NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Malam di Yogyakarta itu seolah menghentikan detaknya sendiri. Di dalam kamar kayu yang masih menyisakan wangi sisa pesta, perpaduan antara melati segar, kayu cendana, dan aroma wedang jahe yang hangat, keheningan terasa begitu padat. Cahaya lampu minyak di sudut ruangan bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding jati. Arka berdiri membisu di dekat jendela yang terbuka sedikit, membiarkan angin malam menyentuh kulitnya yang masih terasa panas. Ia telah menanggalkan beskap putihnya, menyisakan kemeja tipis yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan dadanya yang naik turun seirama dengan debar jantungnya yang tak beraturan.

Nirmala duduk di tepi ranjang beralas kain jarik bermotif Sido Mulyo. Rambut panjangnya yang tadi tergelung rapi dalam sanggul adat kini telah ia urai, jatuh menjuntai seperti tirai sutra hitam hingga menyentuh pinggang. Jemarinya yang lentik bergerak perlahan, mencoba melepas sisa ronce melati yang masih terselip di balik telinganya. Namun, setiap kali ujung jarinya menyentuh kulitnya sendiri, ia tersentak. Ada getaran aneh yang menjalar di nadinya, sebuah kesadaran baru bahwa malam ini, ia bukan lagi sekadar gadis yang berlari dari kutukan, melainkan seorang istri.

Arka berbalik. Pandangannya terkunci pada sosok Nirmala. Dalam keremangan itu, Nirmala tampak begitu bercahaya, bukan karena sihir, melainkan karena kecantikan murni yang memancar dari jiwa yang akhirnya menemukan rumahnya. Arka melangkah mendekat. Setiap derap kakinya di atas lantai kayu terdengar seperti dentum genderang di telinga Nirmala. Begitu sampai di depan istrinya, Arka perlahan berlutut, menatap mata Nirmala dengan binar yang begitu dalam dan penuh damba.

"Biarkan aku Nir." bisik Arka. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan getaran maskulin yang membuat seluruh pertahanan Nirmala runtuh seketika.

Tangan Arka yang kasar namun penuh kasih bergerak perlahan, menyisir helai demi helai rambut Nirmala. Setiap kali ujung jari Arka bersentuhan dengan kulit leher atau daun telinga Nirmala, sebuah sensasi panas merayap di bawah kulit mereka. Nirmala memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak, menikmati setiap detik sentuhan itu. Ia tidak lagi butuh kemampuan untuk membaca hati, ia bisa merasakan hasrat Arka yang membara, kerinduan yang telah lama ia simpan di balik sikap pelindungnya, kini tumpah tanpa bisa dibendung.

Arka meletakkan sisa melati itu di meja, lalu ia meraih dagu Nirmala, menengadahkan wajah itu agar mereka bisa saling menatap lebih dekat. Di saat itulah, sebuah fenomena luar biasa terjadi. Tanpa perlu menyebutkan nama kekuatan, dunia mereka mendadak melebur.

Nirmala merintih pelan saat bibir Arka menyentuh keningnya. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia seolah dipaksa melihat apa yang dilihat mata Arka. Pandangannya menembus dinding kayu, melihat pepohonan yang menari ditiup angin, melihat sosok-sosok gaib penjaga desa yang membungkuk hormat di kejauhan. Sebaliknya, Arka tersentak saat tangan Nirmala meremas bahunya. Ia merasakan gelombang cinta yang begitu jernih, rasa syukur yang meluap hingga menyakitkan, dan kesiapan Nirmala untuk menyerahkan segalanya.

Ciuman itu turun ke bibir. Lembut pada awalnya, namun segera berubah menjadi tuntutan yang mendalam. Arka menarik Nirmala ke dalam pelukannya, merapatkan tubuh mereka hingga tak ada lagi celah udara yang tersisa. Nirmala bisa merasakan kerasnya otot dada Arka dan panas tubuh suaminya yang seolah hendak membakar pakaian yang mereka kenakan.

