"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
High Heels 7 centi
Pagi itu, atmosfer lantai 40 terasa berbeda. Gisel melangkah keluar dari lift dengan blazer charcoal pemberian Adrian yang melekat sempurna di tubuhnya, rambut yang ditata sedikit bergelombang, dan tentu saja... lipstik "Merah Berani Mati" hasil paksaan Budi semalam.
Setiap pasang mata di kubikel sekretaris lain mendadak berpaling. Gisel yang biasanya terlihat seperti "kuli berkas" kini bertransformasi menjadi "Dewi Logistik" yang sangat elegan namun tetap punya aura garang.
Adrian sedang fokus menatap layar monitornya, jemarinya menari lincah di atas keyboard. Di sampingnya, ada secangkir kopi hitam yang masih mengepul dan wadah gula kecil.
Tok... Tok...
"Selamat pagi, Pak Adrian. Ini laporan jadwal pertemuan dengan investor Korea pukul 11.00." Ucap Gisel sopan
Adrian tidak mendongak. Ia hanya menjawab dengan gumaman datar khas "Kulkas" miliknya.
"Letakkan saja di meja, Gisel. Dan tolong buatkan jadwal ulang untuk—"
Kalimat Adrian terputus. Saat ia mendongak untuk memberikan instruksi, matanya langsung terkunci pada sosok di depannya. Blazer itu... gaya rambut itu... dan yang paling parah, bibir itu. Merah menyala, tegas, dan entah kenapa terlihat sangat menantang.
Adrian terdiam kaku selama lima detik penuh, matanya membelalak kecil "Gisel... kamu..."
Gisel mulai salting, teringat kata-kata Mami Budi "Kenapa, Pak? Baju ini kurang pas ya? Atau... lipstik saya terlalu kayak abis makan ayam hidup?"
Adrian mencoba bersikap normal. Ia meraih sendok gula, berniat menambah sedikit kemanisan di kopinya agar jantungnya berhenti berdegup kencang. Matanya masih terpaku pada bibir Gisel yang bergerak-gerak saat wanita itu menjelaskan agenda.
"Jadi nanti jam satu kita di Ruang Mawar, terus jam tiga—LHO! PAK! STOP!"
Adrian masih bengong "Apa? Kenapa?"
"ITU GULANYA, PAK! LAPTOPNYA!" Ucap Gisel Panik
Adrian tersentak. Ia baru sadar bahwa sedari tadi ia bukan menuangkan gula ke dalam cangkir kopi, melainkan ke atas keyboard laptop kerja seharga puluhan juta yang berisi data-data penting perusahaan. Butiran gula putih itu sudah menumpuk manis di sela-sela tombol Enter dan Shift.
Adrian langsung meletakkan sendok dengan panik "Sial! Gisel, ini... ini gara-gara kemeja kamu terlalu putih! Silau!"
Gisel menahan tawa sambil buru-buru mengambil tisu "Alasan! Bilang aja Bapak terpesona sama lipstik 'Berani Mati' saya kan? Tuh kan, bener kata Mami Budi, Bapak bakal kena serangan 'Distraksi Visual'!"
Gisel membungkuk di depan meja Adrian untuk membersihkan butiran gula itu dengan tisu. Jarak mereka sangat dekat. Adrian bisa menghirup aroma parfum Gisel yang lembut, sangat kontras dengan warna bibirnya yang berani.
Adrian suaranya mendadak rendah dan serak "Siapa tadi? Mami Budi?
“Iya Pak, bang Budi, dia minta dipanggil Mami, biar cetar membahana pak” Jelas Gisel membuat Adrian bergedik geli.
“O.. Bilang sama dia, strategi dia berhasil. Saya benar-benar nggak fokus kerja pagi ini." Ucap Adrian tenang
Gisel mendongak, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Adrian "Jadi... Bapak suka? Atau saya harus hapus sekarang lipstiknya?" ucap Gisel tambah panik
Adrian menatap bibir Gisel lama, lalu tersenyum tipis yang sangat berbahaya "Jangan dihapus. Tapi jangan dekat-dekat saya kalau ada orang lain. Saya nggak mau berbagi 'pemandangan' ini dengan investor Korea nanti siang."
