Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Anela masih tersenyum hangat, tenang, anggun, dan tetap saja menyebalkan di mata kimi. Ia melepas kacamatanya perlahan, lalu menatap lurus ke arah gadis itu.
"Aku memang suka Ruby," ujarnya tenang, "tapi alasan aku nyuruh kamu jauhin dia bukan karena aku pengen dia jadi milikku. Aku tahu hubungan kami gak akan lebih dari sahabat. Tapi aku juga gak bisa biarin dia dekat sama orang yang gak pantas."
Kimi mendesah setengah pasrah. "Pasti karena aku kurang pintar ya? Tapi aslinya aku gak selemot itu lo."
Anela mengernyit, tapi tak menjawab. Kimi langsung menampilkan senyum andalan yang selalu berhasil bikin abangnya langsung menjitak kepalanya.
"Yang bisa mutusin pantes gak-nya itu bukan kamu, Anela. Tapi Uby sendiri."
Tatapan Anela menajam, "Apa tujuan kamu deketin dia?"
Kimi menjawab tanpa jeda. " Biar jadi pacarnya dong."
Anela terdiam beberapa detik. "Selama ini aku perhatiin kamu, Kimi. Dari awal kamu ngotot mau temenan aja udah aneh. Aku yakin kamu nyembunyiin sesuatu,"
Kimi memutar bola mata setengah jengkel. Anela
sepertinya lumayan peka. Bisa-bisa dia tahu kalau awalnya Kimi cuma penasaran setengah mati sama Ruby.
"Gak ada yang aneh kok. Kami malah udah pacaran sekarang," ucap Kimi ringan, lalu buru-buru menutup mulut sambil cekikikan sendiri.
Anela tersentak. "Kalian udah jadian?"
Kimi mengangguk mantap.
"Kamu maksa dia?"
"Enggak, dong," Kimi langsung mendelik. "Pokoknya aku sama Uby udah jadian. Jadi kamu jangan terlalu deket lagi sama dia. Paham kan?"
Anela menatapnya tajam, "Kalau aku tetap dekat, kenapa?"
Kimi mengangkat bahu, santai tapi ngotot. "Yaudah, paling aku suruh Uby yang jauh-jauh dari kamu. Dia pasti nurut, kan aku pacarnya."
Selesai berkata begitu, Kimi berdiri dengan gaya sok anggun sambil meluruskan pinggang. "Tenang, aku gak bakal larang kalian temenan. Tapi harus ada jarak ya. Aku pergi dulu, mau tidur siang."
Anela hanya diam, matanya mengikuti langkah Kimi yang keluar dari perpustakaan dengan dagu terangkat seperti habis menang debat. Tak lama kemudian, seseorang muncul dari balik rak buku di belakang Anela.
"Kamu pintar bikin drama," suara tenang itu terdengar. "Aku akan laporkan ini. Tetap awasi semuaya, terutama gadis tadi."
Anela mengangguk tanpa menoleh. "Saya mengerti."
**
Sore itu, semua penghuni asrama sudah berkumpul di ruang makan-tanpa sepengetahuan Nove, tentu saja. Tema sore ini: operasi kejutan ulang tahun sang gadis jangkung pendiam.
Clarissa dan Bu Salma ikut hadir, bukan untuk mengawasi... ya, sebenarnya tetap mengawasi sih, tapi dengan alasan "memastikan ide ini tidak melanggar aturan asrama.
"Gini aja," Janu mulai serius, "kita adain acaranya di air terjun-"
"Malem-malem?" potong Febi cepat. "Gak mau. Serius, gak mau."
"Gw juga ogah. Gelap-gelapan di hutan? Mending gw di kamar baca doa." timpal Septi.
"Inget ya, gak semua orang di sini bersahabat sama demit." ujar Apri, anggota aktif tim penakut nasional.
Kimi tiba-tiba mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Gimana kalau di lapangan? kayak pesta kecil gitu."
"Gak bisa, Kim," Marey langsung menolak. "Ini kejutan. Kalau di sana, dia bakal liat persiapannya."
Kimi mengangguk-angguk paham, "kalau di kantin?"
"Jangan lah. Kita tiap hari di sana, bosen," sahut Juni.
"Ide lo jelek amat, Kim. Kreatif dikit dong," sela Juli sambil nyengir. "Nih, dengerin. Kita bikin di rooftop kampus."
Semua saling pandang, seolah sedang menunggu suara yang bilang 'setuju'.
"Itu ide bagus," ujar Bu Salma, angkat bicara. "Saya rasa kita masih punya lampu hias di gudang perkakas."
