Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di Tengah Kegelapan
Suara ledakan di gedung seberang Sektor Tujuh tadi hanyalah pembuka. Detik berikutnya, seluruh aliran listrik di area konstruksi Akademi Kalani padam total. Kegelapan pekat menelan permukaan tanah, namun di dasar lubang galian, The Chronosphere justru memancarkan cahaya biru elektrik yang semakin intens, seolah-olah mesin itu haus akan kegelapan untuk menunjukkan eksistensinya yang sebenarnya.
"Sora, mereka masuk dari gerbang timur!" teriak Hael melalui perangkat komunikasi hands-free yang frekuensinya telah dienkripsi. "Bukan polisi, bukan tentara reguler. Mereka mengenakan seragam taktis tanpa lencana. Unit pembersih dari konsorsium gelap!"
Sora berdiri di samping konsol kristal The Chronosphere. Ia bisa mendengar suara sepatu bot yang menghantam lantai baja di atas sana. Getaran langkah kaki itu merambat melalui dinding titanium, diterjemahkan oleh sensor mesin menjadi titik-titik merah di layar proyeksi hologram.
"Hael, aktifkan protokol 'Hening Malam'!" perintah Sora. Tangannya bergerak lincah di atas permukaan kristal yang dingin.
"Tapi Sora, jika aku mengaktifkan frekuensi resonansi itu sekarang, semua perangkat elektronik dalam radius lima ratus meter akan hangus, termasuk ponsel para jurnalis di luar!"
"Biarkan saja, Hael! Kita tidak bisa membiarkan mereka mengirim transmisi data apa pun keluar dari sini. Jika mereka berhasil memotret inti mesin ini, rahasia ayahku akan menjadi komoditas pasar gelap!"
Sora menekan sebuah tuas tersembunyi di pusat Chronosphere. Seketika, suara dengungan rendah yang sangat kuat memenuhi ruangan. Itu adalah suara frekuensi infrasonik yang dirancang Aris Kalani untuk mengacaukan sistem saraf manusia yang tidak terbiasa. Di atas sana, para penyerang mulai sempoyongan, rasa mual dan pusing yang hebat menyerang mereka tanpa peringatan.
Hael muncul dari balik tangga spiral, membawa sebuah tas taktis. Ia segera bergabung di sisi Sora. "Mereka menggunakan granat EMP untuk mematikan sensor kita, tapi mereka tidak tahu kalau mesin ini mekanis murni di intinya."
"Hael, lihat ini," Sora menunjuk ke arah pusat Chronosphere yang kini terbuka, menampakkan sebuah ruang kecil di tengah-tengah roda gigi yang berputar. "Ada fungsi ke-empat. Ayah menyebutnya 'The Distortion Field'."
"Distorsi? Apa maksudnya?"
Sora tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengambil jam saku ibunya dan meletakkannya di sebuah dudukan khusus di dalam mesin. Seketika, cahaya biru dari kristal berubah menjadi putih menyilaukan. Di sekeliling mereka, waktu seolah melambat. Tetesan air yang jatuh dari atap gua galian menggantung di udara, bergerak dalam gerakan lambat yang mustahil.
"Ini bukan sihir, Hael," bisik Sora dengan takjub. "Ini adalah manipulasi persepsi frekuensi. Mesin ini mengeluarkan gelombang yang memengaruhi sinyal otak manusia. Bagi kita yang memegang 'kunci', waktu berjalan normal. Tapi bagi mereka di atas... satu detik terasa seperti satu jam."
Di atas sana, para tentara bayaran itu tampak bergerak seperti patung lilin yang mencoba berlari di dalam air. Gerakan mereka kaku dan sangat lambat. Hael memanfaatkan momen itu. Ia berlari naik ke permukaan dengan kecepatan yang bagi para penyerang tampak seperti kilat. Dengan presisi, Hael melumpuhkan mereka satu per satu, merebut senjata mereka, dan memborgol mereka sebelum mereka sempat menarik pelatuk.
Sementara itu, di ruang bawah tanah, Sora merasakan tekanan yang luar biasa di dadanya. Mengaktifkan The Distortion Field membutuhkan energi mental yang besar. Ia harus tetap fokus pada detak jantungnya agar tidak terjebak dalam delusi waktu yang ia ciptakan sendiri.
"Sora! Cukup! Matikan mesinnya!" teriak Hael dari atas melalui interkom. "Mereka semua sudah lumpuh!"
Sora menarik kembali jam saku ibunya. Cahaya putih memudar, dan gravitasi seolah kembali normal dengan sentakan yang membuat Sora jatuh terduduk. Napasnya tersengal, keringat dingin membasahi dahinya.
Hael turun dengan cepat, langsung memeluk Sora. "Kamu gila, Sora. Kamu hampir membuat otakmu sendiri terbakar karena frekuensi itu."
Sora tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di bahu Hael. "Tapi kita berhasil, bukan? Mereka tidak akan pernah bisa menceritakan apa yang mereka lihat di sini, karena bagi otak mereka, kejadian tadi hanyalah mimpi buruk yang tidak masuk akal."
Detektif Januar dan pasukan brimob akhirnya berhasil menerobos masuk setelah pengacak sinyal dimatikan. Mereka terpaku melihat belasan tentara bayaran elit terkapar pingsan dengan wajah yang penuh ketakutan, tanpa ada luka tembak sedikit pun.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Januar bingung, menatap Sora dan Hael yang tampak kelelahan di samping mesin raksasa yang kini kembali tenang.
Sora berdiri, merapikan jas birunya yang kini kotor oleh debu. "Hanya sebuah demonstrasi kecil tentang kekuatan waktu yang jujur, Detektif."
Namun, di tengah kemenangan itu, The Chronosphere tiba-tiba mengeluarkan sebuah transmisi suara baru. Bukan rekaman masa lalu, melainkan sebuah sinyal aktif dari lokasi yang jauh. Di layar hologram, muncul sebuah titik merah berkedip di tengah Samudra Hindia.
"Sora... Hael..." suara itu terdengar sangat jernih, namun penuh dengan distorsi elektronik. "Kalian baru saja mengaktifkan suar peringatan. Sekarang, pemilik asli dari teknologi ini tahu di mana kalian berada. Lari... atau bersiaplah untuk perang yang sesungguhnya."
Sora dan Hael saling berpandangan. Suara itu adalah suara Aris Kalani, tapi bukan rekaman lama. Itu adalah pesan yang dipicu oleh aktivasi Distortion Field.
"Pemilik asli?" gumam Hael. "Aku pikir ayahmu adalah penciptanya."
"Mungkin ayahku hanya salah satu dari mereka, Hael," bisik Sora, merasakan dingin yang baru merayapi punggungnya. "Mungkin keluarga Vance hanyalah pion kecil dalam permainan yang jauh lebih tua dari peradaban kita."
Kegelapan di Sektor Tujuh memang telah berakhir, namun badai yang jauh lebih besar kini tampak menggantung di cakrawala. Sora menyadari bahwa perjalanannya baru saja memasuki babak yang paling berbahaya: mencari tahu siapa sebenarnya ayahnya, dan organisasi misterius apa yang selama ini mengendalikan detak jantung dunia dari balik bayang-bayang.