NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sementara itu, di sebuah rumah megah berasitektur Jawa-modern di wilayah Jawa Timur, Zuhair baru saja menyelesaikan urusan bisnisnya dan menyempatkan diri mampir ke kediaman orang tuanya. Selama ini, orang tua Zuhair memang menyerahkan pengelolaan pesantren sepenuhnya kepada Abi dan Ummi mertua Zuhair di pondok, sementara mereka menetap di kota lain untuk mengurus bisnis keluarga.

Sore itu, Zuhair sedang duduk di ruang tamu bersama Ummi kandungnya. Wanita paruh baya yang berpenampilan sangat anggun dengan gamis dan hijab syar'i itu menuangkan teh hangat untuk putra kebanggaannya.

"Urusan bisnis mu lancar, Nak?" tanya Umminya lembut.

"Alhamdulillah, Ummi. Semua berjalan lancar. Kontrak dengan beberapa distributor di Surabaya juga sudah ditandatangani," jawab Zuhair dengan senyum tenang dan berwibawa seperti biasanya.

Ummi tersenyum, namun perlahan raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. Beliau menggeser cangkir teh ke depan Zuhair, lalu menatap putranya dengan tatapan yang serius.

"Lalu... bagaimana dengan urusan rumah tanggamu? Kemarin Ummi dengar dari pondok, kalian baru pulang umroh dan liburan dari Mesir, kan?" Ummi menjeda kalimatnya sejenak, memperbaiki posisi duduknya. "Nak... Celina sudah hamil belum?"

Zuhair yang baru saja hendak menyesap tehnya langsung mengurungkan niat. Ia meletakkan kembali cangkir itu ke tatakannya. "Belum, Ummi. Kami baru beberapa bulan menikah, dan baru beberapa hari ini kembali dari perjalanan jauh. Mohon doanya saja agar segera diberikan keturunan."

Mendengar jawaban Zuhair, wajah Ummi kandungnya langsung berkerut tidak puas. Beliau menghela napas panjang dengan nada bicara yang mendadak terasa dingin dan kaku.

"Zuhair, kamu itu anak laki-laki tertua di keluarga kita. Kamu punya tanggung jawab besar untuk meneruskan nasab dan memimpin garis keturunan keluarga ini ke depan. Ummi tidak mau tahu ya, kalau dalam waktu dekat Celina belum hamil-hamil juga... kita terpaksa cariin kamu istri kedua di sini. Banyak putri dari kolega bisnis Papa dan anak Kyai di Jawa Timur yang jauh lebih siap, mandiri, dan jelas asal-usulnya untuk mendampingi kamu."

Mendengar kalimat "istri kedua" keluar dari mulut ibu kandungnya, rahang tegas Zuhair seketika mengeras. Tatapan mata Gus muda itu yang biasanya teduh langsung berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan menusuk. Gelas teh di depannya bahkan sedikit bergetar saat Zuhair meletakkan tangannya di atas meja dengan cengkeraman yang kuat.

"Ummi," suara bariton Zuhair mendadak turun beberapa oktav, terdengar sangat dalam, dingin, dan sarat akan penegasan yang tidak bisa dibantah. "Zuhair menghormati Ummi sebagai ibu yang melahirkan Zuhair. Tapi tolong, jangan pernah mencampuri urusan rahim istri saya, apalagi sampai membawa-bawa opsi poligami."

Ummi sempat terkejut melihat reaksi keras dari putranya, namun beliau mencoba bertahan. "Ummi cuma memikirkan masa depan kamu, Zuhair! Perempuan yang kamu nikahi itu kan—"

"Celina adalah istri sah saya, pilihan saya, dan wanita yang saya ratukan di Ndalem," potong Zuhair dengan nada yang sangat tenang namun menghujam kuat. Ia berdiri dari kursinya, merapikan kemeja kokonya dengan gestur tubuh yang sangat berwibawa. "Urusan keturunan adalah hak Allah. Tugas saya sebagai suami adalah mencintai dan melindungi Celina, bukan menjadikannya mesin pencetak anak. Saya tidak akan pernah mengambil istri kedua, sampai kapan pun."

