NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Mahendra melangkah lebar membelah area food court, mengabaikan tatapan mata puluhan pengunjung yang terpesona oleh karisma matangnya.

Di belakangnya, dua pengawal pribadi berjalan tegap sembari menjinjing tumpukan paper bag mewah dari butik tadi.

Begitu netra tajamnya menangkap sosok Luna yang sedang cemberut di sudut meja, seulas senyum tipis yang sarat akan kegemasan terbit di bibir sang konglomerat.

Pria berusia setengah abad itu menarik kursi di hadapan Luna, lalu duduk dengan gerak tubuh yang sangat elegan.

Ia melambaikan tangan, memberi isyarat agar para pengawalnya menaruh barang belanjaan di kursi kosong sebelah mereka dan menjaga jarak aman.

"Sedang cemburu, hm?" tanya Mahendra lagi, mengulang kalimatnya di butik tadi dengan nada bariton yang rendah dan begitu menggoda.

Luna mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata tajam suaminya.

Gengsi tinggi seorang wanita yang sedang merajuk seketika mengambil alih akal sehatnya.

Ia melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.

"Cemburu? Untuk apa?" tembak Luna ketus.

"Bukankah Mas memang seorang Don Juan? Semua orang di negeri ini juga tahu reputasi Mas Mahendra Dirgantara dengan para wanita sosialita itu."

Mendengar sindiran telak dari istri kecilnya, Mahendra justru terkekeh rendah.

Dada bidangnya yang terbalut jas mahal itu naik turun, menikmati setiap letupan emosi Luna yang baginya justru terlihat sangat manis.

“Ini pesanannya, Nyonya. Silakan dinikmati,” ucap seorang pelayan food court yang tiba-tiba datang memecah ketegangan, meletakkan sepiring mie goreng Singapore yang masih berasap harum berpadu dengan segelas besar es jeruk manis di atas meja.

"Terima kasih, Mbak," ujar Luna, wajahnya seketika melembut pada pelayan, namun kembali berubah judes begitu menatap suaminya lagi.

Luna menyambar garpu dan sendoknya. Sebelum mulai menyuap mie hangat itu ke dalam mulutnya, ia melirik Mahendra yang masih terus menatapnya dengan pandangan intens yang mengunci.

"Mas, kalau lapar, pesan sendiri saja. Jangan melihatku seperti itu," usir Luna

Ia mulai mengunyah makanannya dengan khidmat, mengabaikan status suaminya sebagai salah satu titan bisnis paling ditakuti.

Melihat istrinya yang benar-benar sedang merajuk dan enggan berbagi makanan, Mahendra tidak kehilangan akal.

Sifat kompetitifnya yang biasa ia gunakan di papan atas bisnis mendadak muncul dalam urusan domestik.

Ia tidak mau kalah, apalagi diabaikan oleh Luna.

Mahendra menegakkan tubuhnya, lalu memanggil pelayan yang baru saja berbalik dari meja mereka.

"Mbak, tolong buatkan saya menu yang persis sama dengan yang dipesan oleh istri saya. Mie goreng Singapore dan es jeruk manis. Sekarang," titah Mahendra dengan wibawa mutlak yang tak bisa ditolak.

"B-baik, Tuan Besar! Segera saya buatkan!" sahut pelayan itu terbata-bata.

Ia terkejut karena seorang miliarder setingkat Mahendra Dirgantara sudi memesan makanan merakyat di area food court.

Luna yang sedang mengunyah makanan seketika menghentikan gerakannya.

Ia melirik suaminya dari balik bulu matanya yang lentik, menahan senyum yang nyaris pecah melihat tingkah Mahendra yang rela menurunkan gengsinya demi menyamakan diri dengan menunya.

Keheningan yang dingin mendadak turun menyelimuti meja sudut food court itu, tepat setelah pesanan mie goreng Singapore milik Mahendra disajikan.

Aroma gurih bumbu kari yang menguar dari piring kedua pria itu sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer yang tiba-tiba membeku.

Mahendra mematikan layar ponselnya, meletakkannya di atas meja, lalu menatap Luna dengan pandangan matang yang dalam.

"Besok Minggu aku ada turnamen golf di Bandung dengan klienku. Apakah kamu mau ikut, Sayang?" tanya Mahendra.

Luna yang masih mengunyah, langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat tanpa ragu.

"Tidak, Mas. Aku tidak mau ikut," tolak Luna ketus. Ia meletakkan garpunya dengan sedikit ketukan pada piring.

"Aku tidak mau membuat fans-fans wanitamu di luar sana pingsan semuanya karena melihat istri dari seorang Mahendra Dirgantara ternyata hanya anak muda usia dua puluh lima tahun. Lebih baik aku tidur di rumah seharian."

Mendengar rentetan kalimat merajuk itu, sudut bibir Mahendra kembali terangkat tipis.

Kilat jenaka melintas di sepasang mata tajam sang Titan Bisnis.

Ia memajukan sedikit tubuh tegapnya, menumpu kedua tangan di atas meja.

"Jadi, sekarang istriku memang sedang cemburu dengan kedua wanita di butik tadi, hm?" goda Mahendra dengan nada suara seksi yang sengaja ditekan, sangat menikmati gurat kesal di wajah cantik Luna.

