“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Lagi ?
...****************...
Menjelang siang, panas matahari mulai terasa menyengat. Cahaya yang jatuh langsung ke lapangan membuat udara terasa berat, seperti menekan pelan dari segala arah.
Di bawah tenda panitia yang tidak sepenuhnya mampu menahan terik, Rhea beberapa kali mengipaskan map di tangannya ke wajah, gerakannya cepat dan sedikit kesal.
"Suh, panas banget sih ini..." keluhnya sambil sedikit membungkuk, mencari sudut teduh yang lebih nyaman, meski hasilnya tidak terlalu berbeda.
Dito yang berdiri di sebelah meja lipat tetap sibuk dengan daftar booth di tangannya. Ia hanya melirik sekilas ke arah Rhea tanpa benar-benar berhenti membaca.
"Kamu baru sadar sekarang?" ucapnya datar, seperti komentar yang sudah terlalu sering ia dengar dari orang lain.
Rhea langsung menoleh, alisnya terangkat tidak percaya. "Loh, emang dari tadi nggak panas?"
Dito akhirnya mengangkat wajahnya sedikit, kali ini benar-benar menatapnya. "Panas. Cuma kamu aja yang baru mengeluh."
Rhea mendengus pelan, lalu mengipaskan mapnya lagi dengan lebih malas. "Mas Dito itu kebal ya sama panas?"
Dito menutup sedikit lembar kertas di tangannya, lalu menjawab santai tanpa banyak ekspresi. "Udah biasa di lapangan."
Rhea menyipitkan mata, lalu menyandarkan tubuhnya ke tiang tenda. "Pantes aja Mas kelihatannya kayak AC rusak, dingin tapi nyebelin."
Beberapa panitia yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung menahan tawa, saling melirik karena tidak menyangka Rhea akan berkata sejujur itu di tengah suasana kerja.
Dito menatapnya sebentar, lalu menggeleng pelan sambil kembali fokus ke daftar di tangannya. Tapi sudut bibirnya tidak sepenuhnya berhasil disembunyikan...ada senyum kecil yang tertahan di sana.
Kesibukan itu terus berlangsung hingga sore menjelang.
Perlahan, cahaya matahari yang sejak tadi tajam mulai berubah menjadi lebih lembut. Bayangan pepohonan yang sebelumnya pendek kini memanjang di atas permukaan lapangan, bergerak pelan mengikuti arah cahaya yang mulai menurun.
Aktivitas para pekerja vendor juga mulai berkurang intensitasnya, beberapa dari mereka terlihat mulai merapikan alat dan material untuk disimpan sementara.
Di beberapa sudut lapangan, panitia mulai mengumpulkan peralatan mereka sendiri, mengecek kembali catatan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum pekerjaan dihentikan sementara.
Setelah memastikan seluruh revisi hari itu sudah dicatat, panitia akhirnya memutuskan untuk menghentikan pekerjaan sementara.
"Besok kita lanjut lagi."
"Siap, Kak."
"Jangan telat."
Suasana lapangan yang sejak siang begitu ramai perlahan mulai kehilangan hiruk pikuknya. Suara langkah kaki yang sebelumnya saling bersahutan kini berubah menjadi lebih jarang dan percakapan ringan yang mulai terdengar santai.
Rhea yang sudah kelelahan langsung menyampirkan totebag ke bahunya, gerakannya sedikit lebih lambat dibanding pagi tadi.
"Akhirnya selesai juga."
"Untuk hari ini."
Dito menekankan dua kata terakhir itu dengan nada datar yang terdengar seperti pengingat halus bahwa pekerjaan belum benar-benar selesai.
Rhea mengerang pelan, hampir seperti protes kecil yang tidak benar-benar serius.
"Ck...merusak suasana deh, Mas."
Dito terkekeh kecil sebelum akhirnya berjalan berdampingan dengannya menuju area parkir.
...****************...
Mereka menyusuri koridor terbuka yang menghubungkan lapangan dengan gedung fakultas. Angin sore yang mulai turun sesekali lewat di sela bangunan, membawa sedikit kelegaan setelah seharian berada di bawah terik lapangan.
Obrolan ringan masih terdengar di antara Rhea dan Dito, sebagian besar membahas pekerjaan yang harus kembali mereka lanjutkan esok hari.
Namun di tengah langkah itu, perhatian Rhea tiba-tiba terhenti pada satu titik.
Dari arah berlawanan, Arga berjalan mendekat.
Pria itu masih mengenakan kemeja yang sama seperti saat pagi tadi, sedikit rapi namun tampak lelah di bagian lipatan lengannya. Tas kerja tersampir di bahu, sementara satu tangannya memegang beberapa berkas yang terlihat sudah tidak terlalu tertata.
Detik itu terasa seperti melambat.
Rhea tanpa sadar memperlambat langkahnya, seperti tubuhnya lebih dulu bereaksi sebelum pikirannya sempat menyusul.
Arga melewatinya.
Hanya begitu saja...tanpa berhenti, tanpa menoleh, tanpa sedikit pun jeda yang bisa ditangkap sebagai tanda bahwa ia ragu atau peduli.
Sekilas, pandangannya tampak jatuh ke arah Rhea. Cukup untuk memastikan bahwa ia melihatnya, bahwa ia sadar mereka berpapasan. Namun tidak ada sapaan, tidak ada gestur kecil, bahkan tidak ada jeda langkah sedikit pun.
Pria itu tetap berjalan seperti biasa, melewati mereka tanpa suara, lalu melanjutkan langkah menuju area parkir dosen.
Beberapa saat kemudian, Rhea masih melihat dari kejauhan saat Arga membuka pintu mobilnya. Mesin kendaraan menyala, lalu perlahan mobil itu bergerak meninggalkan area kampus, menghilang di antara jalan keluar yang mulai ramai oleh kendaraan sore.
Baru beberapa detik kemudian Rhea menyadari bahwa pandangannya masih tertinggal di arah yang sama, seolah tubuhnya sudah bergerak maju tetapi pikirannya masih berhenti di tempat tadi.
Ada sesuatu yang terasa menggantung di dalam dadanya, tidak tuntas, seperti kalimat yang sengaja dibiarkan tanpa titik di akhirnya.
"Kenapa?"
Suara Dito di sampingnya membuat Rhea tersentak kecil, cepat-cepat menarik dirinya kembali ke kenyataan.
Rhea segera mengalihkan pandangan, lalu menggeleng pelan, terlalu cepat hingga justru terlihat jelas bahwa ia sedang menutupi sesuatu. "Nggak apa-apa."
Langkahnya kembali bergerak, tapi tidak lagi terasa sama. Lebih berat, lebih pelan, seolah ada sesuatu yang ikut berjalan di belakang pikirannya dan menolak benar-benar ditinggalkan.
Di kepalanya, satu pertanyaan terus berulang tanpa henti, memantul di ruang yang tidak bisa ia tutup.
Pak Arga kena
Dan justru itu yang membuat dadanya terasa semakin tidak nyaman...bukan karena Arga datang atau berkata apa-apa, tetapi karena sikapnya yang terlalu tenang, terlalu biasa, seolah tidak ada apa pun yang perlu dipertanyakan sejak awal.