Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Malam itu di Berlin, Orla sedang menunggu di bar hotel mewah dengan ponsel yang tidak dijawab dan minuman yang tidak ia sentuh.
Rencananya mulai terurai dari semua ujungnya sekaligus.
Pearl masuk.
Tidak sendirian.
Dua petugas berpakaian resmi mengikutinya dari belakang dengan jarak yang cukup untuk memberitahu semua orang di ruangan itu tentang tujuan kedatangan mereka.
"Pelindungmu di Vienna sudah ditahan atas tuduhan manipulasi pasar dan pemerasan," kata Pearl datar, berdiri di depan meja tempat Orla duduk.
Orla berdiri, wajahnya menyalakan amarah terakhirnya. "Kamu pikir kamu sudah menang? Aku akan--"
"Orla."
Satu kata. Diucapkan dengan cara yang berbeda dari semua cara Pearl pernah menyebut nama kakaknya, bukan dengan takut, bukan dengan amarah, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam dan lebih sunyi dari keduanya.
"Aku sudah memaafkanmu karena meninggalkan aku dulu," kata Pearl pelan. "Aku memaafkanmu karena membiarkan aku menjadi penggantimu dan menanggung semua yang seharusnya bukan bagianku. Tapi aku tidak akan memaafkanmu karena mencoba menghancurkan satu-satunya orang yang memberi aku alasan untuk percaya bahwa hidup ini masih bisa baik-baik saja."
Ia meletakkan surat perceraian yang Orla berikan kemarin di atas meja, sudah robek menjadi dua.
"Lorcan adalah pilihanku. Bukan karena kontrak. Bukan karena hutang. Tapi karena aku memilihnya."
Orla mencoba bergerak.
Petugas lebih cepat.
Di tengah kekacauan kecil yang terjadi setelahnya, ponsel Pearl bergetar.
Nama Lorcan di layar.
Pearl menjauh dari kerumunan, melangkah ke sudut yang lebih sunyi, mengangkat telepon dengan tangan yang tidak sepenuhnya bisa diam.
"Pearl." Suaranya parau dari Vienna, suara seseorang yang sudah berdiri terlalu lama di tempat yang tidak memberikan tempat duduk.
"Kamu sudah lihat semuanya?" tanya Pearl pelan.
"Semuanya." Jeda panjang. "Kamu... kamu luar biasa, Pearl. Kamu menyelamatkan sesuatu yang bahkan aku sendiri hampir tidak bisa pertahankan." Suaranya pecah di tepinya. "Aku merasa sangat kecil sekarang. Aku tidak tahu apakah aku pantas untuk kembali ke sana."
Pearl menutup matanya sebentar.
"Jangan katakan itu," bisiknya. "Aku melakukan ini agar kamu bisa pulang. Kembalilah, Lorcan. Tokonya dibuka lagi besok pagi, dan aku butuh pelanggan pertama pukul tujuh untuk menemani sarapan."
Suara tawa kecil di ujung telepon, lelah, tapi nyata.
"Aku akan segera pulang. Aku janji."
**
Pearl berjalan keluar dari hotel ke udara malam Berlin yang dingin.
Tangannya masih memegang ponselnya.
Ia menarik napas panjang, napas seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang besar dan belum sepenuhnya menyadari bahwa ia sudah di sisi lain dari semuanya.
Lalu sebuah mobil berhenti di lobi.
Pintu terbuka.
Seorang pria tua keluar, rambut putih, tubuh yang lebih kurus dari yang Pearl ingat, langkah yang lebih lambat dari bertahun-tahun lalu. Tapi matanya, matanya masih sama. Hangat dengan cara yang dulu selalu membuat Pearl merasa seperti ada tempat yang aman di dunia ini.
Dunia Pearl berhenti berputar.
"Pearl..." suara pria tua itu serak, penuh dengan semua tahun yang sudah berlalu di antaranya. "Putriku."
Pearl membeku di tempatnya.
Ayahnya.
Pria yang selama ini ia yakini sudah tidak ada yang kepergiannya tidak pernah benar-benar dijelaskan kepada siapa pun, yang namanya selalu membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Berdiri di depannya.
Nyata.
Dan di balik matanya yang hangat itu, Pearl bisa melihat sesuatu lain, sesuatu yang berat dan lama disimpan, sesuatu yang belum ia siap untuk didengar tapi sepertinya tidak lagi bisa ditunda.
Rahasia yang selama ini tersembunyi di balik semua yang sudah terjadi, tentang mengapa Rowan Group benar-benar jatuh, tentang mengapa Lorcan benar-benar membenci keluarga Rowan dengan cara yang tidak pernah sepenuhnya masuk akal.
Babak baru baru saja dimulai.
Dan kali ini, Pearl tidak tahu apakah ia siap untuk apa yang akan ia temukan di dalamnya.
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