"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Sang Pangeran
Pangeran Agung masih berlutut di atas lantai marmer yang dingin.
Tubuhnya gemetaran hebat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Jubah kerajaannya yang berhiaskan benang emas mewah kini menyapu debu dan puing sisa hancurnya ubin istana.
Bau pesing perlahan merebak di sekitar tempatnya bersimpuh.
Keangkuhan seorang penguasa bayangan yang kemarin begitu diagungkan di wilayah Jakarta, runtuh total dalam satu kedipan mata.
Ling Chen melangkah maju dengan sangat santai.
Setiap ketukan langkah kakinya terdengar seperti hitungan mundur kematian di telinga sang pangeran.
Ujung sepatu hitam Ling Chen berhenti tepat beberapa senti di depan wajah Pangeran Agung yang sedang menunduk dalam.
"Jadi, Pangeran Agung," panggil Ling Chen dengan nada suara yang sangat tenang.
"Di mana keberanian yang kamu pamerkan lewat pasukan zirah emasmu tadi?" tanya Ling Chen sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan.
Pangeran Agung mendongak perlahan dengan sisa tenaganya.
Air mata, keringat dingin, dan debu bercampur aduk di wajahnya yang kini sekotor tanah.
"Am-ampun... Tuan Muda Ling..." ratap Pangeran Agung dengan suara yang serak.
"Hamba mengaku salah! Hamba beneran buta karena tidak mengenali gunung tinggi!" lanjutnya dengan ratapan yang makin menjadi-jadi.
"Hamba beneran tidak tahu kalau Tuan Muda adalah seorang master besar yang sedang menyamar di kota ini..."
"Tolong ampuni nyawa anjing hamba ini, Tuan Muda Ling!" mohonnya sambil bersujud sampai jidatnya membentur lantai marmer berkali-kali.
TOK! TOK! TOK!
Suara benturan kepalanya di atas marmer terdengar sangat jelas di halaman istana yang mendadak sunyi senyap itu.
Mu Rong'er perlahan keluar dari dalam kereta kuda hitam.
Dia berjalan mendekat dengan langkah kaki yang anggun sambil tetap menggendong Kuro di pelukannya.
Gadis itu menatap jijik ke arah sang Pangeran Agung yang sedang bersujud di tanah.
"Tuan Muda Ling, lihat orang ini," celetuk Mu Rong'er sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kemarin dia mengirim satu peleton prajurit cuma buat mendobrak pintu penginapan kita dengan sombongnya," lanjut Mu Rong'er dengan nada mengejek.
"Sekarang setelah semua singa tuanya mati, dia malah menangis seperti anak kecil yang kehilangan jajanannya," sindir Mu Rong'er tajam.
"Kyuu~!" Kuro ikut menyahut pendek dari atas pelukan, seolah-olah mengiyakan ejekan dari Mu Rong'er.
Ling Chen menarik napas pendek, lalu menyarungkan kembali pedang hitam karatnya dengan bunyi klik yang rapi.
"Pangeran," ucap Ling Chen pendek.
Mendengar suara itu, Pangeran Agung langsung menghentikan aksi sujudnya.
Dia menatap wajah Ling Chen dengan pandangan penuh harap, seolah sedang meminta belas kasihan dari dewa.
"Aku bukan orang yang suka membantai tanpa alasan yang jelas," kata Ling Chen dengan pandangan mata yang hambar.
"Tadi aku sudah bilang di depan gerbang, kan?"
"Kedatanganku ke sini cuma untuk menagih ganti rugi," lanjut Ling Chen mengingatkan kembali tujuan awalnya.
"Ganti rugi pintu kamarku yang rusak, dan ganti rugi karena kalian sudah mengganggu waktu sarapan pagiku," urai Ling Chen dengan sangat detail.
Pangeran Agung melongo sesaat di atas tanah.
Otaknya yang sedang panik berusaha keras mencerna omongan Ling Chen yang kelewat santai itu.
"Ga-ganti rugi?"
"Iya! Hamba pasti bayar! Hamba punya segalanya, Tuan Muda!" seru Pangeran Agung dengan mata berbinar-binar.
Dia melihat secercah cahaya di ujung kegelapan yang sedang mengancam nyawanya.
"Hamba punya ribuan batangan emas murni di dalam gudang bawah tanah istana ini!" lanjut sang pangeran dengan cepat.
"Hamba juga punya ratusan batu roh tingkat murni yang didapatkan dari wilayah Jombang minggu lalu!" tawar Pangeran Agung dengan panik.
"Ambil saja semuanya, Tuan Muda! Hamba ikhlas menyerahkannya!" ratapnya lagi agar Ling Chen tidak berubah pikiran.
Pangeran Agung rela kehilangan seluruh kekayaan yang dia kumpulkan bertahun-tahun, asal kepalanya tetap menempel dengan aman di lehernya hari ini.
Ling Chen tersenyum tipis melihat kepasrahan sang penguasa distrik tersebut.
