"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Aneh
Nero menginjak gas mobilnya menuju suatu tempat.
"Kita mau ke mana?" Elle menoleh pada Nero yang tampak fokus menyetir mobil.
"Kau akan tahu nanti." Nero tersenyum menjawabnya.
"Oke! Kau ingin memberikan kejutan?" tebak Elle, tapi Nero diam tidak menjawab, dan hal tersebut membuat Elle semakin penasaran.
Ke mana kah pria itu akan membawanya?
*
"Bagaimana? Sudah berjalan berapa persen persiapan pernikahannya?" tanya Gloria pada suaminya ketika mereka sudah sampai rumah.
"Sudah berjalan enam puluh persen," jawab Ben, menggandeng istrinya menuju lantai atas.
"Waktu kita tinggal dua minggu, dan masih banyak yang harus kita persiapkan." Gloria mengoceh sepanjang naik tangga.
"Iya ... Iya, kau tenang saja, semuanya akan selesai sebelum hari H." Ben menjawab santai sekaligus menenangkan istrinya.
"Ck! Selalu saja begitu, kau terlalu meremehkan waktu, Ben!" omel Gloria.
"Sayang, percayalah padaku. Semua akan selesai tepat waktu dan sempurna." Ben meyakinkan istrinya lagi.
Gloria menarik nafas panjang, "terserah kau saja!" Ia pun akhirnya berjalan mendahului, malas berdebat terus dengan suaminya.
Ben menatap punggung istrinya dengan tatapan penuh arti, kemudian segera mengikuti langkah istrinya menuju kamar.
*
*
"Nero, sebenarnya kau ingin mengajakku ke mana?" Elle semakin penaran karena mobil yang di kendarai Nero kini keluar dari wilayah kota menuju pegunungan.
"Mengajakmu berkencan," jawab Nero, singkat.
"Kencan? Di pegunungan? Kau gila ya?!" Elle menatap Nero dengan tatapan tak percaya.
"Hu-um, aku memang gila. Gila karenamu," jawab Nero, tersenyum lebar seraya mengerlingkan sebelah matanya pada Elle.
Elle memalingkan wajah cepat untuk menyembunyikan rona wajahnya. Ah, lelaki ini mulai banyak tingkah, dan selalu berhasil membuat wajahnya merona seperti kepiting rebus.
"Kau sekarang sangat aneh," cicit Elle, seraya melirik pria tampan itu.
"Aneh?" Nero membeo dengan alis bertaut. "
"Iya, kau yang biasanya dingin tanpa ekspresi kini terlihat sangat narsistik," jawab Elle, jujur.
"Oh, begitu ya? Jadi menurutmu sekarang aku kelihatan aneh?" Nero bertanya lagi untuk memastikan jawaban Elle.
Elle mengangguk mantap, "iya, kau aneh."
"Padahal aku berusaha bersikap manis padamu, tapi begitukah responmu?" Nero menggembungkan pipi kemudian berdecak kesal.
Elle seketika itu melongo mendengar penjelasan Nero. Tapi, sesaat kemudian ia tersenyum penuh arti, lalu merangkul lengan kekar Nero dengan mesra. "Kau tidak perlu berubah, jadilah dirimu sendiri."
"Benarkah begitu. Nanti kau update status di media sosialmu kalau aku ini pria kaku, menyebalkan, dan tidak asyik!" balas Nero, menyindir Elle.
Ya, beberapa hari lalu ia melihat postingan kekasihnya di media sosial.
Elle langsung gelagapan mendengar ucapan kekasihnya. Ia segera melepaskan lengan Nero, menangkup wajahnya yang terasa panas karena malu, kemudian mengelak, "masa? Aku tidak pernah membuat unggahan seperti itu." Elle tersenyum canggung.
"Oh, ya? Mau aku bacakan langsung? Kebetulan aku masih menyimpan screen shot postinganmu." Nero mengeluarkan ponselnya dari kantong jasnya, tapi Elle mencegahnya.
"Jangan!" Elle menahan tangan Nero. "Baiklah, aku mengaku salah." Bibir Elle cemberut lucu. "Habisnya kau menyebalkan! Dasar tidak peka!" lanjutnya, merajuk.
Nero menahan senyum, lalu mengacak pucuk kepala kekasihnya dengan gemas.
"Sini." pinta Nero agar Elle mendekat padanya.
"Mau apa? Jangan macam-macam kau sedang menyetir!" Seolah tahu isi kepala Nero, Elle menolak permintaan pria itu sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap kekasihnya penuh waspada.
"Ha ha ha, memangnya kau pikir aku mau mau apa?" Nero tergelak keras.
"Kau ingin menciumku, 'kan?" jawaban Elle sangat tepat, membuat Nero salah tingkah.
Cammora tidak peduli dengan aturan Botak untuk Berta. Camorra mengajak Berta bersenang-senang. Cammora menggenggam erat tangan Berta menuju mobilnya.
Cammora membawa Berta ke salon kecantikan.
Cammora ingin pegawai salon merubah penampilan Berta menjadi cantik, sampai membuatnya pangling.
Elle senang tersenyum puas menikmati kegalauan Botak.
Cammora pria yang bisa membuat Berta bisa tersenyum. Berta merasa di hargai, di inginkan, dan di perhatikan.
Berta hatinya tersentuh dengan perhatian-perhatian kecil dari Cammora.
Apalagi Cammora memberikan Berta semangat dan dukungan moril, juga memberi nasehat.
Berta tumbuh dengan rasa ketakutan, tidak percaya diri, dan terasingkan.
Kini ada pria yang mengatakan Berta berharga. Jangan pernah lagi merasa rendah diri. Berta gadis hebat dan kuat.
Berta dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terima kasih pada Cammora.
Berta tersentuh, terharu dengan apa yang dikatakan Cammora.
Cammora bertanya pada Berta - Botak yang menjawab.
Cammora tak terima pada Botak yang ikut campur urusannya dengan Berta.
Elle datang - menyelamatkan Berta dari aturan Botak yang seenaknya sendiri.
Botak kalau suka sama Berta bicara terus terang. Sok meremehkan Berta. Nyatanya cemburu Berta didekati Cammora.
Rasain Batak. Suka memarahi Berta - mana bilang bukan hanya wajah Berta yang jelek, tapi cara kerjanya juga jelek.
Lihat tuh si jelek disukai Cammora yang kaya raya. Botak tak ada apa-apanya dibanding Cammora.
Cammora memanfaatkan waktunya untuk mendekati Berta.
Bahkan kemanapun Berta pergi, Cammora mengikuti.
Berta sampai protes pada Cammora.
Berta menyebut nama sekalian nama panggilannya.
Elle dan Nero berada di kamar menatap mereka.
Nero tak terima istrinya memuji Cammora yang gentelman.
Meronalah kedua pipi Berta mendengar tamu majikannya mengatakan - berliannya Berta.
Di kasih waktu satu minggu oleh Nero.
Nero mengancam Cammora akan kehilangan kepalanya kalau melakukan hal bahaya atau melukai penghuni rumah Nero.
Elle memperbolehkan Cammora menginap - biar Botak cemburu dan sakit hati.
Elle syok mendengar penuturan Nero - Botak tidak pernah mau menikah. Mungkin Botak tidak tertarik pada wanita.
Sepertinya Botak tidak mau menikah bukan karena gay, Elle.
🥰🥰🥰🥰
biar nti pulang paman botak pangling dan lupa ngasih hukuman 🤣🤣🤣