NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJAR-KEJARAN DI CHAMPS-ÉLYSÉES

Kembali dari ruko Palmerah ke Paris berarti kembali ke dunia yang serba rapi, dingin, dan penuh dengan protokol keamanan tingkat tinggi. Namun bagi Alya, mau di Jakarta ataupun di Prancis, yang namanya nasib apes itu tidak pernah memilih koordinat lintang dan bujur.

​Sore itu, Champs-Élysées sedang berada di puncak pesonanya. Langit musim semi yang cerah membungkus jalanan paling terkenal di dunia itu dengan warna keemasan. Di kanan-kiri, deretan pohon marronnier yang mulai menghijau berjejer rapi, membingkai trotoar lebar yang dipenuhi oleh turis mancanegara dan sosialita Paris yang sedang menenteng tas belanjaan dari butik-butik mewah.

​Alya berjalan di tengah trotoar dengan ekspresi kemenangan. Di tangan kanannya, dia menenteng sebuah kantong plastik besar berwarna putih. Isinya bukan tas desainer seharga ratusan juta, melainkan sepuluh bungkus mi instan varian rasa soto ayam, tiga botol kecap manis ukuran besar, dan dua pak kerupuk udang mentah yang berhasil dia dapatkan dari sebuah toko grosir Asia di pinggiran kota.

​Di sampingnya, Etienne berjalan dengan langkah santai nan anggun. Pria itu mengenakan kacamata hitam berbingkai emas dan jaket kulit domba yang potongannya sangat pas di tubuh atletisnya. Dia bertindak sebagai pengawal resmi Alya hari ini, sementara ketiga kembar lainnya sedang tertahan di markas utama karena urusan audit jalur logistik pasca-insiden sambal ulek di Palmerah.

​"Alya, ma chérie, aku masih tidak habis pikir kenapa kita harus berjalan kaki menyusuri Champs-Élysées hanya untuk membawa... karbohidrat instan ini," ujar Etienne sambil melirik kantong plastik Alya dengan sudut mata di balik kacamata hitamnya. "Kita bisa menyuruh sopir untuk mengambilnya."

​"Ah, Bang Etienne nggak tahu nikmatnya sensasi berburu bahan pangan!" sahut Alya riang. "Kalau disuruh ambil sama sopir, sensasi dapet potongan harga dua puluh sen karena voucer kadaluwarsa ini nggak akan berasa di hati!"

​Etienne terkekeh, merangkul bahu mungil Alya dengan protektif. "Kau benar-benar tidak pernah berubah, bahkan setelah menjadi wanita paling berkuasa di bawah tanah Prancis."

​Namun, kemesraan sore itu mendadak buyar. Insting terlatih Etienne menangkap kejanggalan di tengah kerumunan. Dua ratus meter di belakang mereka, tiga orang pria bertubuh tegap dengan jaket penahan angin ( windbreaker ) berwarna abu-abu gelap melangkah dengan ritme yang terlalu cepat dan konstan. Tatapan mata mereka terkunci lurus pada punggung Alya.

​"Alya, jangan menengok ke belakang," bisik Etienne, suaranya mendadak turun beberapa oktav menjadi sangat dingin. Senyum ramahnya di depan publik tidak pudar, namun tangannya yang berada di pinggang Alya perlahan bergeser ke balik jaket kulitnya, menyentuh gagang pistol revolver berkaliber .38 miliknya.

​"Kenapa, Bang? Ada diskon dadakan?" tanya Alya polos.

​"Ada sisa-sisa klan Valois yang tampaknya belum kapok terkena siksaan cabai rawitmu. Mereka bergerak mendekat. Tiga orang, bersenjata ringan tersembunyi," lapor Etienne dengan ketenangan seorang sosiopat yang sudah terbiasa dengan maut. "Kita harus berbelok ke arah gang di dekat bioskop."

​Begitu mereka mempercepat langkah dan berbelok ke arah sebuah gang kecil yang memotong ke arah Rue de Ponthieu, ketiga pria abu-abu itu langsung ikut berlari. Kejar-kejaran di pusat mode dunia pun pecah secara dramatis.

​DOR!

