NovelToon NovelToon
Aku Hanya Berulah, Kenapa Jadi Bulan Purnama Mereka?

Aku Hanya Berulah, Kenapa Jadi Bulan Purnama Mereka?

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa / CEO / Tamat
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Estrellaaya_

Begitu terbangun dari tidur, pikiran Su Niannian tiba-tiba terhubung dengan sebuah sistem bernama Sistem Cahaya Bulan. Dengan nada dingin, sistem itu memberikan perintah: Tugasmu adalah—menimbulkan masalah, memfitnah orang lain, dan menjadi wanita paling dibenci di seluruh kota. Su Niannian: ???

Tugas pertama: Memarahi Direktur Utama Jiang Lin di depan umum dan menyebutnya pria yang sombong. Dengan terpaksa dia melakukannya, lalu menunggu keputusan pemecatan. Namun nyatanya, pria itu sama sekali tidak marah, malah tersenyum dan berkata: "Kau menarik."

Tugas kedua: Memuji pria lain secara berlebihan di hadapannya. Dia memuji dengan cara yang kaku dan canggung, dalam hatinya dia merasa pasti kali ini masalah besar akan menimpanya.Namun Jiang Lin malah mengerutkan dahi dan bertanya: "Menurutmu, apa kelebihanku? "—Tunggu dulu, bukankah itu bukan inti permasalahannya?

Tugas ketiga, tugas keempat, dan seterusnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Puluh Dua

“Memang serius.”

Su Niannian terdiam sejenak. “Menurutmu kapan waktu yang paling tepat untuk berkunjung?”

“Mungkin akhir pekan depan,” jawab Jiang Lin. “Kita akan mempersiapkan segala sesuatunya minggu ini.”

“Apa yang harus dipersiapkan?”

“Nanti kau akan mengetahuinya setelah sampai di sana.”

Su Niannian menatap ekspresinya dan merasa ada hal lain yang belum disampaikan.

Malam harinya, Su Niannian berbaring di tempat tidur kamar tamu dan membolak-balik sambil memikirkan rencana berkunjung ke rumah Jiang Lin minggu depan. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Lin Xiaohe.

Su Niannian: Xiaohe, minggu depan aku akan pergi ke rumah kekasihku untuk makan bersama. Ini pertama kalinya, apa saja hal yang harus diperhatikan?

Lin Xiaohe membalas pesannya dengan cepat: !!! Kau akan bertemu keluarganya? Begitu cepat?

Su Niannian: Ibumunya sudah berkunjung ke rumah kami minggu lalu, sekarang giliran aku yang berkunjung ke rumahnya.

Lin Xiaohe: Tunggu sebentar, aku akan menyusun daftar hal yang harus diperhatikan!

Lima menit kemudian, Su Niannian menerima pesan yang berisi dua puluh poin penting — jangan datang dengan tangan kosong, jangan mengenakan pakaian yang terlalu santai, jangan memegang ponsel saat makan, jangan terlalu akrab dengan kekasihmu di depan keluarganya, tawarkan bantuan untuk membereskan peralatan makan, puji masakan yang dimasak ibunya, dan masih banyak lagi.

Setelah membaca daftar itu, Su Niannian justru merasa semakin cemas.

Su Niannian: Apakah harus memperhatikan begitu banyak hal?

Lin Xiaohe: Ini kunjungan pertama, jadi berikan kesan yang baik. Setelah itu kau bisa bersikap lebih santai.

Su Niannian menghela napas panjang dan menyimpan tangkapan layar pesan itu.

Pagi hari Senin, tepat setelah tiba di kantor, Su Niannian menerima pesan dari Saudari Li, kepala bagian administrasi.

Saudari Li: Niannian, Direktur Jiang memintamu untuk datang ke ruang kerjanya.

Hati Su Niannian berdebar kencang — bukankah mereka berangkat dari rumah bersama-sama pagi ini? Masalah apa yang tidak bisa dibicarakan di rumah?

Dia masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai lima belas.

Pintu ruang kerja Jiang Lin terbuka sedikit, dan dia mengetuk bingkai pintu.

“Silakan masuk,” ucap Jiang Lin sambil mengangkat kepalanya. “Tutup pintunya.”

Su Niannian menutup pintu dan berjalan menghampirinya. “Ada apa?”

“Silakan duduk,” ucap Jiang Lin sambil menunjuk kursi di hadapannya.

Su Niannian duduk sambil merasakan detak jantungnya berpacu lebih cepat — suasana ini terasa seperti akan dipecat dari pekerjaan.

“Mengenai rencana berkunjung ke rumahku minggu depan,” ucap Jiang Lin. “Ibuku meneleponku kemarin.”

Su Niannian menatapnya dengan perasaan cemas. “Apa yang dikatakannya?”

“Ibuku berpesan agar kau tidak perlu membawa barang apa pun,” ucap Jiang Lin sambil tersenyum tipis. “Di rumah kami sudah memiliki segala sesuatunya.”

Su Niannian tertegun sejenak. “Hanya itu saja?”

“Ada satu hal lagi,” lanjut Jiang Lin sambil menatapnya. “Ibuku berkata bahwa kau pasti pandai memasak sup, jadi dia memintamu untuk menunjukkan keahlianmu.”

