"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Mirasih
"Mau mana sudah malam seperti ini?" Bu Narti menegur sang anak yang sedang bersiap.
"Aku mau melihat organ tunggal, Bu." Mirasih menjawab sambil membalur wajahnya dengan bedak.
"Jangan pulang terlalu malam karena itu tidak bagus untuk seorang gadis." pesan Bu Narti kepada sang anak.
"Paling lama nanti sekitar pukul dua belas, sebab kalau sudah jam segitu baru terasa ramai dan banyak anak muda yang berjoget di sana." Mirasih menatap Bu Narti dengan mata sayu.
"Itu tidak pantas untuk seorang gadis bila keluar dan pulang di jam segitu, Ibu tidak akan mengizinkan Kau pergi." Bu Narti jadi emosi kepada sang anak.
Mirasih menjadi tambah kesal saja karena dia merasa terkekang dan tidak di berikan kebebasan sama sekali, padahal banyak gadis lain yang tetap bisa pulang atau bahkan mereka memilih untuk tidak pulang ke rumah bila sedang ada hiburan seperti itu di desa mereka, sedangkan dia untuk pulang sekitar jam dua belas saja sudah tidak boleh.
Kalau mendapat larangan seperti ini maka hati Mirasih kian merasa kesal saja kepada Bu Narti, mereka adalah orang yang tidak berpunya dan kadang juga mendapat hinaan dari beberapa warga karena hidup yang begitu sengsara dan kadang untuk makan begitu sulit sekali sehingga Mirasih harus mau bekerja sebagai pembantu.
Jadi gadis ini merasa dia perlu untuk keluar malam untuk menghibur pikiran dan tidak terlalu stres memikirkan semua masalah ini, namun Bu Narti malah tidak mengizinkan dia pulang malam, sebab menurut orang tua itu jelas gadis akan di pandang hina bila memiliki kebiasaan untuk pulang malam seperti itu saat sedang ada hiburan.
Anak orang lain mungkin tidak akan masalah karena tidak ada yang membicarakan kelakuan mereka semua, justru yang miskin seperti Mirasih ini akan terus di perbincangkan karena mereka menganggap bahwa gadis itu tidak tahu diri dan tidak sadar bahwa mereka adalah orang susah tapi tetap saja banyak tingkah.
Namun kadang Mirasih ini yang membuat Narti menjadi bingung sendiri Karena dia sudah berusaha untuk memberi peringatan, namun sang anak tetap saja keras kepala dan bila ada kegiatan seperti sekarang maka dia ingin selalu ikut, tidak mungkin juga keluar dari rumah tanpa membawa uang karena pasti ingin membeli sesuatu.
Narti memang golongan orang yang sangat tidak punya sehingga kadangkala untuk makan saja mereka sangat susah sekali, harus menjadi buruh cuci atau kadang juga menanam padi di sawah, dengan begitu maka mereka baru memiliki uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan bahkan juga untuk membeli baju untuk Mirasih itu.
Mirasih adalah anak gadis sehingga wajar saja bila dia harus membeli baju untuk menarik perhatian dari lawan jenis, beda dengan Narti yang bahkan kadang menerima baju pemberian dari orang lain yang bisa dikatakan sudah tidak layak pakai, namun untuk ganti maka dia tetap menerima itu semua dengan hati yang lapang tanpa ada rasa kecewa.
"Aku minta uang untuk beli makan saja tidak, Ibu harusnya bersyukur karena aku tidak pernah merepotkan untuk hal itu." Mirasih berkata sambil menyambar tas.
"Lalu dari mana kamu mendapatkan uang?" Narti segera mengejar sang anak.
"Ibu tidak usah mau tahu aku dapat uang dari mana, tapi yang jelas aku bisa mencari uang sendiri." seru Mirasih.
"Jangan kamu pikir Ibu tidak tahu bahwa kamu mengambil uang dari Jarwo." Narti langsung emosi karena dia mengetahui bahwa sang anak telah memiliki hubungan dengan seorang pria.
"Lalu memangnya kenapa bila Mas Jarwo memberi aku uang itu? Dia memberi aku dengan ikhlas dan tidak pernah mengungkit seperti Ibu!" Mirasih berkata dengan sangat kasar.
