi Aida berkerut makin dalam. "Bukankah tadi Abang bilang udah gak punya orang tua? Maksudnya ... Abang sebenarnya masih punya orang tua, begitu?"

"Iya ...." Collins menatap Aida dalam di kedua bola matanya..

"Astaghfirullah, Abang .... Abang bohong sama pamanku, Bang ... Kenapa Abang bohong? Dosa lho, Bang, punya orang tua tapi gak ngakuin keberadaannya. Kenapa Abang begini? Apa Abang tidak mau mengakui orang tua Abang sendiri?" Kini kalimat Aida tersemat nasehat.

"Mmh, ini persoalan rumit. Aku sebenarnya kabur dari rumah." Collins memalingkan wajah, berharap Aida tak marah.

"Apa?" Aida ingin mengatakan sesuatu tapi ia sendiri syok mendengar kenyataan. Mulutnya bergerak-gerak tapi tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. "Hah ...." Akhirnya hanya kata itu yang meluncur dari bibir tipis Aida.

Collins menatap kembali wanita pujaannya. Menunggu Aida memberikan pendapat. Ia ingin tahu pendapat wanita ini.

"Kenapa Abang kabur dari rumah?" Itu kalimat akhirnya lolos dari bibir tebal itu begitu saja.

"Abang tidak cocok dengan ibu tiri Abang. Di belakang ayahku, kami sering bertengkar." Collins meletakkan tangannya di atas pagar jembatan dan melihat ke depan.

"Kenapa Abang tidak mengalah saja? Demi ayahmu."

Collins maklum. Aida tak kenal Miranda. Collins takkan memaksa Aida untuk mengerti. "Terkadang memang ada yang tak bisa disatukan. Seperti air dan minyak."

"Kenapa Abang tidak coba filosofi magnet? Kalau kutubnya saling berlawanan, mereka akan saling tarik-menarik. Intinya, saling mengerti akan adanya perbedaan dan saling menghargai satu sama lain."

Collins menghela napas panjang. Ia menatap sungai yang mengalir di depannya. Andai saja segala sesuatu bisa sesederhana itu. "Ini masih pe er buatku."

"Jadi, Abang takkan memberi tahu orang tua Abang tentang pernikahan kita?"

Collins kembali menatap Aida. "Apa aku boleh melakukannya?"

"Bang, restu orang tua itu penting. Mungkin Abang tidak bisa cocok dengan ibu tiri Abang, tapi bisakah Abang mengesampingkan itu sejenak? Ini pernikahan. Aku ingin pernikahan ini dihadiri oleh orang-orang yang seharusnya hadir di sana, iya 'kan?" Aida meyakinkan.

"Tapi laki-laki 'kan bisa menikah hanya dengan wali, tidak harus orang tua."

"Kenapa Abang tidak mau memberi tahu orang tua Abang sih, kita menikah? 'Kan kita bisa tinggal terpisah nantinya."

"Bukan itu masalahnya."

"Pulang dan minta maaf pada kedua orang tua, Bang," desak Aida dengan mengguncang lengan Collins. "Apa Abang tahu rasanya tidak punya orang tua? Tidak enak, Bang. Kamu tidak punya tempat berlindung atau bertanya. Juga dituntut untuk bisa tegar saat semua tidak baik-baik saja. Kamu juga harus bisa berdiri sendiri, walau tidak semudah bicara. Apa Abang pernah merasakan hidup yang seperti ini, Bang?" Wanita itu terlihat kecewa.

"Eh ...." Collins menyentuh jemari Aida yang tengah menggenggam lengannya. "Maaf." Ia mengerti apa yang diucapkan Aida adalah pengalaman pribadi. Ia tidak bermaksud membuatnya sedih.

"Selagi punya orang tua, Bang. Berbaktilah. Abang adalah satu dari sekian banyak orang yang beruntung. Lakukan itu sebelum terlambat."

Entah kenapa, berbicara dengan Aida membuat Collins mendapat pemikiran dari sudut pandang berbeda.

Ya, betapa beruntung dirinya. Walaupun sang ibu sudah tiada, ia masih punya ayah yang sangat menyayanginya. Ayah yang mungkin terlalu berlebihan melindungi hingga ia harus ke mana-mana dengan bodyguard sejak kecelakaan lima tahun lalu. Namun ia masih saja berusaha kabur dari rumah, walau ia tak lagi berani minum minuman beralkohol sejak kejadian itu.

Satu hal yang membuatnya takjub, Aida tak peduli kalau ia tak punya pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Aida tak seperti Miranda yang bukan orang miskin tapi sangat gila harta. Itulah pandangan Collins tentang Miranda ketika wanita itu berhasil menikahi sang ayah, Hardyn Grow.