​Satu tembakan peredam suara meletus dari arah belakang, menghantam dinding bata bangunan kuno di samping Alya hingga rontok menjadi serpihan debu.

​"HUAAA! MAK! MEREKA NEMBAK!" jerit Alya, langsung berlari sekencang mungkin dengan kaki mungilnya. Ajaibnya, di tengah kepanikan itu, tangan kanan Alya tetap mencengkeram erat kantong plastik berisi mi instan dan kecap manisnya seperti sedang memegang harta karun negara.

​"Tetap menunduk, Alya!" teriak Etienne. Dia berbalik badan dalam satu gerakan cepat, melepaskan dua tembakan balasan tanpa membidik lama. Tembakan pertama menghantam lutut salah satu pengejar hingga pria itu tumbang dan berguling di atas aspal gang yang kotor.

​Namun, dua pengejar lainnya tidak berhenti. Mereka adalah sisa tentara bayaran fanatik yang tidak peduli lagi dengan keselamatan diri demi membalas dendam atas runtuhnya martabat klan mereka di Palmerah.

​Mereka kembali keluar ke jalan utama yang ramai. Kerumunan turis di sekitar Champs-Élysées langsung berteriak histeris saat melihat Etienne berlari sambil memegang senjata api. Kekacauan massal terjadi. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri, menabrak meja-meja kafe outdoor hingga gelas-gelas kaca pecah berantakan.

​"Bang Etienne! Kita mau ke mana?! Napas saya udah mau abis nih!" keluh Alya, dadanya naik turun dengan cepat.

​"Ke arah bundaran Arc de Triomphe! Mobil tim evakuasi Marc sedang menuju ke sana!" jawab Etienne sambil menembak sekali lagi untuk menghalau musuh yang mencoba memotong jalur mereka lewat sela-sela bus wisata tingkat dua yang sedang berhenti di lampu merah.

​Di depan mereka, jalanan Champs-Élysées yang lebar dipenuhi oleh kemacetan mobil khas sore hari di Paris. Alya melihat sebuah skuter matik sewaan bermerek Vespa berwarna mint yang sedang terparkir di pinggir trotoar dengan kunci yang masih menggantung—tampaknya pemiliknya baru saja berlari ketakutan meninggalkan motornya saat mendengar suara keributan.

​"Bang Etienne! Pake itu!" menunjuk skuter matik tersebut.

​Tanpa pikir panjang, Etienne langsung melompat ke atas sadel skuter. "Naik, Alya! Cepat!"

​Alya langsung melompat duduk di boncengan belakang dengan posisi menyamping karena celana jinsnya agak ketat. "BENTAR, BANG! MI SOTO SAYA JANGAN SAMPAI KETINGGALAN!"

​Etienne menarik gas sedalam-dalamnya. Mesin skuter matik berkapasitas 150cc itu menjerit keras, membawa mereka melesat membelah trotoar Champs-Élysées, melewati sela-sela pot bunga raksasa dan kursi kafe yang berantakan.

​Di belakang mereka, dua pengejar sisa Valois ternyata tidak mau kalah. Mereka merampas dua sepeda motor sport milik kurir pengantar makanan yang sedang melintas dan langsung mengejar Etienne dengan kecepatan tinggi. Suara raungan mesin motor sport menggema di antara bangunan-bangunan mewah Paris.

​BRRRRRTTT!

​Rentetan tembakan dari senjata otomatis ringan ( submachine gun ) milik musuh menghujani bagian belakang skuter mereka. Kaca spion kiri skuter pecah berantakan, dan beberapa peluru menyerempet bodi besi Vespa mint tersebut hingga memercikkan bunga api.

​"Alya! Pegangan yang kuat! Aku akan mengambil jalur pintas!" teriah Etienne, melarikan skuternya menuruni tangga stasiun kereta bawah tanah ( Metro ) George V yang terbuka di pinggir jalan.

​"HUAAA! ABANG GILA! KITA MAU MASUK KE DALEM KRL PARISS?!" jerit Alya histeris, matanya terpejam erat sambil memeluk pinggang Etienne dengan kekuatan penuh, sementara kantong plastik belanjaannya berkibar-kibar di udara ditiup angin kencang.