Gisel tersenyum sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
“Bapak bisa aja” ucap Gisel malu-malu, tapi tidak ada unsur untuk menggoda Adrian.
Momen romantis di atas meja kerja yang penuh tumpukan gula itu mendadak membeku. Adrian, yang tadi suaranya sudah merendah penuh karisma, perlahan menurunkan pandangannya dari bibir merah Gisel, menyusuri blazer charcoal yang elegan, terus ke bawah... dan matanya berhenti tepat di lantai.
Di sana, menyembul dari balik rok sepan sutra yang mahal, sepasang sepatu kets buluk warna abu-abu yang solnya sudah mulai menganga dan ada noda bekas oli gudang di bagian talinya.
Ekspresinya langsung berubah datar kembali, alisnya bertaut rapat "Gisel... tolong jelaskan ke saya. Apa itu yang ada di kaki kamu? Apa tidak ada sepatu lain kamu seperti akan pergi mendaki gunung?"
Gisel seketika berdiri tegak, berusaha menyembunyikan kakinya di balik kaki meja "Eh? Oh... ini, Pak? Ini namanya 'Sepatu Keberuntungan'. Kemarin pas nyelametin asset bapak di gudang, saya pake ini. Jadi saya pikir, aura hoki-nya masih nempel!"
Adrian memijat pangkal hidungnya, rasa pusingnya pindah dari bibir ke kaki
"Hoki? Gisel, kamu itu pakai sutra seharga motor matic, tapi bawahnya pakai sepatu yang baunya pasti kayak ban terbakar. Investor Korea itu sangat detail soal penampilan dari kepala sampai ujung kaki!"
"Tapi Pak, pake high heels itu nyiksa! Saya tadi pagi nyoba punya Maya, baru berdiri lima menit betis saya udah kerasa kayak ditarik traktor. Lagian kan kita rapatnya duduk, kakinya di bawah meja. Nggak bakal keliatan!" ucap Gisel seadanya.
"Bagaimana kalau kamu harus berdiri untuk presentasi? Atau kalau mereka menjatuhkan pulpen dan melihat ke bawah? Kamu mau mereka mengira sekretaris saya baru saja pulang dari tawuran antar gudang?"
Gisel membela diri dengan gaya khasnya "Ya tinggal saya bilang ini tren terbaru di Indonesia, Pak! Namanya gaya 'Corporate-Ghetto'. Atasnya CEO, bawahnya CEO—Cepat Ekonomi Oke!"
Adrian menahan senyum, tapi tetap tegas lalu menekan infokom
"Hadi! Masuk sekarang!"
Hadi muncul dalam hitungan detik, menatap pemandangan aneh itu, Gisel yang cantik jelita dengan lipstik membara, tapi kakinya tampak siap untuk main futsal.
Hadi langsung paham tanpa dijelaskan "Waduh, Mbak Gisel... itu sepatunya mau diajak ikut rapat direksi atau mau diajak nyari rongsokan di belakang kantor?"
Gisel tidak menanggapi ucapan Hadi, dia memanyunkan bibirnya.
"Hadi, bawa Gisel ke toko sepatu di lobi bawah sekarang. Cari ukuran dia. Jangan keluar dari toko itu kalau dia belum pakai sepatu yang tingginya minimal tujuh senti. Dan pastikan warnanya senada dengan blazernya!" ucap Adrian tegas
"Tujuh senti?! Pak, itu mah saya bukan jalan, tapi nangkring! Kalau saya jatuh pas bawa kopi gimana?!" ucap Gisel
Adrian kembali menatap Gisel, kali ini dengan tatapan yang sedikit lebih lembut tapi tetap memerintah "Kalau kamu jatuh, saya yang tangkap. Sekarang pergi, sebelum saya berubah pikiran dan nyuruh kamu rapat pakai bakiak!"
