NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU MALAM DI ATAS TOKO BUKU

Malam itu — Jumat biasa, tidak ada yang khusus tentang tanggalnya — Arsa dan Wren duduk di lantai studio di atas toko buku Pak Suryadi.

Beanbag ungu. Rak buku yang penuh. Foam panel abu-abu. Mikrofon kondensor yang cicilan terakhirnya sudah lunas bulan lalu.

Kotak kayu ada di raknya — tempat yang sudah tepat sejak lama.

Mereka tidak sedang mengerjakan apa pun. Tidak ada laptop terbuka, tidak ada folder, tidak ada rekaman yang perlu diedit. Hanya dua orang di ruang yang sudah sangat familiar dengan cara yang membuat familiar terasa bukan basi tapi seperti sesuatu yang memang seharusnya.

Wren berbaring di lantai dengan bantal dari sofa kecil, menatap langit-langit. Arsa duduk di dekatnya dengan punggung bersandar ke rak buku, kaki diluruskan.

"Arsa," kata Wren ke langit-langit.

"Hm."

"Anda tidak pernah bilang mengapa Anda memilih pekerjaan ini. Yang sebenarnya."

Arsa tidak menjawab segera. Pertanyaan yang sudah pernah ditanyakan orang lain dalam versi-versi yang berbeda. Tapi dari Wren, dengan nada seperti ini — nada yang tidak mencari jawaban yang rapi tapi yang ingin mendengar jawaban yang benar — terasa berbeda.

"Raka," katanya akhirnya.

"Sebelum Raka pergi?"

"Bukan karena kehilangan Raka — bukan seperti yang orang mungkin pikir." Ia menatap langit-langit juga sekarang. "Sebelum Raka pergi, saya bekerja di bidang yang tidak ada hubungannya dengan ini. Asuransi. Bukan passion, tapi stabil." Ia berhenti sebentar. "Dan saya punya seorang teman — teman kuliah, sudah seperti saudara. Ia meninggal mendadak waktu kami dua puluh empat tahun. Bukan kecelakaan, bukan sakit — masalah jantung yang tidak terdeteksi."

Wren tidak bergerak. Mendengarkan.

"Keluarganya menghubungi saya karena saya salah satu teman terdekatnya. Mereka ingin tahu siapa ia di luar rumah — pergaulannya, hobinya, hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada orang tuanya." Arsa mengambil napas pelan. "Saya bicara dengan keluarganya selama tiga jam. Dan di akhir percakapan itu, ibunya bilang sesuatu yang saya tidak pernah lupa: 'Terima kasih. Sekarang saya merasa mengenalnya lebih dari dua puluh empat tahun sebelumnya.'"

Diam sebentar.

"Saya pikir — ini. Ini yang paling berharga yang bisa seseorang lakukan. Memberikan seseorang kembali kepada orang-orang yang mencintainya, lebih utuh dari yang terakhir mereka kenal." Ia menoleh ke Wren. "Dua tahun kemudian saya keluar dari asuransi dan mulai mencari cara untuk menjadikan itu pekerjaan."

Wren masih menatap langit-langit. Ekspresinya tidak terlihat dari sudut ini tapi Arsa bisa merasakannya — cara udara di ruangan itu berubah kualitasnya ketika Wren memproses sesuatu yang penting.

"Nama teman Anda?" tanya Wren pelan.

"Bimo."

"Bimo tahu Anda akan melakukan ini semua karenanya?"

"Tidak. Tapi kalau ia tahu—" Arsa berhenti. Tersenyum kecil ke langit-langit. "Ia akan merasa tidak perlu dipuji dan langsung mengalihkan topik ke sesuatu yang lucu."

Wren menoleh ke arahnya. Dari posisi berbaring, matanya sejajar dengan lutut Arsa. "Ia terdengar seperti orang yang baik."

"Sangat baik." Jeda. "Seperti Raka."

"Seperti Raka," ulang Wren. Pelan tapi pasti.

Hening yang nyaman mengisi ruangan. Di bawah, toko Pak Suryadi sudah tutup sejak jam delapan — keheningan yang berbeda dari keramaian siang, tapi keheningan yang hangat karena di bawahnya ada kehidupan yang sedang beristirahat bukan kehidupan yang tidak ada.

"Wren," kata Arsa.

"Hm."

"Surat yang saya tulis tadi — yang saya bilang akan saya tunjukkan kalau sudah siap."

"Ya."

"Saya siap."

Wren duduk. Menatapnya.

"Sekarang?"

"Sekarang."

Ia mengambil ponselnya. Membuka dokumen. Menyerahkannya ke Wren.

Wren menerimanya. Mulai membaca.

Arsa tidak menatap Wren membaca — ia menatap kotak kayu di rak. Kosong sekarang, semua amplop sudah keluar, tapi masih ada di sana karena ada beberapa benda yang keberadaannya tidak bergantung pada isinya.

Suara-suara kecil dari Wren membaca — bukan suara membaca keras, hanya suara napas yang berubah ritme sesekali, suara yang Arsa sudah cukup kenal untuk tahu apa artinya.

Lima menit berlalu. Mungkin lebih.

Lalu Wren mengembalikan ponsel itu tanpa berkata apa-apa segera.

Arsa menunggu.

"Arsa," kata Wren akhirnya. Suaranya sedikit berbeda — bukan sedih, lebih seperti penuh dengan sesuatu yang memerlukan sedikit ruang sebelum bisa keluar dengan bentuk yang tepat.

"Hm."

"Ini sangat bagus." Kalimat yang sederhana tapi dari Wren, dengan nada seperti itu, terasa seperti lebih dari pujian. "Dan — satu bagian. Bagian tentang mendengar suara Raka melalui suara saya." Ia berhenti sebentar. "Itu bagian yang paling jujur yang pernah Anda tulis tentang saya."

Arsa menatapnya. "Karena itu yang paling jujur yang saya rasakan tentang Anda."

Wren diam.

"Mendengar Anda membacakan surat-suratnya," lanjut Arsa, "adalah cara paling aneh dan paling tepat yang pernah saya temukan untuk merindukan seseorang dan sekaligus menemukan seseorang yang baru. Dua hal sekaligus. Dalam satu suara."

Wren menatapnya dengan ekspresi yang tidak menyembunyikan apa pun — tidak ada pertahanan, tidak ada jarak, tidak ada lapisan yang dijaga. Hanya hadir, sepenuhnya, di momen ini.

"Suara saya," kata Wren pelan, "selalu milik saya. Tapi saya senang ia menemukan tempat di mana ia didengar dengan benar."

"Di sini," kata Arsa. Satu kata yang tidak perlu elaborasi.

"Di sini," ulang Wren.

Dan di studio kecil di atas toko buku bekas Pak Suryadi, dengan kotak kayu kosong di rak dan bintang-bintang di luar yang tidak terlihat karena polusi cahaya Jakarta tapi yang ada tetap — dua orang duduk berdampingan di lantai dan tidak ingin pergi ke mana-mana.

Suara yang saling menemukan.

Suara yang memilih untuk tinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!