Zuhair mengambil tas selempangnya, lalu membungkuk sedikit untuk menyalami tangan Umminya yang masih terpaku diam karena syok. "Zuhair pamit pulang ke pondok sore ini juga. Assalamu'alaikum."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Zuhair melangkah lebar keluar dari rumah orang tuanya dengan hati yang bergemuruh. Sepanjang perjalanan pulang membelah jalanan Jawa Timur menuju pesantren, pikiran Zuhair berkecamuk hebat. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, di teras Ndalem, istrinya juga sedang menangis ketakutan karena memikirkan hal yang persis sama.

Malam semakin larut, berganti menjadi sunyinya sepertiga malam terakhir. Jam dinding di ruang tengah Ndalem sudah menunjukkan pukul dua pagi ketika sebuah mobil travel perlahan berhenti di halaman depan.

Zuhair turun dengan langkah kaki yang terasa berat. Wajah tampannya tampak begitu lelah setelah menempuh perjalanan darat berjam-jam dari Jawa Timur, ditambah beban pikiran akibat ucapan keras umminya sore tadi. Ia merogoh saku, membuka pintu depan Ndalem dengan kunci cadangannya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara.

Namun, begitu pintu terbuka, suasana di dalam Ndalem tidak sepenuhnya gelap. Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari arah kamar utama. Suara bariton lembut yang agak serak, terbata-bata namun mengalir dengan penuh penghayatan dan ketulusan.

Itu suara Celina.

Zuhair melangkah pelan menuju kamar, lalu mendorong pintu yang sedikit terbuka. Di sudut kasur, di bawah temaramnya lampu tidur, Celina tampak sedang duduk bersimpuh di atas sajadah dengan mukena putih yang longgar. Di pangkuannya, sebuah Al-Qur'an besar terbuka. Matanya sembab, menahan kantuk sekaligus sisa tangis dari curhatannya dengan Raka sore tadi, namun ia tetap bertahan merapal ayat demi ayat untuk menenangkan hatinya yang gundah.

Zuhair terpaku di ambang pintu. Pemandangan istrinya yang sedang mengaji di jam dua pagi seketika meruntuhkan seluruh rasa lelah dan amarah yang bergemuruh di dadanya sejak sore. Hatinya menghangat, sekaligus berdenyut perih mengingat betapa teganya sang ummi berniat menggantikan posisi wanita hebat ini di hidupnya.

Mendengar desau langkah kaki dan derit pintu, Celina menghentikan bacaannya. Ia menoleh ke arah pintu dan matanya langsung berbinar begitu mendapati sosok suaminya sudah berdiri di sana.

"Gus... lo udah balik?" bisik Celina pelan. Ia segera menyudahi mengajinya, mengecup mushaf Al-Qur'an itu lalu menutupnya dengan takzim.

Zuhair tidak menjawab. Ia melangkah lebar mendekati kasur, meletakkan tasnya sembarangan di lantai, lalu langsung berlutut di depan Celina yang masih duduk di atas sajadah. Tanpa aba-aba, Zuhair merengkuh tubuh Celina ke dalam pelukan yang sangat erat—bahkan terasa sedikit posesif. Ia menyembunyikan wajah lelahnya di ceruk leher Celina, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi candunya.

Celina sempat tersentak kaget dengan pelukan mendadak yang begitu intens ini. "Gus... lo kenapa? Capek banget ya perjalanannya?" tanya Celina lembut, tangannya perlahan naik mengelus punggung lebar Zuhair yang terasa tegang.

Zuhair semakin mempererat dekapannya, tangannya meremas pinggang belakang Celina di balik mukenanya. "Biarkan seperti ini sebentar, Cel... Saya rindu sekali sama kamu," bisik Zuhair dengan suara bariton yang terdengar sangat rendah, serak, dan sarat akan emosi yang tertahan.

Di dalam keheningan kamar jam dua pagi itu, Zuhair terus memeluk istrinya dengan erat, seolah menegaskan pada dunia bahwa tidak akan ada satu orang pun—termasuk ibunya sendiri—yang bisa memisahkan Celina dari pelukannya.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!