Namun, senyuman itu justru membuat bulu kuduk Pangeran Agung kembali meremang kaku.
"Emas dan batu roh fana milikmu itu memang harus diserahkan," kata Ling Chen dengan nada dingin.
"Tapi, perlu kamu ingat, itu baru ganti rugi untuk urusan pintu kamar penginapanku yang rusak," lanjut Ling Chen yang membuat jantung Pangeran Agung kembali berdegup kencang.
Pangeran Agung menelan ludahnya yang terasa sangat pahit.
"L-lalu... untuk urusan sarapan pagi Anda yang terganggu..."
"Apa lagi yang Tuan Muda inginkan dari hamba yang hina ini?" tanya Pangeran Agung dengan bibir yang kembali bergetar ketakutan.
Ling Chen menatap lurus ke dalam bola mata sang pangeran.
Kilatan biru safir di matanya mendadak menyala dengan sangat mistis dan menekan.
"Sederhana saja," bisik Ling Chen pelan namun penuh dengan penekanan yang mematikan.
"Serahkan Giok Jiwa Sembilan Langit yang kamu sembunyikan di dalam ruang rahasia istanamu sekarang juga."
"Atau, tempat ini akan beneran berubah jadi lautan darah tanpa sisa," ancam Ling Chen tanpa keraguan.
Mendengar nama benda tersebut disebut oleh mulut Ling Chen, wajah Pangeran Agung langsung berubah menjadi abu-abu.
Tubuhnya mendadak kaku bagaikan patung batu di tengah halaman.
Dia menatap Ling Chen dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang teramat sangat.
"Gi-Giok Jiwa Sembilan Langit?"
"Ba-bagaimana bisa Tuan Muda tahu tentang benda itu?!" bisik Pangeran Agung dengan suara yang mendadak lemas tak bertenaga.
Benda itu adalah rahasia paling terlarang yang dia sembunyikan bersama klan-klan teratas dari Benua Tengah.
Sebuah rahasia besar yang bahkan kaisar utama dari kekaisaran ini pun tidak mengetahuinya sama sekali.
"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkan informasinya," jawab Ling Chen sambil kembali memegang gagang pedang hitamnya.
"Pilihanmu cuma dua, Pangeran."
"Serahkan benda itu secara sukarela sekarang juga."
"Atau aku sendiri yang akan berjalan masuk dan mengambilnya dari dalam jasadmu yang sudah dingin," tegas Ling Chen tanpa negosiasi lagi.
Mu Rong'er yang berdiri di samping Ling Chen langsung menahan napasnya dalam-dalam.
Matanya menatap tajam ke arah Pangeran Agung dengan penuh kilatan dendam yang sudah lama dia pendam.
Benda yang disebut oleh Ling Chen itu adalah kunci dari segala petaka yang menimpa keluarganya selama ini.
Dan hari ini, di halaman istana ini, misteri besar itu akhirnya berada tepat di depan matanya.
"Pangeran, sebaiknya kamu cepat serahkan sebelum Tuan Muda Ling kehilangan kesabarannya," ancam Mu Rong'er ikut menekan.
Pangeran Agung menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Napasnya memburu kencang seolah sedang bertarung dengan batin dan logikanya sendiri.
Jika dia menyerahkan giok itu pada Ling Chen, klan besar dari Benua Tengah pasti tidak akan melepaskannya begitu saja saat mereka tahu.
Tapi jika dia tidak menyerahkannya sekarang, pemuda berbaju naga hitam di depannya ini bakal mencabut nyawanya dalam hitungan detik.
"Bagaimana? Waktumu sudah habis, Pangeran," ucap Ling Chen sambil perlahan menarik bilah pedang hitamnya keluar beberapa senti.
SREK...
Suara gesekan besi karatan itu terdengar bagai lonceng kematian yang berbunyi di telinga sang pangeran.
"Baik... baik, Tuan Muda! Hamba menyerah! Hamba akan serahkan giok itu!" teriak Pangeran Agung akhirnya pasrah kalah oleh rasa takutnya sendiri.
"Hamba akan bawa Anda ke ruang rahasia bawah tanah itu sekarang juga..." ucap Pangeran Agung sambil mencoba berdiri dengan kaki yang masih lemas.
Dia tahu, tidak ada gunanya mempertahankan harta jika nyawanya sendiri sudah berada di ujung tanduk pedang milik sang monster berbaju hitam ini.
Ling Chen tersenyum puas, lalu mendorong kembali bilah pedangnya ke dalam sarung.
"Bagus. Keputusan yang sangat bijaksana, Pangeran," ucap Ling Chen dengan nada yang kembali santai.
"Mu Rong'er, ayo ikut. Kita lihat mainan apa yang sebenarnya disembunyikan oleh tikus-tikus kerajaan ini," ajak Ling Chen sambil melangkah mengikuti arah jalan Pangeran Agung yang berjalan tertatih-tatih di depan mereka.