Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malaikat Pelindung
"Saya akan membawa Nia," kata Angkasa, masih sambil memeluk Nia. Nyonya Lestari hanya diam.
"Nia, kita pulang sekarang," kata Angkasa pada Nia yang masih terisak. Nia mengangguk perlahan.
"Ada yang perlu kamu bawa?" tanya Angkasa. Nia terdiam. Nyonya Lestari masuk ke kamar Nia lalu mengambilkan tas Nia dan menyerahkannya pada Angkasa.
"Titip Nia," kata Nyonya Lestari pada Angkasa. Nyonya Lestari menatap Nia dengan begitu khawatir. Angkasa mengangguk.
"Nia akan baik-baik saja," kata Angkasa.
Angkasa memapah Nia berjalan keluar dari villa perlahan. Bayu hanya bisa menatap keduanya tak berdaya. Angkasa memakaikan helm pada Nia dan memakaikan jaketnya pada Nia. Nia masih terisak.
Kali ini, Nia memeluk Angkasa erat tanpa Angkasa minta saat keduanya sudah siap di atas motor. Angkasa memegang tangan Nia sesaat sebelum akhirnya melajukan motor sportnya membelah jalan daerah villa yang masih sepi saat fajar.
Nia memeluk Angkasa erat. Nia dapat merasakan Angkasa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Meski begitu, Nia justru merasa semakin tenang terbawa laju motor sport Angkasa.
Di tengah-tengah perjalanan, Angkasa menepikan motornya ke sebuah kedai makan dua puluh empat jam.
"Makan dulu," kata Angkasa saat melepaskan helmnya.
Nia menarik tangannya dari tubuh Angkasa dan mencoba melepaskan helm. Angkasa membantu Nia melepaskan helmnya. Nia dapat merasakan tangan Angkasa yang dingin diterpa angin malam saat berkendara. Dengan cepat Nia melepaskan jaketnya dan menyodorkannya pada Angkasa.
"Hm?"
"Aku bawa jaket di tas. Kamu pake lagi aja punya kamu," kata Nia. Angkasa menerima jaketnya.
Keduanya lalu memasuki kedai makan. Senyum ramah ibu pemilik kedai menyambut Nia dan Angkasa.
"Silakan, Mas, Mbak. Mau minum apa?" tanya pemilik kedai ramah.
"Kamu?" tanya Angkasa pada Nia.
"Teh anget aja,"
"Teh anget dua, Bu," pesan Angkasa.
"Oke. Makannya ambil sendiri ya. Bebas. Tak bikinkan minum dulu," kata pemilik kedai, lalu sibuk membuat minuman pesanan Angkasa dan Nia.
Angkasa mengambil sepiring nasi putih lalu menoleh ke arah Nia.
"Kamu mau makan apa?" tanya Angkasa. Nada suaranya masih dingin seperti biasa.
"Eh?" Nia mengerjapkan matanya lalu menatap piring di tangan Angkasa.
"Aku ambil sendiri aja," kata Nia sambil mengambil sepiring nasi dari tangan Angkasa. Dengan perhatian sekecil itu saja, hati Nia sudah berdebar-debar tak karuan.
Angkasa menatap Nia. Ada perasaan lega, Nia terlihat sudah sedikit lebih baik daripada tadi saat di villa.
Nia duduk di salah satu meja di sudut paling dalam kedai. Pemilik kedai mengantarkan dua gelas teh hangat saat Nia duduk. Angkasa duduk di hadapan Nia.
Keduanya makan dalam diam. Sesekali Nia menatap Angkasa. Ini pertama kalinya Nia melihat Angkasa terlihat berantakan. Penampilan Angkasa saat itu benar-benar jauh dari kesan tuan muda dan terlihat mirip pemuda brandalan.
"Abis liat bintang ya, Mbak?" tanya pemilik kedai pada Nia sambil tersenyum. Nia hanya tersenyum. Pemilik kedai terlihat melirik Angkasa.
"Pacaran sampe pagi nggak dicariin mamanya, Mbak?" tanya pemilik kedai sambil tersenyum lagi.
"Mamanya baru aja nitipin ke saya," jawab Angkasa dengan nada dingin seperti biasa sambil mengunyah makanannya. Pemilik kedai menaikkan kedua alisnya.
"Kamu mau ke kos atau ke rumah ku?" tanya Angkasa pada Nia sambil terus makan. Nia terdiam. Berpikir.
"Ke kos aja, Mbak. Jangan mau dibawa pulang sebelum nikah," kata pemilik kedai. Nia menatap Angkasa yang terlihat tak peduli dengan komentar pemilik kedai.