**
Di dalam butik sepatu premium lobi gedung Bramantyo, suasana yang tadinya tenang dan elegan mendadak berubah jadi area "peperangan" antara Gisel dan sepasang sepatu hak runcing yang tampak lebih mirip alat pertahanan diri daripada alas kaki.
Gisel duduk di sofa beludru merah dengan wajah yang lebih merah dari lipstiknya. Ia baru saja mencoba melangkah dua kali, namun betisnya langsung bergetar hebat.
"Mas Hadi! Ini mah bukan sepatu, ini jebakan tikus! Liat nih, jempol kaki gue udah kayak kegencet kontainer di gudang! Tujuh senti? Ini mah tingginya udah setara sama harga diri Pak Adrian!"
Hadi berdiri sambil memegang beberapa kotak sepatu, berusaha menahan tawa "Ayo dong, Mbak Gisel. Coba jalan lagi. Anggap aja mbak Gisel lagi nimbang barang di gudang, tapi bedanya tumitnya nggak boleh nyentuh tanah. Tegak, Mbak Gisel, tegak!"
"Tegak pala lo peyang! Saya ngerasa kayak sirkus keliling, Mas! Kalau saya jatoh, yang ganti rugi muka saya siapa? Pak Adrian?!" ucap Gisel memberontak
“Aduh Mbak Gisel nggak dengar tadi pak Adrian sudah memberikan konspensasi jika mbak Gisel jatuh, Pak Adrian akan menjadi tameng mbak Gisel” ucap Hadi
Tepat saat Gisel baru saja mau melepas sepatu stiletto warna nude itu, ponsel Hadi bergetar hebat. Nama "BOS KULKAS" terpampang nyata di layar.
"Halo, Pak? Iya, ini mbak Gisel lagi coba yang haknya runcing banget, Pak... Iya, yang bisa buat bolongin aspal..."
Suaran Adrian terdengar dari seberang telepon, sangat menuntut "Hadi, pastikan haknya minimal tujuh senti. Dan jangan biarkan dia pilih yang depannya bulat, itu nggak elegan. Cari yang pointed toe. Sudah dapet?"
Gisel merebut ponsel dari tangan Hadi, berteriak gemas "PAK ADRIAN! Ini kaki saya, bukan kaki meja! Runcing banget gimana kalau nanti saya khilaf terus saya injek kaki Bapak pas rapat?! Mau?!"
Adrian hening sejenak, lalu suaranya melunak sedikit tapi tetap memerintah "Kalau kamu injek saya, saya nggak akan marah, Gisel. Tapi kalau kamu masuk ruang rapat pakai sepatu kets buluk itu, investor Korea bakal ngira saya nggak sanggup kasih gaji yang layak buat sekretaris saya sendiri. Pilih yang paling mahal, saya yang bayar. Titik."
Pip. Sambungan diputus sepihak.
Gisel menatap ponsel itu dengan kesal, lalu menatap sepatu di depannya. Pelayan toko datang membawa model terbaru yang haknya setajam silet.
"Dasar Robot kulkas 1000 pintu" umpat Gisel kesal
Tiba-tiba muncul dari balik rak sepatu, entah sejak kapan dia membuntuti mereka.
"Aduuuh, sayangkuh! Jangan banyak drama! Ini mah stiletto impian semua wanita! Pake, sayangkuh! Inget kata Mami semalam, bibir udah 'Merapi', kaki harus 'Semeru'! Biar jangkung, biar jenjang!" Ucap Budi dengan semangat
"Mami! ngapain di sini?! Mami mau saya mati muda gara-gara varises?!" Protes Gisel
"Eyke diutus Pak Rendi buat memastikan kehormatan Departemen Logistik terjaga! Sini... mami pakein..."
Budi memaksa Gisel berdiri dan memegang bahu Gisel agar tetap seimbang. Gisel akhirnya berhasil berdiri dengan gemetar. Saat ia melihat pantulan dirinya di cermin besar toko itu dengan blazer sutra, lipstik merah, dan sepatu hak tinggi ia terdiam. Ia tampak sangat berbeda. Sangat... berkuasa.
