No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Kematian di Altar Suci
Hujan badai di Biara Awan Tersembunyi seolah berhenti berdetak, digantikan oleh keheningan yang mencekam saat Sang Raja Hantu, berjubahkan emas compang-camping, melayang turun dari atap biara. Setiap langkah kakinya di udara meninggalkan jejak api hijau yang membakar tetesan hujan menjadi uap beracun.
He Xueyi berdiri tegak, memeluk kotak sutra kuning berisi Segel Langit itu erat-erat. Wajahnya yang pucat tampak semakin dingin di bawah cahaya ungu lenteranya yang kini berkedip gelisah—tanda ketakutan sekaligus kemarahan yang mendalam.
"He Xueyi... penjaga paviliun yang malang," suara Sang Raja Hantu terdengar seperti gesekan batu nisan, menggema di seluruh biara. "Ratusan tahun kau terjebak menjaga lentera tua itu, melupakan siapa dirimu yang sebenarnya. Dan sekarang, kau membawakan sisa jiwamu kepadaku... sungguh ironi yang sangat lezat."
Bian Zhi langsung berdiri di depan He Xueyi, pedang hitamnya membara dengan api Yin yang pekat. "Tuan, Raja Hantu ini membawa aura kematian tingkat Kaisar. Secara logika, pelindung Yin kita tidak akan kuat menahan serangannya terlalu lama."
"Pindah, Bian Zhi," perintah He Xueyi datar, suaranya membelah hawa dingin yang menekan. "Ini bukan lagi urusanmu. Logika pertempuran ini adalah tentang menuntut kembali apa yang dicuri dari jiwaku."
Sang Raja Hantu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat hampa di telinga batin. "Menuntut kembali? Kau tidak tahu apa-apa, Gadis Bodoh. Kutukanmu sebagai penjaga paviliun adalah jaminanku untuk tetap hidup di dunia bawah selama seribu tahun ini!"
Tanpa peringatan, Sang Raja Hantu mengibaskan tangannya. Dari balik jubah emasnya yang compang-camping, muncul ribuan tengkorak kecil yang menyala hijau, terbang melesat seperti peluru ke arah He Xueyi.
WUUSSSHHHH!
Gelombang cahaya ungu meledak dari Lentera Abadi He Xueyi, membentuk perisai transparan yang menahan ribuan tengkorak itu. Percikan api hijau dan ungu bertabrakan, menciptakan getaran energi yang meruntuhkan beberapa pilar biara.
He Xueyi tidak diam. Ia melepaskan lenteranya hingga melayang di udara, lalu mengangkat kedua tangannya. Dari genangan air hujan di lantai biara, muncul belasan rantai hitam pekat yang merayap cepat, mencoba membelenggu kaki Sang Raja Hantu.
Mantra Pengunci Arwah tingkat tinggi!
Sang Raja Hantu menyipitkan mata, terkejut dengan kekuatan Yin He Xueyi yang ternyata jauh lebih murni dari dugaan. Ia melompat mundur, namun rantai-rantai itu terus mengejarnya, seolah memiliki nyawa sendiri.
"He Xueyi... secara logika, jika kau melepaskan lenteramu, pertahananmu akan melemah!" seru Sang Raja Hantu. Ia melepaskan jubah emasnya, memperlihatkan tubuhnya yang hanya berupa kumpulan energi ruh yang berdenyut merah.
Raja Hantu itu membuka mulutnya, dan dari dalamnya muncul pusaran energi Yang palsu yang sangat panas, yang merupakan lawan dari energi Yin He Xueyi. Pusaran energi itu melesat ke arah He Xueyi, mengeringkan air hujan di sekitarnya dalam sekejap.
He Xueyi menyadari bahayanya. Jika energi Yang itu mengenainya, esensi jiwanya yang rapuh akan hancur. Ia tidak bisa mundur, karena di belakangnya ada Putri Ling'er dan kotak Segel Langit.
Logika detektif He Xueyi bekerja cepat dalam hitungan detik. Ia tidak melawan energi Yang itu dengan energi Yin murni. Sebaliknya, ia mengambil lenteranya kembali dan mengarahkannya tepat ke pusaran energi panas tersebut.
CRAAAKK!
Lentera Abadi He Xueyi retak!
Tapi retakan itu bukan karena kalah. He Xueyi sengaja memecahkan sedikit bagian lenteranya untuk melepaskan puluhan roh-roh penasaran yang terkurung di dalamnya selama ratusan tahun. Roh-roh itu, yang sudah gila karena kelaparan dan kemarahan, serentak menerjang pusaran energi Yang Sang Raja Hantu, meledakkan diri mereka untuk memadamkan api panas tersebut.
"Gila! Kau mengorbankan roh-roh ketersimpananmu!" teriak Sang Raja Hantu, terkejut dengan taktik bunuh diri He Xueyi.
He Xueyi tidak menjawab. Ia memanfaatkan momen ledakan itu untuk melesat maju, lebih cepat dari kilat. Di tangannya, ia memegang kotak Segel Langit yang kini mulai bersinar terang, bereaksi terhadap kehadiran Sang Raja Hantu.
He Xueyi menusukkan kotak itu tepat ke dada Sang Raja Hantu.
CRAAAKK!
Cahaya keemasan meledak dari kotak tersebut, menyinari seluruh biara. Sang Raja Hantu berteriak histeris saat energi Segel Langit mulai menyedot kembali esensi jiwanya. Ternyata, Segel Langit itu adalah kunci yang bisa menyatukan kembali jiwa He Xueyi, namun harus melalui perantara mengisap energi dari si pencuri aslinya—Sang Raja Hantu.
He Xueyi memejamkan mata, merasakan ratusan tahun ingatan masa lalu yang hilang mulai membanjiri batinnya. Ia teringat nama aslinya, pengkhianatan kekasihnya yang ternyata adalah perwujudan Sang Raja Hantu di masa lalu, dan bagaimana lenteranya diciptakan dari jantungnya yang hancur.
"Mati... di tangan... jiwamu sendiri..." rintih Sang Raja Hantu sebelum akhirnya esensi ruhnya hancur menjadi abu perak dan terhisap sepenuhnya ke dalam Segel Langit.
Di tengah keheningan biara, He Xueyi berdiri diam, Segel Langit di tangannya kini bersinar lembut. Wajahnya yang tadinya hampa, kini perlahan mulai memiliki rona kehidupan yang samar. Jantungnya... untuk pertama kalinya dalam seribu tahun, kembali berdetak dengan pelan.
Misteri masa lalu telah terpecahkan. Musuh besar telah dikalahkan. Tapi pertempuran sesungguhnya antara identitas He Xueyi yang baru dan kutukan lenteranya yang masih tersisa, baru saja dimulai.