Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAL YANG TIDAK PERNAH MUDAH
Ada satu hal yang Arsa tidak pernah ceritakan kepada siapapun tentang malam ketika Raka meninggal.
Bukan karena rahasia. Tapi karena ada hal-hal yang terlalu dekat dengan inti seseorang untuk diucapkan di luar momen yang tepat — dan selama empat tahun belum pernah ada momen yang tepat.
Malam itu ia mendengar telepon dari ibunya jam sebelas malam. Ia sedang di apartemen, sedang bekerja pada rekonstruksi pertamanya — proyek pertamanya, klien pertamanya, dengan kepercayaan diri yang masih penuh karena belum tahu betapa rumit dan betapa personal pekerjaan ini bisa menjadi.
Ibunya bicara. Ia mendengar kata-kata. Otaknya mencatat kata-kata itu tapi ada jeda antara mencatat dan memahami yang tidak bisa ia jelaskan.
Yang ia ingat: ia mematikan telepon. Menyimpan laptopnya. Memakai sepatu. Naik lift. Keluar ke jalan. Berdiri di trotoar di depan apartemennya jam sebelas malam dengan jaket yang tidak dikancing dan tidak ada tujuan yang jelas.
Berdiri di sana selama — ia tidak tahu berapa lama. Sampai ada motor lewat dengan knalpot keras yang membuatnya kembali ke dirinya sendiri.
Yang ia tidak lakukan: menangis. Menelepon siapapun. Kembali ke apartemen dan duduk dengan perasaan itu.
Ia berjalan. Berjam-jam. Sampai kakinya cukup lelah untuk membawa pulang. Lalu ia tidur dengan cara seseorang yang mati lampu bukan karena lelah tapi karena tidak tahu cara lain untuk tidak terasa apapun untuk beberapa jam.
Ia tidak pernah menceritakan itu kepada siapapun.
---
Ia menceritakannya kepada Wren empat bulan setelah pertemuan pertama mereka, di suatu malam ketika mereka tidak sedang membicarakan apapun yang penting — sedang membaca masing-masing, Wren di kursi dengan buku, Arsa di meja dengan laptop. Dan tiba-tiba kata-kata itu ada di mulutnya sebelum ia memutuskan untuk mengucapkannya.
Wren menutup bukunya. Mendengarkan sampai selesai.
Lalu berkata: "Anda pergi berjam-jam sendirian di tengah malam setelah mendengar kabar paling berat dalam hidup Anda."
"Ya."
"Dan tidak menelepon siapapun."
"Tidak ada yang terasa tepat untuk dihubungi."
"Apakah ada seseorang yang bisa dihubungi?"
Arsa memikirkannya. "Mungkin ada. Tapi saya tidak tahu caranya meminta seseorang untuk ada tanpa punya kata-kata yang jelas untuk menjelaskan apa yang saya butuhkan."
Wren menatapnya lama. "Sekarang Anda tahu caranya?"
Arsa menatap balik. "Sekarang saya tahu kepada siapa."
Kalimat itu keluar dan Wren tidak meminta klarifikasi. Karena tidak perlu.
"Kalau ada malam seperti itu lagi," kata Wren — bukan kalau perlu atau kalau mau, tapi kalau ada — "hubungi saya."
"Anda mungkin sedang rekaman."
"Hubungi tetap."
"Anda mungkin tidur."
"Arsa." Suara yang tidak keras tapi tidak bisa diabaikan. "Hubungi saya."
Arsa menatapnya. Sesuatu di dadanya bergerak dengan cara yang sudah familiar sekarang — cara sesuatu mencair yang sudah sangat lama membeku.
"Baik," katanya.
"Baik," ulang Wren. Lalu membuka bukunya kembali — dengan cara yang mengatakan: percakapan itu selesai bukan karena tidak penting tapi karena sudah cukup dikatakan, dan sekarang bisa kembali ke keheningan yang nyaman.
Arsa menatap layar laptopnya yang tidak ia baca selama satu menit.
Lalu ia menutup laptop itu, bangkit, dan duduk di sofa di dekat kursi Wren dengan buku yang ia ambil dari rak — buku yang mungkin tidak akan ia baca dengan serius malam ini, tapi yang memberikan alasan untuk duduk lebih dekat dari meja ke kursi.
Wren tidak berkomentar. Hanya menggeser sedikit untuk memberi ruang.
Dan mereka membaca berdampingan dalam diam yang terasa seperti rumah.