Gisel melihat ke cermin, lalu ke Hadi "Mas... saya keliatan kayak bos beneran ya?"
"Bukan kayak bos beneran lagi, Mbak Sel. Mbak Gisel keliatan kayak orang yang sanggup beli perusahaan ini sekaligus sama pemiliknya." Ucap Hadi.
Suasana di dalam butik makin "gerah" bukan karena AC mati, tapi karena omelan Gisel yang volumenya sudah setara dengan suara mesin diesel di gudang logistik. Ia berdiri goyah di atas karpet bulu, satu tangannya mencengkeram bahu Hadi kuat-kali ini bukan karena sayang, tapi sebagai penyangga agar tidak terjungkal.
"Mas Hadi! Mas tega ya? Mas liat nggak betis saya udah getar-getar kayak hp kemasukan air? Ini kalau saya pingsan di depan orang Korea, yang malu bukan cuma saya, tapi seluruh silsilah keluarga saya, Mas!"
Hadi wajahnya memelas, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
"Aduh, Mbak... kompromi dikit lah, demi keselamatan bersama. Mbak tau kan Pak Adrian kalau udah ngasih perintah itu sifatnya mutlak? Kalau mbak nggak pake ini sepatu, yang kena semprot bukan cuma mbak, tapi saya yang bakal ditendang dari lantai 40!"
"Ya biarin! Biar Mas kerja di gudang aja bareng Bang Rendi, lebih santai!" ucap Gisel
Hadi memegang kedua bahu Gisel, matanya berkaca-kaca dramatis.
"Mbak Sel, dengerin saya. cicilan mobil saya masih sisa tiga tahun, Mbak Sel. Belum lagi biaya sekolah keponakan saya. Kalau hari ini Mak sel nggak 'nangkring' di atas stiletto itu, Pak Adrian bakal anggep saya gagal jadi asisten. Tolonglah... sekali ini aja, demi nasi bungkus saya besok pagi!" seketika sikap dingin Hadi berubah total dihadapkan dengan Gisel.
Gisel melihat wajah Hadi yang benar-benar pasrah, hatinya mulai luluh meski kakinya teriak protes
"Ck! Mas mah mainnya anceman pecat mulu! Ya udah, ya udah! saya pake! Tapi kalau di tengah rapat saya lepas terus saya lempar ke kepala investornya, jangan salahin saya ya!"
Melihat Gisel akhirnya menyerah, Budi langsung beraksi. Ia menarik lengan Gisel dan mulai memberikan tutorial singkat cara berjalan di atas "paku tujuh senti" itu.
"Nah, gitu dong! That’s my girl! Sini, Mami ajarin. Jangan napak pake tumit dulu, sayangkuh! Nanti yey kayak robot karatan. Napaknya barengan, terus ayun pinggul dikit... One, two, three... sashay, shantay!"
Gisel melangkah pelan-pelan sambil pegangan rak tas "Aduh... aduh... Mami, ini rasanya kayak jalan di atas telur puyuh! Sakit banget, makkk!"
Hadi sambil ngelap keringat pake tisu "Bagus, Mbak Sel! Tegak! Pandangan lurus ke depan, bayangin di depan sana ada Pak Adrian lagi megang duren kupas! Semangat!"
“Please lah Mas, ganti yang lain ya” iba Gisel
“Gak bisa Mbak Sel, ini semua demi kebaikan kita semua” ucap Hadi
“Kebaikan dari Hongkong” ucap Gisel kesal
"STOP! Hentiin semua drama sinetron murahan ini! Kuping eyke panas dengerin keluhan kalian berdua yang nggak ada estetika-estetikanya sama sekali!" ucap Budi
"Tapi Mami, ini urusan nyawa kaki saya!" ucap Gisel
"Dan ini urusan nyawa karir saya, Pak Budi!" ucap Hadi
Budi menatap mereka bergantian dengan mata menyipit.
"Mas Hadi, diem dulu! Yey juga Sel, dengerin Mami. Masalahnya bukan di sepatunya, tapi di mental kalian yang masih 'mental gudang'!