Narti yang mendengar ucapan itu tentu saja hanya bisa terdiam karena sang anak telah berani membantah dengan ucapan yang sangat kasar, selama ini dia terus saja berusaha untuk menasehati agar Mirasih tidak bersikap demikian dan bahkan jangan sampai menerima uang dari seorang pria.
Namun itu semua sama sekali tidak didengar oleh Mirasih karena dia merasa Jarwo lebih mampu memberi nafkah, padahal Narti hanya cemas bila nanti Jarwo akan memiliki keinginan lain terhadap Mirasih karena dia merasa telah memberikan banyak uang untuk gadis itu, tidak ada laki-laki yang masih pacaran tapi dengan ikhlas memberikan uang.
"Kenapa lagi to, Buk?" Hamdan keluar dari dalam kamar sambil membungkuk dan wajah yang sangat pucat.
"Mirasih ingin pergi nonton organ tunggal." ujar Narti pelan.
"Ya tidak masalah karena dia juga anak muda sehingga wajar bila ingin mencari hiburan." Hamdan berkata dengan suara yang sangat pelan.
"Aku tidak melarang bila dia memang ingin pergi menonton, tapi setidaknya harus tahu waktu dan pulang pun jangan terlalu malam." Narti berkata dengan suara begitu iba.
"Apa Mirasih membuat hati kamu terluka?" Hamdan bertanya dengan sangat lembut karena dia mengetahui bahwa Narti telah bersedih.
"Tidak, dia pasti hanya kecewa saja karena memiliki orang tua seperti aku." ujar Narti sambil mengusap air mata yang meluncur.
Sebagai orang tua maka dia merasa sangat gagal karena tidak bisa memenuhi kebutuhan sang anak dari ujung kepala hingga ujung kuku, malah sekarang yang ada Mirasih justru bergantung kepada Jarwo karena merasa pria itu lebih bisa memberikan dia banyak uang dan hidup terjamin.
"Bila kamu sedang merasa enak maka tolonglah nasehati Mirasih agar jangan terlalu dekat dengan Jarwo." Narti berkata kepada sang suami.
"Apa hubungan mereka semakin dekat saja sekarang?" tanya Hamdan.
"Benar, bahkan Mirasih sendiri yang mengatakan bahwa Jarwo selalu memberi dia uang." Narti mengangguk pelan.
Hamdan terdiam juga karena dia sebagai seorang Ayah emang sudah sangat jarang bisa mencari uang karena kondisi dia yang sakit seperti ini, jadi keuangan mereka memang hanya di tampung oleh Narti saja sebagai buruh cuci serta buruh menanam padi di sawah milik orang lain, memang mata uang mereka hanya tinggal satu saja dan itu semua karena Hamdan yang sakit kanker paru-paru.
"Nanti kalau dia sudah merasa sedikit tenang maka aku pasti akan menasehati ini Mirasih." janji Hamdan.
"Kalau sudah menikah dan memberi uang itu adalah hal yang wajar, ini mereka masih pacaran dan aku tahu pikiran seorang pria pasti akan sangat buruk terhadap gadis itu." lirih Narti.
"Jarwo juga anak orang kaya dan kita tentu tidak sepadan dengan dia, mungkin memang lebih baik bila Mirasih menjaga jarak dengan Jarwo." angguk Hamdan.
"Orang sini sudah banyak yang mengatakan tentang hal itu Dan aku juga sudah menasehati Mirasih agar dia menjauh dari Jarwo, tapi tetap saja Mirasih memang sangat keras kepala." sahut Narti.
Perbedaan kedua keluarga ini jelas begitu besar karena keluarga Jarwo adalah orang sangat kaya di desa ini, sedangkan arti hidup yang sangat pas-pasan dan kemungkinan besar keluarga Jarwo tidak akan pernah bisa menerima Mirasih untuk masuk ke dalam keluarga itu.
Narti juga sudah mencoba untuk memberi pengertian kepada Mirasih agar gadis itu merasa sadar diri, tapi lagi-lagi Mirasih tidak pernah mendengar dan dia terus saja membuat pula sehingga orang tua ini merasa begitu pusing memikirkan kelakuan sang anak yang kian menjadi setiap hari.
Selamat siang, jumpa lagi kita di karya baru othor ini ya.
curiga SM si Jarwo dan bapaknya🤔👻
anak nya slah masih ja di bela