"Iya, Abang beruntung. Tapi ... bagaimana kalau ayahku tak setuju Abang menikah denganmu?"

Aida terdiam. Wanita itu tak bisa menemukan solusi atas pertanyaan ini.

"Karena itu Abang takut bertemu keluarga Abang," terang Collins. Ini salah satunya walau ia tak yakin karena ayahnya saja menikah dengan seorang Miranda yang bukan dari golongan orang kaya, tapi apakah sang ayah akan setuju menikahkan dirinya dengan Aida?

"Karena aku buta," gumam Aida menundukkan kepala.

"Abang tidak melihat itu. Mbak punya hati yang luas. Buktinya, Mbak mencetak anak-anak hafiz Alquran tanpa memandang siapa mereka. Bahkan mereka yang cacat sekali pun."

Aida mengangkat wajahnya. "Itu karena kebetulan aku bisa. Aku hanya melakukan yang apa yang aku bisa, Bang. Sangat sulit untuk orang yang buta sepertiku untuk bisa melakukan banyak hal."

"Dan itu sangat-sangatlah luar biasa. Abang saja saat tahu Mbak seorang ustadzah, rasanya mentalku langsung down."

"Masa?" Sedikit keterkejutan nampak pada wajah cantik wanita itu.

"Iya, dan itulah kehebatanmu. Jadi jangan pernah berkecil hati dengan apa yang tidak bisa Mbak kerjakan, karena apa yang bisa Mbak kerjakan saja sudah cukup membuat orang lain takjub. Seperti diriku."

Wajah Aida terlihat malu-malu dengan pujian Collins. "Abang paling pinter memuji."

"Lho, apa Abang berbohong? Enggak, 'kan?"

Wanita itu menunduk malu. Collins menatap Aida dan meraih kedua tangannya. Wanita itu melebarkan kedua matanya karena kaget.

"Kenapa Mbak mau sama Abang, padahal Mbak belum pernah melihat wajahku?"

Aida berusaha menarik tangannya tapi pria itu tak melepaskan. "Bang ...." Ia tampak gusar.

"Jawab dulu pertanyaanku!"

Jantung Aida berdesir. Ia sudah lama sekali tidak pernah menyentuh tangan pria seperti ini cukup lama. Collins bahkan menggenggam jemarinya.

"Duniaku hanya suara dan intuisi. Aku melakukan sesuatu berdasarkan feeling. Kalau ingin melihat, itu hanya khayalan belaka."

"Bagaimana kalau wajahku jelek, rusak atau penuh dengan bopeng?"

"Masa?" Aida mengerut dahi.

"Atau hidungku terbalik dan alisku hilang."

Aida tertawa kecil.

"Karena itu Abang mengizinkanmu menyentuh wajahku agar Mbak bisa membayangkan wajahku di dalam pikiran." Collins menaikkan kedua tangan Aida dan meletakkannya di wajah.

Wanita itu sedikit kurang nyaman karena harus menyentuh wajah sang pria. Apalagi kemudian Collins memangkas jarak. Ia bisa merasakan hembusan napas pria itu yang menyentuh wajahnya dengan hangat.

Aida takut hingga menarik tangannya. Jantungnya berdetak kencang.

"Apa Mbak tidak ingin tahu seperti apa wajahku?"

Aida terlihat ragu. "Tapi ...."

"Abang tidak ingin membohongimu. Apa kalau Abang tiba-tiba menghilang Mbak bisa mencarinya?"

"Menghilang? Menghilang ke mana?" Aida menautkan alisnya.

"Misalnya ... Abang kecelakaan atau ...."

"Bang! Astaghfirullah alazim ... jangan suudzon!" Aida memukkul bahu Collins karena merasa sudah keterlaluan.

"Ini misalnya ...."

"Ucapan adalah doa." Mulut Aida langsung merengut.

"Iya, iya, maaf. Sudahlah ...." Collins menggaruk-garuk kepala. Ia tak ingin memaksa Aida. Baru saja ia hendak memutar kepalanya, kedua tangan sang wanita malah bergerak ke arah wajahnya.

"Tunggu ...."

Mata Collins membola. "Eh ...." Pelan, jemari lentik itu menyentuh wajahnya. Jemari seorang wanita. Jemari itu menyusuri pipi Collins, hidung dan pelan-pelan ke arah mata. Pria itu memejamkan kedua mata. Ia bisa merasakan jemari itu mengusap kelopak matanya dengan lembut. Kemudian alis.

Wanita itu menyusurinya dengan hati-hati. "Alismu rapi ya?"

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!