Dengan gerakan yang penuh pemujaan, Arka mulai membuka satu per satu kancing kebaya putih Nirmala. Setiap inci kulit yang tersingkap disambut oleh kecupan hangat Arka. Udara malam yang menyusup lewat jendela terasa dingin, namun bagi mereka, dunia sedang membara. Saat kain putih itu jatuh ke lantai, Arka menatap raga Nirmala dengan takjub. Kulit itu kini hangat, kenyal, dan berdenyut dengan kehidupan manusiawi yang sempurna, tidak ada lagi jejak kristal atau kayu yang kaku.

Di bawah temaram lampu minyak yang mulai meredup, mereka menyatu di atas ranjang yang harum. Itu bukan sekadar pemuasan raga, melainkan sebuah ritual sakral di mana dua kutub energi yang berbeda akhirnya menemukan porosnya. Nirmala mencengkeram lengan Arka yang kokoh saat rasa panas dan nikmat yang luar biasa meledak di dalam dirinya. Di saat yang sama, Arka merasa kekuatannya berlipat ganda setiap sentuhan Nirmala seolah-olah menyembuhkan sisa-sisa luka lama di jiwanya dan menggantinya dengan cahaya yang murni. Mereka bergerak dalam irama yang sama, napas yang sama, dan satu detak jantung yang menggelegar di keheningan malam.

Namun, di tengah puncak penyatuan yang penuh gairah dan keringat itu, sebuah anomali terjadi. Suhu di dalam kamar mendadak turun secara drastis, membuat uap napas mereka terlihat di udara. Dari balik bayang-bayang di sudut plafon, muncul kepulan asap hitam yang membawa aroma bunga kamboja yang membusuk.

Sebuah suara tawa wanita yang melengking rendah merambat di dinding. "Nikmatilah detik-detik terakhirmu, Pengantin yang Terkutuk..."

Itu adalah serangan batin dari Saraswati. Ia mencoba menyusupkan rasa takut, keraguan, dan bayangan kematian ke dalam momen paling intim mereka. Bayangan hitam itu mulai merayap di atas selimut, mencoba mencengkeram kaki Nirmala.

Arka tidak melepaskan dekapannya. Ia justru menarik Nirmala semakin rapat, menyatukan kening mereka. Matanya berkilat tajam ke arah sudut kamar tersebut. "Kau salah tempat Saraswati." geram Arka.

Nirmala tidak lagi gemetar. Ia meraih tangan Arka, menjalin jemari mereka erat-erat di atas dada mereka yang masih bersentuhan. Dengan satu niat yang lahir dari kebahagiaan dan cinta yang baru saja mereka raih, Nirmala melepaskan gelombang hangat dari dalam dirinya.

WUUUSSSHHH!

Cahaya putih murni meledak dari titik sentuhan tangan mereka, menyinari seluruh kamar secerah siang hari. Cahaya itu mengandung kekuatan penyembuh yang sangat masif, sebuah energi yang menghisap habis segala bentuk kegelapan. Bayangan hitam dari kamboja itu menjerit tanpa suara sebelum akhirnya terbakar menjadi abu dan hilang tertiup angin gaib yang keluar dari jendela.

Kamar itu kembali tenang. Wangi melati kembali mendominasi, lebih segar dari sebelumnya.

"Dia tidak akan pernah bisa memisahkan kita lagi, Mas Arka." bisik Nirmala, suaranya masih terengah-engah, kepalanya bersandar nyaman di ceruk leher Arka.

Arka mengecup kening istrinya, menyelimuti tubuh mereka yang masih polos dengan kain jarik yang hangat. "Sekarang kita sudah menjadi satu, Nir. Kekuatanku adalah milikmu, dan nyawamu adalah nyawaku. Siapa pun yang berani mengusikmu, mereka harus berhadapan dengan kita berdua."

Fajar di Yogyakarta menyingsing dengan warna ungu dan jingga yang indah. Arka dan Nirmala terbangun dalam posisi yang masih berpelukan erat. Tidak ada rasa lelah di wajah mereka, penyatuan semalam justru terasa seperti pengisian energi yang luar biasa bagi jiwa mereka yang selama ini terkuras.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang terburu-buru menghancurkan kesunyian pagi. "Arka! Nirmala! Cepat keluar, Le!" suara Aki terdengar sangat berat dan penuh kecemasan.