​DUG! DUG! DUG! DUG!

​Skuter matik itu melompat-lompat menuruni puluhan anak tangga batu stasiun Metro. Guncangan yang luar biasa hebat membuat kerupuk udang mentah di dalam plastik Alya berbunyi gemerencing. Orang-orang di dalam stasiun yang sedang mengantre tiket langsung berhamburan menyelamatkan diri ke tepi dinding saat melihat sebuah skuter matik meluncur turun dari tangga seperti aksi akrobatik film Hollywood.

​Dua motor sport musuh ikut meluncur turun di belakang mereka dengan raungan mesin yang memekakkan telinga di dalam ruangan bawah tanah yang bergema.

​Etienne mengarahkan skuternya melompati palang pintu otomatis pengecekan tiket dengan memanfaatkan sebuah papan tripleks bekas proyek renovasi stasiun sebagai jembatan lompat darurat. Skuter mereka melayang setinggi satu meter sebelum mendarat dengan bunyi deburan keras di atas lantai marmer peron stasiun.

​"Marc! Aku berada di peron stasiun George V! Matikan jalur listrik rel sekarang juga! Aku akan melintasi jalur terowongan!" perintah Etienne melalui perangkat penyuara telinga ( earpiece ) nirkabelnya yang terhubung ke markas Aegis.

​Di ruang kendali penthouse, jemari Marc bergerak seperti kilatan cahaya di atas papan tiknya. "Jalur listrik rel stasiun George V hingga Charles de Gaulle-Étoile dimatikan dalam tiga... dua... satu. Kau punya waktu empat menit sebelum sistem otomatis kereta cadangan menyala kembali, Etienne."

​Etienne langsung membelokkan skuternya turun dari peron, masuk ke dalam kegelapan terowongan rel kereta bawah tanah yang pengap dan gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu depan skuter mereka yang temaram.

​Dua motor musuh ikut masuk ke dalam terowongan. Suara tembakan kembali menyalak di dalam kegelapan terowongan yang sempit, memantul dari dinding beton dan menciptakan gaung yang memekakkan telinga.

​"Alya! Ambil sesuatu dari belanjamu yang bisa mengalihkan perhatian mereka!" teriak Etienne sambil terus bermanuver menghindari bantalan rel besi di bawah roda skuternya.

​Alya membuka kantong plastiknya dengan panik. Mi instan soto ayam? Sayang, buat makan malam. Kerupuk udang? Terlalu ringan, nggak akan ngefek. Pandangan mata Alya jatuh pada tiga botol kecap manis berukuran besar yang terbuat dari bahan plastik tebal namun isinya sangat kental dan hitam pekat.

​"Rasakan ini, penjahat tidak tahu adat!" seru Alya.

​Alya membuka tutup botol kecap manis itu dengan giginya, lalu sambil berbalik badan di boncengan, dia memeras botol kecap itu sekuat tenaga ke arah belakang, mengarahkannya tepat ke arah lampu depan dan kaca helm pelindung wajah ( visor ) pengendara motor sport musuh yang berada paling dekat di belakang mereka.

​CROT! CROT! CROT!

​Cairan hitam, kental, dan sangat lengket dari kecap manis asli Indonesia itu menyemprot keluar dalam jumlah banyak, menghantam tepat pada kaca helm dan lampu depan motor musuh. Dalam sekejap, pandangan pengendara musuh menjadi gelap gulita total karena tertutup lapisan kecap yang tebal dan tidak bisa hilang hanya dengan sapuan tangan.

​" Qu'est-ce que c'est?! (Apa ini?!) Manis sekali?!" jerit pria itu panik saat cairan kecap itu mulai masuk ke sela-sela ventilasi helmnya dan mengenai mulutnya. Karena kehilangan arah pandang di dalam terowongan gelap, motor sportnya menabrak dinding beton terowongan dengan kecepatan tinggi.

​BOOM!

​Motor tersebut meledak dalam kobaran api, menutup jalur bagi satu pengendara musuh tersisa di belakangnya.

​"YESS! KECAP MANIS DILAWAN!" teriak Alya kegirangan, mengangkat botol kecapnya tinggi-tinggi seperti piala kemenangan.