Juli menaikkan alis, senyum samarnya muncul seolah bilang: aku pinter kan, sayang?
Clarissa ikut mengangguk. "Saya setuju. Gimana menurut kalian?"
"Oke sih," sahut Agus. "Nanti kita bongkar gudang belakang asrama, kali aja ada yang bisa dijadiin hiasan,"
"Berarti fx ya," ujar Janu. "Besok sore mulai. Kita bagi tugas. Ada yang dekor, ada yang bawa Nove jauh-jauh. Bawa ke mana kek, pokoknya jangan sampai dia tahu kita pada ngapain."
Desi mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Aku bagian itu!"
"Oke. Lo diterima. Nove emang rada nurut sama lo. Lo juga, Pri," kata Janu.
"Siap, kakak Janu," balas Apri tengil.
Janu langsung mendelik tajam, tapi belum sempat mengomel, kreeekk-pintu ruang makan terbuka. Semua langsung terdiam kaku melihat ke arah yang sama.
Nove berdiri di ambang pintu dengan dahi berkerut. "Pada ngapain? kok rapat gak ngajak?" tanyanya datar, lalu langsung duduk di sebelah Marey yang melirik canggung.
"Kita lagi bahas soal cCTV yang mati waktu itu," jawab Kimi cepat, terlalu cepat.
Padahal itu cuma alasan asal-asalan. Meskipun, yah, dia memang penasaran juga soal CCTV itu, tapi belum sempat mencari tahu. Anehnya, wajah Nove langsung menegang mendengar itu.
"Gw kemarin malam denger orang keluar dari pintu belakang," katanya tenang, tapi suaranya bikin tiga orang di ruangan itu-Ruby, Juli, dan Kimi-langsung berhenti bernapas.
"Pertama, pintu kebuka jam setengah dua belas. Terus sepuluh menit kemudian kebuka lagi. Lima menit, kebuka lagi. Terus sekitar jam setengah dua, bunyi lagi. Dari langkahnya, gw yakin lebih dari satu orang."
Ruangan langsung sunyi. Semua saling lirik, kecuali tiga orang bersalah tadi yang menatap kosong ke depan. Sebelum suasana makin mencurigakan, Juli buru-buru angkat tangan.
"Itu gw sama Kimi," katanya mantap.
Bu Salma-yang jelas tahu persis kejadian semalam- pura-pura terkejut dengan gaya meyakinkan,
"Kamu ngapain keluar malam-malam, Juli? Sama Kimi pula."
"Ni bocah gak bisa tidur, Bu." Juli menunjuk Kimi yang menatap polos. "Jadi dia minta temenin cari angin malam. katanya biar ngantuk."
"Tapi pintu kebuka empat kali, Jul. Emang kalian bolak-balik sampai jam segitu?" tanya Okta curiga.
"Ya emang dua kali bolak-balik," jawab Juli santai. "Lo tau gw beranian, nih anak juga. Lo tinggalin di tengah kuburan juga bodo amat dia. Makanya kita santai aja jalan-jalan."
"Aku tuh lagi banyak pikiran," sela Kimi cemberut. "Tolong dimaklumin kalau aku agak susah tidur."
Semua mengangguk pelan, meski dalam hati jelas tak percaya. Tapi melihat muka muram Kimi, mereka sepakat tak mau cari ribut.
"Baik, jadi jelas ya," kata Clarissa akhirnya. "Bukan orang luar seperti waktu itu. Dan Kimi, lain kali kalau butuh udara malam, cukup di balkon kamar aja, jangan bikin teman-teman panik."
"Iya, Bu. Tapi kan Nove harusnya mastiin dulu siapa yang keluar," celetuk Kimi masih tak terima.
"GW mager," sahut Nove datar.
Semua refleks memutar mata bersamaan. Begitu
Clarissa membubarkan rapat, tiga tersangka tadi langsung menghembuskan napas lega.
**
Keesokan sorenya
Semua sibuk menjalankan rencana. Rooftop kampus berubah jadi area operasi rahasia 'Pesta kejutan Nove'.
Atas saran Juli, Anela dan Ruby akhirnya ikut dikerahkan. Alasannya? Supaya Clarissa tidak curiga dan malah ceramah saat membantu dekor bersama Bu Salma.
Di tengah keseruan menggantung hiasan dan balon, Kimi terus melirik Ruby tajam-tajam, Cewek teddy itu sudah resah dari tadi melihat Anela menempel ke Ruby. Sementara dia, si pacar resmi malah cuma bisa cemberut sambil menguntit dari kejauhan.
