NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sekar kembali membuka laptopnya. Meja kerjanya yang sempat berdebu kini kembali rapi. Naskah-naskah yang tertunda mulai ia buka satu per satu. Dunia yang sempat ia tinggalkan perlahan ia dekati lagi bukan sebagai pelarian, tapi sebagai bagian dari hidup yang harus ia jalani.

Sea yang sedang bermain di lantai ruang tamu memperhatikan ibunya dari kejauhan. Matanya mengikuti setiap gerakan Sekar yang serius menatap layar. Ada rasa penasaran yang akhirnya membuatnya bangkit dan berjalan mendekat.

“Ibu…” panggilnya pelan.

Sekar menoleh, langsung melembut. “Iya, sayang?”

Sea berdiri di sampingnya, mengintip layar laptop yang penuh tulisan. “Ibu kerja?”

Sekar tersenyum kecil. “Iya.”

Sea mengerutkan kening. “Tapi… ibu nggak pernah ke kantor.”

Sekar tertawa pelan, lalu menutup sedikit laptopnya, memberi ruang untuk percakapan kecil itu. “Karena kerjaan ibu memang di rumah.”

Sea masih terlihat bingung. “Emang ibu kerja apa?”

Sekar menatap putrinya sebentar, lalu menjawab dengan sederhana, “Ibu nulis… sama jualan buku.”

Mata Sea langsung berbinar. “Buku? Yang ada gambar-gambarnya?”

Sekar tersenyum lebih lebar. “Ada yang gambar, ada juga yang cerita panjang.”

Sea berpikir sejenak, lalu bertanya lagi dengan polos, “Ibu bikin cerita?”

“Iya,” jawab Sekar lembut.

Sea menatapnya dengan kagum yang tulus. “Tentang apa?”

Sekar terdiam sejenak. Pertanyaan sederhana itu… ternyata tidak sesederhana jawabannya. Tentang apa? Tentang luka? Tentang cinta yang hancur? Tentang perjuangan seorang ibu? Sekar tersenyum tipis. “Tentang kehidupan,” jawabnya akhirnya.

Sea mengangguk, meski mungkin belum benar-benar paham. Tapi ia terlihat senang.

“Ibu hebat,” katanya tiba-tiba.

Sekar tertegun. Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Tapi entah kenapa… terasa lebih dalam dari semua pengakuan yang pernah ia dapatkan. Sekar menarik Sea ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala putrinya itu dengan lembut. “Doain ibu ya… biar ceritanya bagus,” bisiknya.

Sea mengangguk cepat. “Iya! Nanti Sea baca!”

Sekar tertawa pelan. Di tengah semua proses yang belum selesai, di tengah ketidakpastian yang masih menunggu di depan momen kecil seperti ini cukup untuk membuatnya bertahan.

***

Kebahagiaan yang sejak pagi terasa hangat itu ternyata memang tidak pernah benar-benar menetap. Saat mobil Sekar berhenti di depan rumah, perasaannya tiba-tiba berubah, ada sesuatu yang janggal. Dan benar saja, begitu ia turun sambil menggandeng tangan Sea, sosok yang berdiri di depan pagar langsung membuat langkahnya terhenti.

Aji.

Wajahnya tegang. Rahangnya mengeras. Tatapannya… penuh amarah yang tidak lagi ia sembunyikan.

Sekar menarik napas pelan. Tangannya refleks menggenggam Sea lebih erat.

“Ayah…” bisik Sea pelan, sedikit ragu.

Sekar berusaha tetap tenang. Ia tidak ingin Sea melihat ketakutan di wajahnya. “Ada apa, Ji?” tanyanya, suaranya dijaga tetap stabil.

“Aku mau bawa Sea pulang,” jawab Aji langsung, tanpa basa-basi.

Sekar mengangguk kecil, mencoba tetap rasional. “Besok aku antar,” katanya lembut. “Sekarang dia masih butuh istirahat.”

“TIDAK!” potong Aji keras.

Sea langsung menegang di samping Sekar.

Sekar merasakan itu. Ia menunduk sedikit, mengusap punggung anaknya pelan. “Nggak apa-apa, ya…” bisiknya menenangkan.

Namun Aji tidak peduli. Ia melangkah lebih dekat, suaranya semakin menekan. “Kamu nggak punya hak nahan dia!”

Sekar menatapnya, tetap berusaha menjaga suaranya. “Aku ibunya, Ji.”

“Dan aku bapaknya!” bentak Aji.

Beberapa detik hening, tapi penuh tekanan.