Ponsel Angkasa berdering. Angkasa menatap layar ponselnya lalu menjawab panggilan video dari Nyonya Mahendra.
"Gimana, Sayang? Nianya udah sama kamu? Sampe mana?" tanya Nyonya Mahendra sesaat setelah Angkasa menjawab panggilannya.
"Aman, Ma. Ini baru berhenti makan,"
"Bawa Nia ke rumah ya? Mama mau liat apa calon mantu Mama baik-baik aja," kata Nyonya Mahendra. Angkasa menatap Nia yang juga menatapnya lalu menyodorkan ponselnya pada Nia.
"Mama bilang aja sendiri," kata Angkasa. Nia menerima ponsel Angkasa.
"Nia sayang. Kesini aja ya? Tante pengen tau kamu kenapa," kata Nyonya Mahendra. Terlihat jelas raut kecemasan di wajahnya.
"Maaf, ngerepotin Angkasa pagi-pagi buta gini, Tante," kata Nia sopan.
"Nggak repot, Sayang. Udah tugas Angkasa sebagai calon suami buat jagain sekaligus ngelindungin kamu," kata Nyonya Mahendra. Nia sedikit tersipu.
"Coba teleponnya kasih ke Angkasa," pinta Nyonya Mahendra.
"Pokoknya kamu bawa Nia kesini. Mama butuh penjelasan," perintah Nyonya Mahendra. Mutlak. Angkasa hanya mengangguk.
"Ya udah, ati-ati," pesan Nyonya Mahendra sebelum akhirnya menutup panggilan videonya.
Pemilik kedai terlihat salah tingkah mendengarkan pembicaraan telepon pelanggannya. Sepertinya dia sudah salah menyimpulkan sesuatu antara kedua pelanggan mudanya.
Angkasa dan Nia melanjutkan makan dalam diam. Pemilik kedai terlihat sibuk di meja kasir dan tak ingin lagi bersikap sok ramah dan sok bijak pada kedua pelanggannya.
"Totalnya dua puluh dua ribu, Mas," kata pemilik kedai ketika Angkasa dan Nia menyebutkan apa saja yang dimakannya.
"Makasih sudah mampir. Hati-hati pulangnya," kata pemilik kedai ramah. Angkasa terlihat dingin seperti biasa. Nia tersenyum sambil mengangguk pada pemilik kedai.
Nia menatap Angkasa saat memakai helm. Angkasa terlihat kesal dengan pemilik kedai. Nia tahu. Namun, entah mengapa hal itu membuat Nia ingin tertawa.
"Kenapa?" tanya Angkasa pada Nia saat menyadari Nia tengah menatapnya sambil terlihat menahan tawa. Nia hanya menggelengkan kepalanya lalu memakai helm. Angkasa dengan cepat membantu Nia. Nia tersenyum.
Angkasa sudah kembali menyusuri jalanan yang masih sepi. Subuh sudah tiba. Terdengar sayup-sayup adzan berkumandang dari kejauhan. Tak berapa lama, motor Angkasa kembali berhenti. Kali ini Angkasa berhenti di sebuah masjid. Nia tertegun.
"Abis ini lanjut lagi," kata Angkasa sambil segera menuju tempat ibadah.
Tanpa banyak kata, Nia melakukan hal yang sama. Sepertinya mengambil wudlu setelah kejadian mencekam tadi malam membuat Nia merasa lebih tenang dan segar.
Setelah ibadah, Nia dan Angkasa kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini, Angkasa melajukan motornya lebih pelan dari sebelumnya. Nia mulai sedikit menikmati perjalanannya dibandingkan tadi.
Langit sebelah timur mulai menampakkan semburat cahaya mentari pagi. Mata Nia terpaku pada lukisan alam itu. Indah. Damai. Seakan mengatakan pada Nia bahwa semua akan baik-baik saja setelah ini.
Angkasa kembali menepikan motornya lalu melepas helmnya tanpa turun dari motor. Nia menatap Angkasa seolah bertanya alasannya berhenti. Angkasa menatap ke arah timur.
"Kita liat sebentar," kata Angkasa. Nia tersenyum lalu melepaskan helmnya.
Cahaya mentari pagi itu terasa lebih hangat daripada hari-hari biasanya bagi Nia. Mungkin karena tragedi yang baru saja dialaminya. Atau karena ada Angkasa di sampingnya. Entah.
'Terimakasih, Tuhan. Kau mengirim malaikat pada ku dalam bentuk Aang,'
***