NovelToon NovelToon
CINTA YANG TAK SEPADAN

CINTA YANG TAK SEPADAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.

Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARURAT

​Mira berlari kencang menuju ruang tamu, napasnya tersengal namun matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang jahil. Desi, yang sedang menyesap teh hangatnya, meletakkan cangkirnya dengan dahi berkerut, bingung melihat putrinya yang tampak sangat antusias.

​"Ada apa, Mir? Kok lari-lari seperti dikejar hantu?" tanya Desi dengan nada lembut namun menyelidik.

​Mira tak membuang waktu. Dengan napas yang masih memburu, ia berseru nyaring, "Ma, Kak Zaki udah punya pacar! Dia tadi sebut nama cewek!"

​Zaki, yang menyusul dari belakang, seketika mematung di ambang pintu. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang. Dengan gerakan panik, ia membekap mulutnya sendiri, menyadari kecerobohannya. Matanya yang tajam menatap sang ibu, mencoba mengirimkan sinyal bahaya. "Bohong, Ma! Mira cuma mengada-ada, dia cuma mau bikin aku kesal aja!"

​Desi tidak langsung menelan mentah-mentah ucapan putranya. Ia menatap Zaki dengan sorot mata ibu yang sangat mengenal gerak-gerik anaknya.

​"Huh, oh ya? Mau mengelak?" Mira melipat kedua lengannya di bawah dada dengan tatapan menantang. Ia mendengus remeh. "Namanya Naya, Ma! Tadi dia sendiri yang keceplosan. Jawaban pertama itu biasanya selalu jujur, tahu! Jangan coba-coba membohongi Mama, Kak!"

​Suasana ruang tamu mendadak hening. Zaki merasa keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Rahangnya mengeras, mencoba menyusun kalimat pertahanan di dalam kepala, namun ia tahu ibunya bukan orang yang mudah dibohongi.

​Desi menghela napas panjang, lalu beralih menatap Mira dengan tatapan penuh wibawa. "Mira, udah cukup main-mainnya. Sekarang, pergi dulu ke kamar. Kerjakan PR-mu sendiri,"

​Mira menghentakkan kakinya ke lantai, lalu berlalu pergi dengan wajah cemberut tapi setengah puas saat memandang Zaki yang kini berdiri kaku di tengah ruangan. Desi kemudian menepuk kursi di sampingnya, sebuah isyarat yang membuat Zaki merasa seolah sedang menghadapi hakim di ruang sidang.

​"Duduk, Zaki," perintah Desi pelan.

​Zaki melangkah dengan berat, lalu duduk di sofa tepat di hadapan ibunya. Desi memperhatikan setiap detail ekspresi wajah putranya, kegelisahan di matanya, posisi duduknya yang tidak tenang, dan rahangnya yang sesekali berkedut.

​"Jadi," Desi memulai dengan nada bicara yang rendah namun menuntut jawaban, "siapa Naya? Dan kenapa kamu sampai harus menyembunyikannya dari Mama? Sejak kapan?"

​Zaki menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut. Ia tahu bahwa rahasia besar tentang Naya, tentang wasiat Hana, dan tentang trauma Naya di masa lalu tidak akan bisa disembunyikan selamanya. Namun, bagaimana ia harus memulai penjelasan yang tidak akan membuat ibunya marah ataupun kecewa karena khawatir?

​"Ma, ini tidak sesederhana yang Mama pikirkan," jawab Zaki lirih, suaranya kini kehilangan ketegasan yang biasanya ia miliki saat menghadapi musuh di luar sana. "Ada hal yang harus Zaki lindungi."

​Desi menatap putranya dalam-dalam, menyadari bahwa ada beban berat yang sedang dipikul oleh pria muda di depannya. Sebuah beban yang membuat Zaki tampak jauh lebih dewasa dari usianya. "Lindungi?" ulangnya. "Siapa yang harus kamu lindungi, Zaki?"

Zaki membisu. ​Sementara itu, Desi menatap putranya tajam, tidak puas dengan jawaban samar itu. "Siapa? Siapa sebenarnya yang harus kamu lindungi, Zaki?" desaknya.

​Zaki menundukkan kepalanya, menatap lantai yang dingin di bawah kakinya. Pikirannya berpacu, mencari alasan yang bisa diterima namun tidak mengungkap bahaya nyata yang sedang mengintai Naya. Jika ia jujur dan mengatakan bahwa wanita itu adalah Naya guru di sekolahnya sendiri, ibunya pasti akan langsung murka, menganggapnya melanggar norma dan mengabaikan masa depan yang sudah dirancang sedemikian rupa.