Tatapan Kimi makin lama makin terasa seperti laser. Ruby jadi serba salah: mau menjauh dari Anela, tak enak. Mau mendekati Kimi, takut memancing kerusuhan.
"Ru, bantu gw pasang tali ini di atas," kata Juli akhirnya, sudah tak tahan melihat Kimi manyun terus.
Ruby langsung bergerak, tapi mendadak berhenti begitu melihat spanduk bertuliskan Happy Birthday Nove lengkap dengan aksen love pink besar di ujungnya.
"Ini bentuk balonnya harus banget begini ya?" Tanyanya datar, antara jijik dan pasrah.
"Adanya cuma itu, Ru. Jangan protes," sahut Juli.
Sebelum Ruby sempat naik ke bangku, Janu datang dengan gaya sok jagoan.
"Eh, sini, biar gw aja. Yang tinggi di sini bukan lo doang." Ia langsung menyambar ujung tali dari tangan Ruby.
Kimi yang melihatnya langsung maju, wajahnya sudah siap mengamuk manja. Tapi Anela melintas di depannya sambil berbisik cepat, "Jangan bikin ribut".
Kimi otomatis berhenti, tapi bibirnya tetap bergerak pelan, mulut komat-kamit penuh sumpah-sumpah halus.
Semua persiapan pesta kejutan yang norak itu akhirnya selesai lewat pukul enam sore. Begitu balik ke asrama, Kimi langsung meluncur ke kamar Ruby tanpa pikir panjang. Untungnya suasana asrama sedang sepi karena semua orang mandi sore.
Tanpa mengetuk pintu, Kimi langsung nyelonong masuk. Dari suara shower, jelas Ruby lagi mandi. Kimi pun duduk di karpet, tangan terlipat di dada, bibir manyun mirip bebek.
Lima belas menit kemudian, Ruby keluar sambil mengusap rambut, hampir terjungkal saking kagetnya melihat pacarnya sudah nongkrong di situ.
"Kim? kapan masuknya?" tanyanya, nada setengah panik.
Kimi menoleh pelan, mata tajam, mulut jutek. "Aku udah bilang jangan deket-deket Anela. Kamu sengaja ya, biar aku kesel?"
Ruby cuma bisa berkedip. Ia tahu persis kalau seorang Kimi Ariana sudah mulai ngambek, dan itu jelas bukan urusan lima menit. Akhirnya dia duduk lesehan di depan Kimi, mencoba bicara pelan.
"Kan udah dibilang, dia cuma temen. Lagian Nela cuma bisa ngobrol sama aku. Aneh dong kalau aku tiba- tiba diem aja padahal gak ada masalah. Kasian dia, Kim,"
Kimi mendengus. "Dia pernah nembak kamu gak?"
Ruby menggeleng. "Jangan curigaan gitu, sayang. Abis pelatihan ini juga aku pasti jarang ketemu dia lagi. Atau malah gak ketemu sama sekali."
"Depan aku ngomongnya gitu. Depan Anela beda lagi pasti,"
Ruby cuma bisa menghela napas. "Kamu udah mandi belum?"
Kimi menggeleng, dagunya terangkat sombong.
"kalau mau marah, seenggaknya mandi dulu, Kim. Siapa tahu emosinya kecuci," ujar Ruby sabar.
Kimi manyun lagi. "Yaudah, aku mandi di sini." Ruby langsung mengangguk. "Iya, sayang. Boleh., boleh,"
Kimi berdiri sambil menunjuk Ruby seperti komandan perang.
"Kamu ke kamar aku sekarang. Ambilin sikat gigi, sabun muka, lotion, minyak telon, handuk keroppi, baju tidur Teddy yang warna krem, daleman-"
" Sayang, stop." potong Ruby cepat. "Gimana kalau aku temenin aja kamu mandi di kamar?"
Kimi menatap Ruby selama dua detik, lalu berbalik tanpa sepatah kata.
Ruby celingukan, bengong setengah hidup. "Itu maksudnya iya apa enggak?" gumamnya.
Beberapa detik kemudian, Ruby ikut menyusul ke kamar Kimi. Tapi begitu Kimi masuk kamar mandi, Ruby kabur balik ke kamarnya sendiri. Terlalu berisiko kalau dia ketahuan nongkrong lama-lama di kamar Kimi.
Sepuluh menit kemudian, Ruby datang lagi. Gawat kalau Kimi keluar dan tidak menemukan dia di sana.
Bisa-bisa dunia berakhir malam ini.
**