NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dansa di Atas Bara dan Topeng yang Terbelah

​​Euforia kelulusan masih terasa hangat di kulit, namun atmosfer SMA Garuda mendadak berubah menjadi glamor. Malam ini adalah Prom Night, perayaan terakhir sebelum ribuan jalur hidup bercabang ke penjuru dunia. Aula besar yang biasanya kaku dengan kursi ujian, kini disulap menjadi lantai dansa dengan lampu kristal dan dekorasi hitam-emas yang elegan.

​Arkan berdiri di depan cermin besar di rumah utama. Ia mengenakan tuksedo hitam yang pas di tubuh atletisnya, rambutnya ditata rapi—masih sang Ketua OSIS yang sempurna, namun ada binar berbeda di matanya. Ia menunggu di kaki tangga saat Ziva turun.

​Ziva tampak menakjubkan. Ia mengenakan gaun satin berwarna biru dongker yang menjuntai hingga lantai, dengan aksen perak di bagian pinggang yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang anggun. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah manisnya.

​"Kamu... cantik banget, Ziv," gumam Arkan, suaranya parau.

​Ziva tersenyum malu, menggandeng lengan Arkan. "Lo juga nggak buruk, Pak Ketos. Siap buat dansa terakhir kita sebagai siswa Garuda?"

​"Siap. Tapi ingat, jangan jauh-jauh dari aku. Perasaanku nggak enak sejak sore tadi," bisik Arkan sambil membukakan pintu mobil.

​Pesta yang Tak Terduga

​Di aula, musik bervolume rendah mengalun. Sisil dan Gibran menyambut mereka dengan sorakan. "Pasangan paling fenomenal abad ini datang!" seru Sisil, yang tampil nyentrik dengan gaun merah menyala.

​Semuanya tampak sempurna. Mereka berdansa, tertawa, dan saling bertukar tanda tangan di buku tahunan. Revan bahkan datang, menyalami Arkan dengan jantan dan memberikan anggukan hormat pada Ziva.

"Jaga dia, Ar. Kalau nggak, gue masih punya nomor telepon pengacara cerai," canda Revan, yang dibalas Arkan dengan tawa hambar.

​Namun, di tengah kemeriahan itu, lampu aula mendadak mati total.

Jlep.

​Suasana hening seketika. Jeritan kecil terdengar dari beberapa siswi. Tak lama, layar proyektor besar di atas panggung menyala sendiri. Tapi kali ini, bukan foto kenangan masa sekolah yang muncul.

​Muncul sebuah video live streaming. Kamera bergoyang, menampilkan sebuah ruangan gelap yang sangat familiar bagi Arkan dan Ziva. Itu adalah Apartemen 402.

​"Itu... itu rumah kita!" bisik Ziva, mencengkeram lengan Arkan kuat-kuat.

​Di layar, terlihat seseorang dengan jaket hoodie hitam sedang menyiramkan cairan bening ke seluruh sofa, karpet, dan tumpukan buku-buku jurnalisme Ziva. Bau bensin seolah tercium hingga ke aula melalui visual tersebut.

​"Halo, SMA Garuda!" suara itu terdengar melalui pengeras suara aula, disamarkan oleh alat pengubah suara.

"Kalian pikir drama ini berakhir bahagia? Kalian pikir pernikahan anak emas ini suci? Mari kita lihat betapa cepatnya kenangan mereka berubah jadi abu."

​Orang di video itu menyalakan korek api gas.

Ctek.

Api kecil itu menari-nari di dekat tumpahan bensin.

​Konfrontasi di Atas Panggung

​Arkan langsung berlari ke arah meja operator, namun jalannya dihadang oleh tiga orang siswa yang mengenakan topeng—mereka adalah antek-antek lama Clarissa yang ternyata masih menyimpan dendam atas hancurnya reputasi kelompok mereka.

​"Minggir!" bentak Arkan, emosinya meledak. Ia memukul salah satu dari mereka hingga tersungkur, namun dua lainnya menahannya.

​Ziva berlari ke arah podium, meraih mikrofon cadangan yang masih menyala. "Siapa pun lo di sana, berhenti! Apartemen itu nggak ada hubungannya sama kebencian lo ke kita!"

​Tiba-tiba, lampu panggung menyala terang, menyorot ke satu titik di balkon aula. Di sana berdiri seseorang yang selama ini luput dari pengawasan: Rangga, mantan wakil ketua OSIS yang dulu disingkirkan Arkan karena kasus korupsi dana baksos setahun lalu. Rangga memegang ponsel yang mengendalikan transmisi video tersebut.