Arka segera mengenakan pakaiannya dan membuka pintu. Di sana berdiri Aki dengan wajah pucat, tangannya memegang sebuah amplop hitam yang tersegel dengan lambang pohon randu yang sudah layu, lambang sisa-sisa pengikut Sandiwayang di Jakarta.

"Mereka bergerak lagi." ucap Aki singkat. "Barusan Baruna mengirim pesan lewat burung perkutut. Di Jakarta, akar-akar hitam kembali tumbuh di tengah kota. Orang-orang yang dulu membantu kalian di Menara Kencana... mereka diculik satu per satu. Saraswati sedang menyiapkan ritual 'Pohon Kiamat' untuk menggantikan kegagalan Hendrawan."

Arka mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Nirmala keluar dari kamar, sudah mengenakan pakaian yang rapi, berdiri di samping suaminya. Tatapannya kini tidak lagi polos dan ragu, ada api keberanian yang menyala di sana.

"Kita tidak punya waktu untuk berbulan madu Mas." ucap Nirmala tenang. "Jakarta memanggil kita untuk menuntaskan apa yang belum selesai."

Arka menatap istrinya, lalu mengangguk mantap. "Siapkan barang-barangmu. Kita berangkat ke Jakarta sekarang. Kali ini, kita akan memastikan tidak ada satu pun akar busuk yang tersisa di tanah ini."

Arka dan Nirmala keluar dari rumah menuju perjalanan baru mereka ke Jakarta. Pengantin baru itu kini melangkah sebagai satu kesatuan yang paling ditakuti oleh kegelapan.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Itu si Saras gada kerjaan banget sih/Curse/ masa orang lagi MP dia ngintip/Hammer/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Dihh teganya kalian, kok aku gak diundang/Scream/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Nir, bisa gak kamu datang ketempatku. Aku mau sembuh dari luka lama yg sampai saat ini, tidak menemukan penutupnya/Cry/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Lanjutlah, lebih seru aksi kalian melawan Saraswati😁
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Kasus baru, aku suka ini..
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Akhirnya tantangan lagi
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Terhura aku🤧 ini baru benar lamaran, gak kek yg onoh🤣🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: hiakkkk ini juga sama aja😭 masih di ingat ingat🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Ah akhirnyaaa, lamaran yang romantis. Tapi momen lamaran ini jadi ingat cowok raksasa yang ngelamar bermodal kuali dan sawi itu🤣🏃‍♀️🏃‍♀️
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: nanti ku buatkan karya karya shura yg lain aja yaa/Facepalm//Facepalm/ nanti up karya baru aku/Slight//Slight/
total 9 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Ughhh terhuraaaa🥺🥺
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©иαвιℓℓαˢ⍣⃟ₛ☕︎⃝❥
deg deg serrrrrrr🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©иαвιℓℓαˢ⍣⃟ₛ☕︎⃝❥
angel angel Nirmala wes kacau pikirane kok🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©иαвιℓℓαˢ⍣⃟ₛ☕︎⃝❥
wet randu, yang menghasilkan kapok buat kasur kan🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©иαвιℓℓαˢ⍣⃟ₛ☕︎⃝❥
siapa wanita pinjaman itu?
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
So sweet🥰
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Aku mau nganan aja deh🤣🤣
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Itu lamaran tersirat?
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: udh diem mereka bukan lamaran hanya saling melindungi sajaaaa🤣
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
lumayan tenangnya lebih dari se jam lah Arka. Othor dah baik nih, bentar lagi siap2 sesak napas
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: libur lagi😭
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Biasanya kalau kembali ke pengirimnya, itu bahaya. mitos gak othor? 😭🥺 tiba2 kepo🤣
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: nanya Nirma dong, kabarnya yang ngirim kek mana? 🤣
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Yakinlah, kalian pasti bisa menghadapi setiap masalah bersama-sama
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Terserah yg penting seram dan seru/Proud/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Percayalah, kalian pasti bisa mengamalkan kemampuan kalian dijalan yg baik, yakni memberi pertolongan pada mereka yg membutuhkan😉
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Mereka yang turun, aku yang sesak napas, kenapa ya? 😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: sabar sabar sabarrrr
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!