Lalu Aji berkata lagi, kali ini lebih dingin, lebih menusuk. “Kalau kamu ngotot ambil Sea… aku nggak akan pernah mau jadi wali nikah dia.”

Sekar membeku. Kalimat itu… langsung menghantam bagian terdalam dari dirinya sebagai seorang ibu.

“Kamu mau masa depan Sea terombang-ambing karena ego kamu?” lanjut Aji tanpa ampun.

Sekar menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak tadi, rasa takut itu benar-benar muncul. Bukan untuk dirinya. Tapi untuk masa depan anaknya.

Namun Aji belum selesai. “Kalau kamu mau…” suaranya tiba-tiba berubah, lebih rendah, hampir seperti menawarkan sesuatu. “Kita bisa balik lagi.”

Sekar menatapnya, tidak percaya.

“Aku bisa ceraikan Mila,” lanjut Aji. “Demi Sea.”

Ada jeda singkat. Dan di jeda itu yang Sekar rasakan bukan harapan. Tapi muak. Muak yang begitu dalam hingga hampir membuatnya ingin muntah. Namun sekali lagi, ia menahannya. Ia tidak boleh kehilangan kendali. Tidak di depan Sea. Sekar menarik napas panjang. “Kalau boleh…” ucapnya pelan, berusaha tetap tenang, “biar aku pikir dulu. Kita juga bisa diskusi sama Sea.”

Kalimat itu sebenarnya bentuk penolakan halus. Dan Aji menangkap itu. Wajahnya langsung berubah. Amarah yang tadi ditahan… meledak. “Kamu nolak aku?” suaranya bergetar, tapi bukan karena lemah, karena marah. "Tidak ada yang perlu didiskusikan. Tinggal balikan. Jadi keluarga utuh lagi seperti dulu. Beres, kan?"

Sekar tidak sempat menjawab.

Tiba-tiba, PLAK! Tamparan itu keras. Terlalu keras. Sekar terhuyung sedikit, bibirnya langsung terasa perih. Ia menyentuhnya refleks, darah.

“Ibu!” teriak Sea panik. Tangisan anak itu pecah.

Sekar ingin membalas. Ingin melawan. Tapi tubuhnya seperti membeku, lebih karena shock daripada sakitnya.

Aji tidak berhenti. Ia menarik tangan Sea paksa. “Ayo pulang!”

“NGGAK MAU!” tangis Sea semakin keras, berusaha melepaskan diri.

Sekar langsung tersadar, berusaha menarik kembali anaknya. “Jangan, Ji! Lepas!”

Situasi menjadi kacau. Tarikan, tangisan, suara tinggi, semuanya bercampur. Dan di tengah kekacauan itu tiba-tiba sebuah tangan lain menahan Aji dengan keras. “Cukup!” Suara itu tegas. Dalam.

Sekar dan Aji sama-sama menoleh.

Damar. Ia berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, wajahnya serius, tidak ada lagi santai, tidak ada lagi ragu. Tangannya mencengkeram lengan Aji, memaksa pria itu melepaskan Sea. “Lepasin anak itu,” katanya dingin.

Aji mencoba melawan. “Ini urusan gue!”

“Ini sudah bukan urusan pribadi,” balas Damar tajam. “Ini kekerasan.”

Sekar berdiri mematung beberapa detik, memeluk Sea yang langsung berlari ke arahnya sambil menangis histeris. Tubuh kecil itu gemetar di pelukannya. Sekar memeluknya erat, lebih erat dari sebelumnya. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya masih bergetar. Bibirnya masih terasa perih. Tapi di balik semua itu ada satu hal yang tiba-tiba menjadi sangat jelas. Ia tidak bisa lagi menunggu. Bukan hanya soal hak asuh. Tapi soal keselamatan. Dan kali ini apa pun yang harus ia hadapi ia tidak akan mundur.

Setelah Aji akhirnya pergi, lebih tepatnya dipaksa pergi oleh Damar, suasana di depan rumah itu menyisakan sunyi yang berat. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi tarikan paksa. Hanya suara napas yang belum kembali teratur dan tangis kecil Sea yang masih tersisa di pelukan Sekar.

Damar berdiri tidak jauh dari mereka, masih dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu dalam dirinya. Matanya sempat melirik ke arah bibir Sekar yang berdarah, lalu kembali mengeras. “Kita ke rumah sakit,” ucapnya tegas.

Sekar menggeleng pelan, refleks. “Nggak usah…”

“Sekar,” potong Damar, kali ini lebih serius. “Kita harus visum. Ini penting buat bukti di pengadilan.”

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!