​"Arkan si Sempurna," Rangga tertawa sinis. "Lo dapet segalanya. Kekuasaan, nilai, dan cewek paling cantik di sekolah. Sementara gue? Gue dibuang kayak sampah gara-gara lo laporin ke bokap lo. Malam ini, gue nggak cuma mau hancurin reputasi lo, tapi gue mau hancurin 'rumah' yang lo banggakan itu!"

​"Rangga, jangan gila! Itu tindakan kriminal!" teriak Arkan dari bawah, terus meronta dari dekapan siswa-siswa itu.

​"Kriminal? Gue udah nggak punya masa depan, Ar! Sekolah ini nggak kasih gue ijazah gara-gara lo!"

Rangga menggerakkan jarinya di layar ponsel.

"Satu klik, dan sistem smart home di apartemen lo bakal meledakkan kompor gas yang udah gue sabotase."

​Pertaruhan Terakhir

​Ziva melihat Arkan yang mulai frustrasi. Ia sadar, Arkan tidak bisa bergerak. Dengan keberanian yang ia kumpulkan selama setahun menjadi jurnalis investigasi, Ziva menatap kamera yang terhubung ke ponsel Rangga.

​"Rangga, lo pikir dengan ngebakar apartemen itu lo bakal menang?" suara Ziva mendadak tenang, mengalihkan

perhatian semua orang. "Di apartemen itu, ada buku catatan gue. Di sana, gue nulis tentang semua orang yang pernah lo bantu secara diam-diam sebelum lo terjerat kasus itu. Gue tahu lo bukan orang jahat, Rangga. Lo cuma tersesat karena tekanan."

​Rangga tertegun. Jarinya gemetar di atas layar.

​"Kalau lo bakar tempat itu, lo bener-bener jadi monster yang Arkan tuduhkan dulu. Tapi kalau lo matiin apinya sekarang, gue janji... gue dan Arkan nggak akan tuntut lo. Kita akan anggap ini sebagai 'protes' terakhir lo," lanjut Ziva, air mata mengalir di pipinya. "Tolong... di sana ada foto pernikahan kami yang asli. Cuma itu satu-satunya kenangan yang kami punya dari orang tua kami."

​Hening yang mematikan menyelimuti aula. Arkan menatap Ziva dengan tatapan tak percaya. Ziva sedang melakukan negosiasi nyawa.

​Di layar proyektor, terlihat tangan orang berjaket hitam itu menurunkan korek apinya. Rangga di balkon terduduk lemas, menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia menangis tersedu-sedu.

​Gibran dan Revan segera bergerak naik ke balkon untuk mengamankan Rangga sebelum polisi datang. Arkan berhasil melepaskan diri dari hadangan siswa-siswa tadi dan langsung berlari ke panggung, memeluk Ziva erat di depan seluruh siswa yang masih terpaku.

​Akhir dari Sebuah Era

​"Kamu hebat, Ziv. Kamu beneran menyelamatkan kita," bisik Arkan di telinga Ziva, napasnya masih terengah-engah.

​Ziva membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada Arkan. Gaun birunya sedikit kusut, tapi ia tidak peduli. "Gue cuma nggak mau kehilangan rumah kita, Ar."

​Lampu aula kembali menyala normal. Pak Kepala Sekolah

naik ke panggung, tampak pucat namun berusaha tenang. "Acara... acara dilanjutkan. Petugas keamanan sudah menangani pelaku."

​Musik kembali mengalun, namun kali ini lagunya lebih lambat, lebih emosional. Arkan mengulurkan tangannya pada Ziva di tengah panggung, di bawah sorotan lampu yang kini terasa hangat, bukan lagi mengancam.

​"Satu dansa terakhir?" tanya Arkan.

​Ziva tersenyum, menyambut tangan suaminya. Mereka berdansa di tengah aula, dikelilingi oleh teman-teman mereka yang mulai ikut menari. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan akan Clarissa atau Rangga. Mereka telah melewati ujian api yang sesungguhnya.

​Di sudut ruangan, Sisil menghapus air matanya. "Gila, ini prom paling epik sepanjang sejarah Garuda."

​Saat lagu berakhir, Arkan mengecup dahi Ziva lama. "Besok kita pindah ke apartemen baru di Jakarta, dekat kampus. Kita mulai hidup yang bener-bener baru. Tanpa seragam, tanpa poin pelanggaran."

​Ziva tertawa, matanya berbinar. "Tapi lo tetep suami gue yang kaku, kan?"

​"Hanya untukmu, Ziva Clarissa," jawab Arkan, sebelum akhirnya ia memberanikan diri mencium bibir Ziva dengan lembut di depan seluruh SMA Garuda—sebuah penutupan sempurna untuk masa sekolah mereka yang penuh gejolak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!