Merasa terus dipojokkan dan digoda, ego dan kekesalan Luna yang menumpuk sejak kejadian di kantor Dika hingga butik tadi akhirnya lepas kendali.

"Aduh, amit-amit, Mas! Untuk apa aku cemburu?" tembak Luna dengan nada sinis yang meninggi.

"Mereka itu bukan levelku. Dan lagian, mereka kan memang sukanya sama yang tua-tua seperti Mas!"

Deg!

Kata-kata itu meluncur begitu lancar, memantul di antara riuh rendah suara food court.

Detik itu juga, Luna langsung terdiam. Ia membeku di tempatnya duduk.

Jemarinya yang memegang gelas es jeruk mendadak kaku.

Kesadaran menyengat benaknya laksana cambukan keras.

Luna merutuki kebodohan mulutnya sendiri. Kalimatnya barusan bukan lagi sekadar candaan atau rajukan manja seorang istri, melainkan sebuah hantaman telak yang menyerang harga diri, usia, dan kedudukan Mahendra sebagai seorang kepala keluarga.

Luna mendongak perlahan dengan tatapan bersalah. Dan benar saja, raut wajah Mahendra langsung berubah total.

Tidak ada lagi kilat jenaka di sepasang mata tajam sang Don Juan.

Tidak ada lagi senyuman miring yang penuh pesona menggoda.

Wajah matang berusia setengah abad itu seketika mengeras laksana pahatan batu granit.

Sorot matanya berubah menjadi sedingin es, kosong, dan memancarkan aura otoritas yang luar biasa pekat sekaligus mengintimidasi.

Mahendra tidak memaki, tidak juga menggebrak meja. Namun, diamnya sang penguasa Dirgantara Holdings justru jauh lebih mengerikan daripada badai mengamuk, menegaskan bahwa ada batas sensitif yang baru saja dilewati oleh kelancangan Luna.

Atmosfer di meja sudut food court itu seketika merosot hingga ke titik beku.

Riuh rendah suara pengunjung mall di sekitar mereka mendadak terdengar samar, tergantikan oleh debaran jantung Luna yang kian berkejaran karena didera rasa bersalah.

Mahendra menatap Luna selama beberapa detik dalam keheningan yang mencekam.

Tidak ada ledakan amarah, tidak ada kata-kata kasar. Namun, justru diamnya sang Titan Bisnis jauh lebih menyiksa daripada makian.

Pria berusia setengah abad itu perlahan meletakkan kembali sendok dan garpunya yang bahkan belum sempat menyentuh mie goreng Singapore pesanannya.

Tanpa suara, Mahendra bangkit berdiri. Tubuh tegapnya yang menjulang tinggi seketika memancarkan aura dingin yang luar biasa pekat.

Ia merapikan kancing jas mewahnya dengan gerakan lambat yang penuh wibawa, lalu melirik ke arah dua pengawal pribadinya yang berjaga di kejauhan.

Tanpa sepatah kata pun, Mahendra mengulurkan tangannya ke hadapan Luna.

Bukan untuk menggenggam dengan hangat seperti biasanya, melainkan sebuah isyarat mutlak agar istrinya bangkit dan mengikuti langkahnya sekarang juga.

Luna menelan salivanya dengan susah payah. Dengan kepala tertunduk dalam dan jemari yang gemetar, ia menyambut uluran tangan itu.

Mahendra menuntunnya keluar dari area food court, melangkah lebar membelah mall menuju pelataran valet dalam keheningan mutlak yang menyiksa.

Sepanjang perjalanan membelah jalanan ibu kota yang mulai merayap padat, kabut sunyi di dalam kabin Rolls-Royce Phantom itu terasa begitu menekan.

Mahendra duduk tegap di sisi kanan, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Luna di sampingnya.

Pandangan mata tajam pria matang itu lurus tertuju pada layar tablet kerja di pangkuannya.

Jemari kekarnya bergerak konstan memeriksa laporan saham dan surel perusahaan, seolah-olah mengurung diri dalam benteng profesionalisme yang tak tertembus.

Tidak ada lagi genggaman tangan hangat yang biasanya menyalurkan rasa aman di paha Luna.

Tidak ada lagi usapan lembut yang memanjakan. Jarak beberapa sentimeter di antara mereka di atas jok kulit mewah itu terasa laksana bentangan samudra yang luas.

Luna meremas pinggiran blus kerjanya di bawah meja kecil kabin mobil.

Air mata penyesalan perlahan mulai menggenang di pelupuk mata beningnya, namun ia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh. Dada Luna didera rasa bersalah yang teramat sangat.

“Kenapa mulutku lancang sekali tadi?” ratap Luna di dalam hati, merutuki kebodohannya.

Ia menatap profil samping wajah suaminya dari balik remang cahaya lampu jalanan yang menerobos kaca mobil.

Rahang tegas Mahendra yang mengeras rapat membuktikan bahwa harga diri pria itu telah terluka dalam.

Luna mendadak didera ketakutan yang luar biasa. Ia takut jika kalimat sinisnya tentang usia telah menghancurkan rasa hormat dan martabat pria paruh baya yang dengan jantannya telah menyelamatkan kehormatannya di hari pernikahan yang gagal itu.

Pria yang selama dua hari ini selalu memasang badan dan meratukan nya di depan semua orang, kini telah berubah menjadi asing dan sedingin es akibat kelancangannya sendiri.

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!