​Desi menghela napas panjang, sebuah embusan yang sarat dengan kekecewaan sekaligus kasih sayang seorang ibu. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya yang hangat menggenggam tangan Zaki yang terasa dingin.

​"Zaki, kamu masih ingat kan pesan Ayah?" suara Desi melunak, namun setiap katanya terasa menusuk tepat di ulu hati Zaki. "Dulu... ayahmu berjuang mati-matian agar kamu bisa menempuh pendidikan terbaik. Guru wali kelasmu sendiri bilang, kamu itu murid yang cukup pintar, punya masa depan cerah. Mama hanya ingin kamu mengejar cita-cita itu dulu, meraih posisi yang mapan, membuat almarhum Ayahmu bangga. Baru setelah itu, kamu boleh bebas mencari pasangan hidup. Soal jodoh itu gampang, Zaki. Kalau kamu sudah sukses, wanita mana yang tidak akan tertarik padamu?"

​Zaki menelan ludah. Kata-kata itu adalah beban yang selama ini ia pikul dengan rela. Ayahnya selalu menekankan prestasi sebelum afeksi. Namun, bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa takdir tidak menunggu seseorang menjadi sukses untuk datang? Bagaimana ia bisa memberitahu ibunya bahwa di tengah ambisi yang Ayah inginkan, ia justru terjebak dalam pusaran rahasia gelap yang mengancam nyawa seseorang?

​Jika ia harus terang-terangan menjelaskan siapa Naya sebenarnya, ia tahu itu adalah bunuh diri. Tidak hanya karena status Naya sebagai gurunya yang akan membuat Desi terkejut hingga jatuh sakit, tapi juga karena dunia Naya yang penuh dengan segala rasa trauma.

​Zaki menarik tangannya pelan, lalu menatap ibunya dengan tatapan yang memohon pengertian. "Ma, Zaki mengerti pesan Ayah. Kakak tidak akan pernah melupakan itu. Tapi... ada situasi yang tidak bisa Kakak jelaskan sekarang. Bukan karena Zaki ingin membohongi Mama, tapi karena Zaki tidak ingin Mama khawatir atau terseret ke dalam masalah yang tidak Mama mengerti."

​Desi mengerutkan dahi, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Zaki, kamu membuat Mama takut. Masalah apa? Apa kamu terlibat hutang? Atau... apa wanita ini memberikan pengaruh buruk?"

​"Bukan!" seru Zaki lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia segera menenangkan diri, merendahkan suaranya. "Dia bukan orang jahat, Ma. Justru dia... dia adalah alasan kenapa Zaki harus menjadi orang yang lebih kuat sekarang."

​Zaki lalu berdiri, merasa bahwa ruangan itu semakin sempit. Ia tidak bisa berlama-lama lagi. Baginya, setiap detik yang ia habiskan di sini untuk berdebat dengan ibunya adalah detik yang dicuri dari keselamatan Naya.

​"Ma, percayalah pada Zaki. Untuk saat ini, tolong jangan tanya lagi soal Naya. Tapi Zaki janji, Ma... akan ada waktunya Zaki menjelaskan semuanya secara rinci. Tapi tidak sekarang."

​Tanpa menunggu jawaban ibunya, Zaki berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruang tamu. Ia meninggalkan Desi yang tertegun, menatap punggung putranya dengan segudang pertanyaan yang kini semakin menyesakkan dadanya.

****

1
Rahmi Mamimima
Typo ini.. Harusnya aku yg pduli sm kamu
Rahmi Mamimima
Kasian, naya udah g punya sahabat baik lagi

Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Rahmi Mamimima
Wadduuhh gimana si kecil? Apa dy ikut dlm kcelakaan itu?
Rahmi Mamimima
Ah masa iya stlh obrolan itu tdk ad obrolan lgi ntara nya dan zaki
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri
Rahmi Mamimima
🤣🤣🤣😄Org lagi jatuh cinta kok malah mau d bw k psikiater
Rahmi Mamimima
Jatuh cinta beneran si naya sm muridnya
Rahmi Mamimima
Ibunya sdh mninggl? Apa krna anaknya g jdi mnikah?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!