Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~26 Perintah dari Jaya Wijaya
Angin Berubah Arah: Kabar tentang kunjungan Raja Gustaf ke Kuil Agung Candra, berjalan mendampingi istrinya hingga ke pintu suci, dan berdiri diam dengan penuh penghormatan di tempat pemujaan leluhur itu... ternyata menyebar bukan hanya di kalangan rakyat Candra saja. Berita itu terbang cepat seperti burung ke seluruh penjuru, hingga akhirnya sampai pula ke telinga Imam Besar Kerajaan Jaya Wijaya, pemimpin agama dan penasihat tertinggi yang dijuluki sebagai "Suara Kebenaran" di negeri itu.
Bagi rakyat Jaya Wijaya yang memegang teguh ajaran agama Islam, menganggap Tuhan itu Esa dan tidak menyekutukan-Nya, berita itu bukanlah hal yang biasa. Bagi mereka, meski Raja Gustaf tidak ikut bersujud atau mempersembahkan sesaji, namun kehadiran seorang Raja dan pemimpin tertinggi mereka di tempat pemujaan yang berbeda itu dipandang sebagai sesuatu yang keliru, bahkan dianggap telah melanggar batas ajaran dan mengaburkan pedoman hidup rakyatnya.
Siang itu, saat matahari mulai condong ke barat, seorang utusan khusus berkuda kencang tiba di gerbang Istana Candra. Ia membawa surat bersegel lilin emas, segel resmi dari Imam Besar dan Dewan Penasihat Agama Jaya Wijaya. Surat itu ditujukan langsung kepada Raja Gustaf.
Isinya tegas, singkat, dan tak terbantahkan:
"Hamba yang rendah diri mewakili seluruh rakyat dan penjaga agama di Jaya Wijaya, memohon kepada Baginda Raja Gustaf untuk segera kembali ke ibu kota sore ini juga. Kehadiran Baginda di tempat pemujaan asing telah menimbulkan tanya, kegelisahan, dan perdebatan di kalangan rakyat. Sebagai pemimpin, keberadaan dan langkah Baginda adalah contoh bagi seluruh negeri. Segeralah pulang untuk menenangkan hati rakyat dan meneguhkan kembali kebenaran yang menjadi dasar negeri kita."
Gustaf berdiri diam di beranda istana, tangannya menggenggam lembaran surat itu erat-erat. Wajahnya yang tadi cerah dan damai, kini berubah kelabu. Ia mengerti betul maksud surat itu. Bagi para ulama dan penasihatnya, tindakannya tadi pagi—yang ia anggap sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang pada istrinya—telah dipandang sebagai kelemahan, bahkan penyimpangan.
Layla yang berdiri di sampingnya, ikut membaca tulisan itu dari samping, seketika wajahnya pucat. Ia mengerti betul, perintah ini bukan sekadar panggilan biasa. Ini adalah teguran keras. Dan sebagai Raja yang taat pada ajaran dan hormat pada pemimpin agamanya, Gustaf tidak punya pilihan selain menurut.
"Baginda..." ucap Layla pelan, suaranya bergetar. "Ini... salahku. Seandainya aku tidak mengajakmu ke kuil tadi, seandainya aku pergi sendiri saja... hal ini tidak akan terjadi. Maafkan aku, Baginda. Aku yang membuatmu berada di posisi sulit ini."
Gustaf segera menoleh, melihat air mata yang mulai menggenang di sudut mata istrinya. Ia segera menyimpan surat itu ke dalam saku jubahnya, lalu mengusap pipi Layla dengan lembut.
"Jangan bicara begitu, Layla," ucap Gustaf tegas namun lembut. "Kau tidak bersalah sedikit pun. Apa yang kulakukan tadi adalah keputusanku sendiri. Aku melakukannya karena aku menghormatimu, dan karena aku ingin menunjukkan bahwa damai itu harus ada rasa saling menghargai. Jika mereka menganggap itu salah... biarlah aku yang menjelaskan niatku nanti. Tapi saat ini... benar, aku harus pulang. Perintah ini tidak bisa kutunda."
__
Berita bahwa rombongan Raja Gustaf dan Ratu Layla harus berangkat sore itu juga, hanya sehari setelah kedatangan mereka, mengguncang seisi istana Candra. Raja Batara dan Ratu Saraswati segera datang, wajah mereka tampak berat dan kecewa, namun mereka mengerti betul posisi Gustaf. Sebagai seorang Raja yang memimpin rakyat dengan keyakinan berbeda, Gustaf memang memiliki aturan dan batasan yang harus ia jaga.
"Kami mengerti, Nak," ucap Raja Batara sambil menepuk bahu Gustaf dengan penuh pengertian. "Tugas seorang pemimpin memang berat. Kau tidak hanya membawa dirimu sendiri ke sini, tapi kau membawa nama seluruh rumpun bangsamu. Pergilah. Kami tidak ingin kehadiranmu di sini justru menimbulkan perpecahan di negerimu sendiri."
Ratu Saraswati mengangguk, matanya berkaca-kaca saat menatap menantunya. "Terima kasih sudah datang, Gustaf. Terima kasih sudah membawa pulang Layla, dan terima kasih... untuk langkah kakimu di kuil tadi pagi. Mungkin di matamu itu hal biasa, tapi bagi kami, itu adalah penghormatan terbesar yang pernah diterima Kerajaan Candra. Kami tidak akan melupakannya."
Gustaf menunduk hormat, rasa haru dan terima kasih bercampur di dadanya. "Terima kasih, Ayahanda, Ibunda. Atas segala sambutan dan kebaikan yang diberikan. Damai antara kita telah terjalin, dan tidak ada yang akan mampu memutuskannya lagi, walau mungkin cara kita beribadah berbeda."