"Sayangkuh Gisel, dengerin Mami... Pak Adrian itu nggak cuma pengen liat yey cantik. Dia pengen yey jadi senjata. Cowok-cowok Korea di atas itu pinter, tajam, dan kadang ngeremehin perempuan. Kalau yey dateng pake kets, mereka bakal liat yey sebagai 'asisten'. Tapi kalau yey dateng 'nangkring' di atas paku ini... mereka bakal liat yey sebagai rival." lanjut Budi.
Gisel terdiam. Argumen Budi kali ini masuk akal dan tidak pakai embel-embel "manja".
"Dan buat Mas Hadi... jangan cengeng! Cicilan mobil yey nggak bakal lunas kalau yey cuma bisa mohon-mohon. Sini, eyke punya solusi jalan tengah." Lanjut Budi
Budi mengambil sepasang sepatu hak tinggi yang sedikit lebih lebar haknya (block heels) tapi tetap terlihat runcing dari depan. Sangat elegan tapi jauh lebih stabil.
"Nih, pake yang ini. Modelnya Pointed Toe, kesannya runcing dan galak kayak kemauan Pak Bos, tapi haknya agak tebel dikit biar lo nggak goyang dombret pas jalan. Terus satu lagi..."
Budi merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan plester anti-lecet dan gel pengganjal kaki" ucap Budi
"Tempel ini di tumit sama di jempol. Ini rahasia para model biar bisa catwalk di atas aspal panas. Mas Hadi, yey beli ini sepatu sekarang juga, jangan banyak tanya harga! Pake kartu kantor kan?" Ucap Budi
Hadi langsung nyamber kartu kredit perusahaan "Iya! Pake kartu Pak Adrian! Bungkus sekarang, Pak Budi!"
Gisel memakai plester dan pengganjal gel dari Budi, lalu memasukkan kakinya ke sepatu pilihan Budi. Ajaib, rasa sakitnya berkurang drastis, dan ia merasa jauh lebih seimbang.
"Eh... beneran, Mi. Rasanya lumayan stabil. Saya nggak ngerasa kayak mau jatuh ke depan lagi. Kenapa Mami gak jadi desainer sekalian malah jadi kuli Gudang"
"Udah takdir, gak lulus SNMPTN jurusan desainer sejagad entero. Kok malah bahas jurusan sih say" ucap Budi membuat Gisel tertawa.
"Pokoknya dengerin kata Mami. Sekarang, poles lagi itu lipstik dikit, benerin blazer-nya. Mas Hadi, bawa dia naik! Inget sayangkuh, jalannya jangan diseret, tapi diayun. Anggap aja yey lagi nge-bos di gudang, tapi versi high-class." Ucap Budi
Hadi bernapas lega, menatap Budi dengan penuh syukur "Pak Budi, beneran malaikat tanpa sayap tapi pake bedak ketebelan. Makasih ya!"
Ponsel Hadi berbunyi lagi. Kali ini bukan suara, tapi pesan singkat dari Adrian.
BOS KULKAS: "Lama sekali. Kalau dalam 2 menit tidak sampai di ruang rapat, saya jemput ke bawah."
"MAMPUS! Ayo Mbak Sel, lari! Eh, jangan lari, jalan cepet aja! Pak Bos udah mode 'Kulkas Meledak'!" ucap Hadi panik
Gisel menarik napas dalam-dalam, membetulkan posisi blazernya, dan memantapkan pijakannya. Ia menatap cermin, melihat sosok wanita karir yang sangat elegan lengkap dengan bibir merah dan sepatu yang mematikan.
"Oke, Mas Hadi. Demi cicilan mobil Mas Hadi dan demi harga diri saya... ayo kita perang!" ucap Gisel
"Udah, sana jalan! Inget ya sayangkuh, kalau Pak Adrian nanya siapa yang dandanin, bilang nama eyke. Kali aja eyke dapet bonus kenaikan jabatan jadi Personal Stylist CEO!" ucap Budi namun ditanggapi tertawa ceria oleh Gisel dan namun tidak dengan Hadi.
to be continue