NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Tetua kedisiplinan

Pintu raksasa itu terbuka dengan sendirinya tanpa ada yang menyentuh. Di dalam ruangan yang remang-remang dan dipenuhi aroma dupa pemurnian, duduk seorang pria tua berjubah putih bersih.

Rambut dan janggutnya yang panjang memutih sempurna, memancarkan wibawa dari seorang Tetua Kedisiplinan.

​"Aku baru saja menerima laporan mengenai keributan yang kalian buat di pelataran murid luar," ucap sang Tetua, matanya yang tajam menatap lurus ke arah mereka berdua. "Awalnya, aturan sekte mengharuskan hukuman cambuk energi bagi siapa saja yang bertarung secara ilegal... tetapi, khusus untuk hari ini, karena kau, Xiao Chen..."

​Xiao Chen menahan napasnya, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. "S-saya, Tetua...?"

​"Benar, kau. Mengingat kau baru saja pulih dari koma setelah menghadapi tragedi mengerikan di lembah, dan karena aku tidak mungkin hanya menghukum salah satu pihak tanpa menimbulkan ketidakadilan... aku memutuskan untuk memberikan kelonggaran," Tetua Kedisiplinan mengetukkan jarinya ke meja kayu. "Hukuman kalian adalah pengurangan jatah batu spiritual dan sumber daya kultivasi selama sepekan penuh. Inilah keputusan akhirku. Pergilah, dan jangan pernah mengulangi kebodohan ini lagi."

​Feng Lin yang mendengar keputusan tersebut bernapas lega. Pengurangan sumber daya selama sepekan sama sekali bukan masalah besar bagi pemuda kaya sepertinya.

Ia segera menyunggingkan senyum dingin, membungkuk hormat dengan gestur yang dibuat-buat. "Terima kasih atas kebaikan dan kebijaksanaan Anda, Tetua."

​Namun, saat ia berbalik untuk berjalan keluar, tatapan matanya yang melirik ke arah Xiao Chen kini telah sepenuhnya dipenuhi oleh niat membunuh yang pekat dan tidak lagi disembunyikan. Hubungan mereka telah mencapai titik di mana salah satu dari mereka harus hancur.

​Setelah Feng Lin pergi dengan langkah kaki yang dihentak kesal, Xiao Chen berjalan keluar dari Aula Disiplin dengan pikiran yang berkecamuk.

Namun, langkahnya terhenti saat melihat sesosok pemuda akrab sedang duduk santai di anak tangga luar aula sambil mengunyah sebuah buah liar.

​"Masalah baru apa lagi yang kau buat sampai-sampai harus diseret ke Aula Disiplin tepat setelah beberapa hari bangun dari koma? Kau benar-benar magnet masalah, ya, Xiao Chen."

​Itu adalah Gu Tian. Setelah beberapa hari tidak sadarkan diri, akhirnya ia bisa berjalan keluar dari ruang pengobatan.

Jubah hitamnya tampak agak longgar, dan di balik kerahnya, balutan perban hitam yang tebal masih melilit seluruh punggungnya yang terluka parah.

​Xiao Chen berjalan mendekat, lalu ikut mendudukkan dirinya di anak tangga batu yang dingin, tepat di sebelah Gu Tian. "Dia yang memulai duluan... menghina mereka yang tidak kembali dari lembah."

​Suasana mendadak hening sejenak, hanya menyisakan suara rintik gerimis yang membasahi dedaunan.

Xiao Chen menundukkan kepalanya, meremas jemarinya sendiri dengan perasaan bersalah yang amat dalam. "...Oh, iya. Gu Tian... maafkan aku. Pembunuh bayaran itu... Yan Shou... target utamanya sebenarnya adalah aku. Karena keberadaanku, kau dan yang lainnya harus terseret ke dalam neraka itu dan terluka parah."

​Gu Tian sempat tertegun, namun sedetik kemudian ia justru terkekeh pelan, menepuk bahu Xiao Chen dengan tangan kanannya yang bebas. "Ha! Untuk apa juga kau meminta maaf, Xiao Chen? Tidak ada yang perlu dimaafkan. Hidup di dunia kultivasi ini berarti siap menghadapi bahaya kapan saja. Lagipula, ini semua sudah terjadi, bukan? Yang penting kita masih bisa bernapas hari ini."

​"Kau benar..." bisik Xiao Chen.

​Gu Tian kemudian bangkit berdiri dari anak tangga, menghentakkan kakinya seolah mencoba menguji kekuatan tubuhnya sendiri. Ia meraih hulu pedang retak yang kini kembali tergantung di pinggangnya.

​"Sebenarnya... saat pertarungan malam itu, aku sempat tersadar dalam sekejap," Gu Tian menatap bilah pedangnya yang penuh dengan garis retakan esensial. "Aku tahu kau menggunakan teknik yang hampir mirip denganku. Dan aku juga tahu... kau memiliki pedang yang energinya sangat mirip dengan milikku, meski aku tidak tahu di mana kau menyembunyikannya selama ini."

​Xiao Chen terdiam, tidak membenarkan maupun membantah. Ia tahu Gu Tian sedang membicarakan tentang resonansi Pedang Iblis Surgawi.

​"Pedang tua milikku ini..."

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!