​Etienne melihat cahaya terang di ujung terowongan—itu adalah jalan keluar menuju stasiun berikutnya, Charles de Gaulle-Étoile yang berada tepat di bawah monumen Arc de Triomphe. Etienne memacu skuternya naik kembali ke peron stasiun yang kosong, lalu melesat naik melalui jalur tangga keluar darurat hingga kembali ke permukaan jalan.

​Begitu mereka keluar dari pintu stasiun di sekitar bundaran besar Arc de Triomphe, tiga mobil limosin hitam antipeluru milik klan De Calvi sudah berdiri berjejer membentuk barikade pertahanan yang kokoh. Lucien dan Julien sudah berdiri di luar mobil dengan senjata lengkap, sementara puluhan anak buah klan langsung mengamankan area sekitar.

​Etienne mengerem skuternya dengan tajam di depan Lucien, meninggalkan bekas gesekan ban hitam di atas aspal.

​"Kalian terlambat dua menit," ketus Etienne sambil melepas kacamata hitamnya, meski napasnya juga ikut terengah-engah.

​Lucien tidak membalas gurauan Etienne. Dia langsung berjalan mendekati Alya, mengangkat tubuh istri mungilnya itu dari atas skuter dan memeluknya dengan sangat erat, memastikan tidak ada satu pun peluru yang mengenai tubuh Alya. "Kau aman, Alya. Kau aman bersama kami."

​Julien mendekati skuter, menatap sisa satu botol kecap di tangan Alya yang sudah bolong karena remasan kuat, lalu melirik ke arah terowongan stasiun yang mengeluarkan asap hitam di kejauhan. "Laporan dari tim pembersih bawah tanah... satu musuh lumpuh karena... modifikasi cairan kental hitam tradisional?"

​Marc suara terdengar dari earpiece mereka semua. "Itu adalah kecap manis dengan tingkat viskositas tinggi yang berhasil merusak visibilitas mekanis dan organik musuh dalam waktu kurang dari tiga detik. Analisis taktis yang sangat mengagumkan, Alya."

​Alya yang sudah lemas akhirnya bersandar di dada bidang Lucien sambil tetap memeluk kantong plastiknya yang kini sudah compang-camping. "Bang Lucien... mi soto saya selamat semua, tapi kecapnya sisa dua botol. Besok-besok kalau belanja lagi, kita pake tank baja aja ya, capek saya kalau harus main balapan Vespa bawah tanah begini terus."

​Lucien tersenyum tipis, mengecup kening Alya yang penuh keringat dengan kelembutan yang dalam. "Besok, aku akan membeli seluruh saham toko grosir Asia itu dan memindahkan seluruh isinya ke dalam gudang apartemen kita, agar kau tidak perlu keluar rumah hanya untuk membeli cairan hitam mematikan ini lagi."

​Etienne tertawa lebar, merangkul bahu Julien dan Lucien bersamaan saat mereka berjalan masuk ke dalam mobil limosin yang aman. "Tapi harus kuakui, mendengarkan musuh berteriak tentang rasa manis di tengah terowongan maut adalah hiburan terbaik yang pernah kupunya sepanjang tahun ini."

​Dan di dalam mobil mewah yang melaju meninggalkan kawasan Arc de Triomphe yang riuh oleh sirine polisi Paris, Alya Putri menyadari satu hal penting: Paris mungkin adalah kota penuh romansa bagi orang biasa, namun bagi dirinya dan empat suami kembarnya, setiap sudut kota ini adalah papan permainan taktis di mana sebotol kecap manis pun bisa berubah menjadi senjata pemusnah massal yang menyelamatkan nyawa klan mereka.

​"Bang Etienne," panggil Alya saat mobil mulai berjalan.

​"Ya, ma chérie?"

​"Nanti di rumah, Abang yang harus cuci sisa kecap di jaket saya ya. Lengket banget nih."

​Etienne hanya bisa menghela napas pasrah diiringi tawa renyah dari ketiga saudara kembarnya yang lain. "Baiklah, permaisuriku. Apapun demi mi soto ayam malam ini."

1
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!