Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.Penawaran
Lampu gantung di langit-langit ruang klub berayun pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah setiap orang yang hadir. Ren meletakkan kembali cangkir teh Rias ke atas meja dengan ketukan pelan yang bergema seperti lonceng kematian di tengah keheningan. Ia menyandarkan pinggulnya pada tepian meja mahoni, melipat tangan di dada, dan menatap Xenovia serta Irina dengan pandangan yang sulit dibaca di balik kacamata hitamnya.
Bibi Dong berdiri di sampingnya, jemarinya yang lentik mengusap permukaan meja yang berdebu dengan ekspresi tidak puas. Aura kedaulatannya masih menyelimuti ruangan, membuat bulu kuduk Kiba Yuuto berdiri tegak meski ia mencoba mempertahankan posisi siaganya.
"Kalian terlalu sibuk memperebutkan potongan logam yang sudah kehilangan jiwanya," Ren memulai, suaranya bariton dan sangat tenang, membelah ketegangan yang menyesakkan. "Gereja ingin fragmennya kembali, Iblis ingin wilayahnya bersih, dan Malaikat Jatuh ingin menciptakan kekacauan. Sebuah lingkaran setan yang membosankan bagi seseorang yang sudah melihat ribuan perang."
Xenovia menggeram pelan, meski tangannya yang memegang gagang Excalibur Destruction masih gemetar. "Apa maksudmu, Saiba Ren? Kau bicara seolah-olah masalah suci ini hanyalah permainan anak kecil."
"Karena memang begitulah kenyataannya," sahut Bibi Dong. Ia melangkah mendekati Xenovia, membuat ksatria gereja itu secara refleks mundur satu langkah. "Pedang itu tidak akan menyelamatkanmu dari apa yang akan datang. Kokabiel... apakah nama itu cukup akrab di telinga kalian yang penuh doa?"
Rias Gremory tersentak, wajahnya yang cantik berubah pucat pasi. "Kokabiel? Salah satu pemimpin Malaikat Jatuh? Apa hubungannya dengan pencurian Excalibur?"
Ren menegakkan tubuhnya, berjalan perlahan menuju jendela yang menghadap ke arah hutan di belakang sekolah. "Dia ingin memulai kembali perang besar yang seharusnya sudah selesai ribuan tahun lalu. Dan dia membutuhkan percikan api untuk membakar sumbu itu. Fragmen Excalibur adalah percikannya, dan Akademi Kuoh... adalah sumbunya."
[SISTEM: Deteksi pergerakan energi tingkat tinggi di pinggiran kota. Kokabiel telah memulai ritual sinkronisasi fragmen.]
[SISTEM: Analisis taktis—Faksi Gremory dan Utusan Gereja memiliki peluang menang 0.05% tanpa intervensi pihak ketiga.]
[REN: Biarkan mereka ketakutan sejenak. Ketakutan adalah guru yang baik untuk ketaatan.]
Ren berbalik, menatap Rias dan Xenovia secara bergantian. "Aku akan menawarkan sebuah kesepakatan. Kesepakatan yang tidak akan kalian dapatkan dari surga maupun neraka."
"Kesepakatan apa?" tanya Rias dengan suara yang hampir berbisik.
"Aku akan membiarkan kalian menangani Kokabiel," Ren tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan perhitungan. "Tapi, sebagai gantinya, aku ingin akses penuh ke arsip terlarang keluarga Gremory dan Vatikan mengenai 'Gerbang Ruang Waktu' yang pernah muncul di dunia ini. Dan satu hal lagi... aku ingin Issei Hyodo diberikan kebebasan penuh darimu selama satu minggu di bawah pengawasanku."
Xenovia mengerutkan kening. "Arsip terlarang? Itu adalah rahasia suci! Kami tidak bisa memberikannya kepada orang asing sepertimu!"
Bibi Dong tertawa kecil, suara tawa yang sangat jernih namun mengandung ancaman yang nyata. "Orang asing? Manusia kecil, kau bicara seolah-olah kau punya pilihan. Pilihanmu hanya dua: memberikan apa yang suamiku minta dan tetap hidup untuk melihat hari esok, atau menolak dan membiarkan Kokabiel mengubah tempat ini menjadi lautan darah sebelum aku sendiri yang menghapus eksistensimu."
Tekanan jiwa Bibi Dong mendadak melonjak, membuat vas bunga di sudut ruangan pecah berkeping-keping. Udara di dalam ruangan menjadi begitu berat hingga Irina Shidou harus berlutut untuk menahan beban gravitasi yang mendadak meningkat.
Rias Gremory menatap Ren dengan tatapan yang penuh keputusasaan. Ia tahu bahwa ia sedang disudutkan. Di satu sisi ada ancaman perang dari Malaikat Jatuh, di sisi lain ada entitas misterius yang kekuatannya tidak masuk akal.
"Berikan kami waktu untuk berpikir," ucap Rias akhirnya, suaranya terdengar sangat lelah.
"Waktu adalah kemewahan yang tidak kalian miliki, Rias," Ren berjalan menuju pintu, memberi isyarat kepada Bibi Dong untuk mengikutinya. "Aku akan menunggu jawabanmu di atap sekolah besok pagi saat matahari terbit. Jika kalian tidak ada di sana... jangan salahkan aku jika kota ini berubah menjadi debu."
Mereka berdua keluar dari ruangan, meninggalkan keheningan yang lebih berat daripada sebelumnya. Issei yang sejak tadi hanya diam membeku di sudut, menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia menyadari bahwa dunianya yang baru sebagai iblis ternyata jauh lebih kompleks dan berbahaya karena kehadiran dua orang itu.
Di koridor yang gelap, Bibi Dong merangkul lengan Ren. "Kau benar-benar suka bermain dengan mereka, ya?"
Ren mencium dahi Bibi Dong dengan lembut. "Hanya memastikan papan caturnya tersusun rapi, Dong'er. Kokabiel hanyalah pion kecil. Tapi informasi tentang gerbang itu... itulah yang kita butuhkan untuk memastikan kita bisa pulang atau membangun kerajaan baru di sini tanpa gangguan."
Mereka berjalan menembus kegelapan malam, sementara di belakang mereka, gema lonceng gereja kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih suram.