Satu per satu anggota keluarga datang berpamitan. Citra, si kecil yang semalam tidur di antara mereka, berlari kecil menghampiri Gustaf, memeluk kaki besar raja itu erat-erat.
"Paman Gustaf cepat kembali lagi ya!" seru Citra polos. "Bawa cerita lagi, dan jangan lama-lama ya! Nanti Citra lupa wajah Paman kalau lama nggak datang!"
Gustaf tersenyum lebar, lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan anak kecil itu. Ia mengusap kepala Citra dengan kasih sayang. "Paman janji. Paman akan cepat kembali. Jaga Bibi Layla ya, selama Paman belum datang."
Namun, mata Gustaf kemudian tertuju pada sosok yang berdiri agak di belakang, di dekat tiang besar beranda.
Laras.
Ia berdiri diam, mengenakan kebaya berwarna biru muda, tangannya tergenggam lembut di atas perutnya yang masih rata namun kini menyimpan nyawa baru. Wajahnya tidak lagi setajam kemarin, tidak lagi penuh kebencian yang membara. Namun ia masih diam, ragu, dan bingung.
Gustaf berjalan mendekatinya perlahan. Ia berhenti tepat di hadapan wanita yang paling ia sakiti ini. Ia tidak menunduk, tidak pula menatap tajam. Ia menatap Laras dengan pandangan penuh rasa bersalah, hormat, dan... harapan.
"Kak Laras..." ucap Gustaf pelan, suaranya terdengar jelas di antara keramaian perpisahan. "Aku harus pergi sekarang. Aku tahu, kepergianku ini tidak mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu. Aku tahu, kehadiranku kemarin mungkin hanya menambah luka di hatimu."
Gustaf menjeda sejenak, lalu menatap lembut ke arah perut Laras.
"Tapi aku berjanji padamu, di sini, di hadapan seluruh keluargamu. Nyawa kecil yang ada di dalam rahimmu itu... adalah peninggalan terbesar Kakang Laksamana, dan bagi kami semua, anak itu adalah permata yang tak ternilai. Aku akan menjaganya. Aku akan memastikan tidak ada satu pun bahaya yang mendekat padanya, seumur hidupku. Anakmu tidak akan pernah kekurangan apa pun, dan tidak ada satu orang pun di Jaya Wijaya yang berani memandang rendah anak itu. Karena bagiku, anak itu adalah amanah terberat yang harus kutebus."
Laras terdiam. Matanya menatap Gustaf lekat-lekat. Kata-kata itu, ketulusan itu, dan juga kabar tentang Gustaf yang menghormati kuil leluhurnya tadi pagi... semuanya berputar di kepalanya.
Ia masih belum bisa mengucap maaf. Ia masih belum bisa memanggilnya keluarga. Tapi untuk pertama kalinya, saat Gustaf hendak berpaling pergi... Laras membuka mulutnya.
"Hati-hati di jalan, Raja Gustaf..." ucap Laras pelan, sangat pelan, namun cukup jelas terdengar oleh Gustaf. "Dan... terima kasih. Atas niat baikmu. Setidaknya... untuk anak ini."
Gustaf tersenyum tipis, senyum lega yang luar biasa. Ia mengangguk hormat, lalu berbalik kembali ke sisi Layla.
Kalimat pendek itu adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada kemenangan di medan perang manapun. Itu adalah tanda bahwa tembok kebencian itu mulai retak, perlahan namun pasti.
Beranjak Pulang. Kuda-kuda telah diikatkan ke kereta kuda utama yang megah. Rombongan prajurit telah berbaris rapi, bersiap mengawal perjalanan pulang yang harus ditempuh dengan cepat agar sampai di perbatasan sebelum matahari benar-benar tenggelam.
Layla memeluk ibunya, Ratu Saraswati, lama sekali. Air mata bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.
"Ibu, Ayah... hamba pamit dulu. Nanti hamba akan sering menyurat, dan kami akan kembali lagi segera. Jaga diri kalian, dan jaga Kak Laras serta anaknya ya," bisik Layla terisak.
"Pergilah, Nak. Kau sudah punya tugas baru sebagai Ratu Jaya Wijaya. Buatlah damai ini terus bersinar," jawab Raja Batara sambil mencium kening putrinya.
Akhirnya, Layla naik ke atas kereta. Gustaf mengulurkan tangannya, menuntun istrinya masuk, lalu duduk di sampingnya. Genta berbunyi satu kali, tanda keberangkatan.
Kereta mulai bergerak perlahan menjauhi gerbang Istana Candra. Layla terus menoleh ke belakang, menatap sosok ayah, ibu, kakak-kakaknya, dan Citra yang melambaikan tangan sampai bayangan mereka hilang tertutup pohon dan jarak.
Di dalam kereta, suasana menjadi hening sejenak. Gustaf duduk diam, menatap ke luar jendela, wajahnya kembali serius. Ia tahu, begitu ia menginjakkan kaki kembali di tanah Jaya Wijaya, ia akan berhadapan dengan para Imam dan penasihatnya. Ia harus menjelaskan dirinya, mempertahankan tindakannya, dan menyeimbangkan kembali posisinya sebagai Raja yang dicintai rakyatnya, namun juga pemimpin yang harus taat pada ajaran agamanya.
Kereta kuda itu terus melaju kencang, membawa mereka kembali ke Jaya Wijaya, kembali ke tantangan baru yang menanti. Di belakang mereka, Kerajaan Candra menyimpan harapan baru dan kehidupan yang baru tumbuh. Di depan mereka... ujian terbesar persatuan cinta dan keyakinan sedang menunggu untuk dihadapi.