Su Niannian membuka mulutnya karena terkejut. “Jadi aku harus memasak di rumahmu?”

“Ya. Dia ingin mencicipi masakanmu,” jawab Jiang Lin sambil bersandar di kursinya. “Apakah kau takut?”

“Siapa yang takut?” jawab Su Niannian sambil menegakkan punggungnya. “Kalau begitu aku akan memasaknya.”

Jiang Lin tersenyum tipis. “Baiklah, aku akan menyampaikannya kepada ibuku.”

Setelah keluar dari ruang kerja Jiang Lin, kaki Su Niannian terasa sedikit lemas.

Diminta memasak di rumah Jiang Lin? Di depan calon ibu mertuanya? Bukankah hal ini sama seperti mengikuti ujian?

[Pemberitahuan Sistem: Tugas 11 sudah selesai. Saat ini tidak ada tugas baru. Sistem menyarankan agar pengguna tetap tenang dan menunjukkan kemampuan sebagaimana mestinya.]

“Kau berkata seolah-olah hal itu mudah dilakukan,” keluh Su Niannian dalam hati.

Malam hari Rabu, Su Niannian berlatih memasak sup di rumah. Meskipun dia sudah terbiasa melakukannya, dia merasa masih ada sesuatu yang kurang sempurna.

Jiang Lin berdiri di ambang pintu dapur sambil memperhatikannya yang sibuk bergerak.

“Kau berlatih setiap hari, apakah tidak merasa bosan?”

“Tidak juga,” jawab Su Niannian sambil merebus tulang rusuk. “Ibuku ingin mencicipi sup yang aku masak, jadi aku tidak boleh mempermalukan diriku sendiri.”

“Kau bukan orang yang mudah mempermalukan dirinya sendiri,” ucap Jiang Lin.

Tangan Su Niannian berhenti sejenak, lalu dia berbalik menatapnya.

“Kenapa kau bicara dengan sangat manis hari ini?”

“Aku selalu bicara seperti ini,” jawab Jiang Lin sambil masuk ke dalam dapur dan memeluk pinggangnya dari belakang. “Hanya saja aku jarang mengatakannya.”

Telinga Su Niannian terasa sangat panas.

“Jangan mengganggu, aku sedang memasak.”

“Teruskan saja pekerjaanmu,” ucap Jiang Lin tanpa melepaskan pelukannya.

Su Niannian menarik napas panjang dan terus memotong bunga teratai. Namun dengan dagu Jiang Lin yang bersandar di bahunya dan hembusan napasnya yang terasa di lehernya, dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.

“Jiang Lin, jika kau terus berperilaku seperti ini, maka tidak akan ada sup untukmu malam ini.”

Jiang Lin tersenyum tipis, lalu melepaskan pelukannya dan berjalan keluar dari dapur.

Su Niannian bersandar di meja dapur sambil merasakan detak jantungnya berpacu sangat cepat.

Pria ini biasanya bersikap dingin, namun di saat-saat tertentu ternyata pandai sekali membuat hatinya berdebar.

Pagi hari Sabtu, Su Niannian terbangun tepat pukul tujuh pagi.

Dia memilah-milah pakaiannya dalam waktu yang lama, dan akhirnya memilih gaun rajut berwarna krem yang tidak terlalu terbuka maupun terlalu santai, sehingga terlihat sopan dan lembut. Dia merias wajah dengan riasan tipis dan mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda rendah.

Sebelum berangkat, dia memeriksa barang bawaannya sebanyak tiga kali — buah-buahan, teh, dan bahan masakan yang akan digunakan untuk memasak sup hari ini.

“Apakah kau merasa gugup?” tanya Jiang Lin sambil berdiri di ambang pintu dan memperhatikannya yang sibuk memeriksa barang.

“Sedikit,” jawab Su Niannian dengan jujur.

Jiang Lin mengulurkan tangannya dan menyelipkan sehelai rambut yang terurai ke belakang telinganya.

“Tidak perlu merasa gugup,” ucapnya. “Aku ada di sini bersamamu.”

Su Niannian menatapnya dan merasa perasaan gugupnya berkurang setengahnya.

Keduanya turun ke bawah dan masuk ke dalam mobil. Jiang Lin menyalakan mesin dan mengemudi menuju arah selatan kota.

Su Niannian menatap pemandangan di luar jendela sambil merasakan detak jantungnya berpacu semakin cepat.

[Pemberitahuan Sistem: Detak jantung pengguna mencapai 89 kali per menit. Disarankan untuk menarik napas panjang. Apakah pengguna ingin memutar musik yang menenangkan?]

“Tidak perlu,” jawab Su Niannian sambil menarik napas panjang.

Mobil berbelok masuk ke kawasan perumahan mewah yang dipenuhi pepohonan rindang. Di sepanjang jalan tumbuh pohon kenari yang daunnya sudah menguning setengahnya karena musim gugur.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah bertingkat tiga dengan dinding luar berwarna abu-abu dan bingkai jendela berwarna putih. Di halaman depan tumbuh pohon cempaka yang mengeluarkan aroma harum yang samar.

Su Niannian menarik napas panjang dan